Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Sang Penghibur


__ADS_3

“Tidak usah, Pak. Terima kasih,” tolak Binar halus. Malu-malu dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya


“Kenapa? Datang saja. Tidak apa-apa. Event ini terbuka untuk umum, kok,” bujuk Chand.


Namun, Binar kembali menggeleng sembari tersipu. “Terima kasih, Pak. Saya tidak membawa banyak baju waktu datang ke sini,” sahut gadis itu apa adanya. “Lagi pula, besok saya akan mengambil dua shift lagi. Mbak Rena mengajak saya menghias di balai kota,” imbuh Binar seraya mengunyah makanan dengan tenang.


“Oh, begitu," gumam Chand. Dia tampak berpikir seraya tetap mengarahkan pandangan kepada gadis cantik di hadapannya. “Sampai jam berapa kamu akan di balai kota?” tanyanya kemudian.


“Sampai sore, Pak. Mungkin sekitar jam lima,” jawab Binar. Dia sudah selesai menghabiskan makanannya dan bersiap untuk pulang. Namun, gadis itu menjadi ragu untuk beranjak dari duduknya, karena Chand tak juga hendak pergi. Pria itu masih saja betah berada di kursi tempat dia berada.


“Exponya berakhir sampai malam hari. Pulang kerja kujemput, ya,” pinta Chand setengah memaksa.


“Eh, tapi ....” Binar agak ragu untuk menerima ajakan pria yang baru beberapa hari saja dia dikenal. Dia harus waspada. Rasa trauma atas perlakuan Surya terus saja menghantui dirinya.


“Ayolah, Mal. Aku sedang benar-benar butuh hiburan. Beberapa hari terakhir ini moodku kacau. Banyak masalah yang terjadi di sekitarku. Beruntung karena aku bertemu dan kenal dengan kamu. Sedikit banyak jadi bisa tertawa melihat tingkah lucumu,” tutur Chand setengah merayu, membuat Binar merengut.


“Memangnya saya badut apa?” protes gadis itu lirih. Akan tetapi, Chand dapat mendengarnya dengan jelas. Pria itu pun kemudian tertawa.


“Mirip, sih,” celetuk Chand sambil menahan tawa, ketika dilihatnya Binar semakin cemberut. “Mau, ya? Please,” pinta Chand lagi setengah merengek seperti anak kecil yang meminta mainan. “Jangan khawatir. Jika alasanmu adalah bingung karena tidak punya baju, maka aku punya solusi.” Pria tampan berhidung mancung itu tiba-tiba berdiri dan menarik lengan Binar. “Ayo, ikut,” ajaknya setengah memaksa.


“E-eh, Pak. Saya mau dibawa ke mana?” tanya Binar hendak protes. Namun, cengkeraman tangan Chand terlalu kuat, sehingga pada akhirnya dia pasrah ketika Chand membawanya keluar dari area mall dan menuju tempat parkir.


“Ayo, masuk,” suruh Chand sambil membuka pintu mobil.


“Saya mau dibawa ke mana, Pak?” ulang Binar lagi.


“Ke rumahku. Kita mengantarkan pesanan mama dulu. Setelah itu, kuajak kamu jalan-jalan,” jawab Chand santai. Dia menunggu sampai Binar masuk ke dalam kendaraan, lalu menutup pintunya. Chand kemudian memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.


“Ta-tapi, Pak. Sa-saya.” Binar begitu gelisah ketika Chand berniat mengajaknya ke rumah pria itu. Berkali-kali dia merapikan rambut serta mengusap wajahnya. “Wajah saya kusut, Pak. Badan saya juga bau keringat." Binar terus beralasan supaya Chand mengurungkan niatnya.

__ADS_1


“Tenang saja, Mal. Di rumah ada setrika,” sahut Chand datar.


“Setrika?” Binar mengernyitkan kening.


"Iya, kan kamu bilang tadi kalau muka kamu kusut," jawab Chand seraya terbahak.


“Benar-benar hiburan,” celetuknya kemudian.


Paras cantik Binar merah padam saat itu. Malu dan sebal bercampur menjadi satu. Dia pun tak banyak bicara, hingga mobil Chand memasuki gerbang yang terbuka otomatis. Mobilnya pun melintasi pekarangan yang teramat luas. “I-ini rumah Bapak?” tanya gadis cantik itu ragu.


“Jangan panggil Bapak, dong. Apalagi nanti kalau di depan mama aku. Aku jadi merasa sangat tua,” protes Chand ketika dia memarkirkan mobilnya di depan teras rumah yang terlihat sangat mewah di mata Binar.


