
“Om, aku ke sini untuk menagih janji,” ujar Wisnu dengan gayanya yang sok dewasa. Bocah itu bahkan bersedekap sambil mengangkat dagu, sehingga membuat Arsenio sampai harus mencolek lengan bocah tersebut untuk mengingatkan. “Bersikaplah yang sopan,” bisiknya.
Akan tetapi, Rudolf malah terbahak. Dia cukup terhibur melihat tingkah lucu Wisnu.
“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Jadi, janji apa yang kau maksud, Nu?” tanya pria berdarah Jerman yang fasih berbahasa Indonesia tersebut.
“Om dulu pernah mengatakan kalau aku boleh meminta tolong apapun. Sekarang aku ingin meminta tolong, pinjamkan mobilmu, Om. Kumohon.” Sikap tegas sok dewasa tadi berubah seketika menjadi terlihat memelas, membuat Rudolf kembali tertawa.
“Memangnya kalian hendak ke mana?” Rudolf mengulum bibirnya, menahan tawa.
“Kakakku akan menraktir kami, tapi dia hanya membawa motor kemari. Jelas tidak cukup kalau harus mengangkut empat orang,” jelas Wisnu.
“Oh, begitu rupanya. Baiklah. Kalau begitu pakai saja.” Rudolf menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Arsenio dan Wisno mengikutinya.
“Ah, sebagai jaminannya aku akan menitipkan motor dan ransel besarku di sini,” ucap Arsenio sebelum Rudolf beranjak dari sana.
“Tentu. Kalau begitu kita lewat sini saja. Kau bisa memarkirkan motormu di garasi.” Rudolf mengarahkan Arsenio yang menuntun motornya ke bagian samping villa. Mereka bertiga terus berjalan menuju bangunan kecil yang terletak di belakang rumah utama.
Rudolf berjalan lebih dulu, lalu membuka rolling door bangunan itu. Tampaklah dua buah kendaraan pabrikan Jerman bermerek volkswagen berjenis kombi yang telah dimodifikasi. “Ini memang mobil tua, tapi aku sangat menyayanginya. Mobil ini adalah peninggalan mendiang ayahku dan sudah kupasang AC mobil, jadi kalian tak akan merasa kepanasan,” terangnya.
Tak terkira betapa bahagianya Wisnu saat itu. Dia berjalan mengelilingi mobil tersebut sambil mengusap-usap bodinya. Mobil berbentuk minibus berwarna oranye terang itu tampak amat mengkilap.
“Sebentar, biar kuambilkan kuncinya. Kau bisa memarkir motormu di sini, Arsenio,” tunjuk Rudolf ke arah sisi garasi.
Arsenio pun mengangguk dan memarkirkan motor. Dia juga meletakkan tas ransel besar miliknya di sana. Tak lama kemudian, Rudolf datang kemudian menyodorkan kunci. “Pakailah sepuas kalian, tapi ingat jangan sampai mobil kesayanganku ini tergores, ya,” pesan pria itu menegaskan.
__ADS_1
“Pasti. Aku akan berhati-hati,” sahut Arsenio seraya menerima kuncinya. Dia lalu membuka pintu mobil dengan diikuti oleh Wisnu. Bocah itu langsung duduk di kursi samping kemudi. Arsenio mencoba menyalakan mesin dengan hati-hati. Dia bernapas lega, ketika mesinnya berbunyi dan terdengar begitu halus.
“Alles klar, Herr Rudolf (Baiklah, tuan Rudolf). Saya permisi.” Arsenio mengangguk sopan pada pria yang berdiri di samping kendaraannya.
“Jangan panggil aku, Tuan. Panggil Rudolf saja,” ujarnya seraya membalas anggukan Arsenio. “Oh, ya. Biarkan saja gerbangnya terbuka. Sebentar lagi anak-anak akan kemari!” serunya dari kejauhan, tapi masih dapat Arsenio dengar dengan jelas.
Arsenio mengendarai mobil itu dengan riang, hingga tiba di depan teras rumah sederhana yang ditempati oleh Widya. Tampaklah Binar yang tengah duduk-duduk santai di sana bersama Praya. Sementara ibu tiri kekasihnya itu tak terlihat. Terakhir Arsenio melihat Widya masuk ke dalam kamar dan tak keluar lagi.
“Ayo. Tunggu apa lagi?” Arsenio turun dari kendaraan dan langsung menarik tangan Binar yang menggenggam erat tali tas selempang.
“Apakah ibuku tidak diajak, Mister?” Praya ikut berdiri dan menatap Arsenio penuh harap. Akan tetapi, pria itu tak segera menjawab. Dia menoleh pada Binar untuk meminta jawaban.
Binar sendiri adalah gadis yang memiliki perasaan teramat lembut. Tentu saja dia tak bisa menolak keinginan Praya, hingga akhirnya Binar mengangguk dan tersenyum. “Ya, sudah sana. Panggil ibu kamu,” suruhnya.
