
Arsenio tercenung setelah mengakhiri panggilannya dengan Praya. Dia memilih diam dan memainkan ponsel keluaran terbaru yang dibelikan oleh Anggraini beberapa saat setelah dirinya ditemukan. Tak dia pedulikan tatapan penuh selidik dari Winona yang duduk tepat di sampingnya. Semetara Indah tampak salah tingkah dan serba salah, terlebih di hadapan sahabatnya itu.
“Siapa dia, Sen?” tanya Winona pada akhirnya. Dia tak bisa lagi menahan rasa penasaran dalam hati yang terus memberontak.
Arsenio menoleh sejenak, lalu kembali terpekur menatap ke depan, pada arus lalu lintas yang mereka lewati. “Praya. Dia adik dari Binar, gadis yang menyelamatkanku,” jawabnya kemudian. Sementara Indah yang duduk di kursi belakang, ingin menimpali dan bertanya. Namun, dia urungkan saat melihat Winona yang tajam menatap Arsenio.
“Mau apa dia? Minta uang?” tanya Winona lagi dengan nada ketus.
Arsenio tertawa sinis, lalu menggeleng pelan. “Kenapa yang ada di pikiran kebanyakan orang hanya tentang uang dan uang?” sindirnya.
“Lalu, untuk apa dia menghubungi kamu kalau bukan masalah uang?” Winona masih saja dengan pemikirannya.
“Kamu tidak perlu tahu, karena yang jelas tidak ada hubungannya dengan uang,” tegas Arsenio. Dia kembali diam selama sisa perjalanannya menuju bandara. Matanya menerawang ke luar jendela mobil sambil membayangkan wajah cantik Binar. Wajah polos tanpa polesan make up yang terlihat begitu segar di matanya. “Binar,” de•sahnya tanpa sadar. Tentu saja Winona dan Indah mendengar dengan jelas nama itu keluar dari bibir tipis Arsenio.
“Astaga, perempuan baru lagi rupanya. Selama kita bersama, ada berapa banyak di luar sana selain Indah dan mbak Ghea, Sen?” sinis dan tajam pertanyaan Winona, serasa menghujam jantung Indah hingga dia kesulitan bernapas untuk beberapa saat.
“Kamu salah paham, Win,” sanggah Indah dengan nada ragu.
“Tidak perlu ditutup-tutupi lagi. Aku sudah mendengar semuanya. Kalian berdua sama saja. Sama-sama brengsek! Aku sama sekali tidak menyangka .…” Winona mengepalkan tangannya erat-erat. Jika saja saat ini dia berada dalam kamar, sudah pasti segala macam benda di dekatnya akan melayang ke mana-mana.
“Sepertinya iya,” sahut Arsenio lirih, membuat dua wanita cantik itu terdiam dan menoleh padanya secara bersamaan. “Jika kudengar dari cerita kalian dan kilasan masa lalu yang masuk dalam kepalaku, sepertinya aku memang pria brengsek,” ujarnya.
“Maafkan jika perbuatanku di masa lalu membuatmu terluka, Win,” ucap Arsenio lagi seraya mengalihkan perhatiannya pada Winona. Dia menatap wanita itu lekat-lekat. “Aku sama sekali tidak ingat dan tidak tahu apa yang kupikirkan saat itu,” sambungnya.
“Binar,” Arsenio memanggil nama itu lagi. “Entah apakah dia bisa menerima masa laluku yang sangat buruk ini,” gumamnya lirih.
__ADS_1
“Hanya aku yang bisa menerima keadaanmu, Sen. Baik, buruk, semuanya. Hanya aku yang bisa,” sahut Winona penuh percaya diri.
"Indah belum tentu. Tidak ada yang bisa dipercaya darinya lagi. Sahabat saja dia khianati,” ucap Winona dengan yakin. Mata bulat cantik itu menyorot tajam ke arah Indah yang diam tak berkutik. Gadis yang gemar berpakaian seksi tersebut menghindari tatapan Winona, lalu menundukkan wajahnya.
Setelahnya tak ada lagi percakapan sampai mereka tiba di bandara, bahkan saat mereka semua berhasil check in dan harus menunggu di lounge. Arsenio, Indah, juga Winona saling terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri-sendiri, hingga panggilan dari kru pesawat berbunyi dan mengharuskan mereka memasuki kabin. Mereka lalu duduk di kursi kelas satu, sesuai yang telah dipesan oleh Anggraini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tepat ketika pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Dari mereka berlima, hanya Anggraini dan Lievin saja yang menunjukkan wajah ceria. Sementara Arsenio, Indah dan Winona tetap pada sikap diam mereka.
Arsenio sedikit tersenyum ketika dari kejauhan terlihat Chand bersama beberapa orang pegawainya sudah siaga menyambut kedatangan mereka. Para pegawai itu segera membawakan barang-barang dan koper milik rombongan Arsenio, kemudian membawanya pada dua buah kendaraan yang telah siap di area parkir bandara.
Tiba-tiba, terlintas sebuah ide dalam benak Arsenio untuk mencari keberadaan Binar dengan bantuan Chand. Sepertinya, pria itu benar-benar dapat diandalkan. “Kita menginap di rumahmu, ‘kan?” tanya Arsenio sesaat setelah bersalaman dengan Chand.
