
“Kenapa?” Wajah cantik Binar mendadak berubah murung. “Kamu tidak ingin punya anak dariku?” Wanita muda itu melepaskan diri dari dekapan Arsenio, kemudian bergerak sedikit menjauh sehingga ada jarak di antara mereka berdua.
“Bukan begitu, Sayang. Jangan salah paham, dulu.” Arsenio mencoba membujuk serta merayu sang istri, dengan merengkuh tubuh ramping itu kembali. Akan tetapi, Binar menolak dan lebih memilih untuk duduk di sisi ranjang.
“Aku benar-benar ingin memiliki banyak keturunan darimu, tapi …..” Arsenio mengatur ulang kata-kata yang akan dia ucapkan. Pria tampan itu sama sekali tak ingin jika Binar salah paham terhadapnya. “Usiamu masih dua puluh tahun. Usiaku juga masih terbilang nuda. Aku ingin menikmati kebersamaan yang intens dulu denganmu, menikmati masa-masa pacaran setelah menikah sambil beradaptasi. Lagi pula, keadaan ekonomi kita masih belum stabil. Aku ingin jika anak kita lahir suatu saat nanti, maka dia akan terlahir saat kondisi kita yang sudah jauh lebih mapan,” tuturnya kemudian.
“Aku hanya memikirkan kamu, Binar. Aku tidak ingin jika sampai kamu kerepotan dan juga merasa kesusahan. Setidaknya jika kondisi keuangan kita sudah membaik, aku bisa menyewakan baby sitter untuk membantu meringankan segala pekerjaanmu,” jelas Arsenio.
“Sama sekali tak masalah bagiku jika harus membesarkan bayi tanpa baby sitter. Di usia belasan tahun, aku sudah membantu merawat Praya, membuatkan susu dan mengganti popoknya. Itu bukan pekerjaan berat, Rain. Kecuali kalau kamu memang tidak ingin memiliki anak dariku.” Binar membuang muka ke arah jendela penginapan.
“Sebenarnya, beberapa saat yang lalu aku sempat berpikir untuk mengusahakanmu agar bisa melanjutkan pendidikan,” sahut Arsenio ragu. “Banyak lembaga pendidikan yang bagus di Jerman. Apalagi kulihat kamu adalah gadis yang sangat cerdas. Kemampuanmu dalam bidang bahasa juga patut diacungi jempol. Rasanya sayang jika kamu tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi," jelas pria itu lagi, mencoba mengutarakan alasan dengan sebaik mungkin agar Binar dapat memahami maksudnya.
“Belajar bisa kapan saja. Di mana saja. Aku hanya ingin fokus membantu meringankan bebanmu. Di Jerman nanti, aku juga ingin mencari pekerjaan agar kamu tidak terlalu berat menghidupiku,” sahut Binar masih dengan wajah merengut. Usia muda tetap terlihat padanya, meskipun telah banyak hal yang dia lewati.
Binar tetaplah Binar. Dia adalah gadis belia yang sama seperti gadis kebanyakan yang memiliki sisi manja luar biasa. Terlebih karena setelah hidup bersama Arsenio, pria itu juga telah menjadikan dirinya seperti seorang tuan putri, meski belum melimpahinya dengan kemewahan.
“Dengarkan aku, Sayang. Syarat untuk mendapatkan pekerjaan di Jerman itu susah. Setidaknya kamu harus bisa menguasai dasar-dasar bahasa Jerman terlebih dulu,” sahut Arsenio.
“Tadi kamu bilang bahwa aku berbakat dalam bidang bahasa. Itu artinya, aku bisa belajar bahasa Jerman sambil jalan.” Binar tetap bertahan pada pendiriannya. “Bagiku, seorang anak adalah pengikat hubungan kita supaya semakin erat. Akan tetapi, kalau kamu berharap bahwa mempunyai anak hanya akan menjadi penghambat, lalu aku bisa apa, Rain,” desah Binar. Gadis itu lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di dekat jendela. Mata indah Binar menerawang ke luar, pada lalu lintas padat di bawah sana. Kebetulan penginapan tersebut memang berada tak jauh dari jalan raya.
__ADS_1
Melihat sikap istrinya yang seperti itu, kedewasaan seorang Arsenio pun diuji. Dia harus bisa menjaga emosi serta pandai-pandai mengolah kata. Pria berdarah Belanda tersebut hanya dapat tersenyum samar. Ini adalah perdebatan pertama mereka, dan dia tak begitu menyukainya.
