
Dada Winona seakan berhenti berdetak ketika Arsenio ingin membicarakan masalah pertunangan. Dalam benaknya dia sudah membayangkan bahwa pria tampan di hadapannya itu akan membatalkan rencana yang telah mereka susun selama berbulan-bulan yang lalu. “Kamu mau putus? Kamu ingin membatalkan semuanya? Begitu, ‘kan?” terka Winona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Bukan,” Arsenio menggeleng pelan, “justru aku ingin mempercepat acara pertunangan kita. Menurut mama, sepulang dari Jogja kamu dan aku … kita akan segera meresmikan hubungan ini,” tutur Arsenio. Nada bicaranya terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
Winona terbelalak dengan raut tak percaya. Segala kemarahan, rasa jengkel, dan juga sedih yang sempat hadir dan mengusiknya, luruh seketika saat Arsenio mengajaknya untuk bertunangan. Sebesar itu rasa cinta yang dia punya untuk kekasihnya tersebut. “Ke-kenapa tiba-tiba kamu mengatakan itu?” tanya Winona dengan terbata. Mata indahnya menatap Arsenio lekat-lekat, berusaha menemukan kesungguhan di sana.
“Mama mengatakan ….” Arsenio menunduk beberapa saat, ketika bayangan Binar kembali hadir. Dia lalu mengangkat wajahnya dengan pandangan lurus tertuju hanya pada Winona. Detik itu dia memilih untuk merelakan gadis polos dan baik hati demi masa depan dan keluarganya. “Mama mengatakan bahwa kamu dan Chand telah berkorban banyak, sejak sebelum aku kecelakaan dan hilang ingatan. Mungkin ini yang terbaik, lagi pula .…” Arsenio kembali menghentikan kalimatnya. Betapa dia ingin mengungkapkan bahwa Binar adalah sesuatu yang tak pasti. Namun, dia tak kuasa untuk melakukan hal itu.
“Lho, ada apa ini? Kenapa malam-malam begini ngobrol di depan pintu kamar anak gadis?” Suara Kalini memecah kebisuan antara Arsenio dan Winona. “Mbok ya ngobrol di ruang tamu sana, atau ruang makan. Enak, ‘kan, sambil ngemil,” guraunya sambil tertawa pelan. Ibunda Chand tersebut memang terkenal ceria dan cerewet serta suka bercanda. Wanita seumuran Anggraini itu adalah tipe orang yang mampu menghangatkan suasana di manapun dia berada. Jauh berbeda dengan Chand yang kalem dan cenderung tidak banyak bicara.
“Tante kenapa belum tidur? Sudah malam lho ini,” tanya Winona mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia juga seakan ingin mengusir rasa canggung dalam hatinya.
“Ya, mana bisa tidur dalam keadaan begini. Anak bungsu tante tiba-tiba sudah punya suami. Setelah ini nurutnya harus sama suami, bukan sama mamanya lagi,” ujar Kalini. Saat itu, tawanya terdengar pelan dan getir, “tapi, Tante senang sekali. Suaminya Prajna itu orang yang sangat baik. Hati Tante jadi tenang. Semoga Prajna bisa langgeng sampai maut memisahkan. Tidak seperti Chand yang .…”
“Mama harusnya istirahat. Jangan sampai kelelahan,” sela Chand yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kalini. Dia memotong kalimat ibunya begitu saja. Wajah calon duda itu tampak begitu murung dan sangat kacau.
“Chand? Ma … Mama ….” Kalini tergagap. Dia buru-buru menghampiri putra sulungnya kemudian memeluk tubuh tegap itu erat-erat. “Maafkan Mama. Mama tidak bermaksud .…”
“Tidak apa-apa, Ma. Aku mengerti,” sahutnya dengan segera, membuat suasana canggung kian terasa. Arsenio dan Winona pun seolah tak tahu harus bersikap bagaimana.
“Chand benar. Tante jangan tidur terlalu larut,” timpal Arsenio yang berusaha mencairkan suasana kaku tersebut.
“Ayo, Ma,” ajak Chand mengulurkan tangannya pada Kalini. Dia menuntun sang ibu menuju kamar tidur. Sebelum berlalu dari sana, Chand sempat menoleh sesaat kepada Arsenio kemudian mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, dia pun beranjak dari hadapan pasangan kekasih tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di kamar sang ibu, Chand membantunya berbaring. Dia duduk di tepian tempat tidur, sambil menunggu hingga Kalini terlelap. “Mama minta maaf, Nak. Mama tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu,” sesal wanita paruh baya itu sebelum memejamkan mata.
“Sudahlah, Ma. Tidak perlu dipikirkan. Selamat tidur,” balas Chand seraya mencium kening ibunya. Dia juga membetulkan letak selimut yang kini menutupi hingga ke dada wanita itu. Chand masih terus memamerkan senyumnya hingga keluar dari kamar Kalini dan menutup pintu dengan rapat setelah dia mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
Chand sendiri lebih memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia tak hendak berbaring. Chand melewati ranjang dan terus melangkah menuju pintu balkon. Dia melirik pada jam digital yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun, pria itu tak mengurungkan niat untuk membuka pintu balkon lebar-lebar. Sejenak dia menikmati hembusan angin malam, kemudian mendekat ke pagar balkon yang terbuat dari besi.
