
Perlahan, Binar membuka mata. Pandangan yang awalnya buram, kini berangsur jelas. Sosok Lucas yang tengah duduk di samping ranjang sambil memainkan ponsel, merupakan pemandangan yang pertama kali wanita muda itu lihat. "Lucas?" panggilnya pelan. "Apa yang terjadi?" tanya Binar dalam bahasa Inggris.
"Hai, Binar. Syukurlah kau sudah siuman," ucap Lucas lega. "Kau tadi pingsan. Sepertinya asupan gulamu terlalu rendah," jawab Lucas yang segera meletakkan ponsel dan memusatkan perhatian kepada Binar sepenuhnya.
"Aku memang tidak sempat sarapan tadi pagi, karena bangun kesiangan," tutur Binar malu-malu. Dia berniat untuk duduk ketika sadar bahwa di tangan kirinya sudah menancap sebuah jarum infus. "Kenapa ini?" Wanita muda itu memperhatikan selang infus yang menempel di punggung tangan. "Kenapa aku sampai diinfus?" pikir Binar setengah bergumam.
"Ehm, biar dokter nanti yang menjelaskan," sahut Lucas. Selesai berkata demikian, seorang dokter berseragam biru masuk ke dalam ruang perawatan, lalu menyapa serta mengajak Binar berbincang. Namun, sayangnya karena dokter itu berbicara dalam bahasa Jerman yang sama sekali tak bisa dipahami oleh Binar. Beruntung, ada Lucas di dekatnya yang membantu menerjemahkan penjelasan sang dokter tadi.
"Dokter mengatakan bahwa infus itu berisi cairan vitamin untuk meningkatkan stamina tubuhmu," jelas Lucas. "Kau harus menjaga makanan demi janin yang kau kandung, " lanjutnya lagi.
"A-apa? Ja-janin?" desis Binar dengan mata terbelalak. Dia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya tengah berbadan dua. Keringat dingin mulai keluar saat wanita muda itu menatap Lucas dan sang dokter secara bergantian. Ini merupakan sesuatu yang benar-benar di luar dugaannya.
Seketika, pikiran Binar tertuju kepada sang suami. Entah seperti apa tanggapan Arsen nantinya, andai pria itu mengetahui kabar mengejutkan ini.
"Kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Lucas keheranan saat melihat wajah Binar yang sama sekali tak menyiratkan kebahagiaan. Lucas bahkan menangkap keresahan dalam bahasa tubuh wanita muda tersebut.
"Tidak ada. Kurasa kita harus segera kembali ke restoran," jawab Binar seraya memandang ke arah sang dokter. Dia seakan meminta persetujuan. Sedangkan Lucas pun sudah tahu akan tugasnya untuk menerjemahkan kalimat Binar pada sang dokter.
Dokter itu Langsung menggeleng, sesaat setelah Lucas selesai berbicara. Telunjuknya mengarah pada kantong cairan infus. "Wait until the infusion runs out (tunggulah sampai cairan infusnya habis)," saran sang dokter.
"Berapa lama?" tanya Binar was-was.
"Antara empat sampai lima jam," jawab dokter tersebut dalam bahasa Inggris.
"Ya, ampun. Itu terlalu lama, Dokter. Saya harus bekerja," pinta Binar setengah memohon.
"Hei, jangan pedulikan tentang restoran, karena yang terpenting saat ini adalah kesehatanmu," tegur Lucas. "Marilyn pasti mengerti. Dia sendiri yang meneleponkan ambulans untukmu," lanjutnya.
"Iya, ta-tapi ...." Binar terbata. Dia bingung harus berkata apa.
"It's okay, Binar. Percayalah padaku," ujar Lucas menenangkan.
Akhirnya, Binar pun tak memiliki alasan lagi untuk menolak. Dia tak punya pilihan selain menuruti ucapan dokter tadi. Terlebih ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. "Ah," desah Binar pelan.
__ADS_1
"Cobalah untuk beristirahat sejenak," saran sang dokter sebelum berlalu meninggalkan ruangan.
Tentu saja Binar tak bisa beristirahat dengan tenang. Ada ketakutan tersendiri dalam hatinya saat mengingat perkataan Arsenio yang tak ingin buru-buru memiliki momongan sebelum kehidupan finansialnya membaik. "Bagaimana ini?" gumam wanita muda itu lirih. Binar mengingat-ingat kapan terakhir kali dia meminum pil penunda kehamilan.
"Apa kau baik-baik saja, Binar? Tasmu tadi tertinggal di restoran. Sedangkan kami tak berani untuk membongkarnya untuk mengambil ponselmu. Jika kau ingin mengabari suamimu, kau bisa menggunakan ponselku." Lucas menyodorkan ponselnya pada Binar.
