Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Rapat Kuliner


__ADS_3

Arsenio menggaruk keningnya untuk beberapa saat. Dia lalu mengambil satu tusuk sate seafood, kemudian mencicipi makanan itu. "Aku tidak tahu dan belum bisa memastikan secara jelas. Pesaing bisnis pasti akan selalu ada. Namun, untuk sebuah kejahatan serius seperti ini ... aku yakin jika semua sudah dalam perencanaan yang sangat matang," ujarnya sambil terus mengunyah.


"Sepertinya pria bernama Haris ini juga bukan orang sembarangan. Ada istilah bahwa yang berkacamata itu pasti cerdas. Namun, jika dilihat dari pembawaannya dia memang terlihat lebih intelek dibandingkan dengan Aji," ledek Dwiki sambil ikut menikmati makanan yang tersaji di hadapan mereka bertiga.


"Orang sabar tak akan banyak bicara," balas Ajisaka.


"Sabar dan bernyali kecil, sulit dibedakan," sahut Dwiki lagi dengan enteng.


"Sekarepmu, Ki. Sebagai yang jauh lebih dewasa, aku memilih diam." Ajisaka kembali membalas ucapan Dwiki dengan tenang.


Sementara Arsenio terdengar berdecak pelan. "Apa bisa kita lanjutkan?" tanyanya setengah menyindir dua sepupu itu.


"Iya, Bos. Jadi, bagaimana?" tanya Ajisaka yang terlihat sangat bersemangat.


Arsenio tak segera menjawab. Dia malah mengambil satu tusuk lagi makanan tadi, yang dirasakannya enak apalagi ditambah dengan cocolan mayonaise dan saus. Dia berpikir sambil mengunyah, lalu kembali mengambil satu tusuk. Sementara Ajisaka dan Dwiki memperhatikan tingkah sang bos yang makin lama terlihat semakin aneh. Arsenio tak berhenti makan, hingga sate seafood tadi hanya tersisa dua tusuk lagi.


"Habiskan saja, Bos. Kami bisa membeli makanan lain nanti," ujar Dwiki saat melihat raut wajah Arsenio yang terkejut, karena dia telah menghabiskan makanan yang tadinya dirinya bawa untuk Dwiki dan Ajisaka.


"Astaga, ini pasti karena pengaruh Binar. Setelah menikah dengannya, aku jadi banyak mengkonsumsi makanan-makanan seperti ini. Kalau nanti kamu mau keluar, jangan lupa beli cakwe dan mie ayam ya." Arsenio meringis kecil. Dia lalu mengambil sisa makanan tadi dan benar-benar menghabiskannya.


"Jadi, bagaimana? Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Bos?" tanya Ajisaka kembali pada inti dari pertemuan itu.

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan Ajisaka, Arsenio terlebih dulu meneguk minumannya. Namun, sungguh aneh karena dia seperti belum merasa kenyang sama sekali. "Aku rasa, langkah pertama yang akan kita lakukan adalah menyelidiki latar belakang Haris Maulana. Kamu bisa mencari informasi tentang dia. Media sosial atau apapun yang berhubungan dengannya. Sementara kamu, Ki." Arsenio mengalihkan perhatian kepada Dwiki. "Seperti biasa, kamu adalah mata-mata yang hebat. Aku percayakan semuanya padamu," ujar pria berambut cokelat itu sambil tersenyum.


"Baiklah, Bos. Setidaknya saya bukan pengangguran lagi," sahut Dwiki. Namun, raut wajah pria itu tak terlihat ceria seperti biasanya. Dwiki masih tampak menyimpan sebuah ganjalan dalam hati yang tidak dirinya ungkapkan.


Sebagai seseorang yang sangat mengenal sosok Dwiki, Arsenio dapat melihat keganjilan itu dengan jelas. Dia lalu menepuk lengan salah satu orang kepercayaannya tersebut, kemudian tersenyum penuh arti. "Dia pasti akan kembali. Walaupun aku tidak mengenal Wini sebaik dirimu, tapi aku yakin bahwa suatu saat dia pasti akan merindukan perhatian dari teman baik seperti kamu."


Dwiki cukup terkejut dengan ucapan dari Arsenio. Dia memandang sang bos tampan yang telah menjadi pahlawan dalam hidupnya. Sesaat kemudian, Dwiki pun tersenyum simpul.


Sementara Ajisaka keluar dari ruang tamu itu dengan langkah terburu-buru. Sepertinya dia hendak menerima sebuah panggilan rahasia. Karena itulah, pria berambut cepak tersebut memilih untuk menghindari Arsenio dan juga Dwiki.


Ajisaka bahkan cukup lama berada di luar. Entah tengah berbincang dengan siapa, karena kelihatannya dia sangat ceria saat itu. Hal tersebut membuat jiwa mata-mata dalam diri Dwiki terbangkitkan. Beruntung karena Arsenio tengah pamit ke kamar mandi. Dengan langkah mengendap-endap, Dwiki berjalan ke dekat pintu.


