Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Di Bawah Kilatan Cahaya


__ADS_3

Seperti biasa, Binar dan Arsenio berjalan menuju restoran sambil terus bergandengan tangan. Tak sedetik pun Arsenio melepaskan genggamannya dari tangan sang istri. Sesekali, pria itu mengecup punggung tangan berkulit kuning langsat yang membalut tubuh Binar. “Sayang, kamu harus bisa menghapal rute yang kita lalui setiap hari,” pesan Arsenio.


“Jangan khawatir, Rain. Aku sudah bisa menghapalnya, tapi ….” Binar memandang cemas ke arah suaminya. Bagi Arsenio, hal itu terlihat sangat menggemaskan.


“Kenapa lagi?” Arsenio memencet hidung Binar sampai gadis cantik itu memekik kesakitan.


“Nanti sore, aku mulai kursus di tempat Shelby. Pulangnya bagaimana, ya?” pikir Binar gelisah dengan setengah bergumam.


Arsenio tertawa renyah saat menanggapinya. “Kirimkan saja alamatnya padaku. Nanti sepulang kerja, aku akan menjemputmu ke sana. Setelah itu, kubantu kamu untuk menghapal jalan,” jawab Rain.


“Memangnya kamu tidak bisa menjemputku pulang kursus setiap hari ya, Rain?” Binar kembali menunjukkan wajah cemberutnya.


“Begini, Sayangku.” Arsenio menghentikan langkah, lalu menghadap ke arah Binar. Pria itu kemudian memegang kedua pundak sang istri. “Kemungkinan dalam dua atau tiga hari ini aku harus berangkat ke Frankfurt untuk menyurvei lokasi,” jelasnya hati-hati.


“Ka-kamu akan menginap di sana? Untuk berapa lama? Ja-jadi aku akan sendirian di apartemen?" Belum apa-apa, Binar sudah terlihat gusar.


“Seandainya bisa, aku pasti akan mengajakmu. Akan tetapi, apakah boleh kamu mengajukan libur?” Arsenio balik bertanya.


“Aku tidak tahu,” Binar mengempaskan napasnya pelan. “Setiap hari kami mendapatkan materi dan latihan yang berbeda-beda. Jam latihan juga ditambah mengingat jadwal soft opening yang sudah semakin dekat. Namun, setiap weekend bisa dipastikan kami libur,” jelasnya.


“Kalau begitu, aku akan mencoba berbicara pada teman-temanku. Semoga mereka berkenan untuk melakukan survei lokasi pada hari Sabtu dan Minggu, supaya aku bisa mengajakmu ke sana. Kita bisa sekalian berjalan-jalan.” Arsenio mendekatkan wajahnya, lalu mengecup singkat bibir Binar.


“Kita sudah sampai. Masuklah,” suruh Arsenio. “Nanti aku akan menjemputmu sepulang kursus.”


“Sampai jumpa nanti sore, Rain.” Tak seperti biasanya, Binar balas mengecup bibir Arsenio. Kecupannya bahkan jauh lebih lama dan lebih dalam. Dia seakan telah terbiasa dengan hal seperti itu, sehingga tak merasa canggung lagi.


“Wow, Sayangku. Perkembanganmu sungguh luar biasa,” seru Arsenio yang tak dapat menyembunyikan raut bahagianya. Akan tetapi, Binar tak menanggapi. Dia hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.


Setelah sang istri sudah masuk ke dalam gedung mewah tersebut, Arsenio kembali melanjutkan langkahnya menuju kantor.


Hari itu dia lalui dengan lancar seperti biasa, sampai tiba waktu pulang. Ketika memasuki lift, dia berpapasan dengan Agatha yang sepertinya baru dari lantai di atasnya.

__ADS_1


“Kebetulan, aku sudah meminta izin pada Normand untuk mengajakmu ke sesi pemotretan dan pengambilan gambar,” jelas Agatha tanpa diminta.


“Apa?” Arsenio yang berdiri agak jauh dari mantan kekasihnya itu langsung menoleh dengan raut keberatan. “Aku belum memberikan kata 'setuju'. Apa-apaan itu?" protes Arsenio.


"Kau pasti setuju. Aku begitu mengenalmu, Arsen.” Agatha tersenyum penuh kemenangan.


“Astaga.” Arsenio menggelengkan kepala seraya mengacak-acak rambutnya.


“Aku juga mendengar dari Normand bahwa kau dan istrimu tengah berusaha untuk mengajukan izin tinggal di Jerman. Aku bisa membantumu untuk itu,” ujar Agatha lagi.


Kali ini, Arsenio menatap Agatha dengan sorot tak percaya. “Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?”


“Aku tidak pernah bercanda untuk sesuatu sepenting ini,” jawab Agatha bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Mereka berdua sudah tiba di lantai dasar. “Ayo. Sekarang kau ikut denganku,” ajak wanita itu seenaknya.


“Apa-apaan ini?” Arsenio menepis Agatha yang berusaha melingkarkan tangan di lengannya.


“Aku akan mengajakmu ke tempat yang sudah kukatakan kemarin. Aku tidak perlu mengirimkannya padamu lewat pesan, karena kita sudah bertemu secara langsung,” dalih Agatha yang seakan tak hendak menyerah.


