
Arsenio melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan begitu saja. Rasa tak nyaman pada kepala teramat mengganggu. Pria tampan itu pun naik ke tempat tidur untuk merebahkan diri.
Sementara pesta akan segera usai. Winona terpaksa kembali ke dalam aula. Bagaimanapun juga, dia harus menghargai Chand dan keluarga besarnya. Lagi-lagi, wanita cantik itu harus berpura-pura, bersandiwara dengan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Winona memasang raut manis dengan senyuman yang terkembang di bibirnya, bahkan hingga pesta benar-benar usai. Mereka pun memutuskan untuk pulang.
Setibanya di rumah, Anggraini segera menuju kamar Arsenio. Dia begitu mencemaskan kondisi putra sulungnya tersebut. "Aku akan melihat kondisi Arsen dulu, Sayang," pamitnya kepada Lievin.
"Aku akan menemuinya nanti setelah ganti pakaian dan membersihkan diri." Lievin menanggapi ucapan sang istri. Dia berlalu menuju kamar yang ditempatinya selama berada di kediaman milik ibunda Chand. Sedangkan Anggraini melanjutkan langkah ke kamar Arsenio.
"Arsen, Nak. Apa kamu tidur, Sayang?" panggil Anggraini yang sudah berdiri di depan kamar putra sulungnya.
Arsenio yang tengah terpejam tapi tidak tidur lelap, segera membuka mata. Dia terdiam sejenak, kemudian beranjak turun dari tempat tidur. Arsenio lalu berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya. Tampaklah wajah Anggraini dengan senyumannya yang lembut. "Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanyanya khawatir.
"Kepalaku sedikit sakit, Ma. Jadi, aku memutuskan untuk istirahat saja," jawab Arsenio menjelaskan. Dia lalu mempersilakan sang mama untuk masuk. Anggraini pun mengikuti putranya. Dia duduk di tepian tempat tidur, bersebelahan dengan Arsenio yang tampak sedikit kacau.
"Setelah kembali ke Jakarta kita akan langsung melakukan pemeriksaan lagi. Mama dan papa sangat mencemaskan keadaanmu. Kami tidak bisa kembali ke Amsterdam jika kondisimu belum pulih," ucap Anggraini lagi seraya membelai kepala Arsenio dengan penuh kasih.
"Mama tidak perlu mengkhawatirkanku secara berlebihan. Aku bisa menjaga diri dengan baik," ujar Arsenio menanggapi ucapan Anggraini.
Namun, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu menggeleng pelan. Dia seakan membantah apa yang Arsenio katakan. "Tidak, Nak. Mama dan papa tidak bisa meninggalkanmu begitu saja. Kami tidak akan bisa tenang, kecuali jika di sini sudah ada seseorang yang merawatmu dengan baik," tegasnya.
Arsenio mengguman pelan seraya tersenyum simpul. Dia sudah paham ke mana arah dari ucapan Anggraini. Pria tampan bermata cokelat terang itu pun tak berniat untuk menanggapinya. Dia hanya terdiam, memikirkan gadis yang tadi dilihatnya sekilas saat sedang dalam perjalanan pulang.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Anggraini lagi. "Jangan katakan jika itu masih tentang gadis bernama Binar." Anggraini terlihat kurang suka dengan sikap sang anak yang seperti mengabaikan segalanya, dan hanya memikirkan tentang Binar seorang.
"Aku seperti melihatnya, Ma. Dia ada di sini, di kota ini," gumam Arsenio dengan tatapan tertuju pada lantai kamar.
__ADS_1
"Astaga, Sayang. Apa yang sudah gadis itu lakukan padamu sehingga kamu jadi seperti ini. Kamu memang mengalami amnesia, tapi tolonglah biarkan kami membantumu mengembalikan semuanya. Memori yang sudah hilang itu. Kami akan melakukan segala cara, tapi kamu juga harus membantu dirimu sendiri dalam hal ini," pinta Anggraini dengan sungguh-sungguh.
"Dengarkan Mama, Arsen. Hidupmu adalah sebagai Arsenio, bukan Rain seperti yang pernah kamu ceritakan kepada Mama dulu. Tidak ada Rain, karena yang ada adalah Arsenio Wilhelm Rainier. Kamu juga harus ingat sesuatu. Winona adalah gadis yang lebih dulu masuk ke dalam hidupmu, bukan Binar. Binar hanya sebuah cerita yang kebetulan lewat dan mungkin sebagai penghias agar kisah hidupmu menjadi lebih beragam. Namun, Mama tegaskan bahwa dia tidak akan pernah menjadi bagian apalagi sampai menggantikan posisi Winona."
"Apa maksud Mama?" protes Arsenio segera mengalihkan pandangannya kepada Anggraini. Jelas sudah dia tak menyukai ucapan wanita itu.
"Semua sudah jelas, Arsen," tegas Anggraini lagi. "Dalam hal ini, bukan hanya tentang kamu dan Winona. Semuanya tidak hanya berpusat pada hubungan percintaan antara kalian berdua. Ada sesuatu yang lain dan jauh lebih riskan jika kamu mengabaikan dia," terang wanita paruh baya itu lagi. Nada bicaranya masih tetap terdengar lembut, dengan sikap keibuannya yang terlihat jelas.
"Apa itu?" tanya Arsenio seraya menautkan alisnya.
