
"Nirmala," ucap pria tampan yang selalu identik dengan sikap tenangnya itu. Perlahan,
akal sehat Chand berangsur normal, saat melihat air mata yang mengalir deras di pipi Binar. Suara tangis yang menyayat hati, membuat Chand menurunkan pistolnya dengan lesu. "Sebegitu berharganya kah Arsenio bagimu? Dia hanyalah seorang pria brengsek!" Chand seakan marah pada dirinya sendiri. Sejuta rasa sesal kian mendera dan melumpuhkan segala ketegarannya selama ini, saat harus kembali menerima kenyataan bahwa pria sikap baiknya tak jauh lebih berharga dari pria brengsek seperti Arsenio. "Apa salahku?" gumamnya tak mengerti.
"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Kak. Demikian pula dengan Rain," balas Binar. Tak sedetik pun dia melepas pelukannya dari Arsenio yang masih terpaku.
"Nirmala, kamu ...." Chand kehabisan kata-kata. Dia memandang setengah tak percaya pada wanita cantik yang tampak begitu lusuh. "Suatu saat dia akan meninggalkanmu. Lihat dan buktikan kalimatku!" Pria itu mendengus kesal, lalu menyimpan pistolnya di balik kemeja dan berlalu dari hadapan pasangan pengantin baru itu dengan begitu saja.
"Aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi!" ujar Chand untuk terakhir kali, sebelum dia melangkah gontai meninggalkan apartemen Prajna.
Kini, tinggal Arsenio dan Binar di sana yang masih terisak sambil memeluk tubuh suaminya. "Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang? Bagian mana yang sakit?" tanya Arsenio lembut seraya menyentuh dagu Binar dan menggerakkan wajah cantik itu ke kanan dan ke kiri sambil memeriksa setiap inchi permukaan kulit istrinya.
"Tidak ada." Binar memaksakan tersenyum, lalu mencium bibir Arsenio lembut.
Arsenio dapat merasakan bibir dan seluruh tubuh istrinya gemetar. Akan tetapi, wanita muda itu berusaha menyembunyikannya dengan bersikap seolah sedang baik-baik saja. "Astaga, Binar," desah Arsenio. Detik itu juga, perasaan bersalah datang menerjang pria itu bagaikan air bah. Kesalahannya di masa lalu, ternyata tak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga pada banyak orang, termasuk Binar.
Istri yang teramat dia cintai itu juga ikut menderita akibat masa lalunya yang buruk. "Binar," sebut Arsenio lagi. "Maafkan aku," ucapnya pelan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arsenio menitikkan air mata. Tak hanya tangisan hening, melainkan ratapan yang terdengar begitu menyedihkan. "Maafkan aku. Maafkan aku," ulangnya berkali-kali.
"Benar apa yang Chand ucapkan tadi. Aku tidak pantas untukmu, Binar," ujar Arsenio setelah merasa sedikit tenang. Sontak Binar membelalakkan mata dan memukul lengan suaminya berkali-kali.
"Terus kamu mau apa? Mau meninggalkanku sendiri? Begitu?"
"Belum apa-apa aku sudah membuatmu menderita," sahut Arsenio menunduk dalam-dalam. Dia tak berani menatap Binar secara langsung.
"Aku tidak merasa menderita. Kita akan melalui semuanya bersama, Rain." Masih dengan tubuh gemetar, Binar menguatkan dirinya. Dia menangkup paras tampan sang suami dan mengecup bibir tipis itu dengan lembut. "Aku juga bukan sosok yang sempurna. Masih banyak kekurangan dalam diriku. Namun, kita bisa memperbaikinya bersama-sama. Kita harus dapat berubah menjadi lebih baik setiap harinya. Bantu aku, Rain. Aku tidak bisa berubah sendirian," lanjut Binar.
"Kamu mau menerimaku yang brengsek ini, Binar?" Arsenio menatap ragu pada istrinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih bertanya? Apa kamu lupa janji dan sumpah setia kita di altar?" Binar malah balik bertanya.
Arsenio tak segera menanggapi. Tangannya terulur dan menyentuh wajah sang istri. Dibelainya pipi halus serta bibir ranum kemerahan itu. "Terima kasih, Sayangku. Entah apa jadinya hidupku andai tidak dipertemukan denganmu." Sisa air mata yang mulai mengering di pipi Arsenio, segera diusap oleh Binar.
"Jangan berpikir macam-macam lagi, Rain. Tinggalkan semua yang buruk di belakang. Kita mulai semuanya dengan kebaikan, dan ...." Binar ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
"Apa?" Arsenio gemas memandangi wajah cantik Binar.
"Jangan pernah melirik siapa pun. Cukup aku saja," jawab Binar polos.
Tawa Arsenio meledak saat itu juga. "Pakaikan aku kacamata kuda supaya pandanganku tetap lurus ke depan," guraunya.
