Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Dua Cinderamata


__ADS_3

Setelah mengantarkan Wisnu dan Praya pulang, Arsenio mengajak Binar ke villa milik Rudolf untuk mengembalikan mobil pinjaman tadi sekaligus mengambil motor sewaan yang dia titipkan di sana. Dia sempat berbasa-basi sebentar sambil mengenalkan Binar pada pria asal Jerman itu, kemudian berpamitan pada bule baik hati tersebut.


Keluar dari villa, Arsenio mulai berkeliling bersama Binar untuk mencari penginapan. Beruntung karena mereka menemukan penginapan yang cukup bagus dan bersih yang letaknya tak begitu jauh dari rumah Widya. Namun, sayang sekali karena rencananya untuk bersenang-senang bersama Binar harus pupus, ketika kekasihnya itu sudah terlelap lebih dulu di atas ranjang saat dirinya baru keluar dari kamar mandi.


Arsenio tersenyum melihat wajah cantik Binar yang tampak begitu damai. Dikecupnya kening gadis yang teramat dia cintai, lalu diselimuti hingga ke dada. Sebenarnya dia pun merasa lelah. Semenjak turun dari bus hingga detik ini, Arsenio tak beristirahat sama sekali. Pada akhirnya, dia ikut berbaring di samping Binar dan ikut terlelap.


Pria tampan itu terbangun saat alarm di ponsel Binar berdering nyaring. Sementara si pemilik ponsel masih tetap terpejam.


Malas-malasan, Arsenio bangun dan mematikan alarm ponsel milik Binar. Dia tertawa lirih saat melihat foto wajahnya dijadikan sebagai wallpaper oleh gadis itu. “Kamu mencuri foto tanpa seizinku ya, Binar. Kamu harus dihukum,” bisiknya tepat di telinga Binar, sedangkan tangannya nakal menelusup ke balik baju sang kekasih.


Merasa seseorang menggerayangi dadanya, Binar terbangun dan terduduk. Dia bernapas lega saat mengetahui bahwa Arsenio lah pelakunya. “Rain, jangan menggangguku! Aku lelah!” tolak gadis itu sambil kembali berbaring dan hendak tidur lagi.


Bukannya menurut, Arsenio malah terbahak sambil terus mengerjai Binar. “Jangan tidur. Katanya kamu ingin ke rumah adik-adikmu sebelum matahari terbit,” ucapnya mengingatkan.


Seketika, mata Binar terbuka lebar. Gadis itu segera bangkit, lalu melompat turun dari ranjang. “Astaga! Aku lupa. Ayo, kita bersiap-siap!” serunya lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Melihat hal itu, Arsenio langsung mengikuti sang kekasih. Kembali terbersit ide untuk bersenang-senang di dalam benaknya, tetapi lagi-lagi harus dia urungkan karena waktu yang terlalu mepet.


Selama kurang lebih satu jam, dua sejoli itu telah siap mengendarai motornya menuju rumah Widya. Cukup lima belas menit perjalanan, mereka telah sampai di teras depan. Buru-buru Binar turun dari motor lalu mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu itu terbuka, menampakkan wajah Wisnu yang masih terlihat mengantuk. “Selamat pagi, ayo Mbok bantu menyiapkan perlengkapan sekolah,” ujarnya. Sementara Arsenio memarkirkan motor dan memilih untuk duduk-duduk dan memainkan ponselnya di kursi teras, hingga matahari memunculkan sinarnya yang terang.


Wisnu dan Praya yang telah berseragam rapi, keluar dari dalam rumah bersama Binar. “Kami berangkat dulu, Mister. Oh ya, ini alamat sekolah kami.” Wisnu menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat pada Arsenio, lalu berniat untuk beranjak pergi.


“Tunggu dulu, Wisnu,” cegah Arsenio memegangi lengan bocah SMP itu sebelum berjalan menjauh. “Bisakah kamu menyiapkan ijazah dan rapor SD-mu? Aku membutuhkannya sebagai bukti prestasi,” ujar Arsenio.


Oh, tentu. Tunggu sebentar, Mister.” Wisnu kembali masuk dan keluar beberapa saat kemudian sembari menyodorkan sebuah buku rapor dan selembar ijazah SD-nya kepada Arsenio.


“Oke. Kalian berangkatlah. Nanti kususul,” ujar Arsenio lagi.

__ADS_1


“Oke, Mister.” Wisnu dan Praya melambaikan tangannya pada Arsenio dan juga Binar. Mereka berangkat dengan wajah gembira.


Arsenio kemudian beralih pada rapor serta ijazah Wisnu. Dia memotret lembar demi lembar halaman rapor sampai selesai, lalu berpindah memotret ijazah. Arsenio menyimpan foto-foto tersebut dalam galeri setelah mengirimkannya kepada Linda.


“Setelah itu bagaimana, Rain?” tanya Binar.


“Nanti Linda yang memrosesnya. Dia akan memasukkan Wisnu dan Praya ke dalam daftar beasiswa,” jawab Arsenio seraya tersenyum lembut sambil menyodorkan rapor dan ijasah Wisnu kepada Binar. “Sudah selesai,” ucapnya.


Binar mengangguk, lalu kembali menyimpan benda-benda penting itu ke dalam kamar Wisnu dan Praya. Dia bergegas keluar saat melihat Widya berjalan dari arah dapur dengan berpakaian rapi. Gadis itu buru-buru kembali ke teras, bersamaan dengan Widya yang juga keluar dari rumah, lalu mengunci pintunya begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Widya melenggang meninggalkan pasangan kekasih itu tanpa menoleh lagi.


