
Arsenio sedang berada di ruang kerja sang ayah, ketika dia mendapatkan sebuah kabar gembira yang berasal dari Winona. Mantan tunangannya itu menghubungi suami Binar tersebut secara langsung.
“Empat hari dari sekarang, datanglah ke kantor om Lievin. Aku akan menyerahkan berkas-berkas secara simbolik, untuk menandakan bahwa perusahaan papamu dan perusahaan investasi milikmu sudah kembali pada kondisinya semula,” pesan Winona.
“Papaku juga berencana untuk menyatakan mundur dari Groendland Property yang didirikan bersama. Papa ingin mendapatkan bagian yang adil dan merata, sebelum menarik diri dan namanya dari perusahaan properti itu,” sambung Winona.
“Baiklah, aku akan menerimanya. Nanti kita akan membahas hal itu lebih lanjut,” balas Arsenio.
“Kalau begitu, sampai jumpa empat hari lagi.” Selesai berkata demikian, Winona langsung mengakhiri panggilannya.
“Akhirnya, selesai juga,” gumam Arsenio sambil tersenyum lebar. Keceriaan yang sempat hilang beberapa hari terakhir, kini kembali menghiasi wajah rupawannya. Teringat oleh pria berdarah Belanda tersebut, pada sang ayah yang pasti juga turut bahagia mendengar perkembangan luar biasa ini.
Tanpa membuang waktu, Arsenio menyentuh layar telepon genggamnya. Dia langsung menghubungi Anggraini. Tak membutuhkan terlalu lama waktu bagi sang ibu untuk mengangkat teleponnya. “Ada apa, Sen? Bagaimana dengan Binar? Apakah dia masih mual-mual setiap pagi?” Belum apa-apa wanita paruh baya itu sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
“Ya ampun. Satu-satu dong, Ma,” sahut Arsenio tergelak lepas. “Binar baik-baik saja, Ma. Mual-mualnya sudah berkurang. Apalagi dia teratur meminum obat anti muntah dan vitamin dari dokter,” jawabnya.
“Syukurlah. Mama turut senang. Kamu tahu, bukan? Ini adalah pengalaman pertama bagi mama yang akan segera memiliki cucu. Papamu juga senang sekali waktu mengetahui jika Binar positif hamil,” ujar Anggraini terdengar sangat bahagia. “Dia akan menjadi cucu pertama di keluarga Rainier. Anakmu akan menjadi kebanggaan kami, Sen,” imbuhnya lagi.
“Aku sangat bahagia mendengarnya, Ma. Terima kasih karena telah merestui kami berdua. Kebahagiaanku dan Binar tak akan lengkap, tanpa dukungan dan restu mama serta papa,” ucap Arsenio tulus.
“Ah kenapa jadi formal begini, sih?” kelakar Anggraini sambil tertawa. “Ada apa kamu menelepon mama, Sen?” tanyanya kemudian.
“Ini tentang Rainier Airlines dan perusahaan investasiku yang selama ini menjadi tumpuan yayasan dan beasiswa, Ma,” ujar Arsenio sambil mengulum senyum.
“Kenapa lagi, Rain? Kabar buruk apa lagi?” suara Anggraini terdengar berbisik. “Padahal papamu baru saja sembuh,” resahnya.
“Bukan kabar buruk, Ma. Akan tetapi, kabar baik,” jawab Arsenio. “Empat hari dari sekarang, Wini dan om Bian akan mengadakan pertemuan denganku. Mereka beritikad baik untuk mengembalikan semuanya pada papa,” jelasnya.
__ADS_1
“Benarkah itu, Nak? Bagaimana ceritanya? Kenapa tiba-tiba?” tanya Anggraini tak percaya.
“Nanti saja kalau mama datang ke sini, aku akan menceritakan semuanya secara mendetail,” sahut Arsenio.
“Kami akan ke Indonesia lusa, nak. Papamu pasti senang sekali. Terlebih karena kondisinya yang semakin membaik saat ini. Astaga, mama sama sekali tak mengira jika kamu mampu menyelesaikan semua masalah dalam waktu singkat. Kamu selalu bisa diandalkan, Sen. Mama sangat bangga padamu.” Tak henti-henti Anggraini memuji putra sulungnya, sebagai bentuk rasa bahagia yang teramat besar dan sulit untuk dia ungkapkan dengan kata-kata.
“Baiklah. Aku tunggu kedatangan mama lusa, ya. Nanti aku dan Binar yang akan menjemput kalian secara langsung,” ujar Arsenio penuh semangat. Dia lalu melanjutkan obrolan pada perbincangan ringan bersama sang ibu hingga hampir setengah jam. Namun, sayangnya Anggraini harus menutup telepon lebih dulu, karena Lievin hendak meminta tolong sesuatu padanya.
Arsenio sudah cukup puas mendengar sang ibu yang begitu bangga atas pencapaian dirinya. Tibalah bagi dia untuk memberitahukan kabar baik itu kepada Binar. Dengan langkah tergesa-gesa, Arsenio keluar dari ruang kerja menuju ke kamar.
