Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Pesan Tak Berbalas


__ADS_3

Sudah tiga hari pasangan pengantin baru itu tinggal di penginapan. Selama rentang waktu tersebut, Arsenio mengajari Binar sedikit-sedikit tentang bahasa Jerman.


Benar dugaan Arsenio, istrinya memang berbakat dalam hal bahasa. Binar yang memiliki otak encer, dapat memahami dengan mudah semua yang diajarkan oleh sang suami.


Kabar baik tak berhenti sampai di situ. Menjelang tengah hari, Binar mendapatkan pesan masuk dari kedutaan Jerman yang mengabarkan bahwa pengajuan visanya telah diterima.Tak terkira betapa bahagia wanita cantik itu saat mendengarnya. Dia segera memeluk Arsenio erat-erat sambil menitikkan air mata. “Kita akan meninggalkan masa lalu yang pahit, demi masa depan yang lebih baik dan indah,” bisik Binar lirih, “dan juga meninggalkan Wisnu serta Praya,” desahnya lagi penuh sesal.


“Jangan khawatir. Kita akan menghubungi mereka setiap hari meskipun sudah tinggal di sana,” hibur Arsenio sambil mengusap-usap punggung Binar dengan lembut.


“Sekarang bersiaplah, Sayang. Setelah mengambil visa, aku akan memesan tiket pesawat untuk kita berdua.” Arsenio mengurai pelukannya, lalu menangkup paras cantik Binar dan mengecup bibirnya untuk sesaat.


Wanita muda itu pun mengangguk dan mulai bersiap-siap. Sesaat setelah dirinya masuk ke kamar mandi, Arsenio meraih ponsel dan mencoba menghubungi Fabien dengan nomor yang baru. Awalnya tak ada jawaban dari sang adik. Namun, setelah Arsenio mengirim pesan bahwa nomor baru itu adalah miliknya, Fabien langsung balik menelepon. “Kenapa kau mengganti nomormu?” tanya pemuda yang berusia dua tahun lebih muda dari Arsenio tersebut.


“Ceritanya panjang. Nanti saja aku mendongengkannya untukmu. Sekarang bantu aku,” sahut pria rupawan itu tanpa basa-basi.


“Apa ada yang bisa kubantu, Zus (Kak)?” tawar Fabien.


“Aku dan Binar ... kami butuh tempat menginap untuk sementara di Jerman, sampai aku mendapatkan pekerjaan,” jelas Arsenio. “Binar sudah mengajukan visa berkunjung dan hanya berlaku selama tiga bulan. Kami harus memperpanjang visa atau mengubahnya menjadi izin tinggal, asalkan aku harus mempunyai pekerjaan tetap dan penghasilan yang stabil di sana,” sambungnya.


“Kita bisa memikirkan hal itu nanti. Datanglah dulu ke sini, aku akan menyediakan kamar untuk kalian,” ujar Fabien. “Oh ya. Aku lupa hendak mengatakan sesuatu,” ucap pemuda itu lagi saat Arsenio akan menutup teleponnya.


“Apa itu?” tanya Arsenio penasaran.


“Beberapa hari yang lalu mama meneleponku. Sepertinya dia tengah mencarimu,” jawab Fabien.


“Mencariku?” Arsenio yang awalnya duduk di tepian ranjang, segera berdiri sambil terbelalak tak percaya. Antara sedih dan bahagia, dia rasakan saat itu. Mengetahui bahwa Anggraini mencari dia, merupakan suatu kemajuan yang sangat besar mengingat beberapa hari yang lalu sang ibu telah memblokir kontaknya.

__ADS_1


“Apa yang mama katakan?” tanyanya dengan jantung bergemuruh. “Apakah dia terdengar marah?”


“Mama ingin bertemu denganmu, Zus. Tidak. Dia tidak marah. Aku rasa sepertinya mama sedih dan menyesal,” jawab Fabien sedikit ragu.


“Ini kabar yang sungguh luar biasa.” Arsenio mengakhiri panggilan tadi begitu saja, lalu mulai mencari nomor telepon Anggraini dan mulai menghubunginya. Cukup lama dia menunggu hingga beberapa kali nada sambung, tapi Anggraini tak jua menjawab panggilan darinya. Tak ingin berputus asa, Arsenio mencoba lagi dan lagi, sampai Binar keluar dari kamar mandi. Wanita muda itu bahkan telah berpakaian rapi.


Akhirnya, Arsenio memutuskan untuk mengirim pesan pada sang ibu.


‘Hai, Ma. Apa kabar? Aku Arsenio dan ini nomor baruku. Jika memungkinkan, bisakah kita bertemu sebelum aku terbang ke Jerman?’


Begitu isi pesan tersebut. Berdebar Arsenio menunggu balasan yang tak kunjung datang.


Pria yang baru saja melepas masa lajangnya itu tak tahu jika pada waktu yang sama, Anggraini tengah sibuk mempersiapkan acara peresmian hunian town house dan apartemen di tengah kota.


