Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Melepaskan Diri


__ADS_3

“Tolong jangan berbohong pada mama, Fabien. Bicaralah yang jujur. Katakan di mana kakakmu saat ini?” desak Anggraini tak ingin menyerah.


“Ma, sudah kukatakan bahwa Arsen tidak ada di sini. Untuk apa aku berbohong?” Fabien yang merasa tidak terima, segera mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video.


Setelah Anggraini menerimanya, Fabien mengarahkan layar ponsel ke seluruh sudut ruangan kamar yang berantakan. Tak hanya itu, Fabien juga menunjukkan ruangan-ruangan lain di apartemen mewahnya yang juga tak kalah berantakan. “Mama percaya sekarang?” ujar Fabien puas.


“Astaga! Kamu itu manusia modern apa manusia gua? Kenapa bisa jorok begitu? Apa kamu bisa hidup dengan kondisi rumah yang kacau seperti itu, Fabien? Nicht zu glauben (sulit dipercaya)!” tegurAnggraini dalam bahasa Jerman. Dia setengah kesal dan tak percaya dengan sikap dan kebiasaan anak putra bungsunya tersebut. Sesaat kemudian, Anggraini pun mengakhiri panggilan begitu saja, tanpa menunggu tanggapan dari Fabien.


Untuk beberapa saat, Anggraini terdiam di dalam mobil. Matanya menerawang menembus kaca depan kendaraan mewah yang dia tumpangi. Ibu dua anak itu sempat terkejut ketika ponselnya berbunyi. Tampak nama Fabien tertera di layar. Sembari menghela napas panjang, Anggraini menjawab panggilan telepon yang ditujukan unuknya. “Ada apa lagi, anak nakal?” decaknya pelan.


“Apa mama sudah mencari ke apartemen milik adik Chand? Terakhir kali kudengar Binar tinggal sementara di sana,” terang Fabien yang seketika membuat semangat Anggraini tumbuh kembali.


“Astaga, kamu benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku. Terima kasih, Fabien. Kamu memang anak pintar,” puji wanita cantik itu dengan riang.


“Tadi mama menyebutku anak nakal,” protes Fabien.


“Kutarik kembali kata-kataku. Kamu anak nakal yang pintar,” balas Anggraini. Lagi-lagi, dia memutuskan panggilan teleponnya tanpa berkata apapun atau berpamitan. Setelah itu, Anggraini kemudian menepuk pundak sang sopir pribadi. “Langsung ke bandara, Pak!” titahnya dengan yakin. Dalam benak Anggraini, sudah terbayang pertemuan dengan Arsenio di apartemen milik Prajna.


Hingga beberapa jam kemudian, Anggraini sudah tiba di Jakarta. Dari bandara, dia langsung menuju ke apartemen milik adik perempuan Chand. Anggraini sampai tak sempat membawakan oleh-oleh, saking menggebu-gebu hasratnya untuk dapat bertemu dengan sang putra kesayangan.


Namun, kenyataan yang dibayangkan tak seindah harapan wanita paruh baya tersebut. Berkali-kali dia mengetuk pintu sampai tangannya merasa pegal. Akan tetapi, tak ada seorang pun yang membuka dan menyambut kedatangannya. Dia bahkan merasa jika apartemen itu berada dalam kondisi tak berpenghuni.


Merasa putus asa, Anggraini akhirnya kembali ke lantai dasar untuk bertemu dengan pengelola gedung.

__ADS_1


“Oh, mereka sudah pindah, Bu. Kunci kamarnya juga sudah dikembalikan kepada saya,” jelas penjaga gedung saat wanita anggun itu bertanya.


“Pi-pindah? Pindah ke mana?” tanya Anggraini terbata dengan raut tak percaya.


“Kalau itu saya tidak tahu, Bu. Yang jelas, mereka menyerahkan kunci, lalu pergi sambil membawa beberapa tas besar,” jawab penjaga tersebut.


“Ya, Tuhan.” Anggraini mendesah pelan. Pikirannya seakan buntu. Entah kepada siapa dia harus berkeluh kesah. Satu yang pasti tentunya bukan kepada Lievin, sebab pria itu sendiri juga sudah melarang Anggraini untuk berhubungan lagi dengan Arsenio.


Dalam kekalutan itu, sosok Chand melintas dalam benaknya. “Ah, iya, Chand!” Anggraini menjentikkan jari, kemudian buru-buru meninggalkan gedung apartemen tadi. Dia menyuruh sopirnya untuk bergegas ke kantor milik Chand.


Anggraini sudah sering mendatangi kantor duda tampan itu untuk membahas banyak hal, dan seringkalinya masalah bisnis. Sehingga untuk datang ke ruangan duda rupawan tersebut, Anggraini tidak perlu birokrasi yang berbelit-belit. Setelah menyapa seperlunya pada resepsionis, salah seorang pegawai Chand mengantarkan wanita itu ke ruangan sang bos yang terletak di lantai teratas gedung.


