Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Serangan Tengah Hari


__ADS_3

Arsenio menyetir mobil sang papa sambil sesekali melirik ke arah spion tengah, di mana mobil Bayu mengikuti dari belakang. Dia lalu menghentikan kendaraan di sebuah café langganannya dulu. Begitu pula mobil Bayu yang juga turut mengekor sejak tadi. Asisten Lievin tersebut lalu mengambil tempat parkir tepat di samping mobil yang dikendarai oleh Arsenio.


Bayu menyalami putra sulung keluarga Rainier tersebut sesaat setelah Arsenio memilihkan satu meja untuk mereka berdua. “Apa kamu sudah lama bekerja dengan papaku?” tanya putra sulung Lievin untuk membuka percakapan.


“Baru beberapa bulan saja, Pak. Akan tetapi, saya sudah sangat terkesan dengan prinsip kerja dan kebiasaan pak Lievin,” jawab Bayu dengan nada bicaranya yang selalu terdengar sopan.


“Papaku memang pekerja keras serta ulet. Ide-idenya juga luar biasa,” sanjung Arsenio apa adanya.


“Dia juga sering bercerita tentang Anda. Di saat masa-masa sulit untuk menjaga agar perusahaan tetap aman, pak Lievin selalu menyebutkan nama Anda,” jelas Bayu yang membuat pria rupawan itu cukup terenyuh.


“Apa saja yang papa katakan padamu?” tanya Arsenio penasaran.


“Pak Lievin mengatakan bahwa di balik sifat pembangkang yang Anda miliki, Pak Arsenio selalu bisa diandalkan,” beber Bayu sambil memperlihatkan senyuman hangat.


“Hm." Arsenio mengangguk, kemudian mengeluarkan sekotak rokok. Dia lalu menawarkannya kepada Bayu.


“Saya tidak merokok, Pak,” tolak Bayu dengan halus.


“Oh. Aku merokok, tapi gemar berolahraga juga. Perpaduan yang aneh, bukan?” Arsenio tergelak hingga lesung pipinya pun terlihat jelas.


“Pak Lievin juga berkata seperti itu. Karakter Anda sedikit aneh dan unik.” Bayu mengulum senyum demi menahan tawa.


“Ya, ya, sudahlah. Cukup membicarakan diriku. Apa informasi yang kamu punya tentang mantan tunanganku itu?” tanya Arsenio tanpa basa-basi lagi.


“Ada beberapa yang dapat saya sampaikan kepada Anda, Pak. Pertama-tama, Haris adalah asisten pak Biantara yang baru. Dia merupakan teman lama saya, jadi sedikit banyak saya paham seperti apa karakter Haris,” terang Bayu.


“Bagaimana karakternya?” tanya Arsenio penuh selidik.


“Satu yang pasti, dia adalah seorang yang gigih dan nekat,” jelas Bayu.


“Nekat?” ulang Arsenio seraya menautkan alis.

__ADS_1


“Iya. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan semua yang dirinya inginkan,” terang Bayu lagi.


Mendengar hal tersebut, Arsenio langsung menegakkan tubuh. “Jadi, kira-kira apakah yang dibicarakan oleh Wini dan Haris di dalam rumahnya?”


“Saya sendiri merasa tidak yakin, Pak. Namun, ada kemungkinan nona Winona dan Haris tengah membicarakan rencana yang akan mereka lakukan selanjutnya,” jelas Bayu ragu.


“Rencana untuk merekayasa data perusahaan ayahku supaya terlihat lemah dan bangkrut?” tebak Arsenio sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Itu juga salah satunya, Pak.” Bayu mengangguk setuju.


“Lalu, kenapa kamu juga berada di sekitar rumah Haris tadi? Kalian bersekongkol atau bagaimana?” tuduhan Arsenio dia balut dengan senyuman lebar, agar Bayu tak merasa tersinggung.


“Saya sengaja mengikuti bu Winona sejak kemarin, Pak. Saya curiga jika dia telah menyuruh seseorang untuk meretas software maskapai Rainier milik pak Lievin,” jawab Bayu setengah berbisik.


“Kenapa kamu mencurigainya?” selidik Arsenio.


“Alasannya karena sudah beberapa minggu yang lalu, pak Biantara dan nona Winona menyebarkan berita pada para pemegang saham terbesar bahwa Rainier Airlines terancam bangkrut. Lebih kacaunya lagi, mereka tidak hanya menyebarkan berita bohong itu pada investor dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Khususnya Belanda. Mereka sudah berhasil membuat kacau di kantor pusat Amsterdam,” jelas Bayu panjang lebar.


“Sialan!” Arsenio memukul meja café cukup kencang. “Mereka benar-benar sudah memancing amarahku,” geramnya. “Wini pikir hanya maskapai itulah satu-satunya perusahaan ayahku. Padahal papa memiliki perusahaan lain yang tak kalah besar. Salah satunya adalah perusahaan yang memroduksi suku cadang pesawat terbang.”


“Mungkin aku bisa mengatur penyuntikan dana untuk mencegahnya,” gumam Arsenio sambil mengusap dagu.