“Dasar perempuan gila. Dia bahkan tidak menawarimu untuk beristirahat di dalam,” geram Arsenio.


“Tidak apa-apa, Rain. Yang penting aku sudah membuatkan mereka sarapan, walaupun dengan bahan seadanya,” ujar Binar menenangkan.


“Kamu sudah sarapan?” tanya Arsenio.


“Oh.” Arsenio menatap wajah cantik sang kekasih lekat-lekat, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Binar. “Kalau begitu, kita cari sarapan di luar, yuk," ajaknya.


Tanpa berlama-lama, gadis itu langsung menyambutnya dan ikut berdiri. Setelah Binar duduk dengan nyaman, barulah Arsenio menjalankan motornya. Mereka sempat berputar-putar untuk beberapa lama, hingga berhenti di sebuah rumah makan 24 jam dan memesan makanan di sana.


Selesai sarapan, Arsenio dan Binar segera menuju sekolah Praya yang berjarak paling dekat dari tempat mereka berada saat itu.


Di sana, Arsenio bertemu dengan guru wali kelas dan menyampaikan maksud kedatangannya. Arsenio juga menunjukkan kartu identitas serta kartu nama. Semuanya berjalan lancar. Dia diperbolehkan memotret buku rapor Praya.


Begitu pula di sekolah Wisnu, mereka tak menghabiskan banyak waktu di sana. Satu-satunya jam tangan yang Arsenio miliki sudah menunjukkan pukul sebelas siang, saat mereka telah menyelesaikan semua urusan.


“Ke mana kita setelah ini?” tanya Binar.

__ADS_1


“Jalan-jalan, yuk,” ajak Arsenio, “sembari menunggu anak-anak pulang sekolah.”


“Jalan-jalan ke mana?” tanya Binar lagi.


“Ke mana saja,” sahut Arsenio tersenyum lebar, lalu memasangkan helm sewaan pada Binar sebelum memasang helmnya sendiri. Mereka berkeliling cukup lama sampai tiba di pantai Sanur. Arsenio memarkirkan motornya, lalu mengajak Binar berjalan-jalan di sekitar bibir pantai. “Aku masih ingat daerah pantai ini. Dulu mama pernah mengajakku ke sebuah toko suvenir di dekat sini,” ujarnya.


“Oh, ya? Aku bertahun-tahun tinggal di Bali, tapi tak pernah sekalipun mengunjungi Denpasar. Aku terlalu sibuk bekerja.” Binar tertawa getir sambil memperhatikan pasir pantai yang terinjak oleh kakinya. Dia terus berjalan, tanpa sadar jika kekasihnya telah berhenti, sehingga tangan yang sedari tadi digenggam oleh Arsenio tertarik ke belakang. Gadis itu menoleh dan memperhatikan sang kekasih dengan raut keheranan. “Ada apa?” tanyanya pada Arsenio yang bergeming menatapnya dengan sorot penuh arti.


“Aku yang akan mengajakmu berkeliling Bali. Ah, mungkin tak hanya Bali, tapi juga berkeliling dunia,” celetuk Arsenio tiba-tiba seraya menarik tubuh Binar agar mendekat. “Aku akan selalu membahagiakanmu, Binar. Itu janjiku,” ucapnya, “tapi untuk sementara, kita harus bersabar. Kita mulai semuanya dari nol.”


“Itu pasti.” Binar mengalungkan kedua tangannya di leher Arsenio, kemudian mengecup kekasihnya itu tanpa sungkan dan malu.


“Wah, kamu sudah mengalami banyak kemajuan,” goda Arsenio seraya terkekeh pelan. “Aku jadi ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Sorot mata coklat terang itu berubah nakal.


“Bagaimana kalau aku ingin pergi ke toko suvenir langganan mama kamu?” Binar menatap lembut. Sebuah senyuman manis pun mengiringi permintaannya dengan harapan agar Arsenio bersedia mengabulkan.


“Kamu mau ke sana?” Arsenio mengangkat kedua alisnya. Sedangkan Binar segera menanggapinya dengan anggukan penuh semangat. Gadis itu terlihat sangat antusia, ketika sang kekasih bersedia mengabulkan keinginannya.


“Ya sudah. Ayo. Tempatnya tidak jauh dari sini.” Arsenio menggandeng tangan Binar dan mengajaknya menjauh dari bibir pantai. Mereka lalu berjalan menyusuri trotoar dan berhenti di sebuah toko cindera mata. Bangunan toko tersebut tak sebesar tempat Binar bekerja dulunya. Namun, terlihat begitu artistik dan indah.


Arsenio segera mengajak Binar masuk dan memperlihatkan benda-benda unik yang dipajang di tiap rak. Binar sendiri terlihat begitu antusias, sampai ekor mata indahnya menangkap sekotak cinderamata di depannya.


Binar mengambil dua buah cincin berpasangan yang terbuat dari kayu kecokelatan. Cincin tersebut memiliki mata berbentuk lumba-lumba. Jika dua cincin tersebut direkatkan, maka terlihat seolah-olah lumba-lumba tersebut saling berciuman.


“Kamu suka?” tanya Arsenio yang berdiri tepat di sebelah Binar. Napas pria itu bahkan sampai menghangat di telinga Binar, saking dekatnya jarak antara bibir dia ke telinga gadis itu.


“Suka.” jawab Binar singkat dengan mata menerawang. Melihat tatapan sendu kekasihnya, membuat sebuah ide cemerlang hadir di benak Arsenio.

__ADS_1


__ADS_2