
Anggraini rupanya langsung memblokir nomor Arsenio, beberapa saat setelah sang anak mengirimkan foto-foto pernikahan dan kebersamaannya bersama Hans dan juga yang lainnya di Bali.
Arsenio sendiri sudah bisa menduga hal itu. Karenanya, dia lagi-lagi hanya dapat menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Pria rupawan berambut cokelat tersebut, masih memaksakan senyum saat Hilda bertanya kepadanya tentang sesuatu hal. Dia berpura-pura tertawa ceria ketika Rudolf melemparkan candaan.
Namun, ketika orang-orang berpindah pada pembahasan yang lain, Arsenio menunduk dalam-dalam sambil memperhatikan ponselnya. Dia membuka kembali pesan yang tadi dikirimkan kepada sang mama beberapa menit yang lalu. Tak ada perubahan apapun. Pesan darinya masih berupa satu centang abu-abu.
Arsenio tersenyum samar. Sudah tak ada lagi jalan untuk kembali, pikirnya. Hanya harapan besar yang dia simpan dalam hati bahwa kedua orang tuanya akan dapat menerima dia dan Binar suatu saat nanti. Akan tetapi, melihat tanggapan Anggraini yang seperti itu, rasanya akan sangat sulit untuk dapat mewujudkan semua harapan tersebut.
Untuk menghilangkan rasa sedihnya, Arsenio mematikan ponsel lalu mengeluarkan kartu sim dari dalam ponsel itu. Diam-diam, dia mematahkan kartu sim mini tadi menjadi dua bagian. Dia juga menghapus nomor yang dirinya gunakan dalam aplikasi chat.
Arsenio terdiam sejenak, sebelum kembali mengobrol hangat bersama semua orang. Hingga tak terasa, waktu beranjak petang. Terlihat Praya sudah mulai tak nyaman. Bocah itu pasti memikirkan pekerjaan rumahnya, apalagi esok kedua adik Binar masih harus masuk sekolah.
Mau tak mau, Arsenio harus mengakhiri kehangatan di meja makan itu. Dia beranjak dari duduknya, kemudian berpamitan kepada Hans sembari mengucapkan terima kasih. Sedangkan Hans berkali-kali memeluk tubuh jangkung Arsenio penuh haru. Begitu pula Hilda yang memeluk dan mencium pipi Binar.
“Pernikahan ini adalah awal. Tak ada yang namanya bahagia terus-menerus. Akan ada riak-riak dan kerikil kecil yang menghalangi jalan kalian. Namun, selama kalian saling percaya dan mendukung satu sama lain, aku yakin kalian pasti akan berhasil melewati semuanya," tutur Hans memberikan petuahnya.
“Ingatlah selalu bahwa kunci pernikahan yang awet itu ada dua, yaitu saling percaya serta saling menjaga kepercayaan. Jangan pernah melupakan kedua hal itu,” imbuh Hilda.
Binar menitikkan air mata karena terharu. Dia memang tak memiliki orang tua yang mendampingi hari bahagianya saat itu. Akan tetapi, selalu saja ada orang-orang yang bisa menggantikan ketiadaan sosok seorang ayah dan juga ibu bagi dirinya.
"Apa rencana kalian setelah ini? Apakah kalian akan menetap di Bali atau ...." Hans menatap Arsenio dan Binar secara bergantian.
"Rencananya aku akan membawa Binar ke luar negeri, Om," jawab Arsenio menyembunyikan kegetiran dalam hatinya.
__ADS_1
"Luar negeri? Ke mana? Apa kamu akan pulang kampung ke Belanda?" tanya Hans lagi.
"Jerman," sahut Binar tiba-tiba. Padahal Arsenio belum menentukan dengan pasti tujuan mereka, meskipun Jerman memang berada di urutan pertama.
"Ya. Jerman. Kebetulan adikku Fabien juga tinggal di sana," timpal Arsenio membenarkan.
"Ya sudah. Ke mana dan di manapun kalian berada, doa restu kami akan selalu menyertai kamu dan juga Binar," ucap Hans seraya mengempaskan napas penuh sesal. Sedangkan Hilda tersenyum sambil mengangguk setuju.
“Terima kasih, Om. Terima kasih, Tante. Baiklah, kami permisi. Sebentar lagi malam akan datang. Besok Wisnu dan Praya juga harus bersekolah,” pamit Arsenio, yang segera diikuti oleh Rudolf. Pria berdarah Jerman itu menjabat erat tangan Hans dan juga Hilda sebelum meninggalkan rumah suami istri tersebut.
“Kalian akan pulang ke mana?” tanya Rudolf sesaat setelah dirinya menjalankan kendaraan keluar dari area gereja.
“Wisnu dan Praya pulang ke rumah, Om. Sedangkan saya dan Rain akan kembali ke penginapan,” jawab Binar yang masih memakai dress putihnya.
“Ah tidak usah. Terima kasih. Aku takut jika malam nanti kami mengganggu Anda,” kelakar Arsenio yang segera ditanggapi dengan pelototan tajam dari Binar. Sedangkan Rudolf hanya tertawa sembari menggeleng.
