
Dwiki mengeluarkan peralatannya. Sebuah laptop dilengkapi dengan alat pemancar kecil dan beberapa peralatan elektronik lain yang berkedip, memancarkan cahaya merah kecil. Dia juga memasang speaker yang tersambung dengan laptop ke telinganya.
Pria itu menggerakkan kursor laptop sampai mendapatkan frekuensi yang pas. Tak lama kemudian, suara Indah jelas terdengar melalui speaker laptop tadi. Sepertinya wanita itu tengah menelepon seseorang.
"Damar, dasar brengsek! Bisa-bisanya kamu tidak berhati-hati. Dia sudah mengetahui kalau kita sering terlihat bersama! Dia mencurigaiku! Awas saja kalau aku sampai tertangkap!" maki Indah nyaring.
Hal itu membuat Dwiki tersenyum lebar. Dilepasnya speaker dari telinga, lalu dia matikan semua peralatan tadi. Dwiki meraih ponsel dan menghubungi Arsenio yang sudah duduk manis di ruangan kantornya. "Aku sudah mendapatkan namanya, bos. Tinggal meminta tolong temanku untuk memindai wajah pria itu dan mencocokkan dengan nama 'Damar' yang terdapat di database," lapor Dwiki sambil tertawa puas.
"Bagus. Apa kamu perlu bantuan finansial lagi?" tawar Arsenio.
"Untuk sementara ini masih cukup, bos," tolak Dwiki. Dia lalu mengakhiri panggilan dan menyalakan mesin mobil bututnya. Pria itu pun berlalu dari area parkir basement.
Di dalam ruang kerjanya yang nyaman, Arsenio tersenyum puas. Sedikit lagi, semuanya akan terkuak. Setelah itu, dia akan menyelesaikan semua permasalahannya satu per satu. Hal terkecil akan dia tuntaskan terlebih dulu. Hal besar yang akan dia lakukan kemudian adalah membicarakan pembatalan pertunangan dengan Biantara Sasmita, ayahanda Winona.
Selama ini, pria itu telah mendominasi semua langkah-langkah bisnis Lievin, hanya karena Biantara sangat berjasa dalam membuka dan mendaftarkan jalur penerbangan maskapai milik ayahanda Arsenio tersebut di kawasan Asia. Awalnya, Rainier Airlines hanya beroperasi di Eropa dan Amerika. Berkat jasa Biantara lah, maskapai tersebut mampu menjangkau seluruh wilayah Asia.
Arsenio tahu jika ini bukanlah perkara mudah. Akan tetapi, dia harus membuktikan pada Binar bahwa dirinya bersungguh-sungguh. Mengingat nama Binar, Arsenio menjadi ingin sekali menghubungi gadis itu. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu, tapi rasa ingin melihat wajah cantiknya begitu menggebu.
Namun sepertinya Arsenio harus bersabar sejenak, pasalnya jarum jam masih menunjukkan pukul dua belas siang. Binar pasti masih sibuk mendampingi Anggraini dalam serangkaian kegiatan acara sosialnya. Apalagi pekerjaan dia sekarang makin bertumpuk dan menjadi terbengkalai, akibat musibah yang dialami beberapa waktu lalu.
Seementara itu, di sudut lain kota Jakarta, Chand tampak gelisah di dalam ruangan kantornya. Berkali-kali dia melirik arloji, menunggu jarum jam bergerak ke angka lima. Beberapa saat yang lalu, Chand sudah membuat janji dengan Binar untuk makan malam bersama. Gayung bersambut karena gadis itu menyanggupinya. Binar mengatakan jika kegiatan Anggraini berakhir tepat pukul lima sore nanti.
Rasa gelisah dalam hati duda tampan itu sirna seketika, saat Binar tiba-tiba mengiriminya pesan untuk menjemput. Chand sama sekali tak membuang waktu. Diraihnya kunci mobil dan bergegas keluar dari ruangan kantor. Saat itu Chand sempat berpapasan dengan Nana, tetapi dia tak banyak bicara. Dia bahkan tak menghiraukan pertanyaan dari asistennya itu sama sekali. Yang menjadi fokusnya kini adalah berusaha menuju tempat parkir secepat mungkin dan memacu kendaraannya untuk menyusul Binar.