"Hubungan kerja sama dan jalinan kekeluargaan antara kami dengan kedua orang tua Winona. Semuanya sudah terjalin dengan sangat erat," jawab Anggraini menjelaskan. Wanita itu kemudian terdiam sejenak. Ada semacam beban yang tampak menghimpit perasaannya sebagai seorang ibu. Namun, sesaat kemudian Anggraini kembali bicara, "Lihatlah kerajaan bisnis kita, Arsen. Semua kesuksesan yang mengiringi kariermu. Tak bisa dibantah bahwa Lievin bisa melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia atas campur tangan Biantara, ayah Winona. Walaupun kita membangun kerajaan bisnis ini dengan kerja keras sendiri, tapi semua berawal atas bantuannya. Mama sangat mengetahui hal itu, Arsen," tutur Anggraini lagi menjelaskan dengan panjang lebar.
"Jadi? Aku harus membalas semua itu dengan menikahi Winona?" Arsenio mengernyitkan keningnya.
Arsenio tidak menjawab. Pria tampan berambut cokelat tersebut kembali termenung. Perasaannya menjadi semakin bimbang. Dia dielu-elukan sebagai seseorang yang cerdik dan juga begitu mahir dalam berbisnis. Namun, mengapa dirinya bisa sampai mengabaikan masalah perasaan dan kehidupan pribadi, meletakkan segalanya atas nama kesuksesan dalam bisnis. Semua tentang dunia dan kejayaan.
Helaan napas berat Arsenio terdengar saat pria itu meraup wajahnya kasar. Dengan badan yang setengah membungkuk, Arsenio kembali merenungkan semua yang diucapkan oleh Anggraini. "Astaga," gumamnya lirih. "Apa yang aku pikirkan saat itu?"
"Apa yang menjadi masalahmu, Nak? Dulu kamu merasa baik-baik saja dengan semua ini. Kenapa sekarang semuanya berubah seratus delapan puluh derajat? Apa begitu besar pengaruh seorang Binar yang hanya kamu kenal selama beberapa hari saja? Kamu bahkan tidak tahu di mana gadis itu sekarang," ucap Anggraini kembali mengingatkan Arsenio akan posisinya dan juga Binar.
"Itu semua karena Mama belum mengenal Binar secara langsung," sanggah Arsenio tetap pada pendiriannya.
"Mama tidak berminat untuk mengenalnya, Arsen. Selama masih ada Winona, maka Mama dan papa hanya akan merestuimu dengan dia. Itu keputusan kami. Jadi, jangan bertanya atau membahas tentang Binar di hadapan kami berdua," tegas Anggraini lagi. Dia lalu beranjak duduknya. "Beristirahatlah. Besok kita akan kembali ke Jakarta. Ingat, pertunanganmu dengan Winona akan segera dilangsungkan. Mama harap kamu berhenti memikirkan hal yang macam-macam." Setelah berkata demikian, Anggraini kemudian mengecup pucuk kepala putranya yang masih duduk termenung. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu dari dalam kamar itu meninggalkan Arsenio yang masih termenung seorang diri.
Arsenio memikirkan semua yang dikatakan oleh Anggraini dengan dalam. Kebimbangan terus menggelayuti perasaannya. Haruskah dia melepaskan sesuatu yang sudah pasti, untuk hal lain yang bahkan masih begitu samar dan entah dapat digapai atau tidak.
__ADS_1
Binar, sekilas cerita yang hadir dalam hidupnya. Gadis itu datang di saat dirinya menjadi seseorang yang baru. Akan tetapi, kehidupan masa lalu yang sudah tersusun secara sistematik harus tetap Arsenio jalankan.
Hingga malam tiba, Arsenio masih termenung seorang diri. Winona sempat mengirimkan sebuah pesan padanya. Wanita cantik itu benar-benar kecewa dan marah. Sebagai seorang pria, Arsenio tentu tak bisa hanya termenung dan berdiam diri. Itu bukanlah dirinya. Ya, seperti yang sudah Chand katakan, mereka merindukan Arsenio yang dulu.
Pria tampan berambut cokelat tadi kemudian beranjak dari duduknya. Dia menghentikan segala renungan yang sejak tadi mengganggu pikiran. Tujuan Arsenio saat itu adalah kamar yang ditempati oleh Winona. Dia berdiri di depan pintu dan mengela napas dalam-dalam sebelum mengetuknya.
Namun, sebelum pria itu sempat melanjutkan niat, pintu kamar tadi lebih dulu terbuka. Wajah cantik Winona dengan pakaian tidurnya muncul. Wanita itu sepertinya hendak keluar. Winona begitu terkejut saat melihat Arsenio telah berdiri di depan kamar yang dia tempati. "Arsen? Sedang apa di sini" tanyanya datar.
"Aku sengaja ingin menemuimu," jawab Arsenio. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Menemuiku? Untuk apa?" tanya Winona lagi. Tampak jelas jika dia masih kesal terhadap pria yang merupakan kekasihnya tersebut.
"Aku ingin bicara denganmu," jawab Arsenio lagi memperlihatkan raut yang serius.
Winona tak segera menanggapi jawaban dari Arsenio. Wanita cantik bertubuh sintal tersebut melipat kedua tangan di dada. Sementara sorot matanya cukup tajam dan intens dia layangkan kepada pria tampan di hadapannya. "Baiklah. Katakan," ucapnya kemudian.
"Haruskah kita bicara dengan cara seperti ini?" Arsenio mengernyitkan kening.
"Aku bukan Indah atau Ghea yang akan bicara sambil meraba-raba tubuhmu," sindir Winona.
"Sudahlah. Jangan bahas mereka," tolak Arsenio.
"Lalu, apa yang akan kamu bahas?" cibir Winona.
"Pertunangan kita," jawab Arsenio dengan yakin.
__ADS_1