“Lalu, saya panggil apa?” tanya Binar kebingungan.


“Mas? Kak?” pikir Chand sambil menaikturunkan alis.


Chand sudah hendak menanggapi, tapi dia urungkan saat melihat sang ibu yang setengah berlari dari dalam rumah menuju ke arahnya.


“Sebentar.” Setengah terburu-buru, Chand turun dari kendaraan dan membukakan pintu untuk Binar. Dia bahkan membantunya untuk turun.


Kalini yang sudah berada tepat di depan Chand, tertegun melihat sang putra yang membawa pulang seorang gadis. “Siapa dia, Chand?” tanyanya ragu.


“Nirmala, Ma. Dia teman aku. Pegawainya Renata,” jawab Chand yang melirik Binar seraya tersenyum hangat.


“Oh.” Kalini tampak memaksakan senyumnya. Gerak tangan wanita itu juga kaku saat menerima uluran tangan Binar.


“Selamat sore, Bu. Um ... maksud saya, Tante.” Binar berniat mencium punggung tangan Kalini. Namun, dia buru-buru menarik tangannya.


“Eh, bersalaman biasa saja. Tidak perlu cium tangan. Seperti ketemu ibu pejabat saja,” tolak Kalini setengah bercanda. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri wajah cantik wanita itu terlihat sedikit tidak nyaman.

__ADS_1


“Ma?” Chand dapat melihat dengan jelas gelagat tak suka dari sang ibu.


“Mama masuk dulu, ya. Pesanan mama tolong bawa ke kamar langsung,” ujar Kalini seraya membalikkan badan. Dengan tergesa-gesa, dia masuk ke dalam rumah.


Suasana menjadi sedikit kaku saat itu. Binar pun sepertinya juga lebih banyak terdiam dan menunduk. Sementara Chand hanya mematung di sampingnya. “Maafkan mamaku, ya. Tidak biasanya beliau seperti itu. Mama adalah orang yang sangat ramah dan mudah akrab dengan siapa pun,” ucapnya yang merasa tak enak.


“Tidak apa-apa, Pak. Eh, Kak,” balas Binar sembari tersenyum.


“Kamu masuk saja dulu. Aku akan mengantarkan pesanan mama.” Chand lalu berjalan ke belakang mobil dan membuka bagasi. Dia lalu mengeluarkan beberapa paperbag berukuran besar, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ambang pintu masuk, Chand berbalik dan memanggil Binar lagi. “Ayo, masuk. Kok malah bengong,” ajaknya.


“Eh, i-iya, Pak.” sambil mencengkeram erat tali ranselnya, Binar melangkah mengikuti tubuh tegap Chand dan berhenti di ruang tamu yang membuatnya terpana. Mata indah Binar pun tak berkedip.


Rumah Chand merupakan perpaduan antara interior modern dengan etnis. Terdapat pilar-pilar penyangga di ruang tamu yang terbuat dari kayu jati penuh dengan ukiran. Dinding bagian bawah berupa tembok, sedangkan bagian atas terbuat dari kayu. Tampak hiasan wayang dan lukisan berukuran besar yang menghiasi dinding.


“Ayo, duduk dulu.” Suara Chand mengejutkan Binar yang masih terpaku mengagumi keindahan ruang tamunya.


"Iya, Pak. Anu ... maksud saya, Kak.” Binar mengangguk dan memilih duduk di salah satu kursi yang ternyata adalah kursi goyang. Jadi saat dia duduk di sana, kursi itu bergerak ke belakang, sehingga tubuhnya ikut bergoyang sesuai arah kursi.


Lagi-lagi, Chand tertawa dengan ulah kocak Binar saat itu. “Duduk di sofa saja, Mal,” tunjuknya.


“Iya, di sofa saja.” Binar mengulang kata-kata Chand sambil bangkit dan berpindah ke sofa panjang berwarna putih.


“Tunggu, ya.” senyum Chand saat itu begitu manis, membuat Binar tertegun sejenak. Tak dapat dipungkiri, wajah rupawan Chand membuatnya cukup terpesona. Binar terus memperhatikan tubuh tegap itu hingga menghilang di balik pintu ruang tengah.


Chand berjalan lurus melintasi ruang tengah, tempat dirinya biasa bersantai dengan ibu dan adiknya saat pulang ke Jogja. Dia lalu berbelok ke kanan, menuju satu ruangan dengan pintu yang telah terbuka.


Di dalam sana, Kalini sudah terlihat menunggu Chand sambil bersedekap. “Jadi dia yang sudah merusak rumah tangga kalian?” tanyanya dengan nada yang terdengar amat ketus.

__ADS_1


__ADS_2