
Arsenio yang tadi berada di dalam kamarnya, sekarang berpindah ke ruang kerja. Dia baru saja akan mengetikkan sesuatu, untuk membalas email. Namun, suara ketukan di pintu membuatnya harus mengurungkan hal itu. "Masuk!" serunya dengan tidak terlalu nyaring.
Sesaat kemudian, pintu pun terbuka. Seorang asisten rumah tangga muncul dengan sikapnya yang sangat sopan dan penuh rasa hormat. "Maaf, Tuan muda. Di luar ada ...." Belum sempat wanita paruh baya tersebut menyelesaikan kalimatnya, suara seorang wanita yang teramat Arsenio kenal terdengar di sana.
"Arsenio. Si pengecut tampan sudah kembali rupanya." Winona tersenyum sinis dengan nada bicara penuh cibiran. Sementara asisten rumah tangga tadi segera undur diri dari ruang kerja itu.
Arsenio pada akhirnya menutup laptop. Pria tampan bermata cokelat terang itu terdengar mengempaskan napas pelan. Dia pun duduk sambil menyandarkan punggungnya pada kursi di balik meja kerja, yang telah lama dirinya tinggalkan. Dengan sikap tenang, suami Binar tersebut tak ingin terpengaruh sama sekali oleh provokasi Winona.
Sebuah senyuman samar tersungging di sudut bibir pria yang kini mulai memelihara janggut tipis di sekitaran dagu. Arsenio kemudian memainkan jemari dari kedua tangan yang dia tekuk, dengan tumpuan siku pada pegangan kursi kiri dan kanan.
Sepasang mata cokelat terang putra sulung pasangan Lievin dan Anggraini tadi, memandang kepada wanita cantik yang berdiri angkuh di hadapannya. Tak satu pun yang terlewat, mulai dari sepasang stiletto, celana bahan model kulot yang dilenglapi sebuah kemeja lengan tiga per empat ketat berwarna putih, dan tentu saja paras cantik sang mantan tunangan dengan rambut panjangnya yang indah. Winona masih terlihat menawan, sama seperti dulu saat dia tinggalkan.
"Kamu terlihat jauh lebih kurus, Wini. Apakah putus denganku benar-benar membebani batinmu?" celetuk Arsenio kembali menyunggingkan senyuman sinis.
"Kamu salah, Arsen," sahut Winona dengan sikap yang seakan menantang pria di hadapannya. "Justru aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Dia telah menjauhkanku dari pria tidak bertanggung jawab seperti dirimu. Kini hidupku jauh lebih bahagia. Pikiranku sangat damai dan begitu tenang." Winona tertawa pelan.
"Setelah menikah dengan ular berkepala dua itu, sudah berapa banyak wanita yang kamu jadikan teman kencan di belakangnya? Lama-lama, aku jadi kasihan padanya karena terlalu bodoh telah memilih pria tidak berguna sepertimu." Winona berdecak pelan seraya menggelengkan kepala.
"Jaga bicaramu, Wini!" sergah Arsenio dengan penekanan yang sangat dalam dan tegas. "Kamu boleh menghinaku, tapi tak akan pernah kubiarkan siapa pun mencemooh Binar. Dia adalah ratu dalam hidupku." Arsenio menatap tajam putri dari Biantara Sasmita tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dia mau kamu jadikan ratu atau apalah namanya. Lagi pula, tujuanku kemari adalah untuk menemui papamu. Bisakah tolong panggilkan om Lievin sekarang juga?" Winona kemudian berbalik. Tanpa dipersilakan, wanita muda yang masih betah melajang itu menuju sofa. Suara hak sepatunya yang runcing pun menggema di dalam ruangan, yang dilengkapi beberapa lemari kaca berisi buku koleksi milik keluarga Rainier.
Winona kemudian duduk dengan anggun pada salah satu sofa. Wanita muda itu pun meletakkan stopmap folio yang sedari tadi dirinya bawa. Setiap gerak-gerik dari Winona, tak ada yang terlewat dari pengamatan Arsenio.
"Ada urusan apa sehingga kamu ingin bertemu dengan papaku?" tanya Arsenio dengan tujuan memancing informasi dari mantan kekasih sekaligus tunangannya itu.
"Aku tak harus menjelaskan apapun padamu, karena tujuan utamaku adalah om Lievin. Tolong panggilkan dia sekarang juga, katakan jika aku tidak punya banyak waktu. Aku sangat sibuk, Arsen." Winona menyilangkan kaki dengan kedua tangan di atas pangkuannya.
