
Arsenio menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia berpikir bahwa sikap Binar yang terlalu cemburu dan curiga, merupakan salah satu risiko yang harus dia hadapi sebagai akibat dari sikap brengseknya di masa lalu. Namun, inilah saatnya dia harus membuktikan kepada sang istri, bahwa dia bukan lagi sosok dari masa lalu yang begitu mudahnya mempermainkan seorang wanita.
Hati Arsenio saat ini sudah benar-benar terpaut pada Binar, terikat erat dan tak mungkin lagi dia lepaskan. Sayang, Binar seakan belum bisa merasakan hal itu dengan seutuhnya. Sorot mata indahnya masih dipenuhi amarah, ketika melihat Arsenio yang tengah berbincang dengan Agatha di depan kamera. Entah apa yang mereka diskusikan. Arsenio tampak begitu serius, sedangkan si mantan kekasih memandang pria itu dengan sorot memuja.
Binar mendengus kesal. Hatinya terasa semakin panas. Dia tak lagi bisa menikmati sang suami yang mulai berpose dengan berbagai macam gaya dan kostum. Apalagi saat itu Agatha memilih untuk berjalan mendekat, lalu berdiri bersebelahan dengan Binar, sembari melipat tangannya di dada. Wanita itu tampak sedikit arogan.
“Berapa lama kalian saling mengenal?” tanya Agatha dengan arah mata yang tetap tertuju ke depan.
“Tidak lama,” jawab Binar singkat dan malas-malasan.
“Sebenarnya aku cukup terkejut saat Arsenio mengatakan jika dia sudah menikah. Terlebih saat aku mengetahui bahwa istrinya adalah wanita sepertimu.” Agatha terkekeh pelan sambil melirik kepada Binar untuk sesaat.
“Apa maksudmu?” tanya Binar sembari mendelik kepada mantan kekasih Arsenio tersebut. Beruntungnya karena gemuruh dalam dada masih dapat dia tahan dengan baik. Wanita muda itu tetap bisa melayangkan pertanyaan dengan nada yang terdengar tenang meskipun sedikit bernada tajam.
“Well, dulu Arsenio tertarik dengan gadis-gadis populer. Cantik, modis, dan penyuka pesta. Tipe gadis favoritnya adalah seseorang yang glamor. Namun, kenyataannya kini aku tak melihat satu pun kriteria itu ada padamu,” jawab Agatha enteng.
Lain halnya dengan Binar yang semakin meradang. Perempuan di depannya itu sudah terang-terangan menghina dirinya. “Apakah kau iri denganku, Nona Agatha? Kau yang cantik, modis dan terlihat begitu sempurna ternyata tak mampu menarik perhatian seorang Arsenio. Bahkan dia meninggalkanmu setelah mendapatkan apa yang dia mau, seolah kau ini barang bekas yang dibuang begitu saja ketika sudah tak lagi dibutuhkan,” balas Binar. Sebuah senyuman kemenangan terpancar di bibir wanita muda itu.
"Setiap pria yang sudah memikirkan untuk berumah tangga, pasti akan memilih wanita terbaik untuk dijadikan sebagai calon ibu dari anak-anaknya. Bukan tentang pesta dan hura-hura, karena pernikahan dilakukan untuk selamanya. Lain lagi dengan yang disebut hanya bersenang-senang." Binar menoleh sesaat kepada Agatha.
Sementara raut wajah Agatha sudah terlihat merah padam, setelah mendengar semua ucapan Binar. Bahasa tubuh yang awalnya santai dan elegan, kini mendadak tegang dan tampak begitu kaku. Kedua tangannya terkepal, seakan siap untuk dia layangkan ke wajah Binar.
__ADS_1
“Kenapa kau diam saja? Apakah kau setuju dengan pendapatku, Nona Agatha?” tanya Binar dengan nada mecibir.
“Kau!” Geram wanita cantik yang selalu tampil rapi itu. “Aku sama sekali tidak mengerti dengan seleranya yang mendadak menjadi buruk seperti ini. Kau dengar itu, Nyonya Binar? Selera Arsenio sekarang buruk sekali!” Agatha berhasil terpancing emosi. Intonasinya semakin meninggi dengan jari telunjuk yang terarah tepat ke wajah cantik Binar.
