Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Cinta Dua Cabang


__ADS_3

"Jangan katakan apapun padaku, Tuan Arsenio. Tak perlu juga merasa terbebani dengan apa yang sudah kamu janjikan dulu padaku, karena aku sepenuhnya sadar. Aku hanya ingin sebuah kejujuran, apakah waktu itu kamu benar-benar hilang ingatan atau hanya berpura-pura?" Binar masih juga membelakangi Arsenio. Sesungguhnya bahwa dia tak ingin menatap pria itu secara langsung, karena dirinya tak akan sanggup untuk menghindar dari perasaan yang begitu besar.


"Aku tidak berbohong padamu atau pada siapa pun tentang keadaanku saat itu. Lagi pula, untuk apa aku melakukannya?"


"Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran atau rencana kalian sebagai para penguasa dunia. Aku yang terlalu polos dan tak tahu apa-apa," sesal Binar. Berkali-kali dia menyeka air mata yang terus saja terjatuh di pipinya.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tak pernah merencanakan sesuatu yang jahat. Kenapa sulit sekali untuk membuat dirimu merasa yakin padaku?"


"Kenapa harus berusaha untuk meyakinkanku? Aku bukan siapa-siapa selain gadis yatim piatu yang sekarang bahkan tak tahu apa dan ke mana tujuan hidupnya. Semua rencana yang telah kususun tak sesuai dengan perkiraan, meskipun pada akhirnya ... entah ini menjadi sesuatu yang baik atau tidak." Binar tertunduk lesu. Siapa sangka, takdir membawanya kembali bertemu dengan Arsenio alias Rain yang jelas-jelas ingin dia hindari. "Masuk dan kembalilah pada tunanganmu. Kenapa kamu masih di sini?"


Arsenio tak menanggapi ucapan Binar. Dia tak menerima perintah dari siapa pun. Arsenio melakukan segala sesuatu atas keinginannya. Pria tampan itu justru berjalan semakin mendekat, hingga jaraknya dari Binar hanya sekitar satu langkah saja. Dia lalu merentangkan tangan untuk meraih pundak gadis di depannya. Ketika telapak Arsenio berhasil mendarat di atas permukaan kulit Binar, seketika perasaan pria bermata cokelat terang tersebut menjadi tak karuan. Bayangan-bayangan tentang dirinya dan Binar hadir dan mengisi benak pria itu. Sebuah kebersamaan yang singkat tapi penuh arti dan meninggalkan jejak teramat dalam.


Sementara Chand yang merasa cemas karena Binar tak juga kembali, mencoba untuk menghubungi gadis itu. Akan tetapi, Binar tak menjawab panggilan darinya. Chand pun inisiatif untuk mencari langsung. Namun, sebelum duda tampan tersebut tiba di tempat yang dituju yaitu toilet, dia sudah terlebih dulu melihat adegan yang membuat dirinya harus memicingkan mata. Chand pun berdiri di balik dinding yang menuju koridor ke arah lain.


"Berbaliklah. Tatap aku, Binar," pinta Arsenio menyebutkan nama yang membuat Chand seketika tersentak. Dia tak pernah menyangka bahwa gadis yang selama ini berada di dekatnya adalah seseorang yang sedang dicari Arsenio.


"Tolong tinggalkan aku. Kumohon, jangan menggangguku," balas Binar seraya menepiskan tangan Arsenio dari pundaknya. Gadis itu berbalik, tapi segera melangkah pergi meninggalkan pria tampan berambut cokelat tadi.


"Binar," panggil Arsenio yang terpaku sejenak, sebelum memutuskan untuk mengikuti langkah gadis itu.


"Jangan mengikutiku!" cegah Binar yang tahu jika Arsenio berada di belakangnya.


"Kenapa? Aku sudah berusaha untuk menemukanmu," ucap Arsenio kembali meyakinkan.


"Jangan mengikutiku!" tolak Binar lagi tanpa menanggapi ucapan pria itu. Dia melangkah cepat, hingga dirinya hampir jatuh tersungkur. Sementara Arsenio yang melihat hal itu bermaksud untuk membantu. Akan tetapi, lagi-lagi Binar menolak. Dia lebih memilih melepas sepatu yang dikenakannya dan melanjutkan langkah sambi menjinjing alas kaki mahal tersebut.

__ADS_1


"Nirmala," panggil Chand saat gadis itu melewati tempatnya bersembunyi.


Binar tertegun, kemudian menoleh. Chand sedang berjalan ke arahnya. Sementara Arsenio segera menghentikan langkah, saat melihat sahabatnya tersebut telah berdiri di hadapan gadis yang telah berhasil mencuri perhatiannya.


"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Chand pura-pura tak melihat apapun. Tanpa sungkan, dia menyeka sisa air mata yang membasahi pipi Binar. Chand kemudian menangkup paras cantik gadis yang saat itu hanya terdiam menatapnya sayu. Entah ada keberanian dari mana, duda tampan yang baru resmi bercerai tersebut akhirnya mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Binar. Sedangkan gadis yang masih tengah menjinjing sepasang sepatu di tangan kanan dan memegangi clutch bag pada tangan kiri, hanya terdiam pasrah tak menolak sama sekali.