Tubuh jangkung Chand setengah membungkuk, menumpukan kedua siku pada pagar pembatas. Matanya menerawang, menatap pekatnya langit malam. Hari yang seharusnya membahagiakan, justru berubah menjadi saat yang terasa buruk baginya. Kehadiran Ghea sudah cukup memporakporandakan hati dan pikiran pria tersebut. Tak dapat dipungkiri jika dirinya masih memiliki rasa pada wanita yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai mantan istri.
******
Sementara itu, Binar mulai menikmati pekerjaannya. Ini adalah hari kedua baginya mengambil dua shift untuk mendekorasi hall luas yang berada di lantai dasar mall paling besar di Yogyakarta. Mulai dari jam delapan pagi hingga selesai pukul lima sore. Sedangkan Nastiti harus mengambil jatah libur, karena sudah memasuki masa ujian semester.
Jika kemarin dia dapat pulang bersama Nastiti, maka hari ini dia harus berjalan kaki seorang diri. Jarak antara mall dengan rumah Irma, terbilang cukup jauh. Namun, Binar merasa sayang jika harus mengeluarkan ongkos untuk menaiki angkutan umum.
“Tidak apa-apa, Mbak. Sekalian saya selesaikan dulu bagian saya,” tolak Binar halus.
“Apa kamu tidak capek?” tanya Renata. Diamatinya hasil kerja Binar dalam merangkai bunga yang terlihat rapi dan cantik.
“Saya sudah biasa bekerja lembur. Di Bali dulu, saya malah bekerja sampai jam sembilan malam,” tutur gadis itu.
“Oh, ya sudah kalau begitu,” sahut Renata. Dia sudah hendak berbalik ke tempatnya, ketika Renata teringat akan sesuatu. “Mal, kalau kamu sudah selesai, kamu bisa langsung datang ke food court seberang itu, ya.” Telunjuk lentik Renata mengarah pada gerai makanan Jepang yang masih berada dalam gedung mall.
“Ke sana, Mbak?” Binar ikut mengarahkan telunjuknya.
__ADS_1
“Iya, kamu bisa makan sepuasnya di sana. Aku sudah membooking tempat itu,” jelas Renata seraya tersenyum, kemudian berlalu dari hadapan Binar.
“Terima kasih, Mbak!” seru Binar agak nyaring dan terlihat ceria. Setidaknya, hari itu dia akan pulang dengan perut yang sudah terisi. Binar pun kembali serius melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Tak berselang lama, dia telah menyelesaikan dekorasi yang menjadi tugasnya. Sesuai perintah Renata, Binar melangkahkan kaki menuju gerai makanan yang dimaksud. Di sana sudah banyak rekan-rekannya yang lebih dulu mengambil jatah makan. Setelah dia memilih menu, Binar segera ikut bergabung di meja yang sama dengan rekan-rekannya. Sambil menunggu pesanannya datang, Binar mengobrol ringan dengan pegawai Renata yang kebanyakan adalah perempuan.
“Selera siapa ini, bagus sekali. Hot plate tuna,” ujar seseorang yang suaranya telah akrab di telinga Binar. Gadis itu terbelalak ketika seseorang itu tengah membawakan pesanannya.
“I-itu pesanan saya, Pak,” sahut Binar spontan mengangkat tangan, lalu menurunkannya. Dia tampak salah tingkah ketika pria yang tak lain adalah Chand menghampiri mejanya sambil meletakkan pesanan tadi.
“Kamu suka hot plate tuna?” tanya Chand. “Permisi, ya,” ucapnya kemudian pada salah seorang rekan Binar, ketika pria tampan itu menggeser kursi dan duduk di hadapan Binar.
“Mal, kami duluan ya,” pamit rekan-rekan Binar saat melihat Chand duduk di antara mereka. Beberapa rekan Binar merasa canggung dan sungkan, sehingga mereka memutuskan untuk berpindah meja setelah sebelumnya mengangguk sopan kepada Chand. Rata-rata dari para pegawai Renata memang sudah mengenal siapa pria yang saat itu duduk berhadapan dengan Binar.
“Eh, eh, tunggu!” Binar berusaha mencegah. Namun, rekan-rekannya menolak melalui isyarat tangan dan gelengan kepala. Pada akhirnya, Binar menyerah dan membiarkan mereka berpindah tempat.
“Sudah. Biarkan saja mereka,” ujar Chand sembari mendekatkan pesanan Binar ke hadapan gadis itu. “Makanlah dulu. Hot plate kalau kelamaan jadinya cool plate,” gurau pria itu.
“Kenapa Anda ada di sini?” tanya Binar keheranan seraya mencicipi makanan yang sudah dia pesan.
“Aku bekerja di sini,” jawab Chand asal.
“Ah, Anda jangan bercanda," protes Binar tak percaya.
__ADS_1
“Serius! Besok aku mengadakan Wedding Expo di sini. Itulah kenapa aku menyewa Renata untuk mendekorasi dan menyulap aula mall menjadi taman bunga raksasa,” balas Chand dengan santainya. "Kalau kamu mau, datang saja," lanjut pria itu lagi.