
Arsenio dan Binar saling pandang sebelum menanggapi permintaan Fabien. Terlebih Binar, wanita muda itu langsung terlihat gelisah. Tanpa sadar, dia mere•mas bagian bawah blousenya sambil menatap was-was kepada sang suami.
“Tidak apa-apa, Sayang. Coba kita sapa mama,” ajak Arsenio lembut. Diraihnya jemari Binar, lalu dia kecup punggung tangan itu dengan lembut dan dalam.
“Kita berbincang di ruang keluarga saja,” ajak Fabien. Dia mengajak suami istri itu menuju ke sebuah ruangan cukup luas yang tak kalah berantakan dengan ruangan lainnya. Fabien lalu menunggu sampai Arsenio dan Binar duduk dengan nyaman di sofa. Setelah itu, putra bungsu Anggraini tersebut kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, pemuda itu keluar sambil membawa laptop. Dia meletakkan laptop tadi ke atas meja ruang keluarga dan memulai panggilan video. "Kita pakai ini saja, agar jauh lebih nyaman," ucapnya.
Tak berselang lama, panggilan yang dia lakukan tersambung, sehingga memperlihatkan wajah cantik Anggraini yang memenuhi layar laptop. Ibunda Arsenio itu tampak begitu terharu saat menatap putra sulungnya yang tersenyum sembari merengkuh pundak Binar. “Arsen ….” desis Anggraini lirih.
“Hai, mama. Apa kabar?” sapa Arsenio. Pria rupawan tersebut tengah berusaha menahan rasa sedih dalam dirinya. Sorot mata coklat terang yang indah itu terlihat sendu.
Sementara Anggraini tak segera menjawab. Dia hanya terus menatap ke arah Arsenio tanpa bersuara. Namun, desakan dalam hati terus memaksa agar dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Kamu kelihatan lebih gemuk dan segar,” ujar wanita itu pada akhirnya. “Sepertinya, Nirmala ... ah Binar sudah merawatmu dengan baik,” ucap wanita itu penuh haru.
Merasa namanya disebut, Binar menjadi sedikit tegang. Akan tetapi, dia harus menunjukkan sopan santun terhadap ibu mertua. Wanita muda itupun tersenyum dan mengangguk kepada Angraini.
“Aku dipaksa makan terus setiap saat, ma,” kelakar Arsenio sambil tertawa lebar.
“Ternyata Binar tidak melupakan pesan mama, agar selalu mengingatkan tentang kebiasaan makanmu.” Anggraini tersenyum getir, lalu mengalihkan pandangannya pada sang menantu.
“Saya tidak akan melupakannya, tante … ehm, maksud saya, bu ….” Binar kebingungan bagaimana menyebut wanita cantik yang tengah serius memperhatikannya itu.
“Panggil mama saja. Sama seperti Arsen. Kamu istrinya, itu artinya Binar anak mama juga,” sahut Anggraini tanpa diduga.
Tidak terkira betapa terkejutnya semua orang yang berada di sana, tak terkecuali Fabien. Dia yang berdiri di belakang sofa dengan kedua tangan bertumpu pada sandarannya, langsung terbelalak seolah tak percaya. “Apakah itu artinya mama ….” Fabien ragu-ragu hendak melanjutkan pertanyaan yang ingin dia utarakan.
“Maafkan mama yang terlambat memberikan restu, nak. Seharusnya, dari awal mama sudah berada di pihakmu, sehingga kemarahan Lievin tidak sampai berlarut-larut seperti sekarang,” sesal Anggraini mulai terisak. Berkali-kali dia tampak mengusap pipinya.
“Papa kalian melarangku untuk berhubungan atau bahkan menyebut nama Arsenio. Dia benar-benar berpegang teguh pada kata-katanya untuk membuangmu,” sesal Anggraini lagi. “Dia tak tahu kalau aku sedang bertelepon dengan kalian. Aku sekarang sedang berada di luar.”
__ADS_1
“Ma ….” Hanya satu kata yang dapat keluar dari mulut Arsenio. Tenggorokannya serasa tercekat, sampai-sampai dia tak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan.
“Dia bahkan membuang semua foto-fotomu. Hatiku sakit melihatnya.” Anggraini kembali terisak. “Sebagai seorang ibu, aku tidak akan pernah sanggup membuangmu. Seburuk apapun perbuatanmu di masa lalu, mama tetap menyayangimu, Arsen. Mama akan menyayangi siapa pun yang kau cintai,” lanjutnya sambil menangis sesenggukan.
“Maafkan jika sikap mama ini sudah terlambat, tapi mama benar-benar merestui kalian,” tegas Anggraini sembari berurai air mata.
Butiran bening mulai keluar dari sudut mata Arsenio. Setumpuk kegalauan yang dia pendam sejak beberapa waktu lalu, menguap seketika. “Ma-ma,” ucapnya terbata.
“Kalian harus hidup bahagia. Aku mungkin tidak bisa mendukung kalian dalam hal finansial. Kau tahu sendiri bagaimana ketatnya papamu. Aku juga tidak bisa bepergian tanpa sepengetahuan Lievin.” Kalimat Anggraini terdengar begitu berat.