Praya bergegas masuk ke dalam rumah untuk beberapa lama. Setelah itu dia keluar lagi sambil menggelengkan kepala. “Ibu tidak mau ikut. Minta oleh-oleh saja katanya,” seru Praya sembari melangkah masuk ke dalam mobil. Sementara Wisnu tetap duduk di tempatnya.
Bagi Binar, tak masalah duduk di manapun. Asalkan dia bisa membawa adik-adiknya untuk bersenang-senang hari itu. Senyumnya tak henti-henti terkembang, melihat pemandangan yang membahagiakan. Arsenio, dirinya beserta Wisnu dan Praya berada dalam satu kendaraan. Kekasihnya itu juga terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka saat itu. “Ke mana kita?” tanya Arsenio, membuyarkan lamunan Binar.
“Ke mana, ya?” Binar berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu.
“Warung seafood di Pulau Serangan saja, Mbok! Om Rudolf pernah mengajak kami makan-makan di sana bersama anak-anak desa!” usul Wisnu dengan suara menggelegar karena terlalu bersemangat.
“Pulau Serangan? Di mana itu?” tanya Arsenio tak mengerti. “Coba kuperiksa di map.” Jemari pria itu sibuk membuka aplikasi peta. “Oh, baiklah. Ternyata cukup dekat. Tak sampai satu jam dari sini,” ujarnya sembari menyalakan kendaraan dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Wisnu dan Praya kembali bersorak riang. Terlebih saat mereka sudah tiba di lokasi. Kedua bocah itu tak sabar dan segera menghambur keluar. Arsenio membiarkan mereka berbuat sesuka hati, memilih menu apapun yang mereka mau. Tak lupa, pria rupawan itu memesan satu porsi untuk dibawa pulang.
__ADS_1
Setelah puas makan-makan, Arsenio mengajak mereka berkeliling pulau. Keempatnya mendatangi setiap pesisir pantai yang ada di sana. Selama berada di Bali, dirinya tak pernah sempat mengeksplor tiap sudut pulau dewata tersebut. Geraknya terbatas antara villa, pantai eksklusif, hotel mewah, dan lokasi pertemuan dengan klien.
Arsenio juga tak lupa mengabadikan momen itu dengan foto-foto bersama Binar dan kedua adiknya. Hingga tak terasa siang berjalan cepat menuju petang. Praya sudah merengek pulang, karena dia memiliki banyak pekerjaan rumah untuk pelajaran sekolahnya.
“Baiklah, tidak apa-apa. Besok kami akan datang lagi,” ucap Arsenio. Dia mengendarai mobil pinjaman tadi kembali ke arah desa tempat tinggal Wisnu dan Praya. Arsenio menurunkan kedua bocah itu di depan rumah. Dia juga menyerahkan bungkusan makanan yang sudah dipesan untuk Widya.
“Berikan pada ibumu, ya,” pesan Arsenio.
“Mbok dan Mister tidak menginap di sini?” tanya Praya penuh harap. Lagi-lagi, Arsenio menoleh pada Binar.
“Tidak, Ya. Mbok mencari penginapan di dekat sini saja,” jawab Binar ragu. Dia masih trauma berada satu rumah dengan Widya. Binar merasa khawatir jika kejadian memilukan dulu akan terulang lagi, meskipun sudah ada Arsenio di sampingnya.
“Besok pagi-pagi sekali, kami akan datang,” bujuk Arsenio ketika mata Praya mulai berkaca-kaca, “atau bagaimana kalau kalian ikut bersama kami?” cetusnya kemudian.
“Ibu pasti melarang,” sahut Wisnu.
“Ya, sudah. Kalau begitu tunggu Mbok sampai besok pagi, ya. Mbok janji akan datang ke sini sebelum matahari terbit,” ucap Binar yakin, membuat Arsenio melotot.
“Sebelum matahari terbit?” ulang Arsenio keberatan. Rencananya nanti malam, dia akan begadang dan berenang-senang bersama Binar. Namun, kesempatan bertemu dengan adik-adiknya sangatlah langka, sehingga terpaksa dia menuruti keinginan sang kekasih.
“Oh iya, hampir saja lupa. Besok aku akan ikut ke sekolah kalian. Setelah dari sekolah Praya, aku akan ke sekolah Wisnu,” terang Arsenio.
“Untuk apa, Mister?” tanya Wisnu dan Praya bersamaan.
“Aku akan mendaftarkan beasiswa untuk kalian. Jadi, kalian tidak perlu kebingungan untuk membayar sekolah sampai nanti kuliah,” jawab Arsenio yang seketika membuat kedua adik Binar itu terbelalak tak percaya.
__ADS_1
"Benarkah itu, Mister? Jadi, kami tidak perlu repot-repot mencari uang untuk tambahan biaya sekolah?" Wisnu terlihat begitu antusias mendengar penuturan dari Arsenio.
"Jika memang ingin membantu meringankan beban ibu, maka aku langsung memberi dua jempol untuk kalian. Namun, bukan tanggung jawab kamu ataupun adikmu untuk mencari uang di usia dini. Kalian hanya perlu tahu bahwa mendapatkan uang itu sulit, sehingga bisa belajar untuk lebih bijak menggunakannya," pesan Arsenio.