Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Rekaman Terkutuk


__ADS_3

Kesal, marah, dan tentu saja tak terima perasaan Dwiki saat itu. Dia melangkah keluar dari toilet. Menghampiri Ajisaka yang sudah menunggunya. Saat mereka keluar dari ruangan milik Haris, Anika sudah menunggu di luar ruangan. Ajisaka langsung menghampiri sekretaris Biantara tersebut. Sementara Dwiki bergegas menuju ruangan Winona. Tanpa berkata apa-apa, pria itu meninggalkan Ajisaka dengan Anika begitu saja.


“Mau ke mana, Ki?” tanya Ajisaka. Seharusnya, saat itu mereka langsung pergi dari sana.


Akan tetapi, Dwiki tak menggubris pertanyaan Ajisaka. Dia terus melangkah hingga dirinya tiba di depan ruangan Winona. Sebelum masuk, Dwiki mengetuk pintu terlebih dahulu.


Setelah mendengar suara Winona yang mempersilakannya masuk, Dwiki pun segera membuka pintu. Dia melangkah gagah menuju meja kerja sang kekasih, lalu berdiri di hadapannya.


“Dwiki? Kupikir kamu sudah pergi dari sini ….” Belum sempat Winona melanjutkan kata-katanya, Dwiki lebih dulu membungkam wanita cantik tersebut dengan sesuatu yang membuat Winona seketika terbelalak.


Dengan tangan gemetaran, wanita cantik berambut panjang tersebut meraih foto dari atas meja. Dia memandangi dirinya yang tengah berpose tanpa pakaian.


Winona seketika terduduk. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Dari mana kamu mendapatkan foto ini?” tanyaya. Mantan tunangan Arsenio tersebut tak berani melawan tatapan tajam yang dilayangkan Dwiki.


“Dari toilet di ruangan Haris,” jawab Dwiki datar.


“Apa?” Winona yang tadinya tak berani melawan tatapan Dwiki, seketika mendongak dengan mata terbelalak tak percaya. Wanita cantik berkemeja putih itu berdiri, kemudian beranjak dari meja kerja untuk menghampiri Dwiki yang masih mematung di tempatnya.


“Bagaimana mungkin Haris bisa menyimpan fotoku?” tatap mata Winona menyiratkan rasa tak percaya yang luar biasa. “Aku menyimpan semua foto-fotoku dalam satu file ….” Winona terdiam. Wajah cantiknya terlihat gusar. “Tidak!” Dia menggeleng kencang. “Itu tidak mungkin!”


“Apanya yang tidak mungkin?” tanya Dwiki masih dengan nada bicara yang terdengar tak sehangat biasanya.


“Haris mencuri file itu dari komputerku,” ucap Winona tak percaya. “Astaga. Dia pasti ….” Putri Biantara Sasmita tersebut menutupi mulut dengan kedua telapak tangan. Raut wajah serta sorot matanya tampak semakin resah.


“Seberapa banyak?” tanya Dwiki yang seakan sudah paham dengan keresahan yang dirasakan sang kekasih.


“Banyak,” desah Winona pelan. Tubuhnya terasa lemas, sehingga dia segera berpegangan pada pinggiran meja. Pikiran wanita cantik bertubuh sintal itu menjadi kosong seketika.


Sementara Dwiki tak berkata apapun lagi. Dia langsung membalikkan badan. Dwiki memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Winona. Meninggalkan sang kekasih dalam perasaan gelisah tak terkira. Ajudan setia Arsenio tersebut bahkan tak banyak bicara, saat menghampiri Ajisaka yang sudah menunggunya sejak tadi. Sementara Anika tak terlihat lagi di sana.

__ADS_1


“Kita pulang sekarang?” tanya Ajisaka.


Dwiki tidak menjawab. Dia hanya menanggapi dengan sebuah anggukan pelan. Pria yang selalu terlihat ceria dan hangat itu, kini lebih banyak diam. Sikap aneh Dwiki tersebut terus berlangsung, bahkan hingga mereka tiba di tempat parkir. Tanpa banyak bicara, Dwiki menaiki motor, kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju ke Kediaman Rainier.


Tak membutuhkan waktu yang lama, hingga mereka tiba di tempat tujuan. Masih dengan aksi diam seribu bahasa, Dwiki memarkirkan kendaraan roda duanya. Dia berjalan sedikit terburu-buru. Pria itu ingin segera pulang dan menenangkan diri. Namun, sebelum itu dirinya harus memeriksa flashdisk yang tadi didapat dari ruangan Haris.


Sementara Ajisaka tak mengusiknya sama sekali. Dia sudah sangat mengenal sepupunya tersebut. Jika Dwiki sedang dalam sikap begitu, maka Ajisaka lebih memilih membiarkannya. “Aku akan memanggil Bos Arsen dulu,” pamit Ajisaka.


“Aku tunggu di sini,” sahut Dwiki seraya mengempaskan tubuh tegapnya di kursi teras.


“Oke.” Ajisaka meninggalkan sepupunya untuk mencari sang majikan. Tak berselang lama, dia kembali lagi ke teras. “Bos meminta kita untuk langsung naik ke kamarnya,” ujar pria tampan berkulit sawo matang itu sambil menepuk pelan pundak Dwiki.


Dwiki sendiri masih tak banyak bicara. Dia langsung mengikuti langkah sang sepupu menuju ke lantai dua. Dwiki juga terlihat malas untuk mengetuk pintu, sehingga Ajisaka lah yang melakukannya.


Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka. Tampaklah wajah tampan Arsenio yang tampak lesu dan lelah. “Masuk,” ajaknya seraya membuka pintu lebar-lebar.