“Aku tidak menginginkan bantuan materi atau apapun dari mama. Aku yakin bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Cukup doakan yang terbaik saja bagi kami berdua. Itu yang paling kubutuhkan,” sahut Arsenio dengan suara bergetar.
“Tentu. Doaku tak pernah lepas untuk kalian, anak-anakku,” sahut Anggraini penuh haru. “Untuk sementara, kita hanya bisa berhubungan jarak jauh seperti ini. Itu pun harus diam-diam, tanpa diketahui oleh Lievin. Namun, jika kalian membutuhkan apapun, jangan sungkan untuk memberitahukannya padaku.”
“Tidak masalah, mama. Seperti ini juga sudah cukup,” ucap Arsenio sambil tersenyum lebar. Sementara Binar seolah membeku. Dia masih merasa tak percaya ketika Anggraini dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya merestui pernikahan mereka berdua.
“Tentu, tante … maksud saya … ma,” sahut Binar terbata, saking gugupnya.
“Aku harus pergi dulu. Sebentar lagi, papa kalian pasti mencariku. Jangan lupa jaga kesehatan kalian semua,” pamit Anggraini. Dia hendak mengakhiri panggilannya ketika teringat akan sesuatu. “Oh, ya, hampir saja lupa. Apakah mama boleh meminta sesuatu?” tanyanya.
“Apa?” Arsenio mendekatkan dirinya pada layar laptop.
“Buatkan mama cucu yang banyak dan lucu,” jawabnya sebelum benar-benar memutus panggilan video. Sontak kalimat Anggraini membuat pipi Binar bersemu merah. Namun, tidak dengan Arsenio. Dia terbahak saat menanggapi permintaan sang ibu.
“Lusa aku akan memulai tur Eropa. Kalian bisa melakukan aktivitas berkembang biak di sini tanpa khawatir didengarkan olehku,” celetuk Fabien yang ternyata masih berdiri di belakang. “Ingat, mama meminta cucu yang banyak,” sambungnya seraya berlalu.
“Astaga.” Arsenio melotot pada sang adik sambil melemparnya dengan bantal sofa. Setelah itu, perhatian Arsenio kemudian beralih pada Binar yang masih duduk terpaku di tempatnya.
__ADS_1
“Kamu dengar sendiri ‘kan, Sayang? Mama merestui kita. Itu artinya, kamu dan aku bisa melangkah tanpa rasa khawatir,” ujar pria tampan itu membelai pipi Binar dengan lembut. “Kenapa kamu masih tersipu? Apa yang kamu pikirkan?” Arsenio terheran-heran memperhatikan wajah Binar yang bersemu merah.
“Tante … eh, maksudku mama. Mama mengatakan bahwa dia ingin cucu yang banyak,” jawab Binar setengah berbisik.
“Hm, kalau untuk itu sepertinya kita harus tetap pada kesepakatan pertama. Aku ingin kita puas berpacaran terlebih dulu.” Selesai berkata demikian, Arsenio mendekat dan melu•mat bibir kemerahan Binar dengan gemas.
“Menyebalkan!” Binar mendorong mundur wajah Arsenio sambil cemberut. Dia pun beranjak dari ruang keluarga dan berlalu meninggalkan sang suami begitu saja, kemudian berjalan menuju kamar.
Melihat hal itu, tentu saja Arsenio tak tinggal diam. Dengan segera, dia berdiri dan menyusul sang istri. Sesampainya di depan pintu kamar, Arsenio mengangkat tubuh Binar dan membopong wanita muda itu untuk masuk. Dia mengempaskan tubuh ramping tadi ke atas ranjang, lalu mengungkungnya.
"Kamu mau apa?" tolak Binar mencoba berontak.
Namun, dengan cekatan Arsenio memegangi kedua pergelangan sang istri sambil tersenyum nakal. "Kenapa kamu selalu membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi?" pikir Arsenio seraya berdecak pelan.
"Bukankah kamu sudah terbiasa begitu tiap kali melihat wanita," cibir Binar.
"Oh astaga." Arsenio tak menanggapi ucapan Binar. Dia segera membungkam bibir sang istri dengan sebuah ciuman mesra, yang lama-lama berubah menjadi panas dan penuh gairah. Binar pun melingkarkan kedua tangannya pada leher Arsenio.
Musim semi di kota Berlin. Musim yang indah meski tak jarang diselingi rintik hujan. Seperti itu pula jalinan kasih antara Arsenio dan Binar. Mereka kerap beradu argumen, tapi selalu berakhir pada sebuah kemesraan yang manis. Seperti saat itu, di dalam kamar yang baru mereka tempati. Kamar yang menjadi saksi bisu betapa hangat dan romantisnya seorang Arsenio, dalam memperlakukan Binar dengan cumbuan-cumbuan yang membuat mereka selalu terlupa akan segala masalah.
.
.
.
Siang yg panas, sepanas karya keren yg satu ini 👇
__ADS_1