Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Kepedihan Yang Tersisa


__ADS_3

Sementara itu, Ajisaka masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Penjelasan Arsenio barusan benar-benar mengejutkan. Jiwa detektif dalam diri pria itu seketika menyala. “Kalau begitu, saya akan bersiap-siap sekarang juga, Bos!” ujarnya penuh semangat.


“Kamu tidak apa-apa 'kan berangkat sendirian?” tanya Arsenio memastikan.


“Tenang saja, Bos. Saya sepenuhnya mengerti. Dari tiga orang, hanya saya saja yang terbebas dari masalah,” kelakar Ajisaka, membuat Arsenio berdecak pelan.


“Ya, sudah. Aku mau melihat keadaan Binar dulu.” Arsenio mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Ajisaka yang kembali masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Sementara Dwiki yang telah keluar dari bangunan utama Kediaman Rainier, memutuskan untuk mengambil motor yang terparkir di garasi dan akan segera pulang ke rumah kontrakan. Perasaan Dwiki terasa begitu kacau. Walaupun dia sudah mengetahui apa yang dilakukan Winona dan Arsenio semasa pacaran dulu, tapi jika harus melihat secara langsung seperti tadi tetap saja hatinya tak bisa menerima dengan begitu saja.


Dwiki kemudian melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi dan tak memedulikan ponsel yang terus bergetar sejak tadi. Pria itu ingin segera tiba di rumah.


Selang beberapa saat, Dwiki telah memasukkan motor ke carport yang dinaungi oleh kanopi berwarna hitam. Si Mbok pun segera menyambut kedatangannya. “Makan siang dulu, Mas. Mbok sudah masak sejak tadi,” tawar wanita paruh baya tersebut.


“Saya belum lapar, Mbok,” jawab Dwiki tanpa menghentikan langkah tegapnya, hingga dia masuk dan menghilang di balik pintu kamar. Setelah berada di dalam ruangan yang hanya diisi dengan matras busa, Dwiki segera melepas jaket jeans yang dia kenakan lalu melemparnya ke atas matras.


Dwiki berdiri sejenak. Merenung dan membayangkan apa yang tadi dia saksikan di layar komputer sang bos. “Astaga.” Sebuah keluhan panjang meluncur dari bibir pria yang tak lama lagi akan berulang tahun ke-28. Dwiki meraup kasar wajahnya. Dia pun mengempaskan tubuh ke atas alas tidur sederhana tadi.


Tatapan lajang pecinta motor klasik tersebut menerawang ke langit-langit kamar. Perlahan, Dwiki memejamkan mata. Bayangan paras cantik Winona muncul di pelupuk. Menggoda dengan senyuman yang sangat manis, membuat hatinya bergetar hebat.


Lamunan Dwiki kian dalam, hingga tibalah dirinya pada satu kenangan indah saat dia dan mantan tunangan Arsenio tersebut bercinta untuk pertama kali. Namun, bayangan ketika Winona tengah bergumul panas bersama Arsenio tiba-tiba menyelinap dalam lamunan indah itu.


Dwiki segera membuka matanya. Suara dering ponsel kembali terdengar. Tampaklah nama Winona di layar sebagai pemanggil. Itu merupakan panggilan ke sepuluh yang wanita cantik itu lakukan. Sebenarnya, Dwiki merasa tak tega. Namun, dia terlalu malas untuk banyak bicara. Pikirannya masih sangat kacau. Tak berselang lama, sebuah pesan masuk dari wanita yang telah menjadi kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Ki, aku ingin kita bertemu. Kita harus bicara. Aku sedang di jalan menuju rumahmu.


Dwiki terkejut dan langsung bangkit setelah membaca pesan yang Winona kirimkan. Dia terduduk sambil mengacak-acak rambut yang sudah kusut. Bagaimanapun juga, dia tak mungkin membiarkan Winona datang ke rumahnya, karena di sana tak ada siapa-siapa. Namun, saat ini dia sedang tak ingin bertemu siapa pun.


Dwiki kembali meletakkan ponsel sambil merebahkan tubuh. Tidur adalah ide paling tepat untuk sedikit menghilangkan kepenatan. Baru saja dia memejamkan mata, suara dering ponsel kembali mengganggu. Lagi-lagi, nama Winona yang muncul di layar. Akan tetapi, Dwiki lebih memilih mematikan telepon genggamnya. Dia juga tidur dalam posisi membelakangi telepon seluler tersebut.


