Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Setitik Kebaikan


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau pria Jerman tampan-tampan?" Wajah rupawan Arsenio seketika menegang. Sorot matanya tajam dia arahkan pada Binar yang hanya terkikik geli.


"Galak sekali," ujar wanita muda itu menutupi bibirnya dengan punggung tangan.


"Kalau memang pria Jerman tampan-tampan, kamu mau apa?" Arsenio mengulangi pertanyaannya masih dengan tatap mata yang tampak begitu galak. Jauh berbeda dengan sorot mata lembut yang sempat dia layangkan untuk Binar beberapa saat lalu.


"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat reaksi tuan Arsenio yang sedang dilanda cemburu," jawab Binar seraya membalikkan badan hingga berhadapan dengan sang suami. "Kamu cemburu, 'kan?" tanyanya untuk meyakinkan.


"Pria mana yang tidak cemburu saat istrinya menanyakan hal yang aneh-aneh," balas Arsenio. Muka cemberutnya terlihat begitu lucu di mata Binar. "Apa aku masih kurang tampan?" gumam pria itu memasang wajah tak suka.


"Kalau seandainya ada pria Jerman tampan mendekatiku, bagaimana sikapmu?" pancing Binar dengan jemari yang sibuk menelusuri dada bidang dan perut six packs Arsenio.


"Kulihat dulu reaksimu. Kalau kamu merasa risih dan terkesan menolak, aku akan menghajarnya sampai dia menjauhimu. Akan tetapi, kalau kamu terlihat senang dan tidak keberatan, maka aku tetap akan menghajarnya," jawab Arsenio enteng.


"Kenapa begitu?" Binar menautkan alis sembari menahan tawa.


"Sudah. Jangan bertanya macam-macam." Tanpa aba-aba, Arsenio mengangkat kemudian membopong tubuh ramping Binar yang masih berbalut handuk. Arsenio lalu mengempaskannya ke atas ranjang hingga handuk tadi terlepas. "Berhubung kamu sudah memancing emosiku, maka kamu harus menerima hukumannya." Arsenio melepas handuk putihnya begitu saja, lalu naik ke ranjang dan siap 'mengerjai' Binar untuk kesekian kalinya.


***


Jam dinding yang terpasang pada tembok penginapan menunjukkan pukul tujuh pagi, ketika pasangan pengantin baru itu telah berpakaian rapi dan bersiap-siap keluar dari kamar. Arsenio sedikit terkejut saat membuka pintu, karena Dwiki sudah berdiri di hadapannya sambil memasang senyum lebar. "Selamat pagi, Bos. Sarapan dulu, yuk," ajaknya.


"Terima kasih tawarannya, Ki. Aku dan Binar sedang buru-buru. Kami hendak ke kantor kedutaan Jerman untuk mengurus visa. Jadi, aku dan Binar akan sarapan sambil jalan saja," tolak Arsenio halus.


"Oh, kalau begitu biar saya yang mengantar. Anda dilarang menolak!" tegas Dwiki sebelum Arsenio sempat memberikan tanggapan. "Kita bisa meminjam mobil milik tante saya. Sementara itu Bos dan bu bos bisa menunggu di halaman depan," ujarnya seraya berlalu begitu saja.


Arsenio dan Binar sempat saling pandang. Namun, pada akhirnya Arsenio mengangguk dan mengajak istrinya untuk turun. Mereka pun menunggu Dwiki di teras depan penginapan.


Tak berselang lama, sebuah mobil sedan hitam melaju pelan dari garasi dan berhenti tepat di depan suami istri itu. "Silakan, Bos." Dwiki turun dari kendaraan, lalu mempersilakan Arsenio dan Binar untuk masuk.


"Terima kasih, Ki. Kamu tahu 'kan kalau aku bukan bosmu lagi?" ucap Arsenio sambil membantu Binar untuk masuk dan duduk dengan nyaman di jok belakang. Setelah itu, dia mengambil tempat duduk di samping kursi kemudi. Dia merasa tak nyaman dengan sikap mantan anak buah kepercayaannya tersebut.


