
"Mantan tunanganmu dan istrinya?" ulang Dwiki seraya mengernyitkan kening. Sepasang bola mata pria itu bergerak dengan tidak beraturan. Namun, untungnya karena Winona tak dapat melihat hal tersebut.
"Iya, Ki. Aku sangat membenci mereka berdua. Rasanya ... rasanya aku ingin menghabisi keduanya dengan cara yang sadis." Winona mengepalkan tangannya, kemudian wanita itu pukulkan ke atas paha.
"Kenapa begitu?" Dwiki pura-pura tak tahu dan tidak memahami siapa serta seperti apa kehidupan percintaan sang nona.
Perlahan, Winona menghentikan isak tangisnya. Dia juga melepaskan diri dari dalam dekapan Dwiki. Rasa tak nyaman mulai menggelayuti wanita dua puluh lima tahun tersebut. Winona pun merasa malu karena telah kehilangan kontrol dalam dirinya yang tiba-tiba memeluk Dwiki. "Maafkan aku, Ki," ucapnya sambil merapikan rambut. Dia juga menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi pipi.
"Jadi, bagaimana?" tanya Dwiki kemudian.
"Ini urusan yang sangat pribadi," jawab Winona. Dia sempat mengurungkan niat untuk bercerita kepada sang sopir tampan.
"Bukankah kamu butuh teman bicara?" sahut Dwiki yang masih terlihat tenang.
Winona tak segera bicara. Dia hanya tertunduk, bahkan hingga rambut panjangnya terjatuh ke depan dan menutupi wajah. Sesaat kemudian, putri Biantara Sasmita tersebut menyibakkannya ke belakang, lalu menyelipkan di telinga berhiaskan anting-anting kecil yang terlihat sederhana.
"Selama beberapa tahun kami menjalin hubungan. Sebuah ikatan yang awalnya hanya karena urusan pekerjaan. Akan tetapi, makin lama dan seiring berjalannya waktu, perasaan itu pun berubah. Dia ... pria itu setuju untuk mengukuhkan hubungan kami, karena menurutnya akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Aku pun sangat bahagia, meski makin lama diriku semakin sadar bahwa dia tak pernah memiliki perasaan istimewa padaku." Winona mengawali cerita.
"Aku selalu kehilangan kata-kata jika sedang bersamanya. Aku bingung dan tak tahu harus berbicara apa. Semua tak seperti yang kubayangkan. Kupikir akan terasa indah, tapi dalam perjalanannya ... hanya pengkhianatan yang selalu kuterima." Winona kembali tertunduk. Setitik air mata terjatuh di atas punggung tangannya.
"Aku tahu itu, Ki. Aku selalu mendapat informasi bahkan tak jarang foto-foto, ketika dia bersenang-senang dengan gadis lain. Perselingkuhan yang kerap dirinya lakukan dan sangat menyakiti perasaanku. Rasanya ... rasanya aku ingin mati saat itu juga. Namun, entah kenapa hati kecilku selalu saja membela dan mengatakan bahwa dia adalah pria yang kubutuhkan. Ya, aku membutuhkannya untuk karierku, untuk kelangsungan bisnis keluarga kami berdua, untuk sebuah popularitas. Akan tetapi, di balik semua itu ... aku tak mendapat apapun."
__ADS_1
"Kenapa kamu harus memaksakan diri untuk tetap berada dalam posisi seperti itu?" tanya Dwiki menanggapi.
"Karena kami terikat kontrak dan karena aku juga memiliki perasaan yang sangat istimewa padanya. Namun, itu semua ternyata tak memberikan dampak positif bagi hubungan kami. Kenyataannya, dia meninggalkan aku setelah kami bertunangan, demi wanita lain. Dia mencampakkan diriku dalam rasa malu yang sangat besar." Winona tak juga mengangkat wajah cantiknya. Sementara Dwiki masih mendengarkan dengan saksama.
"Aku atau pun papa masih dapat bersikap pura-pura tak peduli. Kami menutup telinga dari selentingan-selentingan yang terkesan mencemooh. Apalagi karena hingga saat ini aku masih betah melajang. Namun, tidak dengan mamaku. Dia tak memiliki mental sekuat itu. Mama jatuh sakit. Sampai saat ini dia bahkan masih melakukan cek up kesehatan, pada salah satu rumah sakit di Singapura. Hal itu membuat papaku meradang. Dampaknya tak hanya terasa olehku. Ini bukan hanya sekadar putus cinta, Ki." Winona terus terisak.
Sementara Dwiki justru berpikir ke arah lain. Dia teringat akan ucapan Anika semalam, yang mengatakan bahwa Biantara tak terlihat selama beberapa hari. Dwiki berpikir mungkin ayahanda Winona tersebut tengah pergi ke Singapura.
"Astaga," ucap Dwiki pelan. Dia menyugar rambutnya. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanyanya sebagai pancingan.
