
Kedua sejoli tadi telah selesai dengan makan malam mereka. Namun, pasangan kekasih tersebut masih terlihat asyik menikmati angin malam, di atas atap bangunan berlantai tiga puluh lima tersebut. Mereka tertawa dan saling melempar canda, hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua puluh satu tiga puluh.
"Apa kamu sudah puas di sini?" tanya Arsenio yang melihat Binar kembali ceria, setelah pada awalnya sempat murung karena dilanda rasa cemburu terhadap Prajna.
"Apa kamu ingin turun sekarang?" Binar balik bertanya.
"Boleh. Lagi pula, udaranya semakin dingin. Aku tidak mau jika kamu sampai masuk angin," jawab Arsenio seraya mengumpulkan sisa-sisa sampah bekas kemasan makanan tadi. Sementara Binar pun tak tinggal diam. Dia membantu sang kekasih merapikan peralatan makan yang hanya dijadikan sebagai alas. "Kamu bawa matras plastik ini, biar aku yang membawa sampah dan peralatan makannya," ucap Arsenio setelah mereka siap untuk kembali ke ruang apartemen yang ditempati Binar.
Tak lama kemudian, mereka telah berada di sana. Arsenio meletakkan peralatan makan tadi dengan begitu saja di dalam bak cuci piring. Setelah sama-sama mencuci tangan dan mengeringkannya, mereka tak langsung beranjak dari dapur. Arsenio malah mendudukkan tubuh ramping Binar di atas meja dekat kompor.
"Sebenarnya aku lebih suka jika kamu menginap di apartemenku," ucap pria tampan berambut cokelat tersebut.
"Apa kamu selalu bersikap manis seperti ini, kepada setiap wanita yang jadi teman kencanmu?" tanya Binar penuh selidik. Dia masih saja merasa terusik dengan masa lalu Arsenio yang dinilainya teramat menakutkan.
"Aku bersikap manis kepada semua wanita, tapi tentu saja tetap ada yang menjadi pembeda. Aku tak harus menjabarkannya secara detail, karena nanti juga kamu pasti akan memahami apa perbedaannya," jelas Arsenio. Dia tersenyum lembut, kemudian membelai pipi Binar yang masih menatap dirinya dengan lekat.
"Aku berencana akan membuat paspor untukmu. Entahlah, rasanya aku ingin membawamu pergi jauh dari sini. Aku ingin tinggal di mana tak ada siapa pun yang peduli atau merecoki kita berdua," ungkap Arsenio pelan tapi terdengar bersungguh-sungguh.
"Kamu yakin?" tanya Binar.
"Aku selalu membawa kata yakin ke manapun diriku pergi," sahut pria itu lagi. Dia lalu membelai rambut panjang Binar, menyingkapkannya agar tak menutupi kening. "Aku tak peduli meskipun ada banyak wanita yang jauh segalanya jika dibandingkan dengan dirimu. Karena kamu juga bersedia untuk menerima segala kekuranganku. Aku harap begitu." Arsenio tertawa pelan.
__ADS_1
"Maksudmu? Kamu adalah pria yang sangat sempurna. Kamu memiliki kelebihan secara fisik dan juga finansial. Siapa yang akan berpikir bahwa kamu memiliki sebuah kekurangan?" bantah Binar yang masih melayangkan tatapan lembut kepada pria tampan di hadapannya.
"Kamu bahkan menyukaiku, di saat aku kehilangan identitas yang sebenarnya," ucap Arsenio lagi. "Sehebat apa seorang Arsenio? Dia akan mati andai saja Binar tak menemukannya pada malam itu."
"Jika bukan aku yang menemukanmu, bisa saja orang lain ... wanita lain ... mungkin?" Binar mengangkat kedua bahunya.
"Lalu, kenapa justru kamu yang menemukanmu?' pikir Arsenio menaikkan sebelah alisnya.
"Karena mungkin hanya aku yang rela kehilangan sebagian besar gaji dengan nominal tak seberapa untuk biaya pengobatanmu." Binar tertawa renyah atas ucapannya sendiri.
"Nah, itulah alasan kenapa aku tetap ingin berada di dekatmu. Aku ingin memberikan gaji dengan nominal yang sangat besar dan juga tak ternilai tentunya," balas Arsenio seraya mengedipkan sebelah mata. Untuk sesaat, sepasang kekasih itu saling bertatapan dengan dalam. "Berikan aku kekuatan agar bisa menghadapi semua ini," ucap Arsenio kemudian dengan suaranya yang teramat dalam.
"Itu pasti," balas Binar. Gadis cantik itu memejamkan mata, ketika bibir Arsenio kembali menyapanya dengan lembut. Tak hanya sebentar, pria tampan itu menciumnya dengan tanpa henti bahkan hingga Binar kesulitan untuk bernapas. Binar pun terpaksa harus menghentikan sejenak pertautan tersebut. "Aku tidak bisa bernapas," ucap gadis itu lugu.