Saat itu, Anggraini hendak naik ke atas podium untuk memberikan sambutan, sehingga dia menitipkan tas tangan yang berisi ponsel pada Lievin. Lievin sendiri segera memeriksa ketika dia mendengar panggilan masuk dari ponsel sang istri. Namun, tak dia hiraukan berhubung yang menghubunginya adalah nomor tak dikenal.


Sementara Arsenio menyerah dan memutuskan untuk memutuskan untuk menghubungi kembali sang ibu nanti. Akan tetapi, keinginannya itu terlupa tanpa sadar ketika dia sibuk menyiapkan segala keperluan dan persiapan untuk berangkat ke Jerman.


Keesokan harinya, Arsenio sudah menenteng dua ransel besar. Sedangkan Binar membawa tas selempang kesayangan dan satu tas jinjing. Mereka keluar dari kamar dan menyerahkan kunci ke resepsionis. Di depan teras, Dwiki tengah memanaskan mobil sambil menunggu dua sejoli yang berjalan menghampirinya.


“Ki,” sapa Arsenio.


“Bos.” Dwiki segera berbalik dan mengambil seluruh barang bawaan pasangan suami istri tersebut, lalu memasukkannya ke dalam bagasi. “Baru saja saya berniat untuk menjemput bos dan bu bos di depan kamar. Seharusnya biar saya saja yang membawakan barang-barangnya," ujar pria yang masih betah melajang itu.


“Tidak usah. Kami tidak ingin terlalu merepotkanmu,” sela Binar sebelum Arsenio sempat menjawab.

__ADS_1


“Saya sama sekali tidak merasa direpotkan kok, Bu Bos. Jadi, apa kita berangkat sekarang?” tawar Dwiki.


“Iya, Ki. Kita harus segera berangkat, karena aku sudah memesan tiket untuk penerbangan pagi,” jawab Arsenio seraya menuntun istri tercinta untuk masuk ke dalam kendaraan. Setelah itu, barulah dia menempatkan diri di samping Binar.


“Baiklah.” Tanpa banyak bicara lagi, Dwiki segera duduk di balik kemudi dan menjalankan mobilnya menuju bandara. Raut tampan khas pria Indonesia yang biasa tampak ceria itu, kini lebih banyak murung dan berdiam diri. “Sampai kapan Bos akan tinggal di sana?” tanya Dwiki memecah keheningan. Sejak memasuki mobil, tak satu pun dari ketiga orang itu yang berbicara.


“Kami masih belum tahu, Ki. Apa kata takdir saja,” jawab Arsenio dengan sorot mata menerawang ke luar jendela. Kembali dilihatnya layar ponsel yang sedari tadi digenggam. Dia berharap sesuatu, tapi nyatanya masih juga belum ada jawaban dari Anggraini. Arsenio mende°sah pelan. Rasa hati ingin menghubungi sang ibu lagi.


Namun, ternyata mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di area parkir masuk bandara. “Sudah sampai, Bos,” ujar Dwiki dengan lesu, lalu turun dan membuka bagasi. Cekatan dirinya menurunkan barang-barang pasangan suami istri itu, lalu sigap mengambil troli.


Dwiki tak memperbolehkan Arsenio membantunya sedikit pun. “Bos, tunggu saja. Biar saya yang memasukkannya ke dalam troli.”


“Jangan berlebihan, Ki,” cegah Arsenio seraya mencekal lengan kekar mantan anak buah kepercayaannya tadi.


“Setidaknya hanya ini yang bisa saya lakukan, Bos. Tolong jangan menolak,” pinta Dwiki dengan raut wajah yang tak karuan.


“Astaga, baiklah.” Arsenio menerima troli yang sudah penuh dengan tas ranselnya, lalu memeluk Dwiki erat-erat. Setelah berpamitan, dia dan Binar bergegas masuk. Sedangkan Dwiki memilih untuk segera kembali. Dia tak ingin menunggu hingga mantan bosnya benar-benar pergi.


Selama dalam perjalanan, Dwiki lebih banyak termenung. Merasa suntuk, dia pun memutuskan untuk mampir sejenak ke sebuah kedai kopi. Baru saja duduk, perhatian pria muda itu langsung tertuju kepada sesosok wanita yang teramat dia kenal. Wanita itu tampak sedang berbincang dengan seorang wanita lain yang berpenampilan sama elegantnya.


"Bu Anggraini," sapa Dwiki yang segera menghampiri wanita yang tak lain adalah ibunda Arsenio. Saat itu, dia tengah bertemu dengan salah seorang rekan sesama kaum sosialita.


Anggraini yang tak mengenal Dwiki, segera menoleh dan menatap aneh kepada pria muda itu. "Siapa ya?" tanyanya seraya menautkan alis.


"Saya Dwiki, mantan asisten pribadi pak Arsenio," jawabnya seraya mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Arsen?" Angraini tampak antusias mendengar nama itu. "Apa kamu tahu di mana dia saat ini?"


"Pak Arsenio baru saja berangkat ke bandara," jawab Dwiki lesu.


__ADS_2