"Kenapa tidak menginap di villa om Rudolf saja Kakak Mister?" Praya ikut bersuara. "Om Rudolf selama ini selalu sendirian. Iya kan, Om?" Praya yang terlihat kelelahan, masih memaksakan diri untuk bicara. Lain halnya dengan Wisnu yang hanya duduk diam.
"Benar sekali," sahut Rudolf sambil terus mengemudi. "Semenjak istri dan kedua putriku meninggal dunia, aku hanya tinggal sendiri di villa," jelasnya tanpa diminta.
"Astaga," desah Binar dan Arsenio secara bersamaan. "Apa yang terjadi? tanya mereka secara serempak pula.
"Kejadiannya sekitar tujuh tahun yang lalu. Istri dan kedua putriku akan kembali ke Jerman. Sementara diriku berencana menyusul mereka kemudian, karena pekerjaanku sebagai tenaga pengajar di Bali benar-benar tak bisa kutinggalkan. Akan tetapi, nahas karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Sejak saat itulah, aku memutuskan untuk tetap berada di sini, karena kenangan istri dan kedua putriku pun ada di sini semua," tuturnya.
__ADS_1
"Kami turut bersedih," ucap Arsenio penuh sesal.
"Terima kasih. Itu merupakan sebuah kisah lama. Aku tak bermaksud untuk melupakannya, tapi juga tak ingin terus mengenang dalam ingatanku," balas Rudolf tenang. Pria itu memang terlihat sangat matang.
"Ada beberapa hal yang memang harus kita simpan, meskipun itu terlalu menyakitkan. Namun, jika kita mengembalikan semuanya pada takdir dan berserah diri pada Yang Maha Kuasa, kepedihan kita kali ini maka akan berbuah sesuatu yang indah dan manis di kemudian hari," tutur Rudolf lagi.
"Kita mungkin belum dapat memastikan makna apa yang tersirat dari segala hal buruk yang menimpa. Kebanyakan orang akan meratap atau bahkan merutuki diri sendiri. Saat hikmah dari segala kejadian buruk itu datang, barulah mereka menyadari sepenuhnya bahwa segala hal sudah ada yang mengatur dengan sangat baik. Tuhan itu Maha Pengasih. Dia menyayangi seluruh umat-Nya. Jadi, jangan pernah merasa takut ataupun ragu."
Rudolf menghentikan laju mobilnya di depan rumah Widya. Namun, saat itu Wisnu dan Praya ternyata sudah tertidur. Arsenio pun harus membangunkan mereka berdua. Setelah kedua anak itu turun dan masuk ke rumah, Rudolf kembali melajukan kendaraannya menuju villa. Apalagi, motor sewaan Arsenio pun masih berada di dalam garasi miliknya.
Setibanya di villa, Binar dan Arsenio bergegas keluar dari mobil. Beribu-ribu terima kasih dia haturkan kepada pria murah hati tersebut. "Anda adalah pria yang sangat baik. Aku yakin, di manapun Anda berada, kebaikan pasti akan selalu menyertai," ucap Binar lembut.
"Terima kasih. Jika masih ada, putri pertamaku pasti sudah seusia dirimu," balas Rudolf. Dia meminta izin kepada Arsenio untuk mencium kening Binar. Arsenio pun mengangguk setuju. "Istriku berasal dari Bali. Dia seorang pengajar tari tradisional. Aku sangat mencintainya. Kuharap, kalian berdua pun dapat memiliki kisah cinta yang abadi hingga akhir hayat nanti."
Tanpa diminta, Arsenio dan Binar memeluk Rudolf secara bersamaan. Rasa haru begitu terasa saat itu. Padahal, Rudolf hanyalah orang asing bagi mereka berdua.
"Kudengar kalian akan pergi ke Jerman. Apa kau sudah mendapatkan gambaran akan bekerja di mana?" Rudolf mengarahkan pandangan kepada Arsenio setelah mereka selesai berpelukan.
"Belum. Aku akan mencoba peruntunganku di sana. Seperti dulu," sahut Arsenio seraya tersenyum kecil.
"Barangkali ini bisa membantumu." Rudolf mengambil dompet dari saku belakang celana panjangnya. Dia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. "Normand Heinze. Dia adalah sahabat dekatku. Temuilah pria itu dan sampaikan salam dari Rudolf Fiedler padanya. Tidak perlu takut, karena Normand merupakan pria yang sangat ramah."
Arsenio menerima kartu nama tadi, kemudian menyimpan di dalam dompetnya. "Harus berapa banyak ucapan terima kasih yang kuberikan kepada Anda," ucap pria itu penuh haru. Kesombongan, keangkuhan, dan segala sikap buruk Arsenio Wilhelm Rainier seakan sirna seketika, saat dirinya menemukan kedamaian di antara orang-orang yang melepaskan diri dari segala intrik dan persaingan duniawi.
__ADS_1