Setibanya di dalam kamar, Arsenio menurunkan Binar. Dia langsung saja merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur. Binar pun sudah tak merasa canggung lagi. Ini bukanlah menjadi sesuatu yang pertama bagi dirinya, sehingga dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. "Apa kamu tidak bosan melakukannya denganku?" tanya Binar ketika Arsenio mulai menjamah beberapa bagian sensitif dari tubuhnya.
"Tak akan pernah ada kata bosan. Aku menyukai dan akan selalu memintanya padamu, hanya terhadapmu," jawab Arsenio seraya melu•mat bibir kekasihnya dengan dalam.
Tak ada lagi rasa takut, ragu, atau apapun yang dapat membuat Arsenio menyerah untuk memiliki gadis pujaannya. Bagi pria itu, Binar merupakan sumber kehidupan yang datang di saat dirinya membutuhkan sebuah pencerahan. Binar, cahaya terang yang mampu memberikan pancaran agar langkah Arsenio tak lagi tersesat dalam gelap.
Desah napas berat mulai berbaur dan mengisi setiap sudut kamar yang tidak terlalu luas. Entah sudah berapa kali Binar tiba pada titik tertingginya malam itu. Akan tetapi, seperti biasa Arsenio tak melepaskannya dengan mudah. Usia muda dengan fisik yang masih sangat prima, membuat ketahanan Arsenio di atas ranjang tak bisa diragukan lagi. Dia juga begitu pandai dan sangat mengetahui harus bagaimana dalam memperlakukan lawan mainnya.
__ADS_1
Berbagai gaya telah dicoba. Binar pun semakin terlihat luwes dan dapat mengimbangi permainan Arsenio. Gadis itu belajar dengan cepat. Dia memasrahkan diri atas nama cinta, kepada pria yang saat itu sudah memuntahkan hasil dari pergumulan panas di antara mereka berdua.
Arsenio tersenyum puas. Setelah membantu Binar membersihkan sisa cairan yang menetes dari dalam dirinya, pria tampan tersebut kemudian menarik selimut sambil merebahkan tubuh. Dia memeluk Binar yang berbaring dalam posisi membelakangi. Arsenio berkali-kali mencium pundak kekasihnya yang terasa sedikit lengket karena keringat. "Apa kamu lelah, Sayang?" bisiknya.
Binar tidak menjawab. Dia hanya menggumam pelan. Niatnya untuk memejamkan mata harus dia urungkan, ketika Arsenio membalikkan tubuh polos yang hanya ditutupi oleh selimut berwarna hijau. Arsenio memaksa untuk kembali menciumnya. Binar yang seakan tak bertenaga pun tak kuasa untuk menolak. Gadis itu menerima bahkan membalas lumat•an demi lumat•an lembut nan mesra dari sang kekasih. Pada akhirnya, gadis dua puluh tahun itu kehilangan rasa kantuk sepenuhnya.
"Mama dan papaku sudah kembali dari Belanda. Mereka ingin agar aku menemui keduanya besok," ucap Arsenio sembari mengusap-usap lengan gadis yang teramat dia sayangi.
"Apa aku sanggup berhadapan dengan tante Anggraini?" gumam Binar seperti pada dirinya sendiri.
"Harus. Esok, lusa, atau kapanpun itu, momen seperti ini pasti akan datang. Lagi pula, aku ingin segera memanggilmu dengan nama Binar di hadapan semua orang, terutama di depan kedua orang tuaku." Arsenio mengecup kening gadis cantik dalam dekapannya.
"Apa mereka bisa menerimaku?" tanya Binar ragu.
"Kita akan mengetahui jawabannya besok," sahut Arsenio. "Sebaiknya kita tidur sekarang, agar besok kuat saat menghadapi kenyataan," kelakar Arsenio, membuat Binar tertawa sambil mencubit pinggangnya dengan gemas.
................
Keesokan harinya. Sesuai rencana Arsenio mengajak Binar untuk datang ke kediaman Rainier. Selama di dalam perjalanan, gadis cantik itu tak banyak bicara. Dia tampak tegang. Sesekali, dirinya menggosok-gosokkan kedua telapak tangan demi mengurangi rasa gugup.
Arsenio dapat melihat bahasa tubuh Binar dengan jelas. Pria berdarah Belanda tersebut menyunggingkan senyuman kecil. Tangan kiri berhiaskan sebuah gelang paracord hitam itu pun kemudian terulur, lalu meraih jemari Binar. Arsenio menggenggamnya dengan erat untuk menenangkan gadis itu.
__ADS_1
Binar menoleh, kemudian tersenyum manis. Dia dapat merasakan energi positif dari pria di sebelahnya. "Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya gadis itu polos. Arsenio balas tersenyum seraya mengangguk dengan penuh keyakinan.