Istri Arsenio tersebut sudah hampir menanggapi perkataan Agatha. Namun, mulutnya terkatup rapat, saat dia merasakan ada cairan yang merembes keluar dari dalam area intinya. Binar tertegun untuk beberapa saat. Setelah itu, dia mengedarkan pandangan untuk mencari tahu ke mana arah toilet.
Sesaat kemudian, wanita muda itu melihat tanda panah yang dimaksud. Tanpa banyak bicara, dia meninggalkan Agatha dengan begitu saja, membuat mantan kekasih Arsenio tersebut selain kesal juga menjadi keheranan.
"Astaga, tidak punya etika!" dengus Agatha kesal. Namun, Binar tak mendengarnya sama sekali.
Setibanya di dalam bilik toilet, Binar segera memeriksa pakaian dalamnya. Di sana, dia melihat ada semacam flek yang berwarna kemerahan. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi tetap saja itu membuat dirinya menjadi cemas.
"Kuharap semua baik-baik saja, sampai aku mengatakan tentang kehamilan ini kepada Rain," gumam Binar pelan. Dia lalu mengambil selembar pantyliner dari dalam tas dan memasangkannya pada pakaian dalam. Setelah selesai, dia bergegas keluar dari bilik toilet, dan mencuci tangan. Barulah dirinya kembali studio tadi.
Saat itu, Arsenio telah selesai dengan sesi pemotretannya. Dia juga bahkan telah berganti pakaian. Pria tampan berambut cokelat tersebut, segera menghampiri Binar yang baru muncul dari arah toilet. "Kupikir kamu pergi," ucap Arsenio lega.
"Aku tadi ke toilet," balas Binar. "Apa sesi pemotretannya sudah selesai?" tanya Binar yang merasa tak nyaman berlama-lama di sana.
"Sudah. Aku akan membahas sesuatu dulu dengan Agatha sebelum pulang." Arsenio menatap sang istri. Dia dapat melihat perubahan air muka dari paras cantik sang istri yang tiba-tiba berubah masam, ketika dirinya menyebut nama Agatha.
Namun, Arsenio harus dapat bersikap profesional. Dia pun mencoba untuk bijak dalam menanggapi sikap Binar. "Tenang saja. Aku tak akan pernah membahas masalah selain tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan," ucapnya mencoba menenangkan keresahan dalam hati Binar.
__ADS_1
Wanita muda itu tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan. Binar sedang tak ingin banyak bicara, terlebih setelah dia kembali merasakan seperti tadi lagi. Binar pun mencoba untuk menenangkan diri di sudut ruangan. "Ini pasti karena aku terlalu kelelahan," pikirmya sambil bergumam pelan.
Tatap mata Binar kemudian tertuju kepada Arsenio. Pria itu sedang sibuk membahas sesuatu dengan Agatha, hingga akhirnya kembali lagi menghampiri sang istri yang tengah menunggunya.
"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Arsenio. Dia meraih pergelangan tangan Binar, kemudian menuntunnya keluar dari tempat tersebut.
"Kita ke apotik dulu. Bukankah kamu harus menebus resep vitamin dari dokter? Aku tadi bertanya, katanya di sekitar sini ada apotik yang bagus dan lengkap." Sambil terus berjalan, Arsenio melirik Binar untuk sesaat.
"Boleh. Aku menurut saja," sahut Binar pelan, membuat Arsenio kembali merasakan sesuatu yang tak enak. Pria itu kemudian tertegun sejenak, kemudian menoleh.
"Tugasku sebagai model sudah selesai. Setelah ini, aku akan bekerja sebagai tim arsitek lagi. Jadi, tidak ada jadwal bertemu berdua lagi dengan Agatha," ucap Arsenio yang seakan mengetahui apa yang Binar pikirkan.
.
.
.
Hai, hai, sekedar berbagi info menarik. Mampir yuk, di karya keren yg satu ini 😍
__ADS_1