Sontak semua orang yang berada di sekelilingnya memandang Arsenio dengan heran, termasuk Chand. “Kenapa? Apa ada yang aneh?” pria rupawan bermata coklat terang itu mengernyitkan keningnya.
“Kita bersahabat, ‘kan?” Arsenio mengarahkan telunjuknya pada Chand sebelum terarah kembali kepadanya.
“Ya, tapi … kamu lebih suka menginap di kamar suite hotel langgananmu,” jawab Chand.
“Anggap saja diriku yang dulu sudah mati bersamaan dengan kecelakaan yang menimpaku waktu itu,” ucap Arsenio seraya melingkarkan tangan di bahu Chand. “Masih ada kamar untukku, ‘kan?” tanyanya dengan akrab.
“Tenang saja, Sen. Jarak rumah keluarga besarku semuanya berdekatan. Jadi, tidak ada satu pun yang menginap di rumah. “Kamar-kamar di rumahku banyak yang kosong. Pasti muat untuk kalian semua,” sambut Chand dengan hangat.
“Baguslah kalau begitu,” balas Arsenio seraya menepuk pundak Chand penuh keakraban, kemudian menariknya perlahan. Dia menyeret sahabatnya itu agar menjauh dari kedua orang tuanya dan juga Winona serta Indah. Kedua pria itu kini berjalan sedikit mendahului di depan. “Nanti malam, aku ingin mengobrol denganmu. Jangan tidur dulu, ya,” bisik Arsenio.
“Tentu,” jawab Chand sambil menautkan alis. Berjuta tanya dan rasa penasaran sudah menggelayuti benak pria yang sebentar lagi akan menyandang status duda itu. Namun, dia tak hendak bertanya lebih jauh lagi pada Arsenio, hingga rombongan mereka tiba di kediaman mewah Chand.
__ADS_1
Arsenio sendiri memilih untuk segera memasuki kamar yang telah disediakan untuknya. Setelah membersihkan diri dan menata barang-barangnya, dia kembali menghubungi Praya. Arsenio tak peduli meskipun saat itu waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dalam hati, pria berambut cokelat itu berharap agar Praya segera menjawab panggilan darinya.
Harapan Arsenio pun terkabul. Setelah nada sambung ketiga, Praya mengangkat telepon darinya. Suara anak itu terdengar begitu lemah dan parau, pertanda bahwa bocah itu terbangun dari tidur. “Maaf mengganggumu malam-malam, Ya. Aku cuma ingin meminta foto kakakmu yang terbaru. Akan kucoba mencari dia dari sini,” ujar Arsenio.
“Oke, mister,” jawab Praya sebelum mengakhiri panggilannya.
Tak berselang lama, ponsel Arsenio kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Praya yang segera dibuka olehnya. Tampaklah gambar Binar yang tengah memakai kebaya khas Bali dengan polesan make up yang sedikit tebal memenuhi layar. Sepertinya Praya mengambil gambar itu dari foto wisuda yang terpajang di dinding kamar Binar.
Arsenio tersenyum hangat. Rasa rindunya sedikit terobati dengan foto itu. Dia lalu bergegas keluar kamar dan setengah berlari menuju kamar Chand. Sesampainya di sana, Arsenio mengetuk pintu kamar sahabatnya itu dengan sedikit kencang. “Chand, belum tidur, ‘kan?” panggilnya.
“Iya,” seru Chand dari dalam. Malam itu, Chand sebenarnya sudah naik ke tempat tidur. Calon duda tersebut terbiasa tidur tanpa mengenakan baju. Namun, saat mendengar suara Arsenio, Chand pun bergegas menyambar kaos lengan pendek yang diletakkan begitu saja di ujung tempat tidur. Chand kemudian mengenakan kaos itu di depan cermin.
Tubuh atletis dengan balutan kulit cokelat milik Chand pun kini tertutup, begitu juga dengan tato simbol Ganesha yang berukuran tidak terlalu besar di punggungnya. Bagi Chand, tato itu memiliki makna khusus yang melambangkan ketabahan, kesabaran, dan juga kemakmuran. Selain itu, sejak dulu dia memang tertarik akan budaya India, yang merupakan budaya leluhur dari pihak sang ibu.
Seusai berpakaian, Chand kemudian merapikan rambutnya. Setelah selesai, dengan segera Chand membuka pintu kamarnya lebar-lebar untuk Arsenio. “Bagaimana, Sen?” tanyanya seraya mempersilakan pria itu masuk.
“Tentang yang tadi. Aku butuh bantuanmu,” pinta Arsenio tanpa basa-basi.
"Oh tentu. Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Chand. Dia mengajak Arsenio untuk duduk pada kursi tak jauh dari tempat tidurnya.
“Begini, kamu masih ingat ‘kan dengan gadis yang menolong serta merawat saat aku kecelakaan di Bali? Dia yang pernah kuceritakan ketika pertama kali kalian menemukanku," jelas Arsenio. Ada semangat yang terlihat saat dirinya hendak bercerita kepada Chand.
“Iya. Kenapa memangnya, Sen?” Chand balik bertanya.
“Bantu aku untuk menemukan gadis itu. Dia pergi dari rumah. Sementara keluarga gadis itu juga kehilangan kontak dengannya,” tutur Arsenio sembari menunjukkan foto Binar yang tampak sedikit buram kepada Chand.
__ADS_1