“Sebaiknya kita lihat dulu perkembangan penyelidikan kita ke depannya, Pak,” saran Bayu kemudian.


“Itu juga bisa.” Arsenio mengempaskan napas pelan seraya menyugar rambutnya. Dia termenung sejenak dengan sorot mata menerawang ke luar jendela café.


“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya pamit undur diri, Pak. Saya harus segera kembali ke kantor,” ucap Bayu sopan.


“Oke. Silakan. Aku juga akan segera pulang sebentar lagi.” Arsenio mengangguk, kemudian tersenyum. Iris mata coklat terangnya terus mengikuti langkah asisten pribadi sang ayah, hingga pria itu keluar dari ruangan café.


Setelah Bayu tak terlihat, Arsenio beranjak dari kursi dan berniat membayar minuman yang sudah dia pesan. Dia bergegas menuju area parkir. Namun langkah pria itu terhenti, ketika ponselnya berdering. Dengan segera, Arsenio menerima panggilan saat membaca nama Binar yang tertera di layar. “Aku sudah mau pulang, sayang,” ujarnya sebelum sang istri sempat mengucapkan kata-kata.

__ADS_1


“Rain, tolong!” seru Binar yang terdengar panik dari seberang sana.


“Ada apa, sayang?” Was-was, Arsenio segera memasuki kendaraan dan menyalakannya.


“Aku takut, Rain! Ada banyak orang di depan gerbang. Mereka berusaha masuk ke dalam rumah, bahkan tega menyakiti para satpam yang berjaga,” jawab Binar sambil sesekali terisak.


“Kamu di mana sekarang? Apa masih di taman belakang?” tanya Arsenio seraya menginjak pedal gas. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan café tersebut.


“Pak Mono mengarahkan aku ke kamarmu, Rain. Dia menyuruhku bersembunyi di sini,” jawab Binar.


“Bagus. Tetaplah di situ! Kunci pintunya dan jangan keluar sampai aku datang,” suruh Arsenio. Lihai, dia melajukan mobil bergerak zig-zag menyibak padatnya jalan raya. Dalam perjalanan, dia juga sempat menelepon polisi.


Tak sampai setengah jam, Arsenio tiba di depan gerbang rumah yang sudah terbuka lebar. Tampak dua orang satpam meringkuk di dalam posnya masing-masing. Setelah memeriksa keadaan mereka, Arsenio bergegas masuk ke dalam rumah.


Kondisi ruang tamu sudah porak poranda. Sofa mewahnya sobek di bagian tengah dan dalam posisi terbalik. Lukisan-lukisan penghias dinding terjatuh ke lantai. Demikian pula lampu kristal yang pecah berkeping-keping hingga berserakan di atas lantai marmer.


“Sialan!” teriak Arsenio. Secepat kilat dia berlari ke lantai dua. Di sana, Arsenio mendapati seorang pria yang tengah berusaha untuk mendobrak pintu kamarnya. Spontan, Arsenio berlari menerjang pria tinggi besar berpakaian preman tersebut.


Pria berambut coklat itu melompat sambil menyarangkan tendangan tepat ke perut pria tadi hingga terhuyung ke belakang. Melihat musuhnya kehilangan keseimbangan, Arsenio kembali menyarangkan tendangan dan pukulan membabi buta ke arah wajah dan ulu hati pria asing itu.


Tendangan terakhir Arsenio di paha kanan si pria berpakaian preman, membuat pria itu jatuh terjengkang ke belakang. Kondisi demikian membuatnya semakin beringas. Segera saja dia menaiki tubuh besar itu dan duduk di atas perutnya. Arsenio memukuli pria asing tadi sampai tak sadarkan diri. Dia baru sadar dan berhenti, ketika mendengar sirene mobil polisi.


“Binar!” Arsenio panik teringat akan sang istri. Bergegas dirinya menggedor pintu kamar. “Binar! Ini aku! Buka pintunya!” Gelisah pria rupawan itu menunggu hingga pintu terbuka lebar. Tampaklah wajah sayu berlinangan air mata.


“Rain!” Binar segera menghambur ke pelukan suaminya dan menangis sesenggukan.


“Kamu baik-baik saja, ‘kan? Mereka tidak menyakitimu ‘kan, Sayang?” tanya Arsenio sambil menangkup paras cantik Binar dengan kedua tangan.


Binar menggeleng lemah, lalu membenamkan kepala di dada bidang sang suami.


“Syukurlah.” Arsenio mendekap erat tubuh ramping sang istri. Mereka saling diam sampai beberapa orang polisi datang dan mengajukan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


Binar yang lebih banyak menjawab, sebab dirinya dari awal mengetahui kronologis kejadian. Sementara pikiran Arsenio mengembara pada perkataan Anika beberapa hari yang lalu. Biantara sedang dekat dengan orang-orang berpakaian preman. Mereka dibawa masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Tangan Arsenio terkepal. Setelah ini, dia akan menghubungi Dwiki lagi, dan meminta orang kepercayaannya itu untuk dapat membuktikan keterlibatan Winona dan ayahnya dalam kejadian tersebut.


__ADS_2