
"Apa? Istri Chand?" Arsenio terkejut bukan main saat mendengar jawaban dari Winona. Dia lalu membuka pintu kemudian masuk dan duduk. Arsenio membiarkan Winona yang mengemudikan mobilnya.
"Ya, mereka suami istri," jawab Winona menegaskan seraya memasang sabuk pengaman.
"Jika mereka suami istri, lalu kenapa tadi Chand pergi begitu saja?" pikir Arsenio heran.
"Itu karena mereka sekarang sedang dalam proses perceraian. Jadi, mungkin Chand hanya ingin menjaga jarak dengan Ghea. Entahlah, aku tidak terlalu tahu ada masalah apa di antara mereka. Namun, aku pernah mendengar bahwa ada orang ketiga dalam rumah tangga keduanya," jelas Winona seraya menyalakan mesin mobil. Wanita cantik itu tersenyum getir sebelum mengenakan kaca mata hitamnya.
"Entah apa yang ada di dalam pikiran orang-orang seperti itu," gumam Winona kemudian melajukan kendaraan, meninggalkan halaman parkir.
"Maksudmu?" tanya Arsenio tak mengerti.
"Aku mengenal Chand dengan baik. Dia pria yang dewasa dan sangat bertanggung jawab. Setahuku Chand begitu memanjakan Ghea selama mereka berada dalam ikatan pernikahan. Namun, nyatanya itu tak berarti apa-apa bagi Ghea. Dia tetap saja mencari pelampiasan terhadap pria lain," jelas Winona. Tangannya lihai mengendalikan kemudi hingga mobil itu melaju dengan stabil pada jalurnya.
Sementara Arsenio tak menanggapi lagi. Pikirannya terasa semakin semerawut. Jika dirinya yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Chand, maka itu merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Seperti yang telah diketahui bahwa Chand merupakan sahabat sekaligus seseorang yang sudah seperti saudara baginya. Kedua orang tua Arsenio bahkan telah menganggap Chand sebagai anak kandung mereka
Lain Arsenio, lain juga dengan Binar. Gadis yang masih berada di kediaman wanita bernama Irma itu tengah berkemas. Dia berniat untuk berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanannya ke Jakarta, ketika melihat siarang langsung di televisi tentang konferensi pers dua pasangan muda-mudi yang tampak saling mencintai. Wajah dan sikap mesra keduanya memenuhi layar televisi, membuat Binar seperti kehilangan segala harapan.
Ya, itu adalah Rain. Pria tampan yang telah dia tolong dan pernah menghabiskan waktu selama beberapa hari di rumah Widya, sang ibu tiri. Rain yang ada di televisi, tampak sangat berbeda dari pria yang telah mencuri ciuman pertamanya saat itu. Pria yang Binar lihat di layar kaca tadi, bukanlah seseorang sederhana yang dia kenal dengan nama Rain. Terlebih karena pria itu ternyata telah memiliki pasangan. Seorang wanita yang jauh berbeda dengan dirinya.
"Oh, sudah ketemu ya dia?" ujar seorang gadis muda seusia Binar. Dia adalah Nastiti, putri dari Irma. Nastiti kemudian duduk di sebelah Binar.
"Memangnya siapa dia?" tanya Binar berpura-pura tak pernah mengenal sosok Rain alias Arsenio.
"Itu, Mbak. Mereka itu selebgram. Pengikutnya banyak sekali di sosial media. Serasi ya, Mbak. Cantik dan ganteng. Sama-sama dari kalangan atas," terang Nastiti sambil tersenyum. Dia lalu meraih remote televisi, kemudian memindahkan ke saluran lain.
__ADS_1
"Aku tidak tahu itu. Memangnya siapa yang hilang?" Binar memaksakan senyum, walaupun hatinya tak karuan.
"Arsenio Wilhelm Rainier. Dia bisnisnya banyak, Mbak. Mereka itu pasangan sukses," jelas Nastiti lagi.
"Oh, begitu. Hebat sekali, masih muda sudah bisa meraih kesuksesan sebesar itu." Binar pura-pura tertawa renyah. Namun, sesaat kemudian gadis itu lalu tercenung menatap ransel hitamnya. “Nas, bu Irma ke mana?” tanyanya tiba-tiba.
“Ada. Tadi Ibu sedang di belakang? Kenapa, Mbak? Mbak mau berangkat sekarang? Biar kupanggilkan ibu,” ujar Nastiti seraya berdiri.
“Ah, tidak usah. Biar aku saja yang ke sana,” cegah Binar seraya memegangi pelan lengan Nastiti. “Titip tasku sebentar, ya,” pesannya dengan mata berkaca-kaca. Sebisa mungkin dia menahan agar air matanya tak terjatuh.
“Lurus saja, Mbak,” tunjuk Nastiti yang segera disambut dengan anggukan kepala oleh Binar. Dia berjalan melewati ruang tengah, dapur hingga tiba di halaman belakang. Tampak Irma tengah menyiangi rumput di kebun miliknya.
