
“Katakan, siapa yang kau sebut dengan ‘kami’!” Garang, sorot mata coklat terang Arsenio dia arahkan kepada Winona yang masih menunjukkan raut yang tak biasa. Winona mungkin merasa tengah berada di atas angin.
“Tentu saja papa dan aku! Orang-orang yang telah kau sakiti!” Winona balas menantang Arsenio dengan tatapannya yang tak kalah tajam. Namun, beberapa saat kemudian wanita muda itu membuang muka. Sepertinya dia tak sanggup jika berlama-lama memperhatikan wajah yang terlihat semakin tampan milik Arsenio.
“Hah! Orang-orang yang kusakiti?” Arsenio tertawa sinis. “Mengapa kamu merasa seakan-akan kamu ini suci dan tanpa dosa, Wini. Padahal kau sama liciknya!” tuding Arsenio dengan satu telunjuk dia arahkan tepat ke wajah cantik mantan tunangannya tersebut.
“Kamu yang paling licik, Arsen! Dasar pria kurang ajar tak tahu malu!” sentak Winona tak terkendali.
“Sangat tidak profesional sekali,” cibir Arsenio seraya berdecak pelan. Arsenio menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, kemudian meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri. Dia pun tertawa mengejek. “Kamu marah karena aku memutuskan pertunangan dan lebih memilih gadis lain, lalu kamu hancurkan semua yang telah papa bangun dengan susah payah. Astaga” Pria itu tak henti-hentinya memamerkan senyum bahkan tawa meledek.
“Itu konsekuensi yang harus kamu terima, Arsen! Hidup ini penuh risiko. Ada hal-hal yang wajib kamu tanggung saat mengambil satu keputusan. Jangan sesali itu!” geram Winona dengan nada bicara yang penuh penekanan.
“Ah, sok bijak sekali! Kalau kamu memang berniat menjatuhkan konsekuensi padaku, harusnya kamu langsung arahkan hukuman itu kepada diriku, bukan pada papa yang notabenenya juga menentang keras hubunganku dengan Binar. Namun, itu dulu. Papaku sudah merestui kami sekarang.” Arsenio menatap tajam Winona.
“Apakah ini semua memang rencana om Biantara sedari awal untuk mengklaim perusahaan milik papa?” Arsenio berdiri, kemudian memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan memutari meja. Dia sengaja mendekat pada Winona yang mulai gelisah dalam duduknya.
“Mungkinkah aku hanya kalian gunakan sebagai alasan saja untuk menutupi sifat rakus dan tamak kalian?” desis Arsenio sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Jaga ucapanmu, Arsen! Jangan asal bicara!” sentak Winona.
“Asal kamu tahu, Wini. Aku tidak akan tinggal diam atas semuanya. Akan kupastikan kamu menyesal pernah berurusan dengan keluarga Rainier!” seringai Arsenio yang semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Winona yang memucat.
“Boleh saja kamu menyumbat sumber penghasilan kami di negara ini. Akan tetapi, kamu harus ingat. Kami masih memiliki sumber daya lainnya di Belanda yang jauh lebih besar dari milik keluarga Biantara Sasmita,” tandas Arsenio. Dia kembali menegakkan tubuh, lalu kembali ke meja kerja. Tak lupa dirinya melemparkan begitu saja stofmap folio tadi ke meja depan sofa.
“Bawa berkas-berkasmu kembali. Aku tidak butuh! Rainier Airlines tidak akan pailit, sebab aku akan menggelontorkan dana tak terbatas langsung dari Belanda.” Arsenio menyandarkan punggung pada kursi lalu tersenyum lebar, mengalahkan senyuman angkuh dan puas milik Winona beberapa saat yang lalu.
“Kau ….” Winona berdiri seraya mengepalkan tangan.
“Papa tak berani berbuat apapun pada kalian, bukan karena dia tidak mampu. Hanya saja papa merasa sangat kecewa sehingga tidak ingin berbuat apa-apa. Akan tetapi, lain halnya denganku. Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani mengacaukan kehidupan keluargaku,” ujar Arsenio tenang.
Sementara Winona seolah kehabisan kata-kata. Dia sama sekali tak ingin menanggapi pernyataan Arsenio. Satu-satunya hal yang Winona lakukan adalah membawa kembali berkas-berkasnya, lalu angkat kaki dari sana. Tempat yang dulunya pernah menjadi rumah kedua bagi Winona.
__ADS_1
Sesaat setelah Winona menghilang dari balik pintu, Arsenio buru-buru menelepon Dwiki. Cukup lama dia menunggu sampai anak buah kepercayaannya itu menjawab panggilannya.
“Halo, Bos!” sapa Dwiki setelah beberapa saat.
“Ki, bagaimana alat penyadap yang kamu pasang di mobil Winona?” tanya Arsenio.
“Masih kunonaktifkan, Bos. Ada apa?” Dwiki balik bertanya.
“Bisakah kamu aktifkan sekarang? Aku benar-benar minta tolong, Ki. Sebentar saja,” pintanya.
