
Taman Renata, sebuah toko bunga terbesar yang ada di kota itu. Ke sanalah pertama kali Nastiti mengajak Binar untuk melamar pekerjaan, berhubung dia tahu bahwa toko bunga tersebut saat ini tengah membutuhkan seorang karyawan baru.
"Mbak, Rena. Ini teman saya, namanya Nirmala. Dia ingin melamar untuk bekerja di sini," ucap Nastiti memperkenalkan Binar pada sang pemilik toko, dengan menggunakan nama depan gadis itu.
Rena Puspita, itulah nama wanita dengan rentang usia sekitar tiga puluh lima tahun. Dia adalah wanita yang cantik dan terlihat modern, meskipun penampilannya tetap sederhana dengan sebuah blouse lengan pendek berwarna hijau yang dipadukan bersama celana kulot.
"Nirmala? Apa kamu berasal dari kota ini?" tanya Rena pada awalnya.
"Saya ...."
"Ayah kandung Nirmala merupakan asli orang Jawa, Mbak. Namun, beliau merantau ke Bali dan hidup di sana. Sekarang, Nirmala kembali lagi ke tanah Jawa dan ingin mengadu nasib di sini," terang Nastiti tampak meyakinkan Rena. "Nirmala juga fasih berbahasa Inggris," ucap gadis itu lagi.
Rena tak segera menanggapi ucapan Nastiti. Dia memperhatikan Binar untuk beberapa saat, mengamati gadis cantik itu dari atas hingga ke bawah. Baginya, Binar terihat seperti gadis baik-baik dalam penampilan yang seserhana. Perpaduan celana jeans dengan sebuah t-shirt press body dan gaya rambut ekor kuda.
"Baiklah, Nirmala. Apa kamu membawa kartu identitas dan ijazah atau semacamnya? Meskipun tempat ini bukan perusahaan besar dengan peraturan yang terkesan formal, tapi saya tetap harus mengenal baik setiap karyawan yang ingin bekerja di sini. Saya yakin kamu juga pasti paham akan hal seperti itu," ujar Rena menjelaskan.
"Iya, Mbak. Saya membawa surat-surat lengkap dan juga kartu identitas," jawab Binar seraya mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kain yang dijinjingnya. Tas yang kebetulan dipinjamkan oleh Irma.
Rena menerima map yang Binar sodorkan padanya. Wanita berambut panjang itu kemudian membuka dan langsung memeriksa kertas-kertas di dalam sana. Rena terlihat begitu serius. Sesekali kepalanya tampak manggut-manggut. "Nirmala Binar Candramaya," ucapnya menyebutkan nama lengkap Binar. Sesaat kemudian, wanita dengan blouse berwarna hijau tadi kembali menutup map yang baru saja dia periksa. Setelah itu, dia kembalikan lagi kepada Binar.
"Apa kamu ada pengalaman kerja sebelumnya?" tanya Rena kemudian.
"Setelah lulus sekolah, saya langsung bekerja di toko suvenir. Balinese Glass Art and Souvenirs, Mbak. Saya tidak bekerja di tempat lain hingga memutuskan untuk resign dan merantau kemari," terang Binar dengan yakin.
"Oh, saya tahu toko itu. Kebetulan, saat berkunjung ke Bali pernah mampir dan membeli beberapa oleh-oleh di sana," ujar Rena. "Jadi, seharusnya kamu sudah paham ya bagaimana caranya berinteraksi dengan konsumen. Salam, sapa, kontak mata, dan sebagainya."
__ADS_1
"Iya, Mbak," sahut Binar seraya mengangguk pelan.
"Intinya, di toko ini saya selalu mengutamakan kualitas pelayanan. Jadi, keramahan harus selalu dikedepankan. Buat konsumen senyaman mungkin dan kalau bisa sampai mereka merasa terkesan dengan kita. Pilihkan bunga-bunga terbaik, meskipun saya selalu memperhatikan kualitas setiap tangkai dari bunga-bunga yang masuk ke toko ini. Namun, tak ada salahnya untuk jauh lebih teliti. Berhubung kita sedang kebanjiran orderan, jadi kamu boleh langsung bekerja hari ini juga." Rena tersenyum ramah setelah menjelaskan semuanya kepada Binar.
"Sungguh, Mbak?" tanya Binar kembali meyakinkan sang pemilik toko.
"Iya. Selamat bergabung, Nirmala. Semoga kamu betah. Buat dirimu senyama mungkin selama di sini. Mari kita bekerja sama dengan baik. Kamu bantu saya dan begitu juga sebaliknya. Saya akan kasih kamu jatah uang makan setiap hari. Bisa kamu ambil per hari, tapi tidak apa-apa jika kamu ambil seminggu sekali sesuai hari kerja kamu. Untuk gaji, seperti biasa akan saya berikan setiap akhir bulan. Satu lagi, pada akhir tahun saya selalu memberikan bonus untuk satu orang karyawan teladan. Jadi, silakan kerjakan tugas kalian dengan baik dan penuh tanggung jawab," tutur Rena lagi menyudahi pertemuan itu.
"Terima kasih, Mbak. Saya akan bekerja sebaik mungkin. Permisi." Dengan senyuman terkembang di wajah cantiknya, Binar keluar dari ruangan milik Rena dengan ditemani Nastiti. Lega rasa hatinya karena telah mendapatkan pekerjaan.