Pegawai tersebut membawa Anggraini pada sekretaris pribadi Chand. Setelah itu, barulah sekretaris pribadi tersebut mengantarkannya ke ruang kerja bos besar. “Kebetulan sekarang jadwal pak Chand sedang kosong, Bu. Beberapa hari terakhir ini, beliau seperti sedang gila kerja. Kemarin saja pak Chand keluar dari ruangannya pada pukul sepuluh malam,” ujar sang sekretaris.


Sekretaris itu menanggapinya dengan tertawa kecil, kemudian mengetuk pintu ruangan Chand pelan. “Masuk,” sahut suara dari dalam ruangan.


“Silakan, Bu.” Sekretaris cantik tersebut membuka pintu lebar-lebar sambil mengarahkan Anggraini untuk masuk ke dalam. “Bu Anggraini, Pak,” ucapnya pada Chand.


Senyuman hangat yang tersungging dari bibir pria tampan itu seketika menghilang, saat sang sekretaris menyebut nama Anggraini, ibu dari seseorang yang sangat dia benci. Terlebih saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya. “Anda?” desis Chand.


“Nak Chand.” Anggraini segera maju seraya mengulurkan tangan. Namun, Chand seakan tak tertarik untuk menyambut uluran tangan itu.


“Ada perlu apa Anda kemari?” tanyanya dingin.

__ADS_1


Wajah ramah Anggraini kini dipenuhi oleh sejuta tanda tanya. Tak pernah sekalipun semenjak dia mengenal Chand, pria itu bersikap ketus dan tak sopan kepadanya, seperti saat ini. Dia sama sekali tak tahu bahwa pria yang dia kira sebagai sahabat dekat Arsenio tersebut, hampir menembak putra dan menantunya sendiri beberapa hari yang lalu.


“Apakah nak Chand sedang sibuk? Apakah Tante datang di waktu yang kurang tepat?” tanya Anggraini ragu.


Chand tak langsung menjawab. Dia hanya menatap tajam ke arah wanita yang telah melahirkan Arsenio. Untuk sejenak, Chand menarik napas panjang. Bagaimanapun, sungguh tak elok rasanya jika dia menumpahkan seluruh kebencian pada Anggraini, wanita yang tak tahu-menahu akan kebejatan putra kandungnya.


“Saya akan keluar lima menit lagi. Silakan duduk,” ucap pria itu akhirnya. Chand mengulurkan tangannya pada Anggraini dan mengarahkan wanita itu agar duduk di sofa. “Apa ada yang bisa saya bantu?” Nada bicaranya pun sudah tak sedingin dan sekasar tadi.


“Nak Chand, tolong beritahu Tante di mana Arsen berada. Tante mohon,” pinta Anggraini tanpa basa-basi. Wanita itu bahkan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


Mendengar hal itu, Chand sedikit tertegun. “Memangnya kenapa, Tante?” tanya Chand hati-hati.


“Kata Fabien, Arsen dan Binar sekarang tinggal sementara di apartemen Prajna. Akan tetapi, waktu tadi Tante ke sana apartemen itu sudah kosong. Penjaga gedung berkata bahwa mereka sudah pindah,” papar Anggraini.


Chand mengalihkan pandangannya ke jendela kantor untuk beberapa saat, sebelum kembali menatap Anggraini lekat-lekat. “Saya tidak tahu mereka pergi ke mana, dan jujur saya sudah tak ingin tahu lagi. Saya ingin memutuskan semua hal yang berhubungan dengan Arsenio, termasuk juga Anda dan om Lievin,” ujarnya pilu.


“Ta-tapi kenapa ….” Kalimat Anggraini seakan mengambang. “A-apakah itu karena … karena … Arsen dan Ghea ….” Wanita cantik itu terbata dan seakan tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


“Jadi, Tante sudah tahu? Baguslah. Saya tak perlu lagi berpura-pura. Selama ini saya hanya menjaga hubungan baik dengan om dan Tante yang sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri. Namun, sekarang rasanya saya sudah tak sanggup lagi. Semua terlalu menyakitkan. Semoga kelak karma itu tak datang pada anak keturunan om dan Tante,” pungkas Chand. Pria itu kemudian berdiri dan kembali ke meja kerjanya.


Akan tetapi, dia tak hendak duduk, melainkan hanya mengambil jasnya seraya melangkah menuju pintu. “Saya ada janji sebentar lagi, Tante. Saya harus pergi sekarang.” Sebuah usiran halus yang Chand lontarkan pada Anggraini.


“Nak.” Mata Anggraini berkaca-kaca. Sosok pria gagah yang berdiri di depannya itu bukanlah orang lain. Dia adalah salah satu orang terdekat bagi keluarga Rainier. Nyatanya, sekarang Chand yang berdiri di hadapannya, seolah tak tergapai oleh Anggraini. “Tante minta maaf untuk semua kelakuan Arsen,” ucapnya kemudian dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Chand terpaku di tempat dengan sorot mata yang tak dapat diartikan untuk beberapa saat lamanya. “Selamat tinggal, Tante.” Hanya itu yang dia ucapkan sebelum berlalu meninggalkan Anggraini.


__ADS_2