
Hari itu, Arsenio sudah berniat untuk mengambil cuti. Entah kenapa, perasaannya gelisah sejak pagi. Namun, ternyata sangat sulit menghandle tiga perusahaan sekaligus. Untung saja karena maskapai Rainier telah mendapat CEO baru.
Biantara Sasmita juga bersedia kembali menjadi rekanan dalam perusahaan yang dibangun bersama, yaitu Groenland Property. Kali ini, di pundak Arsenio ada perusahaan investasi, yayasan Rainier, dan juga perusahaan arsitektur milik Normand yang mulai berkembang di Indonesia.
Arsenio mengembuskan napas lega, ketika dirinya selesai melakukan pertemuan secara online bersama Normand. Namun, perasaan itu tak bertahan lama. Terlebih, ketika telepon genggamnya tiba-tiba menyala. Rupanya, Lievin melakukan panggilan video.
Arsenio merasa heran dengan sikap sang ayah. Tak biasanya Lievin melakukan panggilan video terhadapnya. Dengan perasaan was-was, Arsenio menerima permintaan itu. “Ada apa, Pa?” Keringat dingin mulai mengucur di kening putra sulung Keluarga Rainier tersebut. Pasalnya, dia melihat dengan jelas latar belakang tempat sang ayah menghubungi dirinya, yaitu rumah sakit. “Ada apa dengan Binar, Pa? Papa di rumah sakit mana?” tanyanya sembari bangkit, sambil meraih jas yang tersampir di sandaran kursi.
“Binar menangis. Dia mencarimu,” jawab Lievin singkat sambil menutup mulut. “Sepertinya, dia sangat kesakitan,” imbuh Lievin membuat Arsenio seakan tak dapat berpikir jernih.
Diraihnya kunci mobil yang tergeletak di sebelah laptop. Secepat kilat, Arsenio berlari menuju area parkir. Dia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, Lievin langsung menyambut. “Cepatlah. Istrimu ada di ruang tindakan,” ujar pria paruh baya tersebut sambil menunjukkan tempatnya pada Arsenio.
Pria berambut coklat itu menahan napas saat melihat Binar dikelilingi oleh dokter kandungan dan beberapa perawat. Darah keluar begitu banyak, membasahi lantai ruangan. Sedangkan Widya tampak begitu tenang, berdiri di samping ranjang Binar sambil terus menggenggam tangan putri tirinya.
“Apa ada masalah, Dok?” tanya Arsenio pada Dokter Dipta yang duduk membelakangi dirinya. Arsenio tampak sangat cemas.
Dokter kandungan langganan Binar itu tak segera menjawab. Dia malah berbalik perlahan sambil menggendong makhluk kecil yang bersimbah cairan ketuban bercampur darah. Bayi itu menangis kencang seiring Arsenio yang berjalan mendekat.
“Selamat, Pak Arsenio. Bayinya perempuan dan sangat cantik,” ucap Dokter Dipta, membuat pria yang sudah resmi menjadi ayah itu hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.
Tanpa membersihkan bayi mungil itu terlebih dulu, Dokter Dipta langsung meletakkan bayi tadi ke atas dada sang ibu. Hal itu dia lakukan untuk merangsang kemampuan si bayi, agar dapat mencari sumber penghidupannya, yaitu air susu ibu.
Binar begitu takjub saat bayinya aktif mencari put•ing. Perasaannya tak dapat dilukiskan saat itu. Bahagia, sedih, dan haru bercampur menjadi satu. Lembut, dibelainya pucuk kepala bayi cantik yang akan diberi nama Wilhelmina, sesuai wasiat Anggraini sang ibu mertua.
__ADS_1
“Selamat ya, Nak. Kamu sudah menjadi seorang ibu,” bisik Widya seraya mencium kening Binar. Dia lalu mundur dan memberi isyarat pada Arsenio agar mendekat.
Arsenio sendiri malah terpaku. Namun, dia segera sadar dan buru-buru menghampiri sang istri.
“Selamat, ya.” Widya menepuk pundak Arsenio pelan sebelum berlalu. Dia hendak memberi waktu pada ayah baru itu untuk merayakan kelahiran putri pertamanya, berdua dengan Binar.
“Dia cantik sekali,” bisik Arsenio. Mata coklat terangnya tak lepas dari bayi yang kini tengah asyik mengisap put•ing sang ibu. “Aku tak percaya ini. Aku sudah mempunyai seorang putri. Cantik sekali,” ucapnya berulang-ulang.
