
"Kenapa tiba-tiba Anda seakan ingin mengendurkan serangan, Bos?" tanya Ajisaka dengan heran. Pria dengan sedikit janggut yang menghiasi dagunya tersebut menatap lekat kepada Arsenio.
Sementara sang bos sendiri duduk nyaman sambil bersandar pada sandaran kursi taman. Jemari sebelah kanan Arsenio menjepit rokok yang masih mengepulkan asap, sedangkan tangan kiri dia letakkan di atas sandal yang biasa dirinya pakai saat di dalam rumah. Pria bermata cokelat terang itu menatap suasana malam yang belum terlalu larut dan masih cukup ramai, karena sayup-sayup masih terdengar suara para pedagang keliling di jalan depan.
"Aku hanya memikirkan dampak dari semua ini secara berkali-kali. Rasanya terlalu melelahkan jika terus berseteru dan berusaha untuk saling mengalahkan. Selain itu, istriku juga saat ini sedang hamil. Aku hanya ingin hidup tenang dan memulai semua dengan baik," jelas Arsenio yang diiiringi sebuah helaan napas pelan.
"Jadi, Anda ingin mengambil rencana kedua saja, Bos? Kalau saya pribadi akan melakukan sesuai perintah saja. Apapun yang Anda intruksikan, pasti akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin," ujar Ajisaka tenang.
"Iya, Ji. Aku tahu jika kamu dan juga Dwiki adalah dua orang yang benar-benar dapat diandalkan. Kalian akan selalu menjadi orang-orang kepercayaanku. Lagi pula, awal bulan depan kedua orang tuaku akan kembali dari Belanda. Papa sudah selesai menjalani pengobatan dan mamaku juga memiliki banyak urusan yang harus segera diselesaikan di Indonesia. Sementara aku juga masih punya sisa pekerjaan lain." Arsenio kembali mengisap rokoknya.
"Baikah, Bos. Kalau begitu, saya yang akan mengatur semuanya. Anda tinggal duduk manis, hingga seluruh bukti-bukti yang mengarah pada Biantara bisa kita dapatkan," balas Ajisaka meyakinkan. "Namun, sebelum itu saya ingin bertemu langsung dengan Dwiki, tapi katanya dia sedang sibuk sekarang."
"Ya. Semenjak menjadi sopir pribadi Winona ...." Arsenio terdiam beberapa saat. Dia menggantungkan kata-katanya dan tampak berpikir. Namun, apa yang Arsenio pikirkan tak juga dirinya ungkapkan di hadapan Ajisaka.
"Kenapa, Bos?" tanya sepupu Dwiki tersebut terlihat penasaran.
"Tidak apa-apa," jawab Arsenio seraya tersenyum simpul. Setelah mematikan sisa rokok di dalam asbak, pria berdarah Belanda tersebut kemudian beranjak dari duduknya. "Aku masuk dulu, Ji. Kalau kamu masih ingin di sini, silakan lanjutkan." Arsenio menepuk lengan pria yang berusia tiga tahun lebih tua darinya tersebut. Dia pun berlalu ke dalam.
Namun, putra sulung Lievin itu tampak menghentikan langkahnya ketika sudah berada di ambang pintu. Arsenio kembali menoleh kepada Ajisaka yang masih asyik menikmati sisa rokoknya. "Anika merupakan gadis yang menyenangkan. Dia juga pandai menyanyi," ucap Arsenio dengan tiba-tiba, membuat Ajisaka segera menoleh dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Saya akan mengetesnya kapan-kapan," sahut Ajisaka seraya tersenyum lebar. Walaupun pria itu memiliki sorot mata yang lebih tajam jika dibandingkan dengan Dwiki, tapi hal tersebut tak membuat dia terlihat jahat.
Sementara itu di kediaman Biantara Sasmita. Dwiki dan Winona masih asyik berbincang di dekat kolam renang. Ada banyak pembahasan yang mereka bicarakan, dari tema serius hingga sesuatu yang berupa candaan ringan. Tak jarang, Winona dibuat tertawa oleh segala celetukan yang dilontarkan sang sopir pribadi.
"Omong-omong, ini sudah malam. Memangnya besok kamu tidak ada acara penting?" tanya Dwiki menyudahi perbincangan hangat itu.
"Ada beberapa, tapi aku bisa berangkat agak siang. Jadi, jika bangun terlambat pun rasanya masih bisa mengejar waktu," jawab Winona seraya menarik kedua kakinya dari dalam kolam. "Apa kamu sudah ingin tidur, Ki?" tanya Winona yang saat itu sudah berdiri.
"Aku terbiasa tidur larut, Non," sahut Dwiki yang juga sudah dalam posisi berdiri. Dia lalu berjalan ke dekat meja di mana terdapat piring kotor bekas mereka makan. Tanpa banyak bicara, Dwiki segera membereskannya. Dia menumpuk piring itu menjadi satu, kemudian membawanya. "Ayo," ajak pria dengan rambut yang sudah mulai gondrong tersebut. Dia mengisyaratkan agar Winona segera mengikutinya masuk.