Winona menyibakkan rambutnya ke belakang. Dia lalu menyeka sudut mata dan pipi yang basah. "Aku hanya ingin dia menerima balasan yang setimpal. Segala rasa sakit dan juga malu yang aku dan keluargaku terima," jawab wanita muda itu.
"Haruskah kamu melakukannya?" Dwiki menatap lekat wanita cantik yang sejak tadi tak memperlihatkan wajah dengan jelas, karena mata yang tampak sembap. "Jika dia sudah bahagia dengan orang lain, maka sebaiknya kamu juga melakukan hal yang sama. Menurutku jangan sia-siakan waktu yang sangat berharga dalam hidupmu, hanya untuk terus diperbudak oleh dendam karena rasa sakit yang tak berujung. Mencari kebahagiaan akan jauh lebih baik dan tentu saja membuatmu merasa semakin tenang. Perasaan aman, nyaman, dan damai itu kita sendiri yang menciptakannya," saran Dwiki tanpa bermaksud memihak pada siapa pun juga.
"Apa?" tanya Dwiki penasaran.
"Aneh," jawab Winona. Dia lalu merogoh ke dalam tas, kemudian mengambil bedak. Winona merapikan riasannya.
Sementara Dwiki masih memperhatikan Winona dengan lekat. Kali ini, dia dapat melihat dari kedua sisi. Sesuatu yang pastinya tidak Arsenio ketahui tentang perasaan dari wanita yang pernah menjadi mantan kekasih sekaligus tunangannya. Haruskan Dwiki mengatakan ini semua kepada sang bos? Jika masih dapat dibicarakan dengan baik-baik, upaya saling menjatuhkan pun pasti akan dapat dihindari.
Akan tetapi, pastinya tidaklah semudah itu. Pemikiran orang-orang kaya seperti keluarga Rainier dan juga keluarga Sasmita, tidak akan sesederhana apa yang ada di dalam benak pria biasa seperti dirinya. "Sudahlah. Kamu sudah terlihat cantik. Lebih baik kita bersenang-senang saja sekarang. Bagaimana?" tawar pria dengan celana cargo pendek tersebut.
__ADS_1
"Bersenang-senang apa?" tanya Winona penasaran.
"Ayo," ajak Dwiki yang sudah berdiri. Dia mengulurkan tangan kepada Winona agar wanita muda itu ikut berdiri. Setelah itu, mereka berdua berjalan keluar. Tak lupa, Dwiki mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu.
Setelah tiba di dekat mobil milik Winona, wanita dengan postur 170 cm itu segera melemparkan kunci mobil kepada Dwiki. Namun, ternyata Dwiki malah melempar balik padanya. "Hey!" protes Winona.
Akan tetapi, Dwiki malah tergelak. "Lupa ya? Hari ini aku sedang cuti. Itu berarti aku bukan sopir pribadimu lagi, Non. Tugasku sedang menjadi teman bicara saja," ujar pria itu kalem. Dia lalu membuka pintu samping dan segera masuk. Dwiki pun duduk dengan nyaman. Dia tak peduli meskipun Winona terdengar mendengus kesal. Dwiki malah kembali tertawa.
"Memangnya kita akan ke mana?" tanya Winona yang mulai melajukan mobilnya.
"Jalan saja dulu, nanti aku beri arahan," sahut Dwiki dengan tenang.
Anehnya, Winona menurut saja dengan apa yang pria itu katakan. Dia menjalankan mobilnya atas arahan yang Dwiki berikan. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di sebuah tempat yang membuat Winona seketika membelalakan matanya. Wanita cantik berambut panjang tadi hendak melakukan protes, tapi segera dia urungkan. Dwiki telah terlebih dulu keluar dari dalam kendaraan.
"Menyebalkan!" dengus Winona kesal. Namun, mau tak mau akhirnya dia mengikuti pria itu.
Adalah sebuah toko yang menjual onderdil motor. Dwiki tampaknya hendak membeli beberapa suku cadang untuk kendaraan roda dua kesayangannya. Sementara Winona duduk menunggu di atas bangku yang sudah disediakan. Dia tak begitu nyaman berada di sana, karena hampir semua pengunjung toko tersebut adalah kaum pria. Winona pun harus tahan dengan lirikan-lirikan nakal dari beberapa pria yang ada di sana. Untunglah karena tak lama kemudian Dwiki telah selesai bertransaksi. Mereka pun kembali ke dalam mobil.
"Apanya yang menyenangkan?" protes Winona dengan wajah cemberut.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan." Dwiki tersenyum kalem.
__ADS_1
"Astaga, kenapa aku harus menurutimu?" Winona kembali mendengus pelan. Dia pun kembali melajukan kendaraannya sesuai dengan arahan dari Dwiki, hingga tibalah mereka di sebuah tempat yang memang tak pernah terbayangkan sebelumnya akan Winona kunjungi.