Gemuruh dalam dada Arsenio kian menjadi saat harus menyaksikan adegan tadi. Adalah hal sama yang pernah dia lakukan dulu terhadap Binar, saat di dekat air terjun. Kini, Chand lah yang melakukan itu. Lalu, apa yang dapat dia lakukan sekarang?


Arsenio menyandarkan tubuh pada dinding. Dia tak ingin terus menjadi penonton dari adegan yang membuatnya merasa mual. Hingga beberapa saat berlalu, pria itu sudah tak melihat lagi keberadaan Chand dan juga Binar di sana. "Sialan!" makinya penuh emosi. Rasa kesal dalam hati, dia lampiaskan dengan memukul dinding beton yang tadi menjadi tempatnya bersandar. "Sialan kamu, Chand!" umpatnya lagi seraya kembali memukul dinding.


Sementara Chand saat itu membawa Binar ke dekat mobilnya, karena gadis tersebut merengek minta pulang. "Aku bisa kembali ke apartemen dengan taksi," tolak Binar saat Chand hendak mengantarnya.


"Tidak boleh. Ini sudah malam." Chand segera membuka pintu mobil, kemudian mempersilakan Binar untuk masuk.


"Kakak harus mengawasi jalannya acara," tolak Binar lagi sebelum masuk ke dalam kendaraan milik pria tampan berdarah Jawa-India tersebut.


Binar masih terdiam dengan tatapan lurus ke depan. Sepatu yang tadi dia jinjing, diletakkannya begitu saja di dekat kakinya. Sementara kedua tangan menggenggam erat clutch bag. Pikiran gadis dua puluh tahun itu teramat kacau. Dia bahkan tak melakukan protes atau membahas apa yang tadi Chand lakukan terhadapnya.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Chand setengah menghadapkan tubuh kepada gadis itu. Sebelah tangannya dia letakkan di atas kemudi. Sementara Binar yang saat itu sedang termenung dengan pikiran dan perasaan yang tak karuan, segera tersadar. Dia lalu menoleh. Gadis itu pun menggigit bibir bawahnya. "Ada apa?" tanya Chand lagi. Pria itu masih berpura-pura tak mengetahui apapun.


"Tidak ada, Kak. Aku ... aku hanya tak terbiasa berada di antara orang-orang dari kalangan atas seperti mereka yang ada di pesta tadi," kilah Binar. Dia tahu bahwa alasan yang dikemukakannya teramat mengada-ada.


"Apakah kamu tidak masalah dengan apa yang kulakukan tadi?" tanya Chand lagi mengingatkan Binar pada adegan ciuman di antara mereka. Akan tetapi, Binar tak menjawab. Gadis itu memilih untuk menundukkan wajah.


Chand pun mencoba untuk memahami. Dia hanya menggumam pelan, kemudian menyalakan mesin mobil. Tak berselang lama, kendaraan mewahnya melaju pergi meninggalkan area parkir tempat berlangsungnya pesta.

__ADS_1


Selama di dalam perjalanan, keduanya saling terdiam. Ada rasa canggung yang menyelimuti mereka. Namun, Chand yang sudah berpengalaman dan jauh lebih dewasa, segera dapat menguasai suasana. Pria itu meraih jemari lentik Binar, kemudian menggenggamnya dengan erat. Dia tak peduli meskipun harus menyetir dengan satu tangan.


Sementara pesta masih berlangsung. Arsenio tengah diliputi perasaan marah dan juga kesal tarhadap Chand yang dikira telah sengaja menyembunyikan Binar darinya. Pria tampan itu melangkah masuk ke dalam ballroom, kemudian meraih tangan Winona tanpa banyak bicara. Dia menuntun tunangannya yang cantik itu keluar dari sana. Indah yang melihat hal tersebut, segera mengikuti mereka.


"Arsen, tunggu. Pelan-pelan!" protes Winona yang harus mengikuti langkah cepat Arsenio. Winona bahkan tak tahu pria itu akan membawanya ke mana, terlebih karena Arasenio pun memegangi tangannya dengan kencang. "Lepaskan, Arsen. Sakit!" protes Winona lagi ketika mereka tiba di sebuah taman yang sepi.


Arsenio terdiam sejenak, sebelum dia melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Winona. Pria itu kemudian membalikkan badan, sehingga jadi menghadap kepada wanita cantik yang terlihat keheranan atas perilaku kasar tunangannya.


"Ada apa, Arsen?" tanya Winona penasaran.


Arsenio tak segera menjawab. Dia menatap Winona dengan tajam pada awalnya. Namun, sesaat kemudian sorot mata cokelat terang itu semakin melunak. Dia sadar, tak seharusnya melampiaskan kemarahan pada Winona. Akan tetapi, dorongan dalam diri Arsenio telah bulat dan begitu kuat menguasai hati serta pikirannya. Sementara Indah terus memperhatikan apa yang terjadi antara kedua sejoli itu dari kejauhan. Dia begitu penasaran dengan pasangan tersebut.


"Ada apa, Arsen?" tanya Winona lagi semakin penasaran.


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," jawab Arsenio.


"Apa?" tanya Winona.


"Aku ingin membatalkan pertunangan kita."


.


.


.

__ADS_1


Wah, suasana semakin memanas yaa. Gimana kalo kita dinginkan dengan yang seger2 dan keren seperti karya yg satu ini? 😍



__ADS_2