
Jam antik di sudut lorong menuju lantai kamar Arsenio tiba-tiba terdengar berdentang sebanyak tiga kali. Suaranya yang nyaring dalam suasana sunyi rumah megah Keluarga Rainier, membuat Arsenio tersentak. Seketika, pria itu terbangun dari tidurnya.
Begitu pula dengan Binar yang memang kesulitan tidur sejak awal. “Jam itu aneh sekali, Rain. Aku jadi takut,” ucapnya lirih.
“Aku juga heran. Jam itu sudah lama mati. Hanya saja papa melarang untuk memindahkannya, karena benda antik itu adalah peninggalan dari nenek buyutku,” terang Arsenio. “Mungkin ada bautnya yang longgar. Besok akan kuperiksa,” lanjutnya menenangkan sang istri.
“Sudah. Ini masih malam. Ayo tidurlah, Binar. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus banyak-banyak beristirahat,” ucap Arsenio sambil menarik tubuh ramping sang istri agar bersandar di bahunya yang lebar.
Arsenio mengusap-usap kepala Binar dengan lembut, berharap agar wanita itu segera memejamkan mata. Akan tetapi, pada kenyataannya justru dialah yang tak membutuhkan waktu lama untuk dapat kembali terlelap. Arsenio bahkan terdengar mendengkur halus.
Kondisi berbeda justru terjadi pada Binar. Wanita yang tengah hamil itu sama sekali tak bisa memejamkan mata. Berkali-kali, dia telah berganti posisi. Akan tetapi, rasa kantuk itu tak jua datang. Padahal, usia kehamilan Binar masih terbilang muda. Namun, dia sudah dilanda kesulitan tidur, dan kerap terbangun pada jam-jam tertentu.
Binar akhirnya menyerah. Perlahan, dia menyingkirkan tangan Arsenio yang melingkar di perutnya. Wanita muda itu beringsut turun dari ranjang. Dia bermaksud untuk pergi ke dapur dan meminum beberapa gelas air. Siapa tahu dengan cara seperti itu, dirinya dapat tidur dengan nyenyak.
Dengan memakai sandal bulu, Binar berjalan hati-hati keluar kamar. Dia mengatur langkahnya dengan setenang mungkin, apalagi saat dirinya melewati jam dinding antik berukuran besar dan tinggi, yang terbuat dari kayu berkualitas dan memiliki ukiran indah.
Binar berhenti sejenak di depan benda itu. Dia lalu mengamati bandul lonceng yang terbuat dari perak dan mengkilap. Binar sempat menangkap pantulan dirinya pada permukaan bandul yang cembung. Tiba-tiba saja dia bergidik ngeri, lalu menggeleng pelan saat pikiran-pikiran menakutkan mengganggu benaknya.
Dengan segera, Binar berbalik dan berjalan cepat menuruni tangga. Padahal waktu yang sebenarnya saat itu masih pukul satu malam, tapi jam dinding antik tadi malah menunjukkan waktu yang salah dengan berdentang tiga kali. Lagi-lagi, Binar menggeleng saat merasakan bulu kuduknya meremang.
Sesaat kemudian, akhirnya Binar tiba di dapur. Ruangan tersebut terlihat semakin luas saat tak ada seorang pun seperti saat ini. Binar menarik napas panjang, kemudian membuka pintu kulkas berukuran besar. Diambilnya satu botol air mineral yang memang sengaja didinginkan di rak pintu.
“Minum air hangat itu jauh lebih baik, Nak,” tegur seseorang dengan nada yang begitu lembut.
Seketika, Binar berjingkat saking terkejutnya. Dia bahkan sampai melepaskan botol air mineral yang dirinya pegang, hingga benda itu terjatuh di dekat kakinya. Untunglah Binar sigap menghindar, dan botol itu menggelinding entah ke mana.
"Hati-hati, Nak. Jangan bergerak dengan tiba-tiba seperti itu. Tidak baik untuk kandunganmu," tegur seseorang yang tak lain adalah Anggraini.
“Ma-mama?” ucap Binar terbata. Gugup, dia menurunkan tubuh dengan hati-hati untuk memungut botol yang kini berada di bawah kursi.
“Kenapa belum tidur? Sedang apa malam-malam begini sendirian di dapur? Kenapa kamu meminum air es?” Anggraini terus bertanya dengan tanpa jeda. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan ke arah Binar, sebagai isyarat bahwa dirinya hendak meminta botol mineral yang Binar ambil dari dalam kulkas tadi. Sedangkan Binar tak mempunyai keberanian untuk membantah sang ibu mertua. Dengan terpaksa, dia menyerahkan botol tadi kepada Anggraini.
