
Winona tergelak melihat cincin yang Arsenio tunjukkan padanya. Tawa penuh cibiran pun terlihat jelas, dari wanita muda yang sebenarnya masih menyimpan perasaan teramat dalam kepada pria tampan tersebut. "Apa-apaan itu? Kalian menikah atau hanya sedang bermain nikah-nikahan?" ejeknya.
Sedangkan Arsenio hanya tersenyum lebar saat menanggapi ejekan dari sang mantan, yang sudah dia buat patah hati berkali-kali. Pria itu masih menunjukkan sikap yang teramat tenang. "Berapa lama kamu mengenalku, Wini? Ini membuktikan bahwa kamu hanya memiliki raga seorang Arsenio, tapi tak bisa mendalami isi hatinya. Aku tak harus menyesal karena meninggalkanmu demi Binar. Buktinya dia jauh lebih memahamiku. Astaga, kasihan sekali kamu," balas pria tampan itu dengan senyum mengejek. "Patah hati membuatmu menjadi sangat kacau." Arsenio berdecak pelan.
Winona hanya terdiam. Bagi wanita seperti dirinya yang menjunjung tinggi harga diri dan nama baik, jelas sudah bahwa itu merupakan sebuah penghinaan yang tak dapat dimaafkan. Kelas sosialnya yang tinggi, sudah pasti tak sebanding dengan Binar yang bukan siapa-siapa. "Jangan pernah membandingkanku dengan wanita kampungan itu!" Winona menatap tajam kepada Arsenio yang masih terlihat tenang.
"Sayangnya, wanita kampungan itulah yang berhasil membuatmu menjadi terlihat seperti seorang pecundang," balas Arsenio puas. Dia lalu semakin mendekat kepada Winona. Arsenio kemudian membisikkan sesuatu tepat di telinga mantan tunangannya tersebut. "Binar juga tahu bagaimana cara menyenangkanku." Setelah itu, si pemilik mata cokelat terang tadi segera menjauh dari Winona yang semakin membeku.
Perhatian pria berdarah Belanda tersebut kemudian beralih kepada Linda, yang tengah sibuk merapikan beberapa berkas di atas meja. Sedangkan pengacara Lievin sudah meninggalkan ruangan sejak tadi. "Linda, senang bisa bekerja denganmu. Sampaikan salamku untuk suami dan juga anak-anakmu," ucap Arsenio sambil tersenyum kalem.
Linda sang mantan sekretaris pribadi Arsenio itu menghentikan sejenak pekerjaannya. Dia menoleh kemudian tersenyum. "Saya jauh lebih senang, Pak. Semoga Anda selalu diberkati. Selamat atas pernikahan Anda. Maaf karena saya belum menyiapkan kado pernikahan," sahut wanita berusia tiga puluh dua tahun tersebut.
"Ah sudahlah. Bagiku doa darimu akan jauh lebih baik dibandingkan sebuah kado semahal apapun. Semoga kamu betah dengan bos barumu. Aku harus segera pulang, karena istriku sudah menyiapkan menu sarapan yang belum sempat kucicipi. Kami bangun kesiangan pagi ini," celoteh Arsenio yang seakan menyiratkan hal lain di telinga Winona. Wanita itu segera memalingkan muka. Dia bahkan tak menoleh lagi, hingga Arsenio menghilang di balik pintu ruang pertemuan tadi.
Tak ada lagi mobil Range Rover putih kesayangan, yang selalu menemani ke manapun Arsenio pergi. Kini, pria tampan itu harus rela ke sana kemari dengan menggunakan angkutan umum. Dia harus memulai lagi segalanya dari nol. Namun, tentu saja ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Untuk kali ini, Arsenio benar-benar berjuang seorang diri tanpa nama besar Rainier.
Ditatapnya langit ibukota yang cerah. Seberapa pekat awan hitam yang muncul sebelum terjadi hujan badai, tapi mentari pasti akan kembali hadir dan menyibakkan segalanya dengan sebuah cahaya terang. Satu keyakinan dalam diri Arsenio, suatu hari nanti dia akan kembali mendapatkan segala hal yang telah terlepas dari dirinya.
“Arsen!” seru suara seorang wanita, membuat Arsenio menghentikan langkahnya dengan segera. Dia berbalik seraya berdecak pelan. Tampak Ghea dengan pakaian khas yang selalu ketat dan seksi tengah berjalan ke arahnya. “Kamu sudah pulang dari Bali?” tanya janda cantik itu sumringah.
“Dari mana kamu tahu kalau aku pergi ke Bali?” Arsenio balik bertanya dengan nada curiga.
__ADS_1
“A-aku ….” Ghea tergagap. Dia mundur beberapa langkah ketika pria rupawan itu mendekatinya dengan sorot mata penuh selidik. “Aku menyuruh orang untuk mengikutimu,” jawab Ghea apa adanya, karena dia tahu bahwa tak ada gunanya berbohong di hadapan Arsenio.
“Untuk apa?” Nada bicara Arsenio meninggi. Terlihat jelas bahwa dia keberatan dengan apa yang Ghea telah lakukan.
“Aku mendengar semuanya dari Winona. Jujur saja, aku khawatir denganmu,” sahut Ghea memberanikan diri untuk maju. “Kamu boleh bersikap kejam padaku, Sen. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, supaya kamu tahu kalau aku benar-benar tulus mencintai kamu,” ujar wanita itu seraya mengulurkan tangan. Dia bermaksud hendak menyentuh pipi Arsenio.
