
“Ini tidak mungkin!” gumam Ajisaka perlahan. Tanpa membuang waktu, dia segera mengambil beberapa foto jasad Haris. Tak lupa, pria itu juga memotret bercak darah yang sudah mengering di sekitar tempat kejadian perkara. Setelah itu, Ajisaka langsung mematikan saklar, lalu bergegas keluar dari sana. Tak lupa, dia menutup pintu dan pagar teralis sesuai dengan posisi semula.
Sambil berjalan menuju tempat dirinya memarkirkan motor, Ajisaka berusaha menghubungi Arsenio. Namun, sampai beberapa kali nada sambung, sang bos tak juga menerima panggilan darinya. Ajisaka merasa heran, karena tak biasanya Arsenio bersikap demikian. Pria tampan blasteran Belanda itu selalu sigap mengangkat telepon dari Ajisaka maupun Dwiki pada jam berapa pun.
Setelah tiba di dekat motor yang dia parkir, Ajisaka akhirnya beralih menghubungi Dwiki. Beruntung, karena sepupunya tersebut belum tidur. Dwiki menjawab panggilan tersebut dengan cepat. “Sedang apa? Kamu tidak sedang sibuk, kan?” tanya Ajisaka tanpa basa-basi.
“Aku sedang mengawasi rumah Bayu. Sudah selarut ini, tamunya masih ramai saja,” jawab Dwiki yang saat itu berada di teras depan. Sayup-sayup, dia masih dapat mendengar suara percakapan dari dalam rumah asisten kepercayaan Lievin tersebut.
“Tamu? Tamu siapa?” ulang Ajisaka.
“Entahlah. Besok pagi aku akan mengoperasikan droneku,” sahut kekasih Winona tersebut dengan setengah berbisik.
“Bagus. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Besok pagi, kita bertemu di rumah Bos Arsen. Aku juga memiliki informasi yang harus kusampaikan pada kalian,” balas Ajisaka berapi-api.
“Apa itu?” tanya Dwiki penasaran. Untuk beberapa saat, dia melupakan kegundahannya atas insiden video syur Winona dengan Arsenio yang dia saksikan tadi siang.
“Besok saja kuperlihatkan semua hasil temuanku malam ini. Sudah dulu, ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Dwiki, Ajisaka mengakhiri panggilannya begitu saja. Pria gagah itu kemudian duduk nyaman di atas jok motor, lalu melajukan kuda besi itu kembali ke Kediaman Rainier.
Sementara Arsenio yang sejak tadi dihubungi oleh Ajisaka, ternyata sedang duduk termenung di depan sebuah meja bar. Beberapa sloki minuman keras sudah dia tenggak tanpa sisa. Namun, rasa sakit di dada belum juga hilang. Sedangkan kepalanya terasa semakin berat.
“Sendirian saja, Kak?” sapa suara lembut nan menggoda yang berasal dari sebelah Arsenio. Dengan malas, pria rupawan berdarah Belanda tersebut menoleh. Dilihatnya seorang gadis belia dengan usia yang jauh di bawah Binar, sedang tersenyum menggoda ke arahnya. Penampilan gadis itu pun terlihat seronok.
“Sedang apa kamu malam-malam di tempat seperti ini? Apa tidak sekolah?” tanya Arsenio ketus.
“Sekarang kan sudah malam, Kak. Sekolah sudah tutup,” jawab gadis itu setengah bercanda. “Aku boleh bergabung tidak?” Gadis itu bermaksud untuk duduk di dekat Arsenio.
“Tidak!” tolak Arsenio tegas. “Nanti istriku marah. Dia yang paling cantik. Sekarang sedang hamil. Tak lama lagi, istriku akan melahirkan,” racaunya seraya berusaha turun dari kursi bar yang cukup tinggi. Namun, akibat keseimbangan yang menghilang akibat pengaruh alkohol, Arsenio hampir saja jatuh tersungkur. Untunglah si gadis segera menahan tubuh tegapnya.
