
Binar terus menangis di dada bidang sang suami, hingga tanpa disadari dirinya tertidur sampai pagi. Saat terbangun, Binar menyadari bahwa kemeja hitam Arsenio basah oleh air matanya. Dia juga terkejut setengah mati, karena ternyata Arsenio sudah terbangun lebih dulu. Iris mata coklat terang pria itu lembut menatap paras cantik Binar yang merah merona. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Arsenio mesra.
Binar segera bangkit sambil menyibakkan selimut. Saat itulah mata indah wanita muda tersebut, menangkap bagian bawah tubuh Arsenio yang hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih. “Astaga.” Mulut Binar terbuka lebar. Dia kembali menutupi tubuh bagian bawah sang suami.
“Kenapa? Apa tadi malam kamu berbuat nakal saat aku mabuk?” Arsenio menaikturunkan alisnya sambil tersenyum lebar. Pria itu lalu ikut bangkit dan duduk menghadap kepada Binar.
“Siapa bilang!” sanggah Binar. “Aku hanya berusaha mengganti celanamu yang basah dan kotor.”
“Lantas? Mana celana gantinya?” Arsenio tak henti-henti menggoda sang istri yang menyembunyikan rasa malu dengan cara memalingkan wajah.
“Aku … aku lupa kalau di kamar ini tidak ada baju-bajumu,” kilah Binar pelan dan terdengar manja.
“Oh. Kalau begitu, aku akan memindahkan baju-bajuku ke sini,” sahut Arsenio enteng. Dia juga turun dari ranjang seraya melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
“Rain! Apa-apaan kamu!” Sontak Binar berdiri lalu menutupi seluruh tubuh suaminya dengan selimut.
“Apa yang kamu lakukan, Sayang? Aku mau mandi,” protes Arsenio.
“Mandi saja di kamarmu sendiri, Rain. Ini kamarku,” suruh Binar.
“Kalau aku tidak mau?” ujar Arsenio sembari berusaha melepas selimut tadi.
“Kumohon, Rain. Jangan.” Binar menahan gerak tangan Arsenio agar selimut tadi tak terlepas dari tubuh atletisnya.
“Memangnya kenapa?” Arsenio menggeleng pelan. Dia merasa begitu heran dengan sikap sang istri.
“Aku … aku ….” Binar tampak ragu saat menjawab.
“Kamu tidak ingin melihatku telanjang?” Arsenio memperhatikan Binar yang menyembunyikan wajah dengan menunduk dalam-dalam. Dia lalu menyentuh dagu sang istri, lalu mengangkatnya hingga sedikit mendongak.
“A-aku masih belum siap, Rain,” jawab Binar pelan.
“Belum siap untuk apa?” Arsenio semakin tak mengerti.
“Belum siap melihatmu telanjang, karena ….”
“Karena hal tersebut akan mengingatkanmu pada video itu,” lanjut Arsenio memotong kalimat Binar. “Benar, ‘kan?” tebaknya.
Binar menjawab dengan anggukan pelan, lalu kembali menunduk. Dia tak kuasa menatap secara langsung wajah tampan suaminya.
“Aku mengerti, Sayang. Aku tidak akan memaksamu,” ucap Arsenio, “tapi, izinkan aku tidur di sampingmu nanti malam. Aku tidak bisa tidur sendiri, Binar. Aku sudah terbiasa tidur sambil memelukmu,” pintanya memelas.
__ADS_1
Binar mengembuskan napas berkali-kali. Kembali hadir dalam benaknya adegan panas yang terekam dalam video. Akan tetapi, Binar segera menepis semua itu dari pikirannya. Merasa tak memiliki alasan untuk menolak permintaan sang suami, wanita yang tengah hamil muda itu pun mengangguk. “Aku saja yang kembali ke kamarmu,” putus Binar.
“Syukurlah.” Arsenio bernapas lega. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar, bersiap untuk memeluk sang istri. Namun, sebelum itu terjadi, selimutnya terlebih dulu melorot, menampakkan pahatan dan lekuk tubuh sempurna seorang Arsenio.
“Rain!” Binar menutup mata sambil berseru dengan nada protes, membuat Arsenio segera berlari masuk ke kamar mandi.
“Jangan lupa ambilkan pakaianku ya, Sayang,” seru Arsenio dari dalam kamar mandi, seolah tak pernah terjadi masalah apapun di antara dirinya dengan sang istri.
