
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul tiga dini hari, ketika Binar terbangun akibat ingin ke kamar mandi. Pelan-pelan, wanita muda itu mengangkat tangan Arsenio yang nyaman melingkar di perutnya, lalu turun dari ranjang.
Setelah hasratnya tertuntaskan, Binar kembali naik ke ranjang dan berniat untuk kembali tidur. Namun, ekor matanya saat itu menangkap cahaya terang yang berasal dari ponsel Arsenio. Dia kembali duduk dan meraih benda pipih tersebut.
Semenjak menikah dengan Binar, pria jangkung itu tak pernah lagi mengunci layar telepon genggamnya. Hal itu dia lakukan supaya sang istri bisa memeriksa ponsel tersebut kapanpun Binar mau.
Mata bulat Binar memicing saat cahaya dari layar ponsel yang terang seakan menusuk penglihatannya. Dia memeriksa sebuah pesan yang baru saja masuk. Pesan tersebut ternyata berasal dari Agatha. “Mau apa dia malam-malam begini?” gerutu Binar pelan.
Dibukanya pesan yang bertuliskan bahasa Jerman itu. “Ya, ampun,” Binar sadar bahwa dirinya tak akan tidur dengan nyenyak sebelum mengetahui arti dari pesan tersebut. Tak sabar menunggu pagi, Binar pun membangunkan suaminya detik itu juga.
“Rain, bangun! Agatha mengirimimu pesan.” Binar menggoyang-goyangkan tubuh suaminya dengan kuat.
Arsenio yang saat itu tertidur dalam posisi miring menghadap sang istri, hanya menggumam pelan.
“Rain! Agatha mengirim pesan padamu! Apa isinya? Ayo, bacakan untukku!” Tak putus asa, Binar mengguncangkan tubuh Arsenio jauh lebih kencang. Nyatanya, sang suami tak juga terbangun.
Binar pun membuka kelopak mata Arsenio yang tertutup rapat, lalu meniupnya. Barulah pria itu terbangun. “Apa-apaan ini, Sayang?” protes Arsenio yang merasa terganggu.
“Agatha mengirim pesan untukmu.” Binar mengulangi kalimatnya lagi dengan wajah tak suka.
“Biarkan sajalah. Kubaca besok pagi,” tolak Arsenio seraya membalikkan badan sehingga membelakangi istrinya.
“Tidak bisa! Aku penasaran dengan isinya!” Binar terus bersikap ngotot membangunkan Arsenio. Wanita muda itu lalu bergerak menaiki tubuh sang suami, kemudian duduk di atas pinggangnya. “Rain!” panggilnya lagi. Dia juga menodongkan ponsel yang tengah menyala terang ke dekat wajah tampan Arsenio.
“Ya ampun, Binar." Arsenio merintih bagaikan seekor hewan buruan yang terluka. Dengan sikapnya yang terlihat malas, dia membuka mata dan memaksakan diri untuk membaca deretan huruf yang masih terlihat buram itu. Arsenio lalu mengucek-ucek matanya sebelum kembali berusaha untuk membaca isi pesan tadi.
“Agatha hanya memberikan informasi bahwa akhir pekan ini aku diminta datang ke Frankfurt untuk melakukan pengambilan gambar,” jelas Arsenio. Matanya setengah terpejam karena harus menahan kantuk.
__ADS_1
“Pengambilan gambar apa?” desak Binar.
“Pengambilan gambar untuk syuting iklan, Sayang. Aku bintang iklan atau brand ambassadornya. Sesuai perjanjian, aku harus menjalani sesi pemotretan yang kebetulan sudah selesai, lalu pengambilan gambar untuk adegan iklan serta mempromosikan tentang Opera House di acara-acara yang telah ditunjuk secara khusus,” terang Arsenio panjang lebar.
“Jadi, kamu akan pergi ke Frankfurt lagi?” tanya Binar.
“Iya, Binar.” Arsenio berniat untuk memejamkan mata. Akan tetapi, saat itu dirinya sadar jika Binar tengah duduk dengan posisi yang begitu menantang di atas perutnya. “Hm.” Rasa kantuk pria itu menguap seketika.
Dengan kekuatan penuh, Arsenio bergerak ke samping, sehingga Binar terjatuh dari atas tubuhnya. Secepat kilat, dia bangkit dan mengungkung tubuh ramping Binar. Istrinya itu berada dalam posisi telentang di bawah. “Kamu sudah membangunkan macan tidur, Sayang,” seringainya.
“Kamu boleh berbuat apapun padaku, asalkan akhir pekan nanti aku ikut ke Frankfurt,” ujar Binar dengan intonasi datar.