“Aduh, wanginya. Dari aroma parfum yang Kakak pakai, aku yakin jika Kakak bukan pria sembarangan," ujar gadis itu berusaha membuat Arsenio berdiri tegak. Sementara pria dengan iris cokelat terang tadi tidak menanggapi ucapan si gadis. Arsenio hanya menoleh sambil sesekali memicingkan mata. Senyuman kecil pun tersungging di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika kuantar keluar, Kak,” tawar gadis itu tak putus asa. Tangannya meraba-raba punggung Arsenio yang berbalut kemeja hitam lengan tiga per empat.
“Tidak perlu! Aku bisa berjalan sendiri,” tolak Arsenio. Dia segera menyingkirkan tangan gadis yang kini berpindah dan melingkar di pundaknya. Arsenio berusaha berdiri dengan tegak dan berjalan gagah keluar dari club mewah langganannya dulu.
“Aku bisa memberikan nomor teleponku pada Kakak. Siapa tahu Kakak sedang membutuhkan teman bicara,” ujar si gadis belia yang ternyata terus mengikuti langkah Arsenio yang agak gontai.
Arsenio segera menoleh sambil mengernyitkan kening. “Kamu ….” Jari telunjuknya terarah tepat ke wajah gadis itu. “Sekolah saja yang benar. Jangan suka kelayapan!” Dengan seenaknya, Arsenio menyentuh kening gadis tadi, lalu mengetuk-ngetuknya menggunakan ujung jari telunjuk.
Bukannya tersinggung, si gadis malah tertawa renyah. “Aku sedang mencari tambahan untuk biaya sekolah, Kak. Siapa tahu ada pria mapan yang bersedia untuk memakai jasaku,” sahutnya tanpa sungkan sama sekali.
“Aku tidak tertarik memelihara hamster,” tolak Arsenio lagi. Dia kini sudah berada di tepi jalan raya yang berada tepat di depan bangunan club. "Astaga, satu gadis ABG saja sudah cukup membuat kepalaku pusing," racau Arsenio lagi seraya berdecak pelan.
“Kalau mabuk dilarang mengendara mobil, Kak. Berbahaya,” cegah gadis belia itu sambil mencekal lengan Arsenio.
“Siapa bilang aku mau mengendarai mobil. Aku sedang memesan taksi.” Arsenio menepiskan keras tangan gadis itu dari lengannya, kemudian berlalu. Namun, Arsenio kembali membalikkan badan. "Jangan mengikutiku, Dik!" tunjuk Arsenio dengan nada bicara yang dibuat setegas mungkin. Namun, tetap saja terdengar menggelikan, ketika diucapkan oleh seseorang yang sedang mabuk.
“Ji?” Arsenio memicingkan mata. Sekuat tenaga dia berusaha memfokuskan pandangan yang mulai buram. “Kamu Aji, kan?” tanyanya memastikan.
“Iya, Bos. Ini saya. Sedang apa Anda di sini? Bu Bos bersama siapa di rumah?” tanya Ajisaka lagi.
“Bu Bos? Binar maksudmu?” Arsenio balik bertanya. Dia tertawa pelan, lalu segera terdiam. Jelas sudah bahwa Arsenio dalam keadaan mabuk berat. Angan pria tampan itu kembali pada petang tadi, ketika Binar mengembalikan cincin pernikahan. Wanita itu juga mengurung diri di kamarnya. “Binar sedang sendirian. Di kamar …," ucap Arsenio lesu.
“Ayo kita pulang saja, Bos! Saya akan mengantar Anda sampai ke kamar Bu Bos!” ajak Ajisaka bermaksud meraih tangan Arsenio.
“Binar tidak ingin bertemu denganku, Ji." Arsenio menggeleng lemah.
“Serahkan pada saya, Bos. Saya akan membuat Bu Bos membuka pintunya lebar-lebar,” ucap Ajisaka penuh percaya diri. Dia menuntun Arsenio ke dekat motor, lalu membantu sang bos duduk dengan nyaman di jok.
Ajisaka terpaksa membiarkan Arsenio melingkarkan tangan erat-erat di pinggangnya agar tak terjatuh. Rasanya memang tak seperti ketika Anika yang melakukan hal demikian. Saat Anika yang bersikap seperti itu padanya, Ajisaka dapat tersenyum bahagia. Ada dua kenyamanan yang dirasakannya, depan dan belakang. Berbeda dengan saat ini saat dia membonceng Arsenio.