Dari balik dinding penyekat, Dwiki mendengar percakapan yang sedang dilakukan oleh Ajisaka. Tak seperti biasanya. Sang sepupu terdengar bertutur kata dengan nada yang lembut bahkan terkesan merayu. Sudah dipastikan bahwa saat itu Ajisaka sedang berbicara dengan seorang wanita. Ya, semoga saja memang seorang wanita.


"Ki ...." Arsenio yang merasa aneh, segera menjeda ucapannya. Terlebih setelah Dwiki memberi isyarat agar sang bos tak bersuara. Pada akhirnya, kedua pria itu sama-sama menguping dari balik dinding. Namun, mereka segera membubarkan diri setelah Ajisaka terdengar akan menutup perbincangannya. Sesaat kemudian, Arsenio dan Dwiki kembali duduk di atas karpet. Mereka bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.


"Telepon dari siapa, Ji?" tanya Arsenio berpura-pura.


"Teman, Bos," jawab Ajisaka dengan enteng. Dia pun ikut duduk dan kembali bergabung bersama Arsenio dan Dwiki yang tengah mematikan play stationnya.


"Jadi, makanan apa saja yang harus saya beli, Bos?" tanya Dwiki seraya menyambar jaket dari  sandaran kursi. Dia kembali pada kebiasaannya, meletakkan barang dengan sembarangan.

__ADS_1


"Aku mie ayam dan cakwe saja," jawab Arsenio.


"Aku mie ayam juga. Sawi dan airnya yang banyak," pesan Ajisaka.


"Ada lagi?" tanya Dwiki bersamaan dengan suara penjual nasi goreng keliling yang lewat di depan rumahnya. "Ah, kita beli nasi goreng saja. Mie ayam untuk besok lagi," cetusnya tanpa menunggu persetujuan dari Arsenio ataupun Ajisaka, yang hanya diam tak bisa berkata-kata. Hendak protes pun tak mungkin, karena Dwiki telah lebih dulu keluar dan memberhentikan si penjual tadi.


................


Sesuai dengan rencana sebelumnya, Dwiki memulai aksi sebagai penguntit tampan. Berbekal motor klasik kesayangan, pria itu menuju ke tempat yang diyakini sebagai tempat tinggal Haris Maulana. Alamat tersebut Dwiki dapatkan dari Arsenio, saat mengikuti Winona beberapa waktu yang lalu.


Dwiki menghentikan motor yang dia kendarai di  dekat sebuah lapangan basket. Sore itu, ada beberapa remaja yang tengah bermain di sana. Dwiki duduk di salah satu bangku taman tanpa sandaran. Dia menyulut sebatang rokok, sambil memperhatikan sebuah rumah yang jauh lebih besar dan mewah jika dibandingkan dengan kediamannya.


Dwiki duduk di sana hingga beberapa saat lamanya. Entah berapa batang rokok yang telah dia habiskan, untuk menunggu sebuah pergerakan dari rumah itu. Sesaat kemudian, muncullah sebuah mobil yang sudah sangat dirinya kenal. Sang pemilik kendaraan itu pun keluar dari dalam sana.


Winona menaikkan kacamata hitam yang dikenakannya. Sebelum melanjutkan langkah, wanita muda itu tampak menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian, seorang pria berkacamata dengan tampilannya yang memang terlihat intelek, muncul dari dalam rumah. Dia menyambut putri dari Biantara Sasmita tersebut dengan hangat.


Dwiki begitu penasaran. Ingin rasanya dia mendekat dan mendengarkan apa yang tengah mereka perbincangkan. Namun, hal itu tak mungkin dia lakukan. Dwiki harus tetap bermain aman. Selang beberapa saat, Dwiki mengambil ponsel dan mengambil beberapa gambar. Tak lupa, dia juga mengambil gambar Winona. Wanita itu sungguh cantik dilihat dari sudut manapun.


"Jika Winona masih berhubungan baik dengan Haris, maka itu artinya calon ayah mertua belum mengetahui seberapa jahat pria itu," pikir Dwiki sambil bergumam pelan. "Baiklah, Haris. Kita lihat siapa dirimu yang sebenarnya," gumam Dwiki lagi berbicara pada diri sendiri.


Beberapa saat kemudian, Winona kembali ke dalam mobilnya. Si cantik bertubuh molek itu pun berlalu dari hadapan Haris, yang masih berdiri sambil melambaikan tangan. Pria berkacata tadi terus tersenyum lebar, hingga kendaraam milik Winona tak lagi terlihat.

__ADS_1


Akan tetapi, Haris tak juga beranjak dari tempat dia berdiri, meskipun Winona telah pergi hampir sekitar sepuluh menit yang lalu. Pria berperawakan sedang itu tampaknya sedang menunggu seseorang.


Tak berselang lama, sebuah sedan hitam datang, lalu berhenti tepat di hadapan Haris. Sesaat kemudian, seorang pria dengan blazer biru yang melapisi kemeja putih dari bagian dalamnya, keluar dan berjalan menghampiri Haris. Pria berpenampilan necis dan sangat jauh berbeda dengen Dwiki. Keduanya saling berpelukan, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2