Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Maaf Untuk Papa


__ADS_3

Binar mengawali paginya dengan membuka jendela kamar Arsenio lebar-lebar. Pemandangan indah di luar terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Sebuah kolam renang berukuran besar dilengkapi dengan tanaman hias di sekelilingnya. Ditambah parit buatan yang dibangun mengelilingi bangunan mewah yang entah untuk apa kegunaannya, turut mempercantik rumah megah tersebut.


“Ayo, Sayang. Kita harus segera bersiap-siap dan menjenguk papa di rumah sakit,” ajak Arsenio. Aroma sabun menguar dari tubuh pria tampan itu tatkala Binar membalikkan badan.


Kulit yang terasa halus dan lembab dengan lilitan handuk putih di bagian pinggang, semakin menambah keindahan sosok di depan Binar saat itu.


“Ya, ampun, Rain,” Binar memeluk Arsenio manja sambil menghirup dalam-dalam wangi tubuh suaminya. “Aku akan bersiap sebentar lagi, tapi ijinkan aku memelukmu sejenak,” ucapnya lirih.


“Kenapa lagi? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?” terka Arsenio.


Binar yang menempelkan kepalanya di dada sang suami hanya menggeleng, lalu mengangguk. “Tiba-tiba … .” Wanita muda itu tak melanjutkan kata-katanya.


“Tiba-tiba?” ulang Arsenio.


“TIba-tiba aku berpikiran kalau papamu sakit karena memikirkan pernikahan kita yang tak direstui,” jawab Binar ragu.


“Ya, ampun, Sayang. Kenapa pemikiranmu selalu aneh seperti ini?” Arsenio tergelak mendengarkan alasan tak masuk akal Binar.


“Bagaimana kalau ternyata papamu bisa sembuh seandainya kamu berpisah denganku? Apa yang akan kamu lakukan, Rain?”tanya Binar lagi.


“Sayang, please. Aku tidak akan menjawabnya karena aku tidak ingin berandai-andai. Satu yang harus kamu tahu, bahwasanya diriku tak sanggup dan tak bisa kehilangan dirimu. Lagipula pertanyaanmu sungguh tak masuk akal. Mana mungkin papa sakit gara-gara kamu,” Arsenio mengomel pelan sambil mengurai pelukannya.


“Ayo, cepat mandi! Setelah itu kita sarapan, lalu pergi ke rumah sakit,” Arsenio memukul pinggul Binar dengan gemas, kemudian terbahak.


“Rain!” Binar melotot tajam, meskipun pada akhirnya dia menurut untuk segera bersiap-siap ke kamar mandi.


Tak berapa lama, Binar selesai membersihkan diri. Dia berganti baju yang sudah disiapkan oleh Arsenio sebelumnya. Suaminya itu memiliki selera berpakaian yang bagus. Dia kerap memilihkan gaun yang akan dipakai oleh istrinya itu.


Dengan pandangan memuja, Arsenio mengulurkan tangan pada Binar yang sudah selesai merapikan diri. Wajah cantiknya semakin bersinar dengan polesan make up tipis dan lipstik berwarna soft.


Suami istri itu lalu melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga demi anak tangga hingga sampai di lantai satu. “Bisa gawat kalau kau harus meninggalkanku sendiri di rumah ini, Rain,” celetuk Binar.


“Kenapa memangnya?” Arsenio mengernyitkan dahi.


“Bisa-bisa aku tersesat, sebab rumah ini jauh lebih besar dari rumahmu di Jakarta,” jelas Binar dengan polosnya.


Arsenio tertawa sambil mengacak-acak rambut istrinya. “Ada-ada saja,” sahutnya.


“Rain! Jangan! Rambutku sudah disisir rapi,” Binar merengut ketika tangan Arsenio sudah berhasil merusak kerapian rambut panjang nan indah itu.


“Goede morgen (selamat pagi), Tuan dan Nyonya muda,” sapa Betje yang menghentikan pertengkaran tak serius dua sejoli tersebut. “Sarapan sudah siap,” dengan bahasa tubuh dan gaya bahasa penuh sopan santun, wanita paruh baya itu mengantarkan Arsenio dan Binar menuju ke ruang makan.


Tak henti-hentinya Binar berdecak kagum melihat perabot mewah yang memenuhi ruangan luas di depannya itu. “Ruang makan sebesar ini, siapa saja yang makan di sini?” tanya Binar pelan.