“Ya, ampun.” Arsenio mengempaskan napasnya kasar. “Mau ke mana kita?” tanya pria tampan itu pada akhirnya.


“Bisakah kau jalankan saja kendaraannya? Kau sudah membuatku kesal, Agie. Seharusnya dirimu tahu bahwa tindakan yang baru saja kau lakukan tadi termasuk pelecehan,” protes Arsenio.


“Kenapa bisa begitu?” Agatha mengernyitkan kening


“Kau memaksaku melakukan sesuatu yang tidak aku suka. Itu termasuk pelecehan,” tegas Arsenio dengan mimik serius.


“Aku hanya menyentuh tangan saja, Arsen! Padahal dulu kita sampai ….”


“Hentikan! Aku tidak suka mengungkit masa lalu. Satu hal yang patut kau ingat, kita berdua tidak tinggal lagi di masa lalu, terutama aku. Aku sudah menikah dan sangat mencintai Binar, istriku!” Arsenio memotong kata-kata Agatha begitu saja.


Wanita cantik tadi terdiam mendengar perkataan Arsenio. Tatapan mata indahnya tampak begitu terluka. Namun, dia tak berbicara lagi, sampai mobil yang dirinya kendarai berhenti di depan bangunan tiga lantai bercat putih.

__ADS_1


“Ayo, masuk,” ajaknya pada Arsenio yang tengah berkirim pesan dengan seseorang.


Agatha membuka pintu bangunan itu lebar-lebar, hingga tampak ruangan luas berdesain modern dan minimalis. Ada beberapa meja di sana, serta sofa memanjang yang terletak di tiap sudut.


“Ini adalah kantor agensi yang berada di bawah naungan Rose Petals Entertainment. Salah satu pegawainya yang juga adalah seorang fotografer terkenal, akan mengambil gambarmu dan memasukkannya ke dalam proposal iklan. Sekadar untuk syarat saja. Namun, kupastikan kau sudah diterima sebagai model kami,” terang Agatha.


“Proses syuting dan pemotretan akan dilakukan sesuai dengan jadwalmu. Kau boleh mengajukan jadwal yang sekiranya longgar,” lanjut wanita cantik itu.


“Kalau Sabtu-Minggu, bagaimana?” tawar Arsenio.


Agatha terdiam sejenak. Dia tampak berpikir sampai akhirnya mengangguk mengiyakan. “Aku bisa mengaturnya.”


“Baguslah. Dengan begitu, aku bisa mengajak serta istriku.” Seutas senyuman yang tampak begitu menawan, terkembang dari bibir tipisnya.


Agatha sudah membuka mulut, bersiap untuk menanggapi Arsenio. Namun, seorang pria lemah gemulai telah lebih dulu datang dan menghampiri mereka berdua. “Hallo, Agatha. Ist er der Typ, von dem du gestern gesprochen hast (apakah dia lelaki yang kau bicarakan kemarin?” tanyanya.


“Ya, orang ini yang kumaksud. Dia akan kita jadikan model untuk memasarkan opera house,” jawab Agatha dengan yakin.


“Hm.” Pria gemulai tadi memperhatikan Arsenio dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. Dia lalu bertepuk tangan sambil menggeleng penuh kekaguman. “Aku selalu menyukai pilihanmu, Agatha. Dia sempurna!” sanjungnya.


“Bisakah kita mulai? Aku takut terlambat menjemput istriku,” pinta Arsenio yang mulai terlihat resah.


“Wah, rupanya dia juga seorang family man. Benar-benar tipeku.” Pria itu mengedipkan sebelah matanya kepada Arsenio.


“Ayolah, Phillips. Kau dengar sendiri bahwa dia tak bisa berlama-lama.” Setengah memaksa, Agatha mendorong pria gemulai tadi ke arah tangga. Dia juga menggerakkan kepala pada Arsenio sebagai isyarat agar mantan kekasihnya itu mengikuti langkah menuju lantai atas.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Arsenio pun mengikuti kedua orang itu ke lantai dua yang ternyata merupakan studio foto. Tampak beberapa orang pria dan wanita berlalu lalang di sana.


“Berdirilah di titik ini,” suruh pria yang belum dia ketahui namanya. Pria itu menunjuk sebuah spot yang penuh dengan lampu dan latar belakang berupa layar hijau.


Sesaat kemudian, salah seorang pegawai si pria gemulai datang menghampiri sambil membawakan beberapa kostum untuk Arsenio coba. “Ruang ganti di sebelah sana,” tunjuk Agatha yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Arsenio.

__ADS_1


Terlebih saat proses pemotretan berlangsung. Arsenio dengan berbagai pose dan juga kostum yang berganti-ganti, menunjukkan kebolehan dan gayanya di depan kamera, membuat Agatha tak berkedip.


Demikian pula Arsenio yang tenggelam dalam kilatan lampu kamera dan cahaya terang di sekelilingnya. Dia seolah lupa, bahwa beberapa kilometer dari tempatnya berdiri, Binar sudah menunggu untuk pulang bersama.


__ADS_2