"Tidak, jangan! Jangan katakan apapun pada suamiku! Jangan sampai dia tahu bahwa aku masuk rumah sakit dan sedang diinfus," tolak Binar panik.
"Kenapa?" Lucas mulai curiga.
"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberitahukannya di rumah nanti," kilah Binar.
"Oh, baiklah." Lucas pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Kau pulang saja, Lucas. Aku bisa pulang sendiri nanti," pinta Binar.
"Tidak. Aku akan tetap di sini sampai cairan infusmu habis," sahu Lucas tersenyum lebar, lalu kembali duduk seraya menyilangkan kaki. Mata birunya pun tak lepas dari memandang paras cantik Binar.
Binar yang cemas, menjadi semakin gelisah. Pada akhirnya dia memutuskan untuk berbaring dan menunggu hingga cairan dalam kantung infus benar-benar habis.
"Danke schön (terima kasih banyak)," ucap Lucas seraya mengangguk.
"Apa yang dokter itu katakan?" tanya Binar setelah sang dokter keluar dari ruangan.
"Dia menyuruhmu untuk menebus obat penguat kandungan dan beristirahat total selama beberapa hari," jelas Lucas dengan sorot mata yang terlihat aneh di mata Binar.
"Kau tahu kalau itu tidak mungkin, bukan? Aku harus bekerja." Binar tertawa lirih, kemudian turun dari ranjang.
"Um, Binar. Mungkin, ada satu hal yang harus kau tahu," cegah Lucas yang masih berdiri di tempatnya, sedangkan Binar sudah sampai di ambang pintu.
"Apa?" Wanita muda itu menoleh dengan penuh tanda tanya.
"Ah, biarlah Marilyn yang menjelaskan. Kita kembali ke kantor saja dulu," ajak Lucas.
__ADS_1
Dari rumah sakit, mereka menggunakan taksi hingga tiba di restoran. Namun, Lucas tak segera membawa Binar ke ruang pelatihan, melainkan ke ruangan Marilyn.
Perasaan Binar menjadi tak enak saat itu. Terlebih ketika Lucas ikut masuk dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu, Binar? Apa kau baik-baik saja?" Marilyn yang awalnya berkutat dengan tumpukan berkas, segera meletakkan kertas-kertas tersebut dan memusatkan perhatian pada Binar sepenuhnya.
"Kondisinya baik-baik saja, tapi ...." Lucas tak melanjutkan kata-katanya. Dia malah melirik kepada Binar, seakan memberi isyarat untuk ikut menjelaskan pada Marilyn.
"Aku baik-baik saja, Miss Marilyn. Aku hanya sedang dalam kondisi hamil, akibatnya jadi merasa mudah lelah," terang Binar.
Marilyn tampak terkejut mendengar pengakuan Binar. Dia yang awalnya duduk tegak, segera menyandarkan punggungnya di kursi. "Sayang sekali, Binar," ucap wanita cantik berambut keriting itu mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja.
"Seperti yang kita semua ketahui, merupakan sebuah peraturan dan tertulis jelas di restoran ini, bahwa seorang pelayan haruslah tidak dalam keadaan hamil," jelas Marilyn dengan nada bicara yang terkesan sangat hati-hati.
"A-apakah itu maksudnya?" tanya Binar terbata.
Marilyn mengempaskan napasnya berkali-kali sebelum menjawab pertanyaan Binar. Dia juga memandang iba ke arah Binar.
"Dengan sangat menyesal, kuputuskan bahwa kau tidak bisa mengikuti magang ataupun bekerja di tempat ini lagi, Binar," ucap Marilyn beberapa saat kemudian.
"Apa?" Mata indah Binar membulat sempurna. Dia yang kebingungan, langsung menoleh kepada Lucas. "Apa maksudnya?"
"Wanita hamil dilarang bekerja menjadi pelayan, Binar," jawab Lucas yang sedari tadi lebih banyak memilih menyimak.
"Untuk restoran mewah, apalagi berstandar dan bergelar Michelin, seorang pelayan dituntut untuk berpenampilan sebaik dan serapi mungkin. Mereka harus menggunakan seragam seperti rok span ketat yang tentu saja tidak dianjurkan untuk wanita hamil seperti dirimu," lanjut Marilyn dengan sorot penuh sesal.
.
.
.
Kasihan, jadi pengen duduk dan merenung, tapi takut kesambet. Okelah, daripada merenung, ada satu karya keren yang wajib disimak, biar pikiran ga kosong👇
__ADS_1