Ajisaka sempat berhenti sejenak, ketika melihat Binar juga berada di kamar yang sama. Wanita yang tengah hamil muda itu sedang menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil memainkan telepon genggam. “Ada Bu Bos rupanya,” ucap Ajisaka.


“Baiklah,” balas Ajisaka mengangguk, lalu menoleh pada Dwiki yang tidak banyak bicara. Dia lalu memberi kode pada sepupunya itu untuk menunjukkan temuan mereka.


“Oh, ya. Saya menemukan beberapa barang bukti yang mungkin saja bisa menjadi petunjuk penting, Bos,” ujar Dwiki dengan raut wajah yang tak seramah biasanya.


“Apa itu?” tanya Arsenio.


“Ini, Bos.” Dwiki merogoh saku celana cargonya, lalu mengeluarkan selembar kertas dan tiga buah flashdisk. Dia menyerahkan benda-benda itu pada sang majikan.


“Foto siapa ini?” tanya Arsenio seraya mengamati selembar kertas yang berisi fotokopi sebuah kartu identitas bernama Syamsir Lagawi. “Bukankah nama ini yang sempat disebut oleh Bayu?” tanyanya.


“Betul sekali, Bos. Kertas itu ada di laci Haris Maulana yang terkunci. Namun, kami berhasil membobolnya,” jelas Ajisaka.

__ADS_1


“Sepertinya foto di kartu identitas ini terlihat tidak asing.” Arsenio mendekatkan kertas lusuh tadi ke wajahnya.


“Mungkin Anda bisa memeriksa flashdisk-flashdisk itu. Siapa tahu Anda bisa menemukan sesuatu di sana,” saran Dwiki.


“Betul juga.” Arsenio mengangguk setuju. Dia lalu berbalik menuju meja kecil, di dekat jendela yang berdampingan dengan pintu menuju balkon. Arsenio meletakkan laptop kerja dan puluhan berkas-berkas penting di sana, sehingga dia bisa menyelesaikan segala urusan kantor sambil terus mendampingi Binar.


Pria berambut coklat itu lalu menyalakan laptop dan menancapkan salah satu flash disk ke dalam USB port. Ada banyak file yang tersimpan di file itu. Sebagian besar adalah file foto dan beberapa file video.


“Foto-foto apa itu?” desis Ajisaka sambil memicingkan mata. Dia turut mendekat ke sebelah Arsenio. Demikian pula Dwiki yang dilanda penasaran, terlebih saat dirinya teringat bahwa Haris telah mencuri foto-foto rahasia Winona. Dia ingin mencari tahu alasan sebenarnya dari pria aneh tersebut.


“Kalian sedang apa?” tanya Binar ketika Arsenio terlanjur menekan satu gambar. Gambar itu muncul dan membesar secara otomatis, memenuhi layar.


Semua orang yang ada di ruangan itu terbelalak melihat penampakan foto yang terpampang di layar, kecuali Dwiki karena sudah melihat potret itu sebelumnya di toilet ruangan milik Haris. Gambar tadi memperlihatkan Winona yang polos tanpa sehelai benang pun.


“Astaga! Kalian dapat dari mana foto-foto ini? Hapus saja, Rain. Kasihan kak Wini. Sudah. Jangan dibuka lagi,” suruh Binar. Sebagai seorang wanita, dia merasa malu sendiri melihatnya.


Arsenio sendiri langsung menghapus foto itu sebelum Binar selesai berbicara. Dia lalu beralih pada foto-foto lain yang berisi dokumen-dokumen rahasia perusahaan Biantara. “Mau dia apakan foto-foto lembaran laporan keuangan dan daftar inventaris perusahaan?” geramnya.


Namun, di tengah foto-foto dokumen tersebut, Arsenio kembali menemukan foto Winona dalam berbagai pose menantang yang segera dia hapus. Dwiki sendiri tak banyak bicara ketika melihat potret kekasihnya tersebut.


Lain halnya dengan Arsenio. Keringat dingin mulai membasahi kening pria blasteran Belanda itu. Bagaimana tidak? Arsenio masih mengingat bahwa dialah yang mengambil foto-foto itu saat masih berpacaran dengan Winona. Satu hal yang terjadi jauh sebelum dirinya bertemu dengan Binar.


“Lihat. Ada file videonya juga, Bos,” tunjuk Ajisaka. Saat itu pula, ponsel Arsenio tiba-tiba berdering.


“Sebentar. Kalian lanjutkan saja dulu. Aku mau melihat siapa yang menelepon,” ujar Arsenio seraya beringsut menjauh. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Arsenio hampir saja menolak panggilan ketika dia melihat bahwa Normand lah yang menghubunginya.


Arsenio langsung menerima panggilan itu dengan tatap mata tertuju pada Binar dan dua pria kepercayaannya yang serius mengerumuni laptop. Namun, Arsenio langsung terlihat tegang, saat mendengar suara-suara menggoda dan de*sahan liar yang keluar dari speaker laptop. Terlebih ketika dia melihat Binar mundur beberapa langkah ke belakang.


“Tunggu sebentar, Herr,” ujar Arsenio yang kemudian menempelkan ponsel di dada. Arah matanya mengikuti tatap mata Dwiki yang tak berkedip memandang layar.

__ADS_1


“Hentikan videonya, Ji! Cepat hapus!” sentak Arsenio. Namun, semuanya terlambat. Ajisaka, Dwiki, dan Binar sudah terlanjur melihat adegan panas antara Arsenio dan Winona yang terekam jelas dalam video.


__ADS_2