“Bu,” panggil Binar ragu-ragu.
“Justru itu, Bu,” sahut Binar lirih. Dia tampak gugup. Berkali-kali gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Kenapa, Nak?” tanya Irma keheranan.
“Sa-saya sudah dua hari tinggal di sini. A-apa tidak merepotkan Ibu kalau saya menginap semalam lagi?” Binar malah balik bertanya dengan suara terbata.
“Ya ampun, Ibu kira apa. Ya, tentu saja. Kamu bisa tinggal di sini selama apapun, Nak. Ibu tidak masalah. Lagi pula, Ibu hanya tinggal berdua saja bersama Nastiti. Kadang rasanya kesepian. Makanya, Ibu malah senang kalau kamu di sini. Rumah makin ramai, yang membantu Ibu juga jadi bertambah,” ujarnya mencoba bercanda.
“Terima kasih banyak ya, Bu,” ucap Binar penuh haru. Dia sama sekali tak menyangka jika akan semudah itu dalam mendapatkan izin. Sudah lama rasanya dia tak mendapatkan kelembutan dan perhatian khas seorang ibu. Air mata yang ditahannya sejak tadi, kini lolos sudah.
“Lho, kok menangis?” Tanpa permisi, wanita itu langsung merengkuh tubuh Binar dan memeluknya erat.
__ADS_1
“Saya merepotkan Ibu,” jawab Binar di antara isakannya.
“Jangn sungkan selama berada di sini. Ibu tidak merasa direpotkan sama sekali,” tegas Irma, “tapi, kalau boleh tahu, apa kamu tidak jadi pergi ke Jakarta? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya hati-hati.
“Saya sudah tidak punya keinginan pergi ke Jakarta, Bu. Seperti yang Ibu katakan pada saya kapan hari, Jakarta itu terlalu keras,” kilah Binar. Sesungguhnya gadis itu hanya tak sanggup jika harus pergi ke kota yang sama dengan Rain dan kekasihnya. Walaupun Jakarta amatlah luas, tapi tayangan televisi tadi sudah cukup meruntuhkan keberanian dan mentalnya. “Saya memutuskan untuk mencari kerja di Yogyakarta saja, Bu,” putus Binar.
“Alhamdulillah,” wanita itu benar-benar terlihat tulus dan bahagia. “Sepertinya itu keputusan yang baik, Nak. Di sini juga banyak lowongan, tidak kalah dengan Jakarta. Biar Ibu panggilkan Nastiti,” ucap Irma yang segera menuntun tangan Binar dan membawanya ke tempat Nastiti berada. “Nas!” panggilnya.
“Iya, Bu?” sahut Nastiti tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.
“Di tempatmu ada lowongan pekerjaan tidak?” tanya Irma.
“Kenapa memangnya?” Kali ini perhatian Nastiti beralih kepada ibunya.
“Kasihan Nak Binar. Daripada harus jauh-jauh cari kerja di Jakarta, kenapa tidak melamar di tempatmu saja?” saran Irma.
“Mbak Binar punya ijazah apa?” Nastiti mematikan televisi, kemudian mengalihkan perhatian kepada Binar.
“Aku hanya lulusan SMA, Nas,” jawab Binar seraya meraih tas ransel yang tergeletak di samping kursi tempat Nastiti berada. Dia kemudian mengeluarkan map plastik transparan berisi beberapa surat-surat penting. Binar pun kemudian menyerahkannya kepada putri dari Irma tersebut.
Nastiti menerima map itu dan membukanya. Dia mengamati lembar demi lembar kertas milik Binar. “Oh, mbak Binar pernah ikut kursus bahasa Inggris? Pernah ikut tes TOEFL juga? Wah, bahasa Inggris mbak Binar bagus sekali,” celoteh Nastiti tanpa henti sambil terkagum-kagum.
“Kebetulan Mbak, aku kerjanya di banyak tempat. Istilahnya part time. Aku jadi freelance juga, Mbak. Karena anak kuliahan seperti aku, susah kalau harus bekerja penuh waktu. Kalau mbak mau, mbak Binar bisa mendaftar kerja part time, sama seperti aku. Peluang diterimanya jauh lebih besar. Uh, tapi … gajinya juga lebih kecil. Solusinya adalah Mbak melamar kerja paruh waktu di banyak tempat. Bagaimana?” tawar Nastiti.
“Iya, aku mau,” Binar mengangguk mantap. "Tak apa gajinya kecil, yang penting selama tinggal di sini aku tidak terlalu menggantungkan hidup pada kalian. Lagi pula, aku juga punya dua orang adik yang masih butuh banyak biaya untuk sekolah mereka, jadi ...." Binar terdiam sejenak. Rasa rindunya kembali hadir, ketika dia teringat akan Wisnu dan juga Praya. Entah bagaimana kabar mereka saat ini.
__ADS_1