
Dua hari berlalu setelah keluarga Lievin bertemu dan berbaikan dengan Biantara. Kini, tiba saat di mana Lievin kembali pada penampilannya yang rapi. Bersama Anggraini, dia berniat hendak pergi ke kantor pusat Rainier Airlines untuk melakukan serah terima dokumen sebagai simbol kembalinya kondisi perusahaan seperti dulu.
Perusahaan investasi milik Arsenio pun akan segera kembali ke tangannya. Hanya saja, hari itu Arsenio memutuskan tidak ikut bersama kedua orang tuanya. Dia memilih untuk memberikan privasi pada sang ayah dan Biantara agar dapat menjalin kembali komunikasi yang dulu sempat terputus.
“Jangan lupa akhiri dengan makan siang, bersama om Bian dan Winona, Pa,” pesan Arsenio mengingatkan.
“Itu juga kalau dia mau, Sen. Seandainya dia tidak bersedia, aku juga tidak akan memaksa,” balas Lievin yang saat itu sudah bersiap memasuki mobil. Pria asal Belanda tersebut, sedang menunggu Anggraini yang masih berbincang-bincang dengan Binar. Entah apa yang tengah dibicarakan dua wanita berbeda generasi tersebut di ruang tamu.
Saat itu, Anggraini sedang memberikan petuah-petuahnya lagi kepada Binar. “Jangan lupa, Nak. Apa yang kamu makan, apa yang kamu rasakan dan semua yang kamu lakukan, akan berpengaruh secara langsung pada janinmu. Jadi, usahakan agar kamu memakan makanan yang sehat dan bergizi, senantiasa berbahagia serta melakukan hal-hal yang baik. Tetaplah berpikir positif,” pesan Anggraini lembut, kemudian mencium kening menantunya.
“Terima kasih, Ma. Saya akan selalu mengingatnya,” sahut Binar. Tanpa ada rasa canggung sama sekali, wanita muda itu langsung memeluk sang ibu mertua.
“Seandainya ada waktu, aku ingin bertemu dengan adik-adikmu. Kudengar mereka juga menerima beasiswa dari Rainier Foundation ya?” ujar Anggraini yang membuat Binar seketika mengurai pelukannya.
“Apa boleh, Ma? Rencananya, saya akan mengajak Wisnu dan Praya datang ke Jakarta saat liburan sekolah,” sahut Binar dengan mata membulat karena merasa bahagia.
“Ajak saja mereka kemari. Rumah ini adalah rumahmu juga, dan mereka adalah adik-adikmu.” Anggraini tersenyum lembut seraya mengusap pipi Binar.
“Terima kasih, Ma.” Binar memeluk Anggraini sekali lagi, hingga Arsenio datang dan mengingatkan sang ibu.
“Ma, papa sudah hampir mengeluarkan ultimatum kalau Mama tidak segera datang dalam satu menit,” celetuk Arsenio. Dia berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan teras depan.
“Ya ampun. Tidak sabaran sekali dia. Ya sudah. Mama pergi dulu. Kalian jaga rumah baik-baik, ya,” ucap Anggraini seraya berjalan terburu-buru menuju mobil. Dia lalu duduk dengan anggun di kursi tengah.
Sementara Arsenio dan Binar mengikuti dari belakang. Mereka berdiri di undakan anak tangga. Sambil merengkuh pinggang sang istri, Arsenio melambaikan tangannya dengan wajah berseri-seri. Begitu pula Binar yang penuh semangat melambaikan tangan.
__ADS_1
Untuk sesaat, terbersit rasa was-was di hati wanita muda itu. Namun, segera dia tepiskan ketika mengingat nasihat dari Anggraini beberapa menit yang lalu bahwa Binar harus selalu berpikiran positif. “Apakah mereka pergi dalam waktu yang lama, Rain?” tanya Binar tiba-tiba.
“Mungkin sampai nanti siang. Kenapa memangnya?” Arsenio mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang istri.
“Tidak apa-apa,” jawab Binar seraya menggeleng pelan. Wanita muda itu pun tersenyum lembut.
“Apa kamu ingin jalan-jalan, sambil menunggu papa dan mama pulang?” tawar Arsenio.
“Aku sedang malas, Rain. Aku ingin rebahan saja.” Binar kemudian mengempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu.
“Hm, apa makhluk kecil di dalam sana sedang menginginkan sesuatu lagi?” Arsenio mengangkat satu alisnya, lalu ikut duduk di samping Binar. Hampir saja dia mencium bibir ranum sang istri, ketika tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya bergetar.