“Nah begitu," Anggraini tersenyum lembut. Dia mengembalikan botol tadi ke dalam kulkas. Anggraini menggantinya dengan segelas air yang dirinya ambil dari dispenser. “Tidak baik meminum air dingin malam-malam begini, Binar. Suhu udara yang dingin harus dihangatkan dengan minuman hangat,” ucapnya lembut.
“Saya tidak bisa tidur, Ma,” sahut Binar dengan malu-malu. Walaupun dulu dia pernah menjadi asisten pribadi Anggraini dan kerap berbincang dengan wanita itu, tapi hal tersebut tak membuat Binar dapat menanggulangi perasaan canggung kali ini.
__ADS_1
“Pasti kamu terganggu dengan bunyi lonceng itu, ya?” tebak Anggraini sambil berjalan anggun ke dekat meja makan. Dia menarik salah satu kursinya, kemudian mengajak Binar untuk duduk bersama.
“Iya, Ma. Padahal sejak saya tinggal di sini, saya tidak pernah mendengar jam itu berbunyi,” jelas Binar.
“Jam itu sudah berbunyi sebanyak dua kali, semenjak dipindahkan ke rumah ini dari Belanda,” ungkap Anggraini, “yang pertama adalah beberapa hari sebelum Arsenio menghilang karena kecelakaan, dan sekarang ....”
“Ma?” Binar menelan ludah. Jujur saja perasaan wanita muda itu semakin tak menentu, setelah mendengarkan penuturan ibu mertuanya. Pikiran Binar segera tertuju pada Arsenio. Pria itulah yang paling banyak menghadapi marabahaya. Setitik air mata menetes begitu saja tanpa bisa Binar tahan. Hanya membayangkan hidup tanpa Arsenio saja rasanya dia sudah tak sanggup.
“Berdoa saja semoga itu bukan pertanda apapun. Apalagi hal yang buruk,” hibur Anggraini yang mengerti akan keresahan Binar. Lembut tangannya menggenggam jemari sang menantu yang terasa begitu dingin. “Arsenio adalah pria yang sangat kuat. Seburuk apapun kejadian yang menimpanya, dia pasti selalu bisa mengatasi semua itu dengan baik.”
“Ma, saya tetap merasa takut ….” Binar tak mampu menyembunyikan keresahan dalam dirinya. Dia pun memutuskan untuk bercerita tentang mimpi buruk yang terus mengganggu malam-malamnya.
“Binar,” sebut Anggraini lirih, "dalam hidup ini, ada banyak sekali hal yang berada di luar kuasa kita. Sebaik apapun seorang manusia memikirkan dan merencanakan segalanya, tetapi jika itu memang tidak ditakdirkan untuk kita, maka tak ada yang bisa dilakukan selain menerima,” tuturnya.
“Seperti halnya jodoh dan kematian. Dua hal itu sudah digariskan. Jadi, daripada mengkhawatirkan hal-hal yang tak dapat kita kendalikan, lebih baik isilah pikiran kita dengan hal-hal yang positif,” lanjut Anggraini.
“Saya takut mendengarkan satu kata itu, Ma,” suara Binar terdengar bergetar.
“Kenapa mesti takut? Kematian adalah satu hal yang pasti, Nak. Oleh karena itu, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya dengan berbuat kebaikan. Jangan sampai menyesali sesuatu yang sudah tak bisa diulang lagi. Seperti halnya Mama ….” Anggraini menjeda kalimatnya. Telapak tangan yang halus itu berpindah dari tangan Binar menuju ke pipinya.
“Itulah salah satu contoh hal yang berada di luar kuasa kita. Aku hanya berdoa, semoga di sisa umurku ini aku bisa melihat kalian menjalani hidup dengan baik dan bahagia,” pungkas Anggraini seraya memeluk erat menantunya itu.
“Jaga diri dan bayimu baik-baik ya, Nak. Mama bangga pada kalian,” imbuh Anggraini sebelum melepaskan pelukan. Sementara Binar tak sanggup berkata apapun.
“Ingat, tetaplah berpikiran positif. Jangan terlalu memikirkan masa depan yang belum tentu kita akan tiba di sana. Yang penting, jalanilah saat ini dengan sebaik-baiknya.” Anggraini mengangkat telunjuk kanan, seperti seorang guru yang tengah mendidik murid. Dia lalu tertawa sambil menyodorkan segelas penuh air pada Binar. “Sekarang minumlah, semoga tidurmu nyenyak,” suruhnya.
“Terima kasih, Ma." Hanya kata itu yang sanggup Binar ucapkan pada Anggraini, terlebih saat wanita itu mengecup keningnya. Binar semakin membeku.
"Beristirahatlah. Besok pagi mama akan mengajakmu untuk menjenguk Yohana.”
Apa yang Anggraini katakan, malah membuat mata indah Binar semakin terbelalak lebar. Tak mungkin baginya untuk menolak, meskipun dirinya merasa sangat tidak nyaman.
