
Ghea sudah hampir menyerah menunggu. Dua jam dirinya mondar-mandir di lobi apartemen. Dia bahkan bermaksud untuk meninggalkan tempat tersebut, ketika dilihatnya dari kejauhan, pintu lift pribadi milik Arsenio perlahan terbuka. Ghea melihat pria yang membuatnya tergila-gila itu menggandeng perempuan yang tak lain adalah seseorang yang diketahuinya sebagai kekasih Chand.
“Oh, jadi ini alasan kamu berubah?” seru Ghea seraya berlari mendekat. Dengan berani, dia menghadang langkah Arsenio yang tampak rapi dalam balutan kemeja abu-abu yang dilipat bagian lengannya. Sedangkan Binar masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin saat dia datang ke apartemen itu. Gadis cantik tersebut tampak segar dengan pipi bersemu merah. Sementara tangannya terus berada dalam genggaman Arsenio, yang seakan tak ingin melepaskan walau sedetik pun.
Ghea memperhatikan semuanya tanpa ada yang terlewat. Dia juga menatap Binar dengan sorot tak suka. “Dasar gadis tak tahu malu. Wajah dan penampilanmu tidak sesuai dengan kelakuan yang kau tunjukkan!” cacinya pelan.
“Siapa yang tidak tahu malu, Kak? Kakak atau aku?” balas Binar, walaupun nada bicaranya tak terdengar ketus sama sekali. Dia hanya lelah dengan segala makian dan kata-kata buruk yang dialamatkan kepadanya.
“Berani kamu, ya!” Ghea bergerak maju dengan telunjuk yang mengarah lurus kepada Binar. Namun, Arsenio dengan segera menahan janda dari Chand tersebut supaya tidak sampai menyentuh gadis yang teramat dia cintai. Tentu saja Arsenio tak akan membiarkan hal itu.
“Jangan mempermalukan dirimu, Ghea! Pulanglah,” suruh Arsenio. Tatap matanya tak kalah tajam dengan sorot mata mantan istri Chand tersebut.
“Oh, tadi Chand yang mengancamku agar tak mengganggu perempuan ini. Sekarang kamu.” Sinis kata-kata Ghea sembari melirik pada Binar. “Aku heran, ada apa sebenarnya dengan gadis ini? Kenapa kalian begitu melindunginya?” cibir wanita tiga puluh tahun itu lagi.
“Kamu tidak perlu tahu. Sekarang minggirlah karena kami akan pergi.” Arsenio menggeser tubuh Ghea menggunakan satu tangannya, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan janda cantik jelita yang terlihat sangat marah.
“Kamu akan menyesal, Sen! Kamu dengar itu! Kamu akan menyesal menjadikan seorang Ghea sebagai musuhmu!” seru wanita itu demikian nyaring.
Akan tetapi, Arsenio tak peduli. Dia tetap meninggalkan Ghea yang mulai menggila. Pria berdarah Belanda tadi melangkah tenang menuju area parkir khusus tempat dia menyimpan kendaraannya.
“Kamu yakin ini tak akan jadi masalah, Rain?” Berbeda dengan Arsenio yang bersikap santai, Binar terlihat begitu khawatir dan tampak tidak nyaman.
“Biarkan saja, Sayang. Dia tidak akan berani macam-macam denganmu,” sahut Arsenio setelah menyalakan mesin mobil. Dia juga sempat mengecup bibir Binar sebelum menjalankan kendaraannya. Butuh waktu kurang dari satu jam hingga mereka tiba di kediaman Rainier.
Tanpa membuang waktu, Arsenio segera mengajak Binar menuju kamar yang sempat ditempati oleh gadis itu. Dia menjaga penuh waspada di depan pintu ketika gadisnya sibuk mengumpulkan berkas-berkas beserta flashdisk, kemudian memasukkan semua ke dalam map.
Awalnya, rumah itu tampak sepi. Tak terlihat siapa pun selain asisten rumah tangga yang berlalu lalang. Namun, beberapa saat kemudian, keluarlah Fabien dari dalam kamar yang berada sejajar dengan kamar yang ditempati oleh Binar. Pria itu berjalan santai sambil membawa tas ransel berukuran besar. “Kapan datang?” tanya Fabien pada Arsenio yang tengah bersandar di ambang pintu.
__ADS_1
“Baru saja. Waar ga je naar toe (mau ke mana kau)?” Arsenio balik bertanya.
“Pulang, ke Jerman.” Fabien melirik ke dalam kamar dan mendapati Binar yang sibuk mengemasi sesuatu. “Kuharap kau tidak salah dalam mengambil keputusan," ucap Fabien lagi seraya mengalihkan pandangan pada sang kakak.
“Aku tahu apa yang kulakukan,” sahut Arsenio santai.
“Hm. Sudah seharusnya seperti itu.” Fabien mengangguk sambil mengusap dagunya. ”Mama dan papa sudah melihat siaran langsung Wini di akun media sosialnya. Mereka akan datang nanti malam,” terang Fabien.
“Wat er ook gebeurt, laat het gebeuren (apa yang terjadi, terjadilah)." Arsenio masih menanggapi semuanya dengan sikap yang teramat santai. Dia tak ingin membuat dirinya terlihat menyedihkan dengan meratapi semua masalah yang datang bertubi-tubi.
“Baiklah, aku sudah mengingatkanmu. Namun, jika terjadi sesuatu yang membahayakan kalian, datang saja ke Jerman. Aku akan siap menampung kau dan juga gadismu di sana.” Fabien menepuk pundak kakaknya pelan, seraya tersenyum penuh arti.
Sikap sang adik membuat Arsenio mengernyit tak mengerti. “Apa maksudmu?” Belum sempat pertanyaan Arsenio terjawab, Binar sudah lebih dulu keluar dari kamarnya. Gadis itu sempat terhenyak melihat sosok Fabien yang berdiri gagah di depan kamar.