Akan tetapi, sesampainya di sana Arsenio harus kecewa, dikarenakan Binar sudah tertidur pulas. Dia juga tak tega untuk membangunkan sang istri. “Padahal masih jam setengah delapan,” pikir Arsenio sembari mendekat ke ranjang, lalu duduk di tepiannya.
Arsenio menatap paras cantik sang istri. Bibir Binar setengah terbuka, membuat Arsenio tak tahan untuk tidak menciumnya. “Padahal aku ingin mengajakmu bersenang-senang,” bisik pria rupawan itu setelah puas memainkan bibir ranum sang istri. Nyatanya, Binar tak merasa terganggu atas tingkah nakal Arsenio.
“Ya ampun. Kamu tidur atau pingsan, sih?” Arsenio terkekeh pelan, kemudian merapikan selimut hingga menutupi dada Binar.
Merasa bosan karena menunggui calon ibu muda itu yang tak juga bangun, Arsenio pun memutuskan untuk duduk di depan meja yang berada dekat jendela. Iris mata coklat terangnya menangkap sebuah flashdisk yang tergeletak begitu saja di samping laptop. Dia teringat akan penemuan Ajisaka tadi siang yang belum sempat dirinya buka.
“Bayu Prasetyo?” gumam Arsenio pelan.
Dengan teliti, dia membaca data-data pribadi asisten sang ayah. Mulai dari nama, tempat dan tanggal lahir, hingga alamat rumah. Tak ada hal yang mencurigakan sama sekali. Sampai ketika Arsenio memeriksa catatan email Bayu. Terlihat jelas jika pria itu pernah mengirimkan pesan beberapa kali kepada Haris.
Pesan itu pun bukan pesan biasa, melainkan catatan keuangan sampai rahasia perusahaan sang papa. “Astaga,” desisnya tak percaya. “Besok aku akan membuat perhitungan denganmu, Bayu,” geram Arsenio.
“Rain. Aku ingin mie ayam di depan perumahan Dwiki,” ujar Binar tiba-tiba.
Arsenio yang terkejut, segera menoleh ke arah sang istri yang kini sudah dalam posisi duduk.
__ADS_1
“Sayang, kamu mengigau ya?” tanyanya heran.
“Enak saja. Aku sepenuhnya sadar, Rain. Aku terbangun karena lapar,” jawab Binar sambil menguap.
“Lapar?” ulang Arsenio. Dia sempat melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan angka sepuluh sebelum kembali memperhatikan sang istri yang terlihat lesu.
“Apa tidak salah, Sayang? Ini ‘kan sudah malam?” tanya Arsenio heran.
“Sepertinya ini keinginan anak kita,” jawab Binar ragu.
“Masa, sih?” Arsenio langsung bangkit dari duduk dan ikut duduk di samping Binar. “Ah itu pasti hanya alasanmu saja.”
“Rain!” Binar merengut seraya mencubit pinggang suaminya. “Aku benar-benar ingin makan mie ayam,” pintanya manja.
“Ini sudah jam sepuluh malam. Apa menurutmu masih buka?” balas Arsenio ragu. "Lagi pula, memangnya makan mie ayam tidak akan membuatmu merasa mual?" Selain malas keluar rumah, dia juga tidak yakin bahwa penjual mie ayam itu masih buka pada jam seperti itu.
“Waktu kemarin-kemarin Dwiki mengatakan bahwa tukang mie ayam itu tutup tengah malam,” sahut Binar tetap membujuk sang suami.
“Bagaimana kalau aku menyuruh pak Mono saja?” cetus Arsenio.
“Tidak mau, Rain. Rasanya pasti berbeda kalau kita makan secara langsung di tempatnya. Pasti akan lebih lezat.” Binar tersenyum lucu, sambil menyandarkan kepala di bahu lebar sang suami.
“Apa ini keinginan bayi juga?” celetuk Arsenio setengah menyindir.
“Tentu saja, Rain. Anak kita ingin berjalan-jalan dengan ayahnya,” jawab Binar dengan mata membulat penuh harap. "Selama beberapa hari ini kamu sibuk dengan urusan perusahaan. Kini, saatnya kamu mengurusi aku dan calon anak kita," ujar Binar manja sambil mengusap-usap perutnya.
“Astaga." Arsenio menggaruk alisnya. "Ya, sudah. Ayo. Pakai jaket tebal. Udara malam tidak baik bagi kesehatan ibu hamil.” Dengan terpaksa, putra sulung Lievin itu akhirnya menuruti keinginan Binar atas nama ngidam.
__ADS_1
Tepat setengah jam kemudian, pasangan suami istri itu keluar dari rumah. Bersama Ajisaka yang bertugas menyetir, mereka bergerak menuju ke kawasan perumahan tempat Dwiki tinggal. Tanpa mereka sadari, ada mobil lain yang mengikuti kendaraan Arsenio sejak mereka keluar dari gerbang kediaman Rainier.
Kendaraan tersebut terus mengekor mobil milik Arsenio, meskipun masih tetap memberi jarak yang aman dan tidak mencurigakan hingga keluar dari kawasan hunian eksklusif itu.