Di dalam kendaraan mewahnya, Chand sempat melirik kotak beludru kecil berwarna hitam yang tergeletak begitu saja pada kursi mobil. Pria tampan itu tersenyum samar, lalu meraup mukanya kasar. Sepertinya dia masih tak punya nyali untuk memberikan itu kepada Binar.
Tak lama kemudian, Chand kini tiba di lokasi yang sudah dibagikan oleh Binar melalui pesan satu jam yang lalu. Pria tampan itu terdiam sejenak sebelum menarik napas panjang dan turun dari mobil. Dia melangkah gagah menghampiri Binar yang masih mengobrol dengan Anggraini dan beberapa pegawai lainnya. “Selamat sore, Tante,” sapa Chand hangat dan sopan.
“Hei, Chand,” balas Anggraini. Seperti biasa, dia langsung merentangkan tangan dan menyambut sahabat dari putranya itu dengan sikapnya yang penuh kasih. “Mau menjemput Nirmala, ya?” tanyanya setengah menggoda.
“Iya, Tante,” jawab Chand seraya melirik pada Binar yang tengah memandangnya malu-malu.
“Kebetulan acara Tante juga sudah selesai, kok. Ya, sudah, Nirmala. Kamu pulang lebih dulu saja. Ingat, jangan terlalu malam, ya. Besok kita berangkat pagi-pagi ke luar kota untuk meninjau pembangunan gedung universitas,” pesan Anggraini.
__ADS_1
“Tante akan mendirikan unversitas baru?” sela Chand.
“Sudah beres semua perizinannya, tinggal pembangunan tahap akhir dan peresmian,” jawab Anggraini bangga.
“Hebat sekali, Tante. Semoga dilancarkan semuanya,” ucap Chand tulus.
“Ah, ini bukan hanya sekedar usaha Tante saja. Namun Lievin dan Arsenio turut andil di dalamnya. Terlebih Arsenio. Anak itu bersemangat sekali mulai dari tahap awal perencanaan,” terang Anggraini, membuat hati Binar menghangat saat mendengarnya. Entah kenapa setiap kali nama Arsenio disebut, jantung gadis itu berdegup lebih kencang.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Tante.” Chand setengah membungkukkan badan, sebagai bentuk rasa hormat pada Anggraini. Dia lalu mengulurkan tangan kepada Binar. “Ayo,” ajaknya.
Binar segera menerima tangan Chand dan menggenggamnya. Dia menoleh pada Anggraini sambil mengangguk. “Saya permisi dulu, Tante,” pamit gadis itu.
“Hati-hati di jalan, ya,” pesan Anggraini balas mengangguk dan melambaikan tangan, sambil terus mengamati mereka berdua.
Binar sendiri terlihat grogi saat Chand sama sekali tak melepaskan tangannya dari genggaman. Bahasa tubuh duda tampan tersebut tampak lain ketika itu. “Kamu ingin makan apa dan di mana?” tanya Chand setelah dirinya membukakan pintu mobil untuk Binar.
“Terserah kak Chand saja,” jawab Binar malu-malu.
“Suka. Dulu waktu masih tinggal di Bali, setiap kali gajian aku sering mengajak kedua adikku makan-makan di warung seafood dekat rumah,” tutur Binar. Rautnya berubah ceria ketika menceritakan kenangannya bersama Wisnu dan Praya.
“Oke. Aku akan mengajak kamu ke restoran seafood langgananku,” ujar Chand sambil melajukan kendaraan menuju kawasan Ancol. Mobilnya berhenti di sebuah bangunan mewah yang menghadap ke pantai. Dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Binar.
Chand kembali menggenggam tangan gadis itu serta membawanya masuk ke dalam restoran. Dia memilihkan satu meja yang berada paling dekat dengan dinding kaca. Di tempat itu, mereka dapat menikmati pemandangan laut di kala petang yang tampak begitu menakjubkan.