“Nanti juga kau akan mengerti,” jawab Fabien pada akhirnya sambil terus menatap ke arah Binar.
“Maafkan aku, Binar. Aku telah salah menilaimu,” ucap Fabien sedikit berseru karena jarak mereka kini telah sedikit jauh.
Binar segera menoleh dengan tatapan tak percaya. Namun pada akhirnya gadis cantik itu tersenyum seraya mengangguk. Setelah itu, mereka melanjutkan langkah ke halaman depan di mana Arsenio memarkirkan kendaraan. Tujuan mereka berikutnya adalah apartemen Prajna.
“Kamu di sini saja untuk sementara, ya. Tunggu aku kembali. Kerjakan saja tugas-tugasmu sampai selesai. Jangan terburu-buru,” ujar Arsenio beberapa saat setelah mereka sampai di depan apartemen Prajna.
“Iya. Kamu juga hati-hati, ya,” balas Binar. Ragu-ragu dia mendekatkan wajah pada Arsenio, kemudian mencium pipi kekasihnya lembut.
Arsenio seakan melayang mendapatkan perlakuan demikian. Selama ini, dialah sang cassanova. Dia yang mempermainkan perasaan mangsanya. Akan tetapi, kini ternyata Binar lah yang memegang kendali atas seluruh diri Arsenio. Pria itu sudah jelas bertekuk lutut di hadapan gadis cantik yang mampu mencuri hatinya semenjak pertama kali mereka bertemu.
“Aku akan menyelesaikan semua urusan secepatnya, kemudian menjemputmu.” Arsenio mengecup Binar di kening. Dengan tergesa-gesa memasuki lift. Hari itu, dia terpaksa melimpahkan seluruh pekerjaan kantor pada sekretarisnya. Arsenio merasa bahwa dirinya harus lebih dulu menemui Biantara.
__ADS_1
Sesuai perkiraan, Biantara Sasmita masih berada di ruang kerja dalam rumah mewahnya, yang merupakan salah satu kawasan elite pinggiran kota Jakarta. Sedari dulu, pria itu senang sekali mencari suasana tenang dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk keramaian.
“Selamat siang, Om,” sapa Arsenio sembari mengetuk pintu ruangan yang telah terbuka. Ternyata, di dalam sana tak hanya ada Biantara. Pria paruh baya tersebut tengah bersama Yohana dan juga Winona.
“Om benar-benar kecewa padamu,” ungkap Biantara saat itu juga, tanpa menunggu Arsenio masuk dan duduk dengan nyaman.
“Sudah lama saya menyakiti Wini, Om. Dia yang keras kepala mempertahankan hubungan kami, berharap suatu saat saya akan berubah dan bisa mencintainya,” sahut Arsenio sambil tetap berdiri.
“Kamu tahu bukan bahwa semua ini bukan hanya sekadar cinta!” geram Biantara seraya berdiri dari duduknya. Yohana serta Winona yang berdiri di sisi kiri dan kanan Biantara, hanya diam menyaksikan dua pria lintas usia tersebut.
“Ya, ya. Anda dan Wini hanya memanfaatkan saya sebagai maskot,” ujar Arsenio dengan tenangnya.
“Jaga bicaramu, Arsen!” sentak Winona yang akhirnya memilih untuk bersuara.
“Kenapa kamu mesti marah, Win? Aku hanya mengatakan kebenaran. Perusahaan kita ini hanya dibangun oleh citra, tapi tak sekalipun Anda, tuan Biantara, maupun nona Winona, memikirkan tentang kualitas. Seharusnya Anda berterima kasih pada saya yang telah berhasil mengembangkan perusahaan properti kita dengan hasil akhir yang memuaskan tentunya,” papar Arsenio sedikit angkuh.
“Aku memang menggajimu sebagai CEO untuk itu. Jadi, jangan sombong!” hardik Biantara.
“Saya memang hanya berkedudukan sebagai CEO. Namun, perusahaan properti itu hasil kerja sama antara ayah saya dengan Anda. Begitu pula dengan maskapai Rainier. Ayah saya yang memiliki perusahaannya, sedangkan nona Winona hanya ditunjuk sebagai CEO-nya,” balas Arsenio tak mau kalah.
“Jangan lupakan satu hal, Arsenio! Jika bukan karena aku, Rainier Airlines tak akan mungkin dapat melebarkan rute hingga ke Indonesia dan bahkan Asia. Aku yang mengurus semuanya sampai maskapai ayahmu bisa berkembang di kawasan Asia Tenggara!” sentak Biantara yang tak dapat lagi menahan emosi.
“Akan tetapi, tetap saja perusahaan tersebut secara resmi dan sah terdaftar sebagai perusahaan milik ayah saya. Anda hanya menjadi sutradara di balik layar. Jika ayah saya bersikap egois dan tak hendak mengakui hal itu, maka nama Anda tak akan pernah muncul sebagai seorang pahlawan bagi maskapai Rainier Airlnes.” Arsenio menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
“Jangan merasa hebat dulu, Anak muda! Mungkin di Eropa, ayahmu adalah pemiliknya. Akan tetapi, di sini akulah yang memegang kendali! Aku bisa merebut Rainier Airlines di wilayah Asia.” Biantara tertawa lebar saat melihat Arsenio terbelalak tak percaya. Namun, pria berusia dua puluh tujuh tahun tersebut tetap berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Aku bisa saja membuatmu miskin, Anak muda. Tidak hanya kamu, seluruh anggota keluarga Rainier akan kuhancurkan! Ini semua akibat ulahmu yang telah menyakiti putriku!” ancam Biantara penuh keyakinan.
__ADS_1