Pria rupawan itu berdiri, lalu menghampiri Binar yang masih mematung di dekat jendela. Dia berdiri di sisi sang istri dengan pandangan lurus ke depan, sambil sesekali melirik wajah cantik nan menggemaskan di dekatnya. “Aku tidak pernah mengatakan bahwa anak adalah penghambat, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kerepotan. Kamu bisa melakukan hal lain di usiamu yang masih belia ini. Masih banyak waktu yang akan kita lalui bersama sampai kita tua nanti."
"Lagi pula, dengan membawamu hidup dalam keadaan seperti ini saja sudah membuatku merasa sedih. Aku tidak ingin menyeret anak kita dalam kondisi yang sama, meskipun kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya,” terang Arsenio lembut.
“Bagaimana kalau aku mati besok atau lusa? Tak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa berumur panjang,” sanggah Binar tetap tak menerima semua penjelasan dari Arsenio.
“Binar!” sergah Arsenio yang segera menghadapkan seluruh tubuhnya pada sang istri. “Aku tidak suka kamu berbicara begitu!” Pria rupawan tersebut mencengkeram erat kedua lengan istrinya. “Tolong jangan berpikiran macam-macam. Dengan membayangkan kata-katamu saja, dadaku sudah terasa begitu sesak, Sayang,” tegur pria berambut cokelat tersebut dengan cukup tegas.
“Aku jadi takut … kalau kata-kata kak Chand akan menjadi kenyataan.” Binar menggeleng lemah, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Sedangkan Binar tak menanggapi kalimat suaminya. Dia berusaha menjauh dari Arsenio dengan buru-buru masuk ke kamar mandi. Akan tetapi, Arsenio juga tak tinggal diam. Dia menyusul wanita muda itu dan ikut masuk ke sana.
“Jangan dekat-dekat, Rain. Bukankah kamu tidak ingin punya anak dariku?” sindir Binar saat dirinya berdiri di depan wastafel. Dia meraih kantong plastik kecil berisi perlengkapan mandi yang sudah disiapkan oleh pihak penginapan. Wanita muda itu mengeluarkan sebuah sikat gigi berwarna putih yang masih terbungkus rapi.
“Bedakan antara kalimat tidak ingin punya anak dengan menunda kehamilan, Sayang.” Arsenio berkata sambil mengikuti gerakan Binar. Dia juga mengambil sebuah sikat gigi sekaligus mengolesinya dengan pasta gigi. Arsenio bahkan mengoleskan pasta gigi yang masih dia pegang ke sikat gigi sang istri.
Sambil menggosok gigi, pria rupawan itu memperhatikan wajah cantik Binar dari pantulan cermin wastafel. Naluri kelelakiannya seketika bangkit tatkala menikmati wajah imut di sebelahnya.
__ADS_1
“Minggir dulu!” Binar menggeser ke samping tubuh atletis Arsenio yang berdiri berdempetan di sebelahnya. “Gantian sikat giginya,” ujar Binar dengan kalimat yang tak jelas, sebab saat itu dia berkata sambil menggosok gigi.
Arsenio tak mau kalah. Dia balas menggeser tubuh indah Binar, sampai-sampai gadis itu terhuyung ke samping. “Astaga! Maafkan aku, Sayang.” Dia tak menyangka jika gerakannya terlalu keras. Arsenio bermaksud untuk merangkul istrinya. Namun, Binar mengelak. Wanita muda itu merunduk, lalu mencondongkan badan ke arah wastafel. Binar berkumur-kumur untuk beberapa saat di sana.
Lagi-lagi, Arsenio mengikuti apa yang dilakukan Binar. Dia menyikat giginya cepat-cepat, lalu berkumur. Namun, lagi-lagi gejolak dalam hatinya kembali memberontak. Sisa-sisa dari sang cassanova di masa lalu, masih ada dalam diri pria tampan dua puluh tujuh tahun itu.
Selesai menyikat gigi, Arsenio segera meletakkannya di dalam wadah khusus. Dia juga merebut sikat gigi yang masih Binar pegang. "Kita punya sikat gigi yang sama, kalau sampai tertukar bagaimana?" Arsenio mencoba untuk berbasa-basi ringan dengan sang istri yang masih merajuk.
"Apa bedanya? Saat berciuman denganku kamu tidak merasa jijik," sahut Binar masih dengan wajah merengut, tapi terlihat menggemaskan.
"Kalau begitu, aku jadi ingin menciummu," goda Arsenio.
.
.
.
Ahai, siap2 bab berikutnya ... Mampir dulu deh di karya keren yg satu ini 🤌👇
__ADS_1