“Jangan takut. Ada Mama seandainya mereka bersikap tidak baik padamu,” ucap Anggraini menenangkan keresahan Binar. “Mama hanya ingin semuanya berjalan secara harmonis sebelum aku pulang.”
Kali ini Anggraini benar-benar mengakhiri petuahnya. Setelah itu dia berjalan anggun menaiki anak tangga menuju kamarnya sendiri. Sementara Binar yang kini sendirian di dekat meja makan, segera meneguk air cepat-cepat sampai habis. Dia buru-buru mengikuti langkah sang ibu mertua dengan tujuan yang berbeda.
__ADS_1
Binar kembali ke kamarnya dan menelusup di balik selimut tebal yang menutupi separuh tubuh Arsenio. Dilihatnya sang suami yang masih terlelap. Binar bergerak perlahan, lalu tidur meringkuk di bawah ketiak pria yang tetap terlihat menawan meskipun dalam keadaan tertidur pulas.
Sayang sekali, Binar hanya sebentar merasakan buaian alam mimpi. Dia langsung terbangun ketika tangan nakal Arsenio bergerilya di sekitar dadanya. “Ayo bangun. Mama mengajak kita menjenguk tante Yohana pagi-pagi,” bisik Arsenio tepat di telinga Binar.
“Rain, aku baru saja tidur,” tolak Binar seraya menjauhkan tangan kekar sang suami dari atas tubuhnya.
“Astaga, ini sudah jam tujuh, Sayang. Mama sudah menunggu di bawah untuk sarapan,” sahut Arsenio.
“Mama menunggu?” ulang Binar. Dia segera membuka matanya, lalu bergegas turun dari ranjang.
“Pelan-pelan, Binar! Ingat kandunganmu,” tegur Arsenio.
“Iya!” Binar menanggapi sambil lalu. Dirinya tak memedulikan tatapan pria bermata coklat terang itu karena sibuk membersihkan dan merapikan diri. Tak berapa lama, Binar sudah siap untuk sarapan bersama.
“Ini adalah sarapan pertama bersama mama dan papa saat status kita sudah menjadi suami istri,” ujar Arsenio yang seketika membuat tubuh Binar menegang.
“Aku jadi teringat dulu waktu kita sarapan bersama kak Chand. Kita ….”
“Tolong jangan sebut namanya. Aku tidak suka,” potong Arsenio.
“Kenapa? Bukankah dia tak pernah mengganggu kita lagi?” balas Binar sembari melangkah pelan menuruni tangga.
“Ya, tapi aku tetap mengingat dengan jelas perlakuannya padamu. Dia melecehkanmu, Binar. Semua itu gara-gara aku,” sesal Arsenio. “Semua hal-hal buruk yang terjadi pada orang-orang yang kucintai, adalah akibat ulahku sendiri di masa lalu.” Pria rupawan itu menunduk dalam-dalam. Langkahnya gontai berjalan di sisi Binar.
“Sudah, Rain. Berusahalah untuk tidak mengingatnya. Tadi malam, mama menasihatiku agar selalu berpikiran positif dan tak mudah takut,” tutur Binar sambil mengusap-usap punggung suaminya.
“Tadi malam? Kapan?” Arsenio mengernyitkan keningnya. Namun, pertanyaan tersebut tak terjawab, sebab saat itu mereka sudah tiba di depan meja makan. Di mana Lievin dan Anggraini sudah duduk di tempatnya masing-masing.
“Ayo, makan dulu. Setelah itu kita akan pergi ke rumah sakit,” Lievin mengulurkan tangan ke arah kursi kosong di sebelahnya, sebagai isyarat agar Arsenio duduk di sampingnya. Sedangkan Binar memilih untuk duduk di sebelah Anggraini.
Acara sarapan pada pagi yang cerah itu diselingi dengan obrolan ringan dan gurauan Lievin yang memang gemar bercanda. Selesai makan bersama, mereka melanjutkan rencana sebelumnya, yaitu menjenguk Yohana di sebuah rumah sakit besar tak jauh dari area perumahan Biantara.
Arsenio yang bertindak sebagai pengemudi, dengan Lievin yang duduk nyaman di kursi samping kemudi. Seperti biasa, para wanita duduk di tengah. Tak berapa lama, kendaraan yang mereka tumpangi telah sampai di area pelataran parkir rumah sakit elite tersebut.
Setelah menanyakan nomor ruangan pada petugas informasi, keluarga Rainier itu bergegas memasuki lift menuju lantai perawatan VVIP. Binar yang sedari awal sudah merasa gelisah, semakin tak karuan ketika pintu lift terbuka dan dirinya mendapati Winona berdiri di depan ruang perawatan sambil berbincang dengan seorang pria paruh baya berpakaian dokter.
__ADS_1