"Baik. Sebentar, Bos.” Dwiki berpikir sejenak sebelum menyanggupi apa kata majikannya, “tapi, saya hanya mempunyai satu jam saja waktu longgar.”
“Itu sudah lebih dari cukup, Ki. Aku hanya memintamu melaporkan padaku ke mana saja pergerakan mobil Winona selama satu jam ke depan,” sahut Arsenio.
“Oke, Bos! Tunggu laporan dariku.” Dwiki segera menutup panggilannya.
Seutas senyuman tersungging dari bibir tipis kemerahan Arsenio. Dia menopang dagu sambil menyusun rencana-rencana yang akan dia lakukan selama beberapa waktu ke depan sampai terdengar ponselnya kembali berdering.
“Hai, Arsenio. Aku baik-baik saja. Kuharap kau juga,” balas Normand ramah.
“Apakah ada yang bisa kubantu, Herr?” tanya Arsenio kemudian.
“Ya. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa dua minggu dari sekarang, anak buahku akan datang untuk mengurus semua keperluan pengurusan izin usaha. Kuharap kau bisa membantu mereka,” jawab Normand.
“Oh, tentu, Herr. Akan kuusahakan masalahku selesai dalam dua minggu, sehingga aku bisa fokus mengurus perizinan dan pendirian badan usaha milik anda,” tegas Arsenio sumringah.
“Danke schon, Arsenio,” ucap pria tersebut tulus.
“Gern geschehen (terima kasih kembali), Herr,” balas Arsenio seraya mengakhiri panggilan.
Baru saja pria rupawan itu meletakkan ponsel, datang lagi panggilan masuk baru. Dengan segera, Arsenio mengangkatnya ketika mengetahui bahwa Dwiki lah yang menelepon. “Bagaimana, Ki?”
__ADS_1
“Bos, mantan tunangan anda bergerak menuju kawasan perumahan di pinggiran kota,” terang Dwiki. “Apa anda ingin saya mengikuti nona Winona?”
“Tidak usah, Ki. Biar aku saja. Kamu urus dulu penginapanmu. Kirimkan padaku alamat lengkapnya. Nanti kuhubungi lagi. Oke!” Arsenio mematikan telepon, kemudian bergegas keluar ruangan.
Dengan tergesa-gesa, dia mencari keberadaan Binar. Wanita muda itu ternyata sedang berada di taman belakang, tempat dia dulu membantu Anggraini berkebun. “Sayang!” seru Arsenio.
Wanita muda yang terlihat semakin cantik tersebut langsung membalikkan badan dan tersenyum lebar. “Rain! Aku sedang memotong tangkai bunga. Rencananya akan kutaruh di vas meja makan,” ujarnya ceria.
“Bagus. Teruskan, Sayang. Aku pamit keluar dulu.” Arsenio mendekat, lalu mencium mesra bibir sang istri, sebelum berlalu sambil melambaikan tangan.
“Mau ke mana!” seru Binar tanpa beranjak dari tempatnya.
“Urusan bisnis, Sayang!” Arsenio melambaikan tangan tanpa menoleh. Dia segera menuju garasi besar, di mana sopir keluarganya tengah membersihkan mobil milik Lievin.
“Pak Mono, apa mobilnya sudah bisa langsung dipakai?” Pria berambut coklat tersebut membuka pintu kemudi dan menyapu pandangan ke seluruh kabin kendaraan.
“Sudah, Tuan. Apa Anda hendak keluar? Bisa saya antarkan,” tawar pria kurus berkumis itu.
“Tidak perlu. Aku bisa menyetir sendiri,” tolak Arsenio seraya tersenyum. Tanpa menunggu waktu lama, dia melajukan mobil menuju alamat yang sudah dikirimkan oleh Dwiki beberapa menit yang lalu.
Kendaraan Arsenio berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis dua lantai. Rumah bercat putih itu tampak asri dengan berbagai hiasan tanaman hias di halamannya. Arsenio memicingkan mata saat melihat mobil Winona terparkir di depan pagar.
“Rumah siapa itu?” gumamnya pada diri sendiri. Cukup lama dia menunggu kejutan yang mungkin saja hadir beberapa menit ke depan.
Akan tetapi, setelah satu jam berlalu. Tak terjadi apapun di sana. Winona ternyata tak jua keluar dari rumah tersebut. Arsenio sempat menguap, ketika tiba-tiba jendela mobilnya diketuk oleh seseorang.
Sambil bersikap waspada, Arsenio mengamati sosok seorang pria yang tampak seumuran dengannya. Pria itu tersenyum hangat, seolah sudah mengenal dia sebelumnya. Perlahan, Arsenio membuka kaca jendela. “Siapa? Apa aku mengenalmu?” tanyanya penuh selidik.
“Anda mungkin tidak mengenal saya, Pak. Akan tetapi, saya hafal dengan wajah Anda. Apalagi pak Lievin sering sekali bercerita kedua putranya,” jawab pria itu sopan.
“Memangnya kamu siapa?” tanya Arsenio lagi.
__ADS_1
“Saya Bayu, asisten pribadi pak Lievin,” sahut pria itu memperkenalkan diri.