“Siapa lagi sih ini? Mengganggu sekali,” keluh Arsenio seraya berdecak pelan. Dia terdiam beberapa saat, ketika deretan nomor tak dikenal muncul di layar telepon genggamnya.
“Halo,” sapa Arsenio. Pada akhirnya dia menjawab panggilan itu. Akan tetapi, sang penelepon tak segera menjawab sapaannya. “Siapa ini?” tanya Arsenio tegas.
“Istriku ada di sini bersamaku!” potong Arsenio sebelum si penelepon menyelesaikan kalimatnya.
“Oh, jadi yang di dalam mobil itu bukan istrimu?” Pria yang tak lain adalah Haris segera tertawa puas.
“Brengsek! Mau apa kamu!” Tangan Arsenio terkepal sempurna. Dia segera berdiri dan berlari ke arah teras.
Melihat sikap suaminya yang aneh, Binar pun ikut menyusul. “Rain, ada apa?” tanyanya keheranan. Akan tetapi, Arsenio tak segera menjawab. Dia malah terlihat gelisah sembari menyapu pandangan ke sekeliling halaman yang luas itu.
“Rain?” panggil Binar lagi.
__ADS_1
“Sayang.” Arsenio segera menoleh seraya menangkup wajah cantik sang istri. “Panggil Ajisaka di kamarnya. Suruh dia menjagamu. Jangan sampai lengah sedikit pun. Apa kamu mengerti?” pesannya.
“Iya. Tapi kenapa, Rain?” Binar tak sanggup lagi menyembunyikan perasaan was-was yang kembali menghinggapinya.
“Nanti saja kujelaskan. Sekarang, cepat cari Ajisaka!” Selesai berkata demikian, Arsenio langsung berbalik. Dia berlari meninggalkan Binar yang masih terpaku di tempatnya. Arsenio tergesa-gesa menuju garasi dan menyalakan salah satu dari tiga mobil yang ada di sana.
Dengan kecepatan tinggi, Arsenio melajukan kendaraan meninggalkan kediaman mewah Keluarga Rainier. Seperti kesetanan, dia memacu mobil agar bisa menyusul Lievin dan Anggraini yang telah berangkat lebih dulu.
Namun, pada kenyataannya kedua orang tua yang tengah dikhawatirkan Arsenio tersebut masih terjebak macet di jalan raya. Kendaraan mereka tak dapat bergerak sama sekali. Entah apa yang terjadi di depan sana, yang jelas hal tersebut membuat Lievin gelisah.
“Biasa, Pak. Jam delapan pagi. Waktu sibuk-sibuknya orang berangkat kerja,” ujar Mono, sang sopir pribadi yang berusaha menenangkan majikannya.
“Iya, tapi tak seharusnya seperti ini. Paling tidak kita bisa maju pelan-pelan. Padahal jam sembilan acara kita akan dimulai,” gerutu Lievin terlihat gusar.
“Sabar dulu, Pa. Sebentar lagi juga selesai,” sahut Anggraini yang membuat kening Lievin berkerut.
Apanya?” Belum sempat pertanyaan Lievin terjawab, tiba-tiba seorang pengendara motor merangsek maju dan menabrak bagian belakang kendaraa. Semua orang yang berada di dalam mobil terkejut dan menoleh.
Lievin merasa keheranan ketika pengendara misterius itu turun dari motornya, lalu mendekat ke jendela samping tempat duduk Anggraini. Seseorang yang masih mengenakan helm tersebut, mengetuk-ngetuk kaca jendela. “Jangan dibuka!” cegahnya sembari berusaha turun dari mobil.
Namun, belum sempat dia beranjak dari tempatnya, pengendara motor tersebut sudah mengeluarkan sebuah pistol yang dilengkapi dengan peredam di moncongnya. Dia kembali mengetuk-ngetuk kaca jendela menggunakan ujung senjata.
“Astaga, Pak.” Mono yang melihat hal itu, hendak turun dan berusaha mencegah pria misterius tersebut. Akan tetapi, pria itu telah lebih dulu menembakkan pistolnya ke arah pintu depan yang sedikit terbuka, sehingga Mono terpaksa menutupnya kembali.
“Mundurlah, Anggraini!” teriak Lievin. Secepat kilat, dia melompat dari kursi depan ke kursi tengah. Sayang sekali karena segesit apapun gerakannya, dia tetap kalah oleh dua butir peluru yang melesat menembus kaca dan menerjang dada wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
“Anggaraini!” pekik Lievin. Diraihnya tubuh sang istri yang sudah lemah dan terkulai di atas jok. Darah segar pun mulai merembes dan membasahi permukaan kursi. Sementara pria misterius yang merupakan pelaku tadi, berlalu begitu saja seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya.