Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Gerak refleks Arsenio tidak berkurang sama sekali. Dia yang tadi disangka tak akan sempat menghindar, ternyata masih dapat berkelit dengan lincah sehingga peluru itu hanya menyerempet lengannya.


Meskipun demikian, luka itu tetap membuat kulit putih bersih Arsenio terkoyak dan mengeluarkan darah. Cairan berwarna merah berbau anyir tersebut, menetes dari sela-sela lengan T-Shirt hitam yang dikenakan pria itu. Darah tersebut bahkan terjatuh ke lantai setelah melewati ujung jari.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah tersebut, tak memedulikan apa yang terjadi padanya. Arsenio fokus menghindari tembakan yang diarahkan Bayu. Dia yang tidak bersenjata, memilih untuk segera bersembunyi di balik pot palem berukuran cukup besar.


Beberapa butir pun peluru menerjang, mengenai batang pohon palem tadi. Akan tetapi, Arsenio tetap bertahan di sana.


Sesekali, mata coklat terangnya menangkap para tetangga yang berusaha mellihat apa yang terjadi. Namun, orang-orang tersebut termasuk pemilik warung, segera lari bersembunyi ketika pistol Bayu menyalak ke angkasa untuk menakut-nakuti mereka.


Melihat Bayu yang sibuk membubarkan para tetangga, Arsenio jadi memiliki ide untuk melumpuhkan pria itu. Sekuat tenaga, dia mendorong pohon palem beserta potnya ke depan, hingga tanaman hias tadi rubuh menimpa Bayu yang masih sibuk membubarkan kerumunan.


Pistol yang terus memuntahkan peluru itu akhirnya terpental beberapa meter dari tubuh Bayu yang tertimpa pohon palem. Pria itu meringis kesakitan, ketika kakinya terjepit pot besar.


Sementara Arsenio tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia segera menerjang ke arah Bayu dan memukulnya dengan bertubi-tubi. Arsenio baru berhenti ketika terdengar suara sirene polisi meraung-raung. Makin lama semakin jelas. Sepertinya, posisi mobil polisi tadi sudah kian mendekat.


Bayu pun terlihat tak berkutik lagi, sehingga Arsenio memilih untuk menghentikan aksinya meskipun ada rasa tak puas dalam hati. Akan tetapi, pihak berwajib sudah datang dan memintanya untuk mundur. Pria rupawan itu juga tak hendak berdebat dengan aparat yang jauh lebih berwenang.


Arsenio mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri, dia memperhatikan mantan asisten pribadi sang ayah yang diseret masuk ke dalam mobil polisi dalam kondisi wajah penuh luka serta mengeluarkan darah. Polisi juga mengamankan sebuah senjata api yang tadi digunakan Bayu untuk mencelakai dirinya.


Arsenio masih berdiri di tempatnya. Pria berambut coklat itu tersenyum samar. Ada perasaan tak terlukiskan yang memenuhi dada, ketika mobil polisi yang membawa Bayu telah melaju meninggalkan area perumahan. Dilihatnya warga yang makin lama semakin banyak berdatangan. Mereka berkerumun di depan rumah yang ditempati Bayu. Namun, polisi sudah bertindak cepat dengan memasang police line, agar tak ada warga yang mendekat ke tempat kejadian perkara.


“Bapak, tidak apa-apa?” tanya salah seorang dari beberapa petugas kepolisian yang datang ke lokasi. Dia melihat darah masih mengucur dai balik lengan baju Arsenio.


“Saya baik-baik saja,” jawab Arsenio seraya tersenyum.

__ADS_1


“Tangan Bapak banyak mengeluarkan darah,” ujar polisi itu lagi, membuat Arsenio segera menoleh dan memperhatikan lengan kirinya. Saking fokusnya pada Bayu, dia sampai melupakan dan tak menghiraukan luka di tubuhnya.


“Tangan saya sempat terserempet peluru,” ujar Arsenio. Dia masih terlihat tenang.


“Tunggu sebentar, Pak.” Polisi itu menggerakkan tangan sebagai isyarat, agar Arsenio tetap diam di tempatnya. Pria berseragam coklat itu berlalu ke arah salah satu mobil polisi yang terparkir tak jauh dari rumah Bayu. Sesaat kemudian, polisi itu datang lagi sambil membawa satu gulungan kain kasa dan beberapa helai kapas. “Hanya ada ini di mobil. Saya rasa, ini cukup untuk menghentikan pendarahan,” jelas sang polisi tanpa diminta.


“Terima kasih,” ucap Arsenio ketika polisi tersebut membalut dan mengikat erat-erat lengan Arsenio yang berdarah dengan kain kasa tadi.


“Sementara ini dulu untuk mencegah pendarahan agar tidak bertambah banyak. Setelah ini, mari saya antar Anda ke klinik terdekat. Saya juga hendak memberikan beberapa pertanyaan terkait peristiwa tadi,” ucap polisi tersebut.