“Deal!” Arsenio menyeringai semakin lebar. Dia tak peduli walaupun nanti dirinya akan kurang tidur. Yang penting bagi Arsenio adalah tubuh molek yang berbaring di bawah tubuhnya sekarang sudah sangat siap untuk dinikmati.
Dua sejoli itu memadu kasih sampai-sampai tak menyadari bahwa waktu terus bergulir hingga pagi. Arsenio menghentikan aktivitasnya ketika alarm berbunyi tepat pada pukul lima pagi. “Terima kasih, Sayang,” ucapnya sembari mengecup kening Binar berkali-kali, lalu turun menuju ke kamar mandi dalam keadaan masih polos.
“Baik, Nyonya.” perasaan bahagia Arsenio berubah menjadi rasa gelisah dan berdebar, membayangkan apa kira-kira tanggapan Lievin.
Pada akhirnya, semua terjawab ketika Arsenio selesai sarapan pagi. Dia nekat untuk menghubungi sang ayah dengan menggunakan nomor barunya. Awalnya, sang ayah bersedia mengangkat telepon. Namun, setelah mendengar suara Arsenio menyapa, pria paruh baya itu segera mengakhiri panggilan dengan begitu saja.
Binar tersenyum manis untuk menyemangati sang suami. “Coba sekali lagi,” ujarnya.
Arsenio mengangguk. Dia menuruti perkataan istrinya. Sekali, dua kali, sampai lima kali dia berusaha menelepon Lievin. Ayah kandungnya itu tak jua menjawab panggilan tersebut. Dia pun menggeleng lemah pada Binar. "Papa tidak bersedia untuk bicara denganku," ucapnya seraya mengempaskan napas panjang.
“Kirim pesan saja, Rain,” cetus Binar.
Arsenio pun menurut. Dia mengirim pesan singkat yang hanya berbunyi, ‘Hai, apa kabar, papa?’ Jika pesan itu berbalas, maka dirinya bermaksud untuk kembali menghubungi sang ayah. Namun, sayangnya pesan itu tak berbalas sama sekali. Sampai waktu beranjak siang, sore, hingga malam hari, jangankan dibalas. Lievin bahkan tak membaca pesan itu sama sekali.
__ADS_1
“Mungkin sudah saatnya aku harus menyerah, Binar.” Arsenio menunduk lesu di atas sofa ruang tamu yang kini menjadi tempat favorit mereka berdua.
“Ya, sudahlah, Rain. Semoga waktu yang akan memperbaiki hubunganmu dengan beliau,” ujar Binar berusaha menghibur suaminya yang tampak murung. Dia menciumi seluruh permukaan wajah, kemudian berakhir di bibir tipis kemerahan sang suami.
“Semoga suatu saat nanti hati papa akan terbuka dan bisa menerima hubungan kita berdua, Binar. Papa harus tahu tentang betapa istimewanya dirimu,” ujar Arsenio dengan raut sendu.
“Akan ada waktu untuk semuanya, Rain. Dia akan menyadari bahwa kau adalah putra yang sangat berharga dan dapat diandalkan.” Binar mengusap dada bidang Arsenio dengan penuh perasaan.
“Mungkin ….” Arsenio seakan ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Mungkin apa?” desak Binar.
“Mungkin kerasnya hati papa bisa luluh dengan hadirnya seorang cucu,” jawab Arsenio meringis sambil menaikturunkan alis. Ekspresinya tampak begitu lucu, membuat Binar tergelak.
“Bagaimana dengan rencana masa depanmu, Rain? Kamu mengatakan bahwa kamu ingin mapan terlebih dulu,” ujar Binar mengingatkan.
“Tergantung dengan standar mapan yang kita maksud, Binar. Kurasa, sekarang pun kita sudah berada dalam kondisi mapan, tergantung prioritas yang mana yang harus kita kedepankan,” jawab Arsenio diplomatis.
“Lagi pula, setelah proyek ini selesai, aku sudah pasti akan mendapat promosi untuk menjadi manajer proyek,” imbuh Arsenio. “Gaji sebanyak lima kali sebagai manajer proyek sudah cukup untuk melunasi apartemen kita ini, Sayang.”
“Wah!” Mata indah Binar membulat sempurna. “Aku menyetujui apapun keputusanmu, Rain,” ujarnya seraya menghambur ke dalam pelukan sang suami.
“Terima kasih, Binarku,” ucap Arsenio begitu pelan dan dalam. Dia membalas pelukan istrinya dengan jauh lebih erat. “Oh ya, persiapkan dirimu akhir pekan ini.”
“Mempersiapkan diri untuk apa?” Binar menautkan alisnya tak mengerti.
“Bukankah kamu ingin ikut denganku ke Frankfurt?” sahut Arsenio seraya tersenyum lebar.
__ADS_1