“Adik cantik dibersihkan dulu, ya.” Seorang perawat datang dan mengangkat tubuh mungil itu perlahan, kemudian menyelimutinya dengan kain.
Binar dan Arsenio memperhatikan putrinya yang dibawa menjauh dengan perasaan lega sekaligus bahagia. “Anak kita, Rain,” gumam Binar lirih. Setetes air mata mengalir ke pipi mulusnya. Tak dihiraukan rasa lelah dan kantuk, bahkan nyeri yang mulai mendera ketika sang dokter menjahit jalan lahir sang bayi.
“Anak kita.” Arsenio, pria yang selalu terlihat kuat dan tangguh itu kini menangis tersedu di samping tubuh Binar. “Aku mencintai kalian,” ucapnya di sela isakan.
................
“Mister, katanya ini pesta ulang tahun Wilhelmina. Lalu, kenapa hiasan dindingnya malah gambar pasangan pengantin?” protes Praya.
“Sst, jangan berisik. Ini pesta kejutan untuk Binar,” jawab Fabien sambil menempelkan telunjuk di bibir.
“Kejutan?” ulang Wisnu dan Praya secara bersamaan.
“Nanti kalian akan tahu sendiri,” pungkas Fabien. Dia menutup mulutnya rapat-rapat, karena saat itu Binar dan Arsenio berjalan memasuki ruangan. Sedangkan, Wilhelmina yang tepat berumur satu tahun, tampak sangat nyaman dalam gendongan sang ayah.
Ibu dan bayi itu memakai pakaian dengan warna dan model yang sama persis, yaitu gaun putih polos berbahan katun. Gaun tersebut merupakan pilihan Arsenio. Dia memaksa Binar agar memakai pakaian yang sama dengan sang putri.
__ADS_1
“Wah, kalian.” Binar terpana dengan ruang tengah yang disulap begitu indah. Senyuman ibu satu anak itu semakin lebar, ketika melihat kue tart dengan hiasan putri duyung beserta segala pernik-perniknya, menghiasi meja putih besar. “Lihat itu, Willie.” Binar mengarahkan sorot mata sang putri agar mengikuti telunjuknya.
Bayi cantik itu tampak antusias. Dia bergerak-gerak di atas gendongan sang ayah, sambil berceloteh riang.
“Apa katanya, Kak?” tanya Wisnu sambil menghampiri sang keponakan, lalu menciumnya dengan gemas.
“Nanti akan kami beritahu kalau sudah bisa menguasai bahasa bayi,” kelakar Arsenio yang segera disambut gelak tawa dari semua orang di dalam ruangan.
“Ayo. Potong kuenya untuk mewakili putrimu, Binar,” suruh Widya sambil menyodorkan cake knife kepada Binar.
“Baiklah.” Binar menerima pisau itu dengan wajah berseri.
“Potong di sebelah sini,” tunjuk Fabien. Dia mengarahkan tangan Binar. Ibu muda itu pun menurut. Namun, saat pisaunya ada di tengah-tengah lapisan kue, Binar berhenti.
“Pisaunya tersangkut sesuatu," ucap Binar.
“Coba kulihat.” Sambil menggendong Wilhelmina, Arsenio membantu menarik pisau tersebut. Setelah berhasil, dia memotong bagian cake yang telah teriris tadi dan meletakkan potongannya ke atas piring kecil.
Namun, saat Binar mengiris potongan itu menggunakan garpu, dia menemukan sesuatu yang berkilau di dalamnya. “Apa ini?” gumam Binar lirih. Mata indahnya terbelalak sempurna, ketika melihat dua buah cincin berlian bermata unik.
Satu cincin berlian itu berbentuk separuh badan lumba-lumba, yaitu bagian atas mulai dari kepala hingga perut. Sedangkan cincin berlian yang lain berbentuk bagian perut dan ekor. Jika disatukan, maka dua cincin itu akan membentuk seekor lumba-lumba utuh.
“Apa ini, Rain?” tanya Binar keheranan.
Belum sempat Arsenio menjawab, tiba-tiba datanglah Lievin dari arah luar. Pria paruh baya itu berjalan cepat ke arah Arsenio dengan raut wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1
“Ada apa, Pa?” Arsenio yang berinsting tajam, segera mengetahui bahwa ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh sang ayah.
“Polisi sudah berhasil menemukan orang yang berada di balik Bayu, Sen! Mereka berhasil menemukannya! Istriku sekarang bisa beristirahat dengan tenang!” ujar Lievin penuh haru seraya mendekap erat tubuh putranya.