"Sampai kapanpun, saya akan tetap memanggil Anda dengan sebutan 'Bos'. Anda adalah orang yang sangat baik, terlepas dari segala tabiat buruknya." Dwiki mengakhiri kata-katanya dengan sebuah celetukan yang membuat Arsenio hendak melakukan protes. Namun, pria itu mengurungkan niat karena Binar tampak tertarik dengan celetukan Dwiki.


"Katakan tabiat buruk seperti apa yang kamu ketahui tentang suamiku?" selidik Binar.

__ADS_1


"Wah, banyak sekali. Salah satunya adalah ...."


"Ki ...." Arsenio tampak sudah memasang wajah yang penuh dengan ancaman kepada mantan anak buahnya itu.


Sedangkan Dwiki yang melihatnya lewat spion dalam, hanya terkekeh. Pria itu kembali fokus ke depan, pada jalanan ibu kota yang sedang mereka lalui. "Saya lupa berapa lama tepatnya menjadi tangan kanan bos Arsen. Namun, itu tidak penting. Dalam kurun waktu itu, hanya satu hal yang selalu saya ingat," Dwiki menghentikan laju mobilnya di perempatan lampu merah. Dia lalu menoleh ke belakang. "Terima kasih, Bos!" ucapnya tersenyum haru.


Arsenio yang memang sudah mengenal lama lajang tersebut, hanya membalas ucapan terima kasih tadi dengan sebuah senyuman simpul. "Seandainya aku masih Arsenio yang dulu, maka aku tak akan pernah menggantikan posisimu dengan siapa pun. Terkecuali jika kamu sendiri yang ingin berhenti," ucapnya dengan sikap dan nada bicara yang terlihat begitu kalem dan penuh wibawa.


"Saya tidak peduli apakah Anda masih orang yang dulu atau kini telah menjadi terlihat berbeda, karena bagi saya ... bos Arsenio hanya ada satu. Sebenarnya saya sedih jika Bos memutuskan pergi dari Indonesia," ujar Dwiki kembali melajukan kendaraannya.


"Makanya cepat nikah," sahut Arsenio enteng.


Sementara Dwiki hanya tertawa. Selang beberapa saat, mereka pun tiba di depan gedung kedutaan. "Kantor buka jam delapan, Bos. Sekarang masih jam delapan kurang "


"Tidak apa-apa, Ki. Kami menunggu di sini saja sekalian mencari sarapan." Arsenio menoleh kepada Binar yang segera menggangguk setuju.


"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau sudah selesai, telepon saja, Bos. Biar saya jemput lagi," pesan Dwiki.


"Terima kasih banyak, Ki. Kalau tidak merepotkan," balas Arsenio.


"Sama sekali tidak merepotkan." Dwiki mengangguk kepada Arsenio dan Binar, sebelum dua sejoli itu keluar dari kendaraan. Dia terus memperhatikan mereka yang berjalan semakin menjauh, kemudian masuk ke salah satu tempat makan yang berada beberapa meter dari kedutaan. Dwiki melajukan mobil setelah mantan bosnya itu tak terlihat dari pandangan.


Pada akhirnya, wanita yang tak lain adalah Anggraini itu mengurungkan niat dan memutuskan untuk berjalan memutari bangunan bercat putih tadi. Anggraini terus melangkah menuju rumah berlantai dua yang tampak asri dan bersih. Wanita itu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum mengetuk pintu.


Dua kali ketukan, sampai pintu itu terbuka, memunculkan seraut wajah teduh. Parasnya cukup tampan, meskipun telah dihiasi oleh keriput di sana-sini. "Hai, apa kabar, Hans?" sapa Anggraini seraya memamerkan senyuman manisnya.