Winona pun tak banyak membantah. Setelah meraih botol minuman yang juga sudah kosong, dia segera mengikuti langkah tegap Dwiki ke dalam dapur. Dia lalu mengambil sebuah apel dari dalam keranjang buah di atas meja. Dengan terampil, wanita muda itu mengirisnya, sementara Dwiki mencuci piring kotor tadi. "Haruskah kamu mencucinya sendiri, Ki?" tanya putri tunggal Biantara Sasmita tersebut tanpa menoleh.
"Kamu mau?" tawar Winona. Dia menyodorkan beberapa potong apel di dalam sebuah piring kecil.
Dwiki pun mendekat, lalu berdiri di dekat Winona sambil menyandarkan sebagian tubuh pada pinggiran countertop berlapis granit. Ajudan setia Arsenio tersebut melirik Winona yang saat itu tak jauh lebih tinggi darinya tanpa sepasang stiletto. Dwiki mengambil satu potong apel, kemudian memakannya. "Jadi, tuan Biantara akan kembali lusa?" tanyanya kembali membuka percakapan.
"Ya. Biasanya papa dan mama pergi ke Singapura selama satu minggu. Jika sudah begitu, maka semua urusan kantor aku yang menghandle. Rasanya sangat melelahkan setiap hari berkutat dengan segala hal yang .... apa kamu pernah berpikir untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitimu?" Winona tiba-tiba melayangkan sebuah pertanyaan yang terdengar sangat aneh. Namun, karena Dwiki sudah mengetahui hal itu, maka dia tak terkejut lagi.
"Maksudku ... kamu ingin melihat orang-orang yang telah membuat hidupmu hancur menjadi sama hancurnya atau bahkan mungkin jauh lebih dari itu," ucap Winona lagi.
__ADS_1
"Haruskah demikian?" Dwiki kembali mengambil satu potong apel lagi dari dalam piring kecil yang masih Winona pegang.
"Aku tidak tahu, Ki. Orang-orang mungkin berpikir bahwa aku merupakan wanita yang sangat cerdas dan juga kuat. Padahal, kenyataannya semua yang ada pada diriku hanyalah sebuah topeng," ucap Winona pelan.
"Aku bosan harus selalu tampil cantik dan terlihat sempurna. Wajahku rasanya sangat berat dan ingin sekali keluar rumah tanpa riasan sama sekali. Aku juga tak nyaman ketika seharian mengenakan stiletto. Aku ingin ke mana-mana dengan memakai sandal jepit legendaris seperti yang sering kamu kenakan. Aku ...."
"Kenapa kamu terus memaksakan diri dalam segala hal? Mengapa harus selalu mempertahankan sesuatu yang membuat dirimu merasa tak nyaman. Jika terus seperti itu, maka hidup ini akan terlewati dengan sia-sia. Tak ada yang tersisa selain penyesalan. Sementara waktu tak akan pernah bisa diputar." Dwiki kembali mengambil satu potong apel, sementara Winona belum memakannya sama sekali.
"Seandainya waktu dapat diputar, maka aku tak akan pernah jatuh cinta kepada pria seperti dia. Aku juga akan memilih untuk menjadi wanita biasa yang ...."
"Tak baik menyesali apa yang telah terjadi. Andai semua orang berpikiran begitu, maka tak akan pernah ada sebuah pembelajaran tentang arti kehidupan. Jika mau, maka aku akan meminta pada Tuhan untuk tidak mengambil kedua orang tuaku dengan terlalu cepat. Dengan begitu, mungkin aku tak harus berkeluh kesah sendiri. Namun, aku pasti tak akan menjadi diriku yang mandiri seperti saat ini." Dwiki kembali mengambil potongan apel, hingga tanpa dirinya sadari bahwa hanya tinggal tersisa satu potong lagi di dalam piring.
Winona yang tadinya memasang raut serius saat mendengarkan perkataan pria di sebelahnya, seketika membelalakan mata. Sesaat kemudian, wanita dua puluh lima tahun tersebut memasang wajah merajuk. Sekali lagi Dwiki mendapati sesuatu yang baru dari sang nona, yaitu sisi manja yang terlihat sangat normal. "Keterlaluan!" protes Winona sambil memukul lengan Dwiki dengan kesal.
Sementara si pria hanya terkekeh geli saat menanggapinya. "Ya sudah. Ini untukmu saja." Dwiki mendekatkan potongan terakhir apel tadi ke mulut Winona. Namun, ketika Winona hendak menyantapnya, dengan segera Dwiki memasukkan ke dalam mulut sendiri. Winona pun semakin kesal, apalagi Dwiki dengan sengaja mempermainkannya.
Keakraban kian terasa. Mereka kini tak hanya bercanda lewat kata, tapi sudah mulai saling menyentuh secara fisik. Entah bagaimana awalnya, ketika pinggang ramping Winona kini sudah berada dalam dekapan lengan kokoh sang sopir pribadi yang menyenangkan.
Tatapan mereka pun saling bertemu. Pandangan yang kini terasa semakin dalam dan penuh arti dirasakan oleh dua sejoli tadi. Perlahan, tangan Dwiki mulai beralih pada wajah cantik Winona yang juga seakan tak hendak menolak perlakuan tersebut. Winona terdiam dan menerima dengan mata terpejam, ketika Dwiki menyentuh lembut bibir polosnya. Dia akhirnya dapat menikmati sisa apel, langsung dari dalam mulut pria itu.
__ADS_1