Tak berapa lama, seorang pelayan restoran datang dan membawakan buku menu pada mereka. Setelah selesai memilih dan pelayan itu mencatat pesanan mereka, Chand kembali memusatkan perhatian pada gadis cantik di hadapannya.
“Kamu suka, Mal?” tanya Chand, sedangkan genggamannya tak jua lepas dari tangan Binar. Namun, gadis itu dapat merasakan sesuatu yang lain. Telapak tangan Chand terasa penuh keringat.
“Apa Kak Chand sakit?” Binar tak menghiraukan pertanyaan duda menawan itu.
“Tidak. Kenapa kamu bertanya begitu?” Chand menautkan alisnya yang hitam dan tebal.
“Tangan Kak Chand berkeringat,” jawab Binar polos.
__ADS_1
“Oh, astaga.” Chand tertawa renyah seraya menggeleng pelan. “Itu bukan karena sakit, Mal. Aku hanya merasa khawatir,” ucapnya kemudian.
“Kak Chand khawatir kenapa?” Kini, giliran Binar yang mengernyitkan kening.
“Kamu tinggal di rumah keluarga Rainier dengan memakai nama Nirmala. Sementara aku tahu bahwa kamu adalah Binar yang selama ini dicari oleh Arsenio. Aku yakin cepat atau lambat, om dan tante akan mengetahui hal tersebut, Mal. Aku sangat cemas akan tanggapan mereka padamu saat itu terjadi,” tutur Chand. Sedangkan Binar hanya menunduk dalam-dalam. Jauh di lubuk hati, dia juga mengkhawatirkan hal yang sama. Akan tetapi, Binar merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
“Apalagi aku mengetahui dengan pasti jika tante Anggraini dan om Lievin, tidak akan merestui Arsenio bersama siapa pun kecuali dengan Winona." Kalimat Chand itu membuat Binar mengangkat wajahnya dan tertegun untuk beberapa saat.
“Benarkah itu, Kak?” tanya gadis itu lirih.
“Dengarkan aku, Mal. Om dan tante memang sangatlah baik dan ramah pada siapa pun. Mereka bukanlah orang-orang yang angkuh. Namun, jika ada satu orang saja yang mengganggu keluarga mereka, maka om dan tante akan berubah menjadi sosok yang berbeda,” jelas Chand. Mimik khawatirnya sama sekali tak dapat dia tutup-tutupi.
“Lalu, aku harus bagaimana, Kak?” Binar menunduk lagi. Terbayang dalam ingatannya tatkala Arsenio menekankan agar dirinya tidak berada jauh dari pria itu
“Jujur, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Jika kamu bersedia, aku bisa membawamu pergi jauh dari mereka. Aku tidak ingin kamu terluka di rumah itu.” Chand mengangkat dagu Binar dan memaksa gadis itu memandang ke arahnya.
“Aku … sepertinya … jatuh cinta padamu, Mal. Entah sejak kapan perasaan ini hadir. Aku juga tidak menyadarinya. Tiba-tiba saja rasa ini tumbuh semakin besar.”
Binar hanya membeku mendengarkan pengakuan Chand itu. Dia membisu dan sama sekali tak tahu harus menjawab apa.
“Izinkan aku menjagamu, Mal,” Chand menjeda kata-katanya sejenak, lalu merogoh saku celana. Dia mengeluarkan kotak beludru hitam yang sedari tadi disembunyikan. Sekarang, dia membuka kotak itu dan menunjukkan isinya pada Binar.
“Harapanku adalah, suatu saat aku bisa memilikimu. Sampai waktu itu tiba, pakailah cincin ini sebagai penanda bahwa aku telah mengikatmu secara tidak resmi,” lanjut Chand yang semakin membuat Binar menjadi kikuk dan juga kebingungan.
.
.
.
Galau, deh. Baca dulu karya keren yg satu ini, yuk
__ADS_1