__ADS_1
Ajisaka tak memedulikan tatapan aneh pengendara lain saat berhenti di lampu merah. Dia hanya fokus membawa sang majikan agar selamat sampai di rumah. Seperti yang pria itu katakan sebelumnya, bahwa dia akan membawa Arsenio sampai ke depan kamar yang ditempati Binar, dan membuat istri sang bos membuka pintu lebar-lebar.
Itulah yang Ajisaka lakukan saat ini. Dia menggedor pintu kamar Binar dengan nyaring hingga pintu itu terbuka separuh. Tampaklah wajah cantik Binar dengan mata sembap menyembul dari baliknya. “Ajisaka?” Suara wanita muda itu terdengar lirih. Dia langsung terbelalak, saat melihat ajudan kepercayaan sang suami yang tengah berusaha membantu Arsenio agar tetap berdiri tegak.
“Tolong Bos Arsen, Bu Bos. Kasihan dia,” pinta Ajisaka dengan raut memelas.
Sementara Arsenio tak menanggapi sama sekali. Pria itu tampak lemas dengan kepala terkulai ke depan. Sesekali dia meracau tak jelas.
“Rain? Kenapa dia?” Binar begitu panik. Dengan segera, wanita muda itu membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Binar mempersilakan Ajisaka untuk membawa Arsenio masuk, lalu membaringkannya di ranjang. “Apa dia sakit?” tanya Binar lagi.
“Bos Arsen mabuk berat, Bu Bos,” jawab Ajisaka. “Saya tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa Bos Arsen, tapi saya mohon mengertilah. Kondisi Bos Arsen sekarang sedang buruk. Baru saja dia ditinggal pergi oleh Bu Anggraini. Dia juga harus menyelidiki kasus pembunuhan yang belum terungkap."
Mendengar penuturan Ajisaka, Binar terdiam membeku.
“Maaf, Bu Bos. Bukan maksud saya untuk lancang. Namun, Bos Arsen sangat membutuhkan Anda,” lanjut Ajisaka.
“Baiklah. Terima kasih,” sahut Binar setelah beberapa saat terdiam. “Istirahatlah, Ji. Biar aku yang mengurusnya.”
Ajisaka mengembuskan napas lega. “Saya juga berterima kasih. Titip bos ya, Bu.” Pria tampan berkulit sawo matang itu mengangguk sopan, kemudian meninggalkan kamar Binar.
Sepeninggal Ajisaka, Binar menutup pintu kamar. Dia berjalan mendekat ke tepian ranjang. Diperhatikannya sang suami yang sudah tertidur. Rambut Arsenio begitu acak-acakan. Kemeja hitamnya juga terlihat kusut. Sedangkan celana jeansnya tampak kotor. Entah noda apa yang membasahi celana jeans mahal tersebut. Akan tetapi, terlepas dari kacaunya penampilan Arsenio saat itu, dia tetap terlihat sangat tampan.
Binar terenyuh melihat pria yang teramat dirinya cintai tersebut. “Rain,” desahnya pelan. Ragu, Binar melepaskan sepatu kets yang Arsenio kenakan. Perlahan dan hati-hati, dia juga menurunkan resleting celana jeans sang suami, lalu melepasnya. Baru saja dia akan memasukkan celana kotor tadi keranjang cucian, tiba-tiba Arsenio meraih bagian samping baju tidur yang Binar kenakan, sehingga wanita dua puluh dua tahun tersebut segera menghentikan langkah.
“Sayang, di sini saja,” pinta Arsenio dengan mata yang masih terpejam. “Jika kamu pergi, lalu bagaimana dengan nasibku?” racaunya.
“Binar, kalau tahu akan begini jadinya, lebih baik dulu aku mati sewaktu dilemparkan ke dalam jurang. Dengan begitu, aku tak perlu bertemu dan jatuh cinta padamu.” Arsenio bergumam lirih. Namun, Binar dapat mendengar suaranya dengan jelas.
“Rain.” Binar mulai meneteskan air mata. Kalimat suaminya tadi terasa begitu menyentuh dan menggetarkan sanubari. Tanpa berpikir dua kali, dia segera melemparkan celana kotor tadi ke lantai. Binar lebih memilih naik ke tempat tidur. Berbaring, kemudian mendekap erat Arsenio dari samping.
__ADS_1