"Astaga!" Pria yang tak lain adalah Hans itu terbelalak tak percaya. "Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?" kelakarnya ceria. "Ayo, masuklah, Anggraini. Hilda! Hil!" Hans berseru antusias memanggil sang istri sembari mempersilakan Anggraini untuk masuk, dan duduk di ruang tamu yang nyaman.


Tak lama kemudian, seorang wanita yang terlihat berusia sama dengan Anggraini, keluar dari bagian dalam rumah. Dia juga tak kalah terkejutnya dari sang suami. "Apakah ini ...." Hilda tak melanjutkan kalimatnya. Dia berjalan mendekat pada Anggraini yang segera berdiri dari duduk saat dirinya mendekat, lalu menangkup paras cantik di depannya itu. "Apa kabarmu?" tanya Hilda lembut dan hangat, kemudian memeluk tubuh ibunda Arsenio tersebut erat-erat.


"Baik." Anggraini tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata. Persahabatannya dengan Hans dan Hilda terbilang akrab. Namun, kesibukan Lievin membuat kedekatan mereka perlahan memudar.


"Ada angin apa sehingga kamu datang kemari tiba-tiba?" tanya Hans seraya mempersilakan Anggraini untuk duduk kembali.


"Ah, aku ... aku sudah lama tidak bertemu dengan kalian," kilah Anggraini. Dia seakan takut untuk mengungkapkan alasan kedatangan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Beginilah kami. Semakin tua," kelakar Hilda, lalu tertawa.


"Namun, aku yakin itu bukan alasan utama kamu datang kemari, 'kan?" tebak Hans.


"Ah, itu ...." Anggraini tertawa untuk menutupi rasa gugupnya.


"Biar kubuatkan teh dulu supaya kamu sedikit tenang," canda Hilda. Istri dari Hans tersebut segera berlalu masuk ke dalam rumah dan keluar beberapa saat kemudian sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.


"Minumlah." Hilda menyodorkan cangkir porselen antik ke hadapan Anggraini.


"Apakah ini tentang Arsenio?" terka Hans setelah Anggraini lama terdiam.


Wanita itu sempat membeku sebelum mengangguk pelan. "I-iya," jawabnya terbata. "Dia mengirimiku foto-foto pernikahannya di tempat ini ... bersama kalian."


"Memang betul, aku yang menikahkan mereka berdua," tutur Hans dengan intonasi tenang.


"Menantumu cantik sekali. Dia juga terlihat sangat baik," timpal Hilda memuji Binar.


"Begitukah?" Mata Anggraini berkaca-kaca mendengarnya. "Sekarang ... apakah mereka masih berada di sini?" tanyanya kemudian.


"Oh, aku tak bertemu lagi dengan mereka berdua setelah sepulang dari sini. Mungkin saja mereka masih berada di Bali," terang Hans.


"Mereka tinggal di mana?" tanya Anggraini lagi.


"Ah, itu aku juga tidak tahu. Akan tetapi, Arsenio menikah di sini sambil mengajak kedua adik iparnya. Mungkin mereka tinggal tak jauh dari sini." Hans sendiri juga terlihat tak yakin dengan jawabannya.


"Mereka juga mengajak satu temannya, seorang pria asli Jerman yang lama tinggal di Denpasar," lanjut Hilda. "Pria itu juga sempat memberikan kartu nama. Sebentar." Wanita itu berdiri dari kursi dan buru-buru masuk ke dalam. Dia keluar lagi sambil membawa satu kartu nama yang kemudian dirinya serahkan kepada Anggraini. "Coba saja hubungi Rudolf. Siapa tahu dia mengetahui keberadaan putramu," sarannya.


Ibunda Arsenio tersebut menerima dan membaca nama yang tertera di sana. Keinginannya semakin menggebu untuk segera mendatangi pria itu dan menemukan jejak Arsenio, putra tercintanya.


.


.


.

__ADS_1


Hai, sambil nungguin Binar ngurus visa, mampir dulu yuk di karya keren satu ini 😍



__ADS_2