“Astaga,” decak Binar pelan. Ingin rasanya dia meluapkan segala amarah yang memenuhi dada, apalagi semalam Arsenio pulang dalam keadaan mabuk berat.
Akan tetapi, teriakannya yang terlalu kencang tadi ternyata terdengar hingga ke kamar Fabien. Begitu pula dengan Ajisaka yang saat itu tengah meniti tangga menuju ke kamar yang Binar tempati.
Kedua pria beda negara itu sama-sama berlari ke kamar Binar. Dilihatnya istri dari Arsenio tersebut sedang berjalan ke arah pintu bersamaan dengan Fabien dan Ajisaka yang hendak masuk. Hampir saja mereka bertiga bertabrakan. Beruntung, Ajisaka dan Fabien memiliki gerak refleks yang sangat baik, sehingga mereka dapat menahan laju masing-masing.
“Ada apa, Bu Bos?”
“Ada apa dengan kakakku?”
Ajisaka dan Fabien bertanya secara bersamaan.
“Oh. Eh, tidak apa-apa,” jawab Binar yang terlihat salah tingkah. “Ada kecoak,” ucapnya kemudian.
“Kecoak? Di kamar ini?” sahut Fabien tak percaya.
“Merepotkan sekali,” gerutu Fabien beberapa saat kemudian. Dia kembali ke kamarnya sambil menggaruk-garuk tengkuk.
Sementara Ajisaka masih terdiam di tempatnya sambil tersenyum lebar. “Sepertinya Bu Bos dan Bos Arsen sudah berbaikan,” ucapnya lega.
...****************...
Seperti yang telah direncanakan semalam, Dwiki mendatangi Kediaman Rainier. Dia berangkat setelah dirinya berhasil mengoperasikan drone secara diam-diam, ketika Bayu keluar dari rumah pagi-pagi sekali. Drone tersebut masuk melalui tempat jemuran yang terbuka, lalu menuju ke dapur. Sayangnya, saat dia berusaha mencari lebih ke dalam, Bayu sudah kembali. Dengan terpaksa, Dwiki menerbangkan dronenya keluar dari sana sebelum mendapatkan informasi penting.
Setelah memarkirkan motor kesayangan, Dwiki bergegas menuju taman samping. Di sana, Arsenio dan Ajisaka sudah menunggunya. “Bos,” sapa Dwiki yang berusaha keras supaya terlihat biasa saja.
“Ki,” balas Arsenio. Dia bersikap seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Arsenio bahkan berdiri sambil menyalami Dwiki. Tak hanya itu, suami Binar tersebut juga memeluk Dwiki cukup erat sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Kamu bukan sekadar anak buah bagiku, Ki. Kamu dan Ajisaka lebih dari itu,” ucapnya pelan.
Sesaat kemudian, Arsenio pun mempersilakan Dwiki untuk duduk.
“Jadi, bagaimana? Apa saja yang berhasil kalian temukan?” Arsenio mulai membuka percakapan, agar suasana tidak terlalu canggung.
Ajisaka lah yang menjawab pertanyaan bosnya lebih dulu. Dia menjelaskan secara detail apa yang telah dirinya dapatkan tadi malam. Sontak Arsenio dan Dwiki terkejut mendengarnya. “Haris sudah mati? Siapa yang membunuhnya?” desis Arsenio.
__ADS_1
“Menurut saya, lebih baik kasus pembunuhan ini kita laporkan secepatnya pada polisi, Bos. Sehingga kita bisa fokus menyelidiki Bayu,” saran Dwiki yang segera dibalas dengan anggukan oleh Arsenio.
“Ide yang bagus, Ki. Aku akan segera menghubungi Iptu Darmawan,” ujar Arsenio seraya membuka aplikasi pesan. Akan tetapi, dia tidak segera menekan nomor kontak polisi tersebut, melainkan memilih nomor telepon Winona.
Sesaat kemudian, Arsenio mengirimkan pesan singkat pada mantan tunangannya tersebut.
Dwiki ada di sini. Datanglah kemari jika kamu ingin menemuinya.
Begitulah isi pesan yang segera Winona buka. Wanita cantik berambut panjang itu tersenyum manis. Dia pun membalas pesan tadi. Setelah mengirimkannya, putri Biantara Sasmita tersebut segera beranjak dari meja kerja menuju pintu keluar. Winona menghampiri meja sekretaris pribadinya.