“Saya membawa mobil saya sendiri,” tunjuk Arsenio ke arah mobil mewah sang ayah yang diparkir agak jauh dari kediaman Bayu.


“Kalau begitu, bolehkah jika saya yang menyetir?” tawar sang polisi dengan sikap yang teramat ramah.


“Baiklah.” Arsenio tak akan menolak bantuan dari polisi itu, sebab lengannya mulai terasa perih dan ngilu. Apalagi darah masih terus merembes di sela-sela pori-pori kain.


Tanpa membuang waktu, polisi itu segera mengarahkan Arsenio ke salah satu bilik yang kosong sampai datang seorang perawat. Petugas medis itu segera menangani luka yang diderita Arsenio.


“Jadi, bagaimana Anda bisa sampai mendapat luka seperti ini, Pak?” Polisi itu mulai mengajukan pertanyaan.


“Orang yang digelandang ke kantor polisi tadi pelakunya,” jawab Arsenio. Setelah itu, dia menceritakan segala sesuatu mulai dari awal hingga akhir, tanpa ada yang dikurangi sedikit pun.


“Sebenarnya, kasus pembunuhan yang menimpa mendiang mama saya telah ditangani oleh pihak yang berwajib. Namun, saya hanya merasa penasaran dan ingin membuktikan kecurigaan. Ternyata memang benar adanya. Pelaku pembunuh mama saya adalah orang dekat yang saya kenal,” tutur Arsenio. “Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mendahului tugas yang berwajib. Akan tetapi, seperti inilah hasilnya.” Arsenio meringis kecil saat petugas medis tadi menjahit luka robek di lengannya, kemudian membebat dengan perban. Hasil pekerjaan seorang profesional memang jauh lebih rapi.


“Baiklah, Pak. Nanti Anda harus datang ke kantor untuk membuat laporan. Kami akan mencatat semuanya dalam berita acara,” ujar polisi tadi.

__ADS_1


“Baik, Pak,” sahut Arsenio. Dia merogoh ponsel dari saku celana jeans, ketika polisi yang tadi mengantarnya beranjak dan sedikit menjauh. Polisi itu tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Sementara Arsenio pun segera menghubungi Dwiki. “Hallo, Ki,” sapanya ketika panggilan sudah tersambung.


“Bos. Bagaimana keadaan anda?” tanya Dwiki terdengar khawatir.


“Aku baik-baik saja,” jawab Arsenio. “Saat ini aku sedang berada di klinik sekitar perumahan tempat tinggal Bayu. Apa kamu bisa kemari?”


“Iya, bos. Saya sedang di jalan. Sebentar lagi saya sampai. Tunggu saja di situ.”


“Oke, Ki. Aku tunggu.” Usai berkata demikian, Arsenio mengakhiri panggilannya. Dia memilih duduk di kursi tunggu, karena luka yang dideritanya sudah selesai ditangani. Selagi duduk menunggu, Arsenio sempat menghubungi Binar. Dia menyuruh agar sang istri tetap berada di spa hingga ada yang menjemput untuk pulang.


Binar pun tampaknya sangat menikmati kegiatan yang sedang dia lakukan. Wanita muda tersebut tak ada masalah sama sekali. Dia bahkan merasa nyaman, karena kehamilan yang sedang dia jalani saat ini, kerap membuat tubuhnya merasa tak nyaman.


“Jadi, begitu ya kalau wanita sedang hamil,” ucap Anika yang tengah menemani Binar berendam dalam bak berisi kelopak bunga dengan dikelilingi lilin aroma terapi.


“Ya. Nanti juga kamu akan tahu sendiri kalau hamil,” sahut Binar. “Ajisaka mengatakan padaku jika kalian pacaran.” Binar tersenyum manis. Dia menyimpan kembali ponselnya di tempat yang aman.


“Ya begitulah. Aka pria yang sangat menyenangkan, meskipun dia agak kurang peka.” Anika juga meletakkan ponselnya, setelah tadi dia sempat berfoto selfie.


Sekretaris Biantara Sasmita tersebut kembali masuk ke bathub bulat berisi air hangat tadi.


“Kurang peka bagaimana?” tanya Binar penasaran.


“Aka terlalu cuek. Ya, memang perhatian … tapi … maksudku … aduh, bagaimana ya cara menjelaskannya?” Anika tertawa pelan.


“Aku tahu jika Ajisaka itu pria yang baik. Dia juga lucu, meski kadang bercandanya garing. Namun, aku ataupun Rain tetap tertawa untuk menghargai usahanya.” Binar tertawa renyah. Begitu juga dengan Anika yang ikut tertawa.

__ADS_1


Hari itu, Binar mendapat sahabat baru yang merupakan masa lalu dari sang suami. Namun, karena dia sudah berniat untuk berdamai dengan kisah kelam Arsenio sebelum bertemu dengannya, Binar pun mencoba untuk berlapang dada dan menerima hal itu. Termasuk semua kebaikan serta keramahan yang ditawarkan oleh Winona dan juga Anika.


__ADS_2