"Kasihan sekali. Itulah yang membuat hidupmu sangat monoton, Wini. Kamu kurang bersenang-senang dan menikmati hidup," sahut Arsenio menanggapi ucapan Winona dengan setengah meledek.
"Kamu salah, Arsen. Tak lama lagi, kesenangan mutlak dalam hidupku akan segera datang. Apalagi jika om Lievin telah menandatangani berkas-berkas yang kubawa ini," balas Winona tak mau kalah.
"Ini bukan urusanmu, Arsen. Sebaiknya cepatlah panggilkan om Lievin kemari." Winona masih saja menunjukkan sikap angkuhnya.
"Katakan saja padaku, karena kebetulan papa sedang tidak ada di sini. Papaku sekarang tengah berada di Belanda," ujar Arsenio menjelaskan.
"Ah sayang sekali. Padahal aku kemari dengan tujuan yang sangat penting. Ini semua tentang Rainier Airlines." Sebuah senyuman puas tersungging di sudut bibir Winona, dan seketika menghadirkan sebuah kecurigaan besar bagi Arsenio. Pria itu pun beranjak dari kursinya, kemudian berjalan mendekat ke arah sofa di mana Winona berada.
Arsenio memilih untuk duduk. Dengan tatapan yang masih terkesan menyelidiki, pria itu meraih stopmap folio tadi. "Biar kuperiksa dulu, nona Winona Diandra Sasmita. Kebetulan, papa sudah melimpahkan tanggung jawab padaku selagi dia berada di Belanda." Dengan tenang, Arsenio membuka kertas berwarna hijau tersebut.
__ADS_1
"Terserah kamu, tapi yang kubutuhkan hanyalah tanda tangan dari om Lievin," sahut Winona.
Arsenio yang saat itu belum selesai membaca isi dari berkas-berkas yang ada di dalam stopmap folio itu, mengalihan perhatiannya sejenak kepada Winona. "Untuk apa?" tanyanya. "Ah tidak usah dijawab. Beri aku waktu untuk membaca sebentar. Sejujurnya aku sedikit mengantuk, karena semalam Binar membuatku harus begadang ...." Arsenio terdiam. Pria tampan itu tak melanjutkan kata-katanya, ketika dia menemukan sebuah kejanggalan dalam berkas yang sedang dirinya baca.
Tatapan tajam pun Arsenio layangkan kepada Winona yang masih terlihat tenang. "Apa maksud semua ini, Wini?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"Seperti yang telah kamu baca, Arsen," sahut Winona seraya tersenyum manis. "Segenap dewan direksi dan juga para pemegang saham sudah saling berkoordinasi dan melakukan rapat luar biasa beberapa waktu yang lalu. Kondisi Perusahaan Rainier Airlines sedang berada di ambang kehancuran saat itu. Kami pikir bisa menyelamatkannya. Akan tetapi, tak ada yang bisa dilakukan, karena kehancuran itu sudah terlalu parah," jelas Winona.
"Apa maksudmu? Setahuku Perusahaan Rainier Airlines baik-baik saja," bantah Arsenio.
"Astaga, sok tahu sekali dirimu. Selama ini kamu hanya sibuk mengurusi masalah pribadi. Lagi pula, kamu sudah tidak ada keterkaitan lagi dengan perusahaan. Jadi, mana bisa tahu bagaimana dan seperti apa kondisi perusahaan saat ini," cibir Winona membuat Arsenio terdiam.
"Dengarkan aku, Arsen. Sebenarnya ini sudah terjadi sejak lama. Inefisiensi dalam perusahaan yang berusaha kami siasati dengan baik, tapi nyatanya itu sangat sulit. Rainier Airlines tidak bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan penerbangan lain yang berada di kawasan Asia Tenggara. Di saat para kompetitor berlomba untuk menawarkan harga tiket murah, maka lain halnya dengan perusahaan ini," terang Winona.
"Bukankah hal seperti itu telah menjadi kesepakatan kalian ...."
"Sudahlah, Arsen. Intinya saat ini adalah Rainier Airlines telah dinyatakan pailit. Aku kemari hanya ingin agar om Lievin bersedia membubuhkan tanda tangannya dalam berkas perjanjian yang menyatakan bahwa perusahaan miliknya memang sudah gulung tikar, dan akan segera diambil alih oleh kami." Senyuman puas Winona tak juga sirna dari paras cantiknya saat berbicara kepada Arsenio.
Lain halnya dengan pria tampan itu yang justru memasang raut teramat serius. "Siapa yang dimaksud dengan 'kami'?"
__ADS_1