“Untuk pagi ini, hanya kamu dan aku. Biasanya, papa selalu mengajak kolega-koleganya datang kemari dan makan bersama,” jelas Arsenio. Sedangkan Binar hanya manggut-manggut mendengarkan.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapan, Arsenio dan Binar bergegas meninggalkan bangunan megah itu. Arsenio memilih untuk memesan taksi daripada menggunakan salah satu dari koleksi kendaraan Lievin.


“Kamu seperti keturunan raja, Rain. Aku tidak pernah melihat rumah sebagus dan seindah tadi,” tak henti-hentinya Binar berdecak kagum.


“Biasa saja, Sayang. Suatu saat nanti aku juga akan membangunkan sebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah kedua orang tuaku. Aku mempersembahkan rumah itu untukmu,” sahut Arsenio seraya membukakan pintu taksi untuk istrinya.


Binar sempat tertawa menanggapi perkataan suaminya. Namun beberapa saat kemudian, dirinya terdiam. “Berapa lama perjalanan hingga sampai ke rumah sakit, Rain?” tanya Binar was-was.


“Kira-kira sepuluh menit lagi. Kenapa? Kamu mulai takut, ya?” goda Arsenio sembari menaikturunkan alisnya.


“Iya, aku takut,” Binar menunduk sambil meremas kuat-kuat ujung roknya.


“Tenang saja, Sayang. Ada mama dan juga Fabien di sana. Lagipula, seandainya kamu diusir, pasti aku akan menemanimu,” timpal Arsenio dengan tatapan penuh arti.


“Semoga saja tidak. Aku ingin sekali bisa diterima dalam keluargamu, Rain. Rasanya menjadi beban yang begitu berat bagiku, karena telah menghancurkan hubungan ayah dan anak,” ujar Binar lirih.


“Kamu tidak menghancurkan hubungan siapapun, Sayang. Percayalah,” Arsenio menggenggam erat jemari Binar, kemudian mengecupnya. Dalam hati, Arsenio juga gugup dan gelisah. Namun, dia berusaha untuk tak menunjukkannya di hadapan Binar.


Terlebih saat itu mereka sudah tiba di rumah sakit tempat Lievin dirawat. Jantung Arsenio berdebar semakin kencang. Diliriknya Binar yang juga tak kalah tegang. Dia dapat merasakan telapak tangan sang istri yang basah oleh keringat.


“Ayo,” Arsenio menarik pelan tangan Binar dan membawanya masuk ke dalam lift.


“Ruangan papa ada di mana?” tanya Binar was-was.


“Hm,” Binar menarik napas panjang-panjang ketika pintu lift terbuka tepat di lantai empat. Kakinya seakan lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa mengikuti gerak langkah Arsenio yang tak sedetikpun melepaskan genggaman dari tangannya.


Jantung Binar seakan meledak ketika dia dan suaminya telah sampai di depan ruang perawatan Lievin. Pada ruangan VIP tersebut, seorang perawat selalu siaga di dekat pintu masuk dan menyapa mereka dengan ramah. “Tuan Lievin baru saja beristirahat,” ucapnya sopan dalam bahasa Belanda.


“Aku adalah putranya. Istriku dan aku hendak menjenguknya,” jelas Arsenio tak kalah sopan.


“Siapa, nona Anneke?” terdengar suara lembut seseorang dari dalam ruangan. Tak berapa lama, si pemilik suara keluar dari balik pintu ruang perawatan. “Arsen? Binar?” wanita yang tak lain adalah Anggraini itu segera menghambur ke arah putra sulungnya lalu memeluk Arsenio erat. Setelah itu, dirinya berpindah pada Binar.


“Mereka putra dan menantuku, nona Anneke. Biarlah mereka masuk,” pinta Anggraini setelah mengurai pelukannya dari Binar.


“Tentu, Nyonya. Silakan,” Anneke membuka pintu lebar-lebar, lalu menutupnya saat Arsenio dan Binar sudah masuk ke dalam.


“Bagaimana kondisi papa, Ma?” tanya Arsenio pelan sambil berjalan ke dekat ranjang. Ayah kandungnya itu tampak nyenyak tertidur.


Binar sendiri merasa ragu untuk ikut mendekat, sehingga dirinya memutuskan berdiri di dekat pintu.


Anggraini yang segera menyadari sikap canggung Binar, buru-buru menggandeng menantunya itu. “Tidak apa-apa, Nak. Kemarilah,” ajaknya sembari tersenyum lembut.


Mau tak mau Binar maju dan berdiri di samping Arsenio. Dia ikut mengamati wajah damai Lievin yang tertidur pulas.