"Mbak Rena baik, kan?" ujar Nastiti.
"Iya. Aku senang karena bisa dipertemukan dengan orang-orang baik seperti kamu dan bu Irma. Seumur hidup aku pasti tidak akan pernah lupa atas semua kemurahan hati kalian berdua yang bersedia menampungku. Padahal aku hanyalah orang asing bagi kamu dan bu Irma, tapi kalian .... kalian menganggapku seperti keluarga sendiri. Aku merasa sangat terharu," ucap Binar yang tak kuasa menahan rasa syukur dalam hati. Di saat Widya yang merupakan keluarganya memperlakukan dia dengan keji, ternyata masih ada orang lain yang jelas bukan siapa-siapa tapi begitu baik selayaknya saudara sendiri.
"Ti, hari ini kita harus ke gedung di dekat Balai Kota untuk mendekor," pesan Rena mengingatkan. "Astaga, saya lupa kalau hari ini Nina izin. Kita masih kekurangan orang untuk mengerjakannya. Bagaimana, ya?" Rena tampak berpikir.
"Ajak Nirmala saja, Mbak," cetus Nastiti.
Rena mengalihkan perhatiannya kepada Binar. Dia kembali memperhatikan gadis itu. "Apa kamu sanggup, Mal?" tanyanya. "Baiklah. Anggap sebagai latihan. Kita akan berangkat setengah jam lagi," putusnya sebelum berlalu dari hadapan kedua gadis tadi.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Binar masih belum mengetahui tugasnya nanti.
"Kita ada pesanan buat mendekor gedung untuk acara pernikahan. Dengar-dengar, yang nikah masih kerabat dari pemilik WO yang biasa bekerja sama dengan toko bunga ini. Jadi, tentu saja kita harus bekerja semaksimal mungkin agar jangan sampai mengecewakan," jelas Nastiti.
Setengah jam kemudian, sesuai rencana mereka pun berangkat ke gedung yang dimaksud. Sedangkan di toko hanya ada satu pegawai yang berjaga. Jarak antara toko ke gedung yang dimaksud pun tak seberapa jauh. Sekitar lima belas menit saja, mereka telah tiba di tempat tujuan. Sesampainya di gedung tersebut, Rena segera memberi arahan kepada Nastiti yang kini dibantu oleh Binar. Dengan sungguh-sungguh, kedua gadis itu mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka.
__ADS_1
Bagi Binar, ini merupakan sesuatu yang sangat mengasyikan. Dia berusaha untuk mengerjakan tugasnya dengan baik dan teliti agar jangan sampai terjadi kesalahan. Namun, Binar adalah orang baru dalam dunia mendekor ruangan dengan bunga, sehingga dia kerap mendapat teguran dari Rena. Meskipun begitu, gadis cantik tersebut hanya menaggapinya dengan sebuah senyuman. Dia tak terlihat kesal atau bahkan tidak terima dengan semua teguran yang dialamatkan kepadanya.
"Maklum, karyawan baru. Dia baru masuk hari ini," ucap Rena pada seorang pria yang diketahui sebagai pemilik WO sekaligus penyelenggara acara, berhubung yang akan menikah adalah adik dari pria tersebut.
"Tidak apa-apa. Kemahiran butuh latihan serta jam terbang. Namun, harus tetap diawasi. Saya ingin semuanya terlihat sempurna," ujar pria itu menekankan kepada Rena.
"Tenang saja, Mas. Di tangan Rena, semuanya pasti beres," balas Rena diiringi tawa renyah.
"Ya, karena itulah kita bekerja sama," jawab pria tadi. "Sudah waktunya istirahat makan siang. Kita berhenti dulu," ucapnya kemudian mengingatkan Rena.
Wanita pemilik toko bunga itu segera melihat arloji di pergelangan kirinya. "Oh, iya!" serunya pelan. "Gadis-gadis, istirahat makan siang dulu!" serunya lagi dengan jauh lebih nyaring.
Binar dan Nastiti serta beberapa orang lain yang tengah sibuk mendekor pun kemudian menghentikan pekerjaan mereka. Seorang wanita tampak membagikan nasi bungkus untuk masing-masing yang ada di sana, tak terkecuali Binar dan Nastiti. Kedua gadis tadi duduk di sudut ruangan sambil menikmati jatah makan siang mereka.
Setelah menghabiskan satu bungkus nasi beserta lauk pauknya, Binar merasa jika dirinya ingin ke toilet. Dia pun berpamitan sejenak kepada Nastiti. Gadis itu berjalan keluar dari ruangan tadi. Dia menyusuri lorong untuk menemukan letak toilet. Namun, gedung itu cukup luas dan juga masih asing bagi Binar. Di sana juga suasananya terbilang sepi.
Binar terus berjalan sampai akhirnya menemukan petunjuk toilet. Dia pun mempercepat langkahnya karena sudah tak tahan ingin segera buang air kecil. Namun, karena kurang hati-hati, Binar tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang baru keluar dari sana sambil bermain ponsel.
"Hey!" protes pria itu.
"Aduh, maaf," ucap Binar.
Pria itu menatapnya sejenak, sebelum terdengar sebuah panggilan dari belakang.
"Chand!"
__ADS_1