
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Arsenio memasuki kediaman Rainier. Setelah melepaskan helm pinjaman Ajisaka, dia langsung menuju kamar dan melihat keadaan Binar. Sang istri tampak sudah tertidur pulas. Wajah cantiknya terlihat damai sekaligus menggemaskan, membuat Arsenio tak kuasa untuk tidak menciuminya hingga puas.
“Rain, jangan nakal,” gumam Binar dengan mata yang tetap terpejam. Wanita muda itu kemudian membalikkan badan hingga membelakangi sang suami.
Arsenio tersenyum simpul saat menanggapinya. Untuk beberapa saat, dia masih setia berbaring di belakang Binar sambil mengusap-usap lembut punggung wanita muda tersebut. Angannya menerawang, membayangkan pertemuan yang berakhir kacau akibat kedatangan Winona. Terngiang kembali di telinga Arsenio, tentang segala yang Dwiki ucapkan.
Arsenio menghela napas panjang. Sorot matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Berbagai pikiran datang dan berkecamuk di dalam benak pria yang kini telah berusia dua puluh sembilan tahun itu, sampai terdengar ketukan yang teramat pelan di pintu. Dengan segera, Arsenio bangkit dari pembaringan dan bergegas membuka pintu.
Dilihatnya Ajisaka berdiri sambil membawa laptop dan dua buah flashdisk. “Mungkin Anda ingin melihat bukti-bukti ini dulu, sebelum kita mendatangi kediaman Biantara Sasmita besok, Bos,” tawar anak buah kepercayaan Arsenio tersebut.
“Boleh,” jawab Arsenio. Tanpa berpikir panjang, dia segera meraih laptop dan flashdisk tersebut, lalu membawanya ke meja kamar yang terletak di dekat jendela. Sedangkan Ajisaka langsung kembali ke kamarnya.
Arsenio segera menyalakan laptop dan memeriksa file-file yang tersimpan di sana. Berkali-kali alisnya tertaut melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada di sana. Setelah melihat semuanya, dia lalu berpindah pada flashdisk pertama yang berisi rekaman video, saat preman-preman bayaran yang pernah merusak rumahnya datang dan masuk ke dalam kantor Biantara.
Selesai dengan flashdisk pertama, Arsenio beralih pada flashdisk kedua. Kali ini, dia harus lebih mendekatkan wajah ke layar monitor yang menampakkan data-data dalam bentuk angka. Arsenio semakin menautkan alis ketika menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Dia segera menelepon Ajisaka yang saat itu sudah berada di kamarnya. “Ji, kamu sudah tidur?” tanya Arsenio.
“Belum, Bos. Bagaimana?” sahut pria berkulit sawo matang tersebut.
“Data-data ini kamu dapat dari mana?” tanya Arsenio lagi.
“Semua itu berasal dari komputer client milik Haris Maulana, Bos. Sementara milik Winona dan Biantara seluruhnya bersih,” jawab Ajisaka.
“Oke, bagus. Besok kita bawa ini ke rumah om Bian. Bersiaplah. Kita akan berangkat jam enam pagi, sebelum mereka keluar dari rumah,” pesan Arsenio sebelum mengakhiri panggilannya.
Dia lalu memutuskan untuk berbaring kembali sambil memeluk sang istri, sampai alarm berbunyi pukul setengah lima pagi. Arsenio segera terbangun dan bergegas membersihkan diri. Dia sudah tampil rapi ketika Binar baru membuka mata.
“Rain? Kamu mau ke mana lagi? Baru juga datang,” tanya Binar dalam kondisi setengah sadar.
__ADS_1
“Ini sudah pagi, Sayang,” sahut Arsenio sambil tertawa geli.
“Pagi?” Binar mengucek mata, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas kepalanya.
“Kamu pulang jam berapa tadi malam?” tanyanya.
“Belum terlalu malam, tapi kamu sudah terlelap,” sahut Arsenio sambil merangkak ke atas tempat tidur, lalu mencium lembut bibir istrinya.
“Sekarang hendak ke mana lagi? Jam lima sudah serapi ini?” Raut wajah Binar menunjukkan rasa heran.
“Aku harus pergi ke rumah Winona. Doakan aku, ya,” ucap Arsenio. Sorot matanya terlihat sendu menatap Binar yang sedikit terkejut.
“Untuk apa?” Binar tak dapat menutupi perasaan tak nyamannya saat itu.
“Aku ingin mengakhiri semuanya, sekaligus meminta maaf kepada Wini. Kamu pasti mengerti ‘kan, Binar? Betapa brengseknya aku di masa lalu, memutuskan pertunangan begitu saja, kemudian melarikan diri bersamamu.” Pelan dan hati-hati, Arsenio mencoba memberikan pengertian pada sang istri.
Binar awalnya terdiam. Dia seakan tengah mencerna semua kalimat Arsenio. Tak berselang lama, Binar tersenyum sembari menangkup wajah tampan Arsenio dengan kedua tangannya. “Suatu saat nanti aku juga ingin meminta maaf padanya,” ucap wanita yang tengah hamil muda itu.