“Hari ini kondisi papamu sudah mulai stabil, setelah sebelumnya sempat tidak sadarkan diri,” tutur Anggraini.

__ADS_1


“Apa yang menyebabkan papa sampai tak sadarkan diri, Ma?” tanya Arsenio lagi dengan raut keheranan.


“Depresi dan sedikit penyumbatan syaraf di kepala,” jawab Anggraini lesu.


“Astaga,” sahut Binar lirih.


“Kondisi perusahaan papamu di Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” terang Anggraini hati-hati.


“Apa yang terjadi, Ma?” ekspresi Arsenio terlihat terkejut saat itu.


“Sepeti yang kamu tahu, Sen. Papamu sangat mencintai maskapainya yang dibangun secara susah payah. Namun, ternyata Biantara dan Winona berniat hendak merusaknya,” jawab Anggraini dengan sorot mata yang terus tertuju pada Lievin.


“Merusak bagaimana maksudnya, Ma?” kejar Arsenio.


“Ah, biarlah nanti papamu yang menjelaskan. Bahkan perusahaan investasi milikmu juga akan diambil alih oleh Winona. Mereka benar-benar kejam,” Anggraini menggeleng lemah sambil memijit pelipisnya.


“Bagaimana bisa? Bukankah semuanya sudah aku kuasakan pada Papa?” Arsenio semakin tak paham dengan permasalahan yang menimpa ayahnya.


Belum sempat Anggraini menjawab, pintu ruang perawatan sudah lebih dulu dibuka. Fabien masuk ke sana sambil membawa beberapa kantong paper bag. “Aku membawakan pesanan papa dan … hei! Kau datang, Arsen?” Fabien berseru antusias, membuat pria yang tergolek lemah di depan Arsenio itu membuka matanya tiba-tiba.


“Arsen?” lemah suara Lievin, berusaha memanggil putra sulungnya.


“Aku datang, papa,” sahut Arsenio sembari mendekat ke tepian ranjang. “Aku mengajak Binar serta. Semoga papa tidak keberatan. Dia juga sangat ingin melihat keadaanmu,” imbuhnya.


Ekor mata Lievin bergerak ke arah Binar. Pria paruh baya itu menatap menantunya lekat-lekat. Arsenio tak menangkap ekspresi apapun yang tergambar di wajah sang ayah. Hingga akhirnya Lievin tersenyum samar dengan tatap mata yang tetap mengarah pada Binar.


“Halo, Binar,” sapa Lievin lemah. “Apa kabarmu?”


Sontak sikap Lievin membuat Binar terpana tak percaya. “Sa-saya, ba-baik, Tuan, uhm, maksud saya … .” ucapnya terbata. Kepalanya seolah kosong seketika.


“Panggil saja papa,” pinta Lievin lirih.


Kali ini, Binar tak dapat menahan air matanya. Dia tak tahu apa arti dari sikap ayah kandung dari suaminya tersebut. Namun yang jelas, Binar merasa benar-benar diterima.


“Terima kasih, papa,” sebenarnya banyak yang ingin Binar ungkapkan saat itu. Akan tetapi, hanya dua kata tersebut yang keluar dari mulutnya. “Maafkan saya … .” Binar menelan ludah. Tenggorokannya serasa tercekat sehingga dirinya tak dapat melanjutkan kalimatnya.


“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku lah yang seharusnya meminta maaf. Semoga kamu mau menerima permintaan maafku, Binar. Aku takut jika usiaku tak panjang dan aku belum bisa memperbaiki hubunganku denganmu,” ujar Lievin yang memotong kata-kata Binar begitu saja.


“Pa! Jangan bicara macam-macam. Aku tidak suka!” tegas Arsenio yang merasa keberatan.


Sementara Anggraini hanya bisa terisak pelan. Sesekali, Fabien mengusap punggung ibunya untuk memberikan kekuatan.


“Sebenarnya ada apa ini, Pa? Kenapa papa bisa sampai terpuruk seperti ini?” Arsenio tak habis pikir. Lievin adalah seorang pria yang teramat tangguh. Ayahnya itu tak mudah ditaklukkan, apalagi dibuat lemah seperti ini. Entah sebesar apa beban yang Lievin tanggung.


“Aku … sudah tak ingin kembali ke Indonesia lagi. Terlalu banyak hal menyakitkan di sana,” jawab Lievin yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan yang sudah Arsenio lontarkan.

__ADS_1


__ADS_2