"Rain! Aku serius!" Binar mencubit pinggang Arsenio pelan.
"Aku juga serius." Tawa renyah pria rupawan itu berhenti. Dia kembali menyentuh dagu Binar dan melu•mat bibirnya untuk beberapa saat. "Aku tidak bisa berpaling pada siapa pun lagi. Alleen Binar (hanya Binar seorang)," ucapnya kemudian.
"Aku menunggu untuk makan bersamamu." Binar tersipu melihat Arsenio yang melotot.
"Astaga." Tanpa aba-aba, Arsenio membopong tubuh sang istri dan mendudukkannya di kursi meja makan. Dia lalu berbalik ke ruang tamu dan memunguti berkas-berkas yang dirinya bawa dari kantor imigrasi, lalu duduk di sebelah Binar. "Lihat. Ini paspormu sudah jadi." Arsenio menunjukkan benda itu tepat di depan wajah Binar.
Saat Binar hendak meraihnya, Arsenio langsung menjauhkan buku kecil itu. "Makan dulu, baru kamu pegang paspor ini," ujarnya "Apa perlu aku suapi?" tawar Arsenio seraya menggerakkan alis.
"Kita makan bersama. Itu artinya ... kita menyuapi diri masing-masing saja." Binar tergelak selesai berkata demikian. Dia lalu mengambilkan sepiring nasi beserta lauk pauk dan menghidangkannya pada sang suami. Setelah itu, Binar mengambil seporsi untuk dirinya sendiri.
Obrolan hangat menemani makan siang menjelang sore mereka. Mereka saling melemparkan candaan, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Arsenio mulai bersikap serius sesaat setelah mereka berdua menyelesaikan makan bersama. "Sayang, kamu dengar 'kan apa kata Chand tadi? Dia tidak ingin melihat kita lagi. Itu artinya ...."
"Kita harus secepatnya pergi dari sini," sahut Binar sebelum Arsenio menyelesaikan kata-katanya. "Aku tahu itu. Kalau bisa, hari ini juga kita keluar dari sini," ucap wanita cantik itu sembari menggenggam jemari suaminya. Ragu-ragu dia hendak mengungkapkan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa?" Arsenio seakan paham akan bahasa tubuh Binar. Dia pun mengecup punggung tangan sang istri untuk menenangkan. "Bicara saja," pintanya lembut.
"Ternyata ... ternyata kak Chand yang menyuruh Indah untuk mencelakai kamu," ujar Binar lirih.
"Ya ampun, Sayang. Aku tidak akan terkejut lagi, mengingat Chand tadi hampir membunuhku." Arsenio terkekeh pelan. "Sekarang, mari kita bekerja sama membersihkan tempat ini serapi dan sebersih mungkin. Setelah itu, kita mengemas barang-barang, lalu pindah," ajaknya dengan yakin.
"Pindah ke mana?" Binar menautkan alisnya.
"Nah, itulah masalahnya. Pindah ke mana, ya?" balas Arsenio seraya tertawa.
"Apa tidak bisa kita pergi ke Jerman sekarang, Rain?" tanya Binar dengan raut wajah yang menggemaskan.
"Ya, belum bisa dong, Sayang. Kamu belum mengurus visamu. Untuk bepergian ke luar negeri, selain paspor kita juga harus mempunyai visa," jelas Arsenio.
"Kapan kita akan mengurus visanya?' desak Binar.
"Begini. Kita selesaikan masalah satu per satu dulu. Pertama, mari bereskan apartemen ini. Setelah itu, barulah kita mencari kos-kosan atau penginapan sederhana dan besoknya kita mengurus visamu. Bagaimana? Deal?" tawar Arsenio.
"Deal!" sahut Binar penuh semangat.
Mereka terbahak, lalu beranjak dari meja makan dan mulai membereskan apartemen yang tak begitu besar tersebut. Tak sampai dua jam, mereka telah merapikan tempat itu. Pasangan suami istri tadi kemudian beralih ke kamar. Sambil berkemas, Binar dan Arsenio juga membersihkan ruangn itu hingga tampak seperti baru ditempati.
Dua sejoli itu berhasil menata rapi barang bawaan mereka ke dalam dua ransel besar milik Arsenio, serta satu tas jinjing baru milik Binar pemberian pria itu saat mereka mampir di toko suvenir di area bandara Ngurah Rai, Bali. Sementara koper besar beroda yang pernah dipinjamkan oleh Chand, Binar letakkan begitu saja di sudut kamar.
"Apa kamu sudah siap, Sayangku?" Arsenio merengkuh pundak Binar, lalu mengecup pipinya.
"Kapanpun aku siap, asalkan selalu bersama tuan Arsenio," jawab Binar.
__ADS_1
"Astaga." Arsenio menampakkan senyuman lebarnya sebelum mereka keluar dari apartemen yang sudah menjadi tempat tinggal mereka selama beberapa hari ke belakang.