“Hati-hati ya, Rain,” ucap Binar.
“Pasti.” Arsenio mengecup kening dan bibir istrinya sekali lagi, sebelum berlalu ke luar kamar sambil menenteng tas berisi laptop dan dua buah flash disk.
Sedangkan di halaman depan, Ajisaka sudah siap menunggu sang majikan. Dia menyandarkan tubuh jangkungnya pada bodi kendaraan, yang akan digunakan oleh kedua pria itu untuk menuju ke kediaman Biantara. “Selamat pagi, Bos,” sapa Ajisaka sambil membukakan pintu mobil untuk sang majikan.
“Pagi, Ji,” balas Arsenio. “Nanti kamu cukup tunggu di mobil. Aku akan memanggilmu saat benar-benar butuh,” pesannya memberi arahan.
“Siap, Bos.” Ajisaka mengangguk, lalu mulai menjalankan mobil milik Lievin ke sebuah kawasan perumahan mewah yang cukup eksklusif. Dia menghentikan kendaraan tepat di depan gerbang tinggi menjulang.
Arsenio turun lebih dulu, lalu melambaikan tangan ke arah kamera yang terpasang di sisi kiri dan kanan gerbang megah itu. Beberapa saat kemudian, dua orang satpam datang mendekat dengan tergopoh-gopoh. “Pak Arsenio? Untuk apa Anda kemari?” tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan om Bian,” jawab Arsenio sembari mengangkat tas laptopnya hingga sejajar dengan dada.
“Maaf, tapi Anda tidak diperbolehkan masuk,” tolak satpam lainnya.
“Kalau begitu katakan pada om Bian bahwa aku sudah memegang bukti-bukti lengkap dan akurat, tentang keterlibatannya dalam sabotase maskapai Rainier sekaligus perusahaan investasi milikku,” ujar Arsenio kalem.
Dua orang satpam tadi saling pandang, kemudian memutuskan untuk masuk dan menyampaikan pesan putra sulung keluarga Rainier itu pada Biantara.
Cukup lama Arsenio menunggu di depan gerbang, bersama Ajisaka yang setia duduk tenang di balik kemudi. Hingga tiba-tiba pintu gerbang terbuka perlahan sampai cukup untuk dilewati oleh satu buah kendaraan.
Dengan segera, Arsenio bergegas masuk ke dalam mobil sebelum Ajisaka menjalankan kendaraan dengan kecepatan pelan. Mobil itu berhenti tepat di depan teras luas berhiaskan pot porselen yang ditumbuhi palem mini.
Arsenio kemudian menapakkan kaki di lantai marmer, bersamaan dengan Biantara yang keluar sambil mendorong istrinya yang berada di kursi roda. “Tante Yohana?” desis Arsenio. Kondisi wanita paruh baya itu sama persis dengan apa yang sudah diceritakan oleh Dwiki.
“Cepat katakan apa maumu dan segera pergi dari sini!” sentak Biantara. Wajahnya terlihat tak bersahabat sama sekali. Demikian pula wajah Yohana yang tampak pucat. Wanita itu menatap tajam ke arah Arsenio.
“Di mana Wini?” tanya Arsenio dengan santai. Dia seakan tak terpengaruh oleh sikap Biantara dan sang istri yang begitu mengintimidasi.
“Dia tak ingin bertemu denganmu. Wini sudah muak menghadapi tingkahmu yang menjijikkan!” jawab Biantara dengan emosi meledak-ledak.
“Saya hanya ingin meminta maaf kepada Wini, Om,” ucap Arsenio yang masih bertahan pada sikap tenangnya.
“Sudah! Jangan banyak berbasa-basi! Andai Yohana tak berada di antara kita, aku pasti sudah menghajarmu. Sayang sekali, dia memaksa untuk ikut menemuimu!” Nada bicara Biantara semakin meninggi.
Tanpa pria paruh baya itu sadari, Winona ternyata tengah menguping pembicaraan antara sang ayah dengan mantan tunangannya. Dia menyembunyikan diri di balik pintu yang menghubungkan antara teras dengan ruang tamu.
Winona seketika tertegun saat mendengar kata-kata Arsenio yang hendak meminta maaf padanya. Sejak pertama kali mengenal pria kelahiran Belanda tersebut, baru kali ini pria itu berinisiatif untuk meminta maaf.
Dulu, dua kata sakti itu bahkan seolah tak pernah ada dalam kamus kehidupan seorang Arsenio. Jangankan meminta maaf, setelah ketahuan bersikap salah pun, Arsenio tetap pada sikapnya yang tak acuh dan seenaknya sendiri.
__ADS_1
“Saya sadar bahwa sayalah yang membuat keadaan menjadi serumit ini. Namun, semuanya tentu dapat kita atasi dengan baik, andaikan om bersedia berdamai dengan saya,” ujar Arsenio tenang, tapi berhasil membuat Winona seketika terbelalak tak percaya.