Akan tetapi, pria itu lebih dulu menghindar. Arsenio mencekal tangan Ghea dan mengempaskannya dengan kasar.
“Aku tidak butuh simpati darimu atau siapa pun,” ujar Arsenio dingin, lalu berbalik meninggalkan janda dari Chand tersebut.
“Aku akan memberikan semua yang kamu minta!” seru Ghea tak putus asa. “Kamu mau apa? Uang? Kembali memegang perusahaan? Itu semua bisa diatur! Aku akan meminta papa agar bisa membantu semua yang kamu butuhkan!”
“Tentu! Apapun yang kamu inginkan, asalkan kita bisa kembali bersama seperti dulu,” jawab Ghea penuh percaya diri.
“Astaga.” Arsenio tertawa pelan sembari menggelengkan kepala.
“Apanya yang lucu? Aku serius! Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Sen. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita menikah dan kamu bisa mendapatkan seluruh kekayaanku,” ucap Ghea lagi meyakinkan.
Arsenio terdiam untuk sejenak, sebelum memutuskan untuk mendekat kembali pada Ghea. “Apa tidak salah kamu menawarkan hal semacam itu padaku?” tanyanya. Sorot mata coklat terang pria tampan tersebut menatap lekat-lekat wajah cantik Ghea.
“Kenapa memangnya? Kita akan saling diuntungkan. Aku bisa mendapatkan dirimu dan kamu tidak akan hidup kekurangan,” jawab Ghea dengan yakin.
__ADS_1
“Kamu pernah mengkhianati Chand. Bukan tidak mungkin kamu akan melakukan hal yang sama terhadapku,” sahut Arsenio sembari tersenyum mengejek.
“Kamu juga mengkhianati Wini, bahkan sampai berkali-kali. Entah dengan siapa saja, sampai tak terhitung jumlahnya! Sekarang kamu malah berpacaran dengan gadis tidak jelas asal-usulnya itu!” balas Ghea tak mau kalah. "Sadarlah, pria sepertimu tak akan pernah bisa tinggal dengan nyaman dalam hati satu wanita saja. Bukan tak mungkin kamu akan melakukan hal yang sama kepada gadis kampungan itu." Ghea berkata dengan sikapnya yang penuh cibiran.
"Begitukah? Kesannya kamu mengenalku bahkan jauh lebih baik dari diriku sendiri," balas Arsenio sambil terkekeh pelan. "Asal kamu tahu, Ghea. Ada sesuatu yang tidak bisa dan tak mungkin dapat dimengerti oleh orang-orang sepertimu, aku, ataupun para pengkhianat lain. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata, bahwa ada sesuatu yang membuatku terikat sangat kuat dengan Binar."
"Bullshit!" dengus Ghea. Dia seakan meremehkan jawaban dari Arsenio.
“Dengarkan aku,” desis Arsenio pelan tapi penuh penekanan. “Aku memang pengkhianat, tapi Binar tak takut menerima seseorang sepertiku. Sedangkan aku terlalu takut untuk menerima wanita sepertimu. Karena itulah aku lebih memilih dia,” seringainya.
“Oh, ya. Ada satu kata yang harus kamu ralat. Aku tidak berpacaran dengan Binar,” tegas Arsenio yang membuat Ghea tersenyum lebar. “Aku menikahinya di Bali dua hari yang lalu.” Arsenio mengangkat tangan dan memamerkan cincin kawinnya yang unik.
Senyuman Ghea pun seketika memudar. Wanita cantik itu melotot dengan tatapan tak percaya. “Me-menikah?” ulang mantan istri Chand itu dengan terbata.
“Kupikir kamu sudah tahu. Bukankah kamu sudah menyuruh orang untuk terus mengikutiku?” cibir Arsenio sambil melangkah mundur secara perlahan. Dia bergerak menjauh dari Ghea yang masih dalam ekspresi terkejutnya. “Sudahlah. Kamu membuang-buang waktuku. Aku harus pulang. Istriku sudah menunggu,” ujarnya enteng. Kali ini dia benar-benar tidak ingin menanggapi wanita itu lagi, meskipun Ghea kembali berteriak-teriak memanggil namanya.
Arsenio berjalan menyusuri trotoar sambil mengoperasikan ponsel untuk memesan taksi online. Sebelum dia sempat menekan tombol ‘pesan’, sebuah percakapan masuk yang berasal dari kenalannya dari kantor imigrasi, menyampaikan bahwa paspor Binar sudah jadi dan siap. Pada akhirnya, Arsenio memutuskan untuk mengambil paspor sang istri lebih dulu.
Sementara di apartemen, Binar sudah gelisah saat suaminya tak kunjung pulang. Padahal Arsenio mengatakan bahwa dia tak akan lama. Wanita muda itu mulai berpikir macam-macam. Dia mengira bahwa pertemuan Arsenio dengan sang ayah mungkin tidak berjalan lancar, atau lebih parahnya lagi mereka kembali bertengkar.
“Bagaimana ini?” desah Binar. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu sampai terdengar ketukan pelan. Dengan antusias, Binar berlari ke arah pintu dan membuka kunci tanpa mengintip siapa yang berada di baliknya. Binar begitu yakin, bahwa Arsenio lah yang datang, sehingga Binar membuka pintunya lebar-lebar. Akan tetapi, perkiraan wanita muda itu telah keliru. Bukan Arsen yang berdiri di balik pintu apartemen, melainkan Chand yang tersenyum kalem padanya.
__ADS_1