Sementara itu, Winona berdiri sambil bersandar pada pintu mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah Dwiki. Dia memperhatikan kediaman sang kekasih yang tampak sepi. Pintu pagar pun digembok. Sepertinya, Dwiki memang tidak ada di rumah.


Sekali lagi, Winona mencoba menelepon Dwiki. Akan tetapi, kali ini nomor pria itu tak dapat dihubungi sama sekali. Winona tampak terdiam beberapa saat sambil menempelkan sudut ponsel pada bibirnya. “Kamu di mana, Ki?” tanya wanita bertubuh sintal itu dengan setengah bergumam.


Resah dan gelisah, itulah yang sedang Winona rasakan saat ini. Dia takut kehilangan lagi pria pria yang dicintainya. Terlebih, Dwiki begitu berbeda. Kenyamanan yang diberikan salah satu ajudan kepercayaan Arsenio tersebut, telah membuat Winona dapat menjadi dirinya sendiri.


Setelah berpikir beberapa saat, Winona akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Wanita dengan kemeja putih tersebut mengendarai mobilnya menuju ke Kediaman Rainier. Tujuan Winona saat itu ialah hendak mencari keberadaan Dwiki di sana. Dia tak tahu harus ke mana lagi.


Winona membunyikan klakson sebanyak dua kali. Tak berselang lama, seorang satpam keluar dari pos jaga. Dia membukakan pintu gerbang, setelah mengetahui bahwa yang datang bertamu adalah mantan tunangan dari putra majikannya.


Setelah pintu gerbang terbuka, Winona kembali melajukan mobilnya memasuki halaman Kediaman Rainier. Seusai memarkirkan kendaraan dengan baik, Winona keluar dari mobil dan segera melangkah menuju teras, kemudian menekan bel. Sesaat kemudian, seorang asisten rumah tangga, membukakan pintu untuknya. “Apa Arsen ada di rumah?” tanya Winona.


“Sepertinya ada, Mbak,” sahut asisten rumah tangga yang masih berusia belia. Dia merupakan pegawai baru di sana, sehingga tidak terlalu mengenal Winona. “ Maaf, dengan  siapa ya?” tanyanya polos.


“Wini?” Sebelum Winona sempat menjawab, suara Arsenio lebih dulu terdengar di sana.


“Hai, Arsen,” sapa Winona terlihat kikuk. Dia melirik asisten rumah tangga yang masih berdiri tak jauh dari dirinya dan Arsenio.

__ADS_1


“Kembalilah,” suruh Arsenio seraya memberikan isyarat agar gadis tadi meninggalkan mereka berdua. Setelah itu, perhatian si pemilik mata cokelat terang kembali tertuju kepada Winona. “Kebetulan kamu kemari,” ucap Arsenio dengan raut wajah yang terlihat tidak nyaman.


“Aku ingin mencari Dwiki. Dia tidak ada di rumahnya. Kupikir dia ada di sini,” ucap Winona mengutarakan maksud kedatangannya ke Kediaman Rainier.


Arsenio tak segera menjawab. Dia berjalan mendekat, hingga jaraknya hanya sekitar satu langkah dari mantan kekasih sekaligus tunangannya tersebut. Arsenio memandang lekat paras cantik Winona. Setelah beberapa saat, barulah dia berkata, “Dwiki tadi kemari. Akan tetapi, dia langsung pergi setelah ….” Arsenio tak melanjutkan kata-katanya. Terasa berat untuk mengucapkan hal itu kepada Winona, dalam situasi saat ini.


“Setelah apa?” tanya Winona penasaran.


“Setelah dia melihat semua fotomu dan video kita berdua,” jawab Arsenio seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.


Winona tampak begitu terkejut. Selembar foto vulgar saja telah sangat membuatnya gelisah, apalagi sebuah video syur yang pasti membuat Dwiki berpikiran macam-macam tentang dirinya. “Astaga,” desah Winona pelan.


Belum habis rasa tak karuan karena ucapan Arsenio barusan, tiba-tiba terdengar suara Binar menyapanya. “Kak Wini?” Binar memandang lurus pada mantan tunangan Arsenio tersebut. Terbayang dalam benak wanita yang sedang hamil muda tersebut, sebuah adegan yang membuatnya harus angkat kaki dari kamar sang suami.


.


.


.


Hai, hai, sambil menunggu Binar yang ngambek, mampir dulu yuk, di karya kolab otor bersama teman otor, dijamin ga akan nyesel baca. ceritanya ringan, full romansa dan seru tentunya


__ADS_1


__ADS_2