“Ros, saya pergi sebentar. Kalau ada apa-apa, kamu handle dulu ya,” pesannya.
“Baik, Bu,” balas sang sekretaris seraya mengangguk sopan.
Winona melanjutkan langkah menuju lift khusus yang akan membawa dirinya ke lantai dasar. Kebetulan, hari itu sang ayah pun tidak datang ke kantor. Biantara baru kembali dari Singapura, setelah mengantar sang istri melakukan chek up kesehatan.
Sementara itu, Arsenio tersenyum setelah membaca pesan balasan dari Winona. Dia lalu kembali mengalihkan perhatian kepada Ajisaka dan Dwiki yang saat itu sedang berbincang santai menggunakan bahasa daerah asal mereka.
Arsenio menyimak sebentar, meskipun dia tak mengerti sama sekali dengan apa yang kedua pria itu bahas. Setelah dua sepupu tadi mengakhiri obrolan mereka, barulah Arsenio kembali bicara.
“Aku rasa kita harus membicarakan perihal temuan mayat Haris kepada Om Biantara. Haris merupakan pegawainya. Secara tak langsung, Haris berada dalam naungannya. Om Biantara memiliki alasan yang jauh lebih bagus dibandingkan aku yang tak ada hubungan langsung dengan pria asal Malaysia tersebut,” pikir Arsenio mengemukakan pendapatnya.
“Saya rasa juga begitu, Bos,” timpal Ajisaka. “Mungkin kita bisa membahas hal ini dengan ….”
“Selamat siang,” sapa suara yang sudah sangat akrab di telinga Dwiki. Pria itu segera menggaruk kepalanya yang tak gatal. Namun, Dwiki lebih memilih menatap ke arah lain, daripada menoleh pada si pemilik suara tadi.
“Ah, Bu Winona. Kebetulan sekali Anda kemari,” sambut Ajisaka ramah. Dia langsung berdiri, kemudian memundurkan satu kursi untuk wanita cantik dengan kemeja dan rok span ketat tersebut.
“Terima kasih,” balas Winona seraya tersenyum lembut kepada Ajisaka. Dia lalu melirik Dwiki yang sempat memandang ke arahnya dengan raut aneh. Namun, dengan segera Dwiki memalingkan wajah. Pria itu melihat ke arah lain. Winona hanya tersenyum. “Ada apa memangnya?” tanya putri semata wayang Biantara Sasmita tersebut.
“Ini tentang Haris,” jawab Arsenio. Dia sempat melirik Dwiki yang tampak salah tingkah.
“Ada apa dengan Haris?” tanya Winona penasaran.
Namun, Arsenio tak memberikan jawaban kepada Winona. Dia memberi isyarat kepada Ajisaka agar memperlihatkan foto-foto temuannya tadi malam kepada Winona.
Dengan segera, Ajisaka pun melakukan apa yang sang bos isyaratkan padanya. Sepupu Dwiki tersebut menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan wanita dengan kemeja hijau emerald yang segera menerima benda itu.
Seketika, Winona terpaku untuk beberapa saat. Namun, tak berselang lama wanita itu tersadar, lalu menggeser kencang telepon genggam milik Ajisaka tanpa arah. Alat komunikasi tadi bahkan sampai terjatuh dari meja. “Astaga. Maaf, Aji,” sesal Winona yang merasa tak enak atas apa yang dilakukannya barusan. “Apa yang terjadi pada Haris?”
“Kami berpikir ada seseorang yang sengaja menghabisinya,” jawab Arsenio mengarahkan pandangan kepada Winona. Namun, sesaat kemudian pria itu beralih kepada Dwiki yang masih terlihat salah tingkah. “Aku ingin kamu membicarakan hal ini dengan Om Biantara. Bagaimanapun juga, mayat Haris harus dikeluarkan dari rumahnya,” ucap Arsenio lagi.
__ADS_1
“Ya, kamu benar,” balas Winona. Ekor mata wanita cantik itu tertuju kepada Dwiki, yang kedapatan mencuri-curi pandang. Winona pun mengulum senyumnya. “Baiklah. Aku akan membicarakan hal ini dengan papa.”
“Sudah seharusnya begitu,” sahut Arsenio, “tapi, kutekankan agar Om Biantara jangan sampai menyebut namaku atau Ajisaka.”