Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Perpisahan Terakhir


__ADS_3

Binar terbangun saat mendengar suara riuh rendah di luar kamar. Dengan segera, calon ibu muda itu beringsut turun dari ranjang, kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tak seperti biasa, saat itu Ajisaka tidak terlihat berjaga di depan kamar yang dia tempati bersama Arsenio. Kursi yang biasa dipakai duduk oleh pria itu pun tampak kosong.


Binar melanjutkan langkah, menuju sumber kegaduhan yang berasal dari lantai bawah.


Wanita muda itu memutuskan untuk turun. Raut kebingungan tampak jelas di wajah cantik Binar. Bagaimana tidak, terlihat banyak orang berlalu lalang di ruang tengah yang dia lewati.


Binar kemudian berbelok ke dapur. Di sana juga tak kalah berisik dengan ruang tengah tadi. Bahkan lorong-lorong rumah yang biasanya sepi, kini menjadi lebih ramai.


Rasa penasaran Binar mencapai puncaknya, ketika dia melihat Fabien tiba-tiba masuk dari arah depan rumah sambil menenteng ransel berukuran besar. Mata pria itu tampak sembap, dengan wajah lusuh.


Fabien tertegun ketika melihat Binar yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Musisi muda itu tak dapat menahan air mata, saat melihat sang kakak ipar yang menatap heran kepadanya. “Kenapa ini bisa terjadi?” Adik kandung Arsenio tersebut mendekat, lalu merengkuh tubuh ramping Binar. Dia menangis sesenggukan di pelukan istri kakaknya.


“Apa maksudmu, Fabien? Bagaimana keadaan mama? Apa kamu tahu perkembangan kondisi mama?” tanya Binar tanpa jeda, membuat Fabien segera mengurai pelukannya.


“Apa Arsenio tidak memberitahumu?” Fabien malah balik bertanya.


“Memberi tahu tentang apa?” Binar kembali bertanya. Raut wajahnya tampak semakin tak mengerti. Tiba-tiba, perasaan wanita muda itu menjadi sangat aneh. Dia lalu mundur beberapa langkah menjauhi Fabien. Sedangkan sorot matanya terus memperhatikan adik iparnya tersebut.


“Mama ….” Fabien tak sempat melanjutkan kata-katanya, ketika Arsenio datang dengan tergesa-gesa dari arah depan.


“Binar!” panggil Arsenio. Dia bergegas menghampiri sang istri. Arsenio bermaksud untuk membawa Binar kembali ke kamar. “Sudah kubilang jangan keluar kamar! Kenapa kamu tidak menurut!” sentaknya. Arsenio mencengkeram pergelangan tangan Binar dengan cukup kencang.


Binar yang tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari Arsenio, tentu saja terkejut bukan main. Rasa bingungnya semakin bertambah. Belum lagi dengan pergelangan tangannya yang terasa ngilu, akibat genggaman kencang Arsenio. “Aku hanya ingin mencari tahu ada keramaian apa di bawah? Tak biasanya rumahmu seramai ini, Rain,” jelas Binar resah.


“Apa Binar belum tahu?” sela Fabien yang kembali berjalan mendekat ke arah suami istri itu.


“A-aku … ” Arsenio tergagap. Dia lalu mengalihkan perhatian pada sang istri yang meringis kesakitan. “Astaga. Maafkan aku, Sayang!” Arsenio yang menyadari bahwa sikapnya tadi telah menyakiti Binar. Pria itu segera melepaskan cengkeramannya dari pergelangan sang istri. Dia lalu memeluk dan mengusap punggung Binar dengan lembut.


“Tolong katakan padaku. Apa yang terjadi sebenarnya, Rain?” Binar mulai terisak di dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Sama seperti Fabien, Arsenio juga terlihat sangat lusuh. Penampilan pria itu yang biasanya rapi, kini tampak acak-acakan. Dia bahkan tak mengancingkan kemejanya dengan benar. Rambut coklat Arsenio begitu kusut, sehingga Binar spontan merapikannya.


Apa yang Binar lakukan, justru membuat Arsenio semakin tergugu. Dia menjatuhkan tubuh tegapnya di hadapan Binar. Arsenio berdiri dengan menggunakan lutut sebagai tumpuan. Dia juga memeluk pinggang ramping sang istri, dan membenamkan wajahnya di perut Binar yang sudah mulai membuncit. “Mama dulu suka sekali merapikan rambutku,” racaunya lirih.


Mendengar kata-kata tersebut, Binar semakin tak karuan. “Apa maksudmu, Rain? Apa yang terjadi kepada mama?” Terbayang wajah cantik Anggraini yang sudah berusia separuh abad tersebut. Masih terngiang jelas nasihat-nasihat wanita itu untuk dirinya beberapa malam yang lalu.


“Mama sudah pergi, Binar. Mama meninggalkan kita,” ucap Arsenio dengan pilu. Sementara wajahnya masih berada di perut sang istri.


“Pergi? Meninggalkan kita?” desis Binar lirih. Saat itulah, dia mulai paham akan keanehan yang terjadi di dalam rumah. Perlahan, Binar melepaskan tangan Arsenio yang masih melingkar di tubuhnya. Dengan langkah lunglai, dia berjalan ke bagian depan rumah.


Di sana, Binar melihat sebuah peti mati. Sementara Lievin duduk di hadapan peti itu dengan pandangan kosong. Beberapa orang yang tak Binar kenal, juga turut berdiri di dekat sang ayah mertua.


Ada gemuruh yang begitu hebat di dalam dada Binar. Dia terus menguatkan kaki, agar dapat berjalan mendekat ke arah peti mati yang tertutup rapat. “Papa?” Binar memberanikan diri untuk menyentuh bahu Lievin.


Lievin segera menoleh. Matanya merah dan sembap. Namun, dia tetap berusaha tersenyum pada wanita muda yang tengah mengandung cucunya. “Binar. Setelah ini aku akan mendandani Anggraini agar tetap terlihat cantik,” ucap Lievin lirih.


“Jadi, yang ada di dalam peti ….” Binar tak melanjutkan kata-katanya. Seakan ada batu besar yang menghimpit dada, sehingga membuatnya kesulitan bernapas. “Mama?” Tubuh ramping Binar seketika lemas. Tenaganya seperti terisap habis, sampai-sampai dia tak dapat berdiri tegak.


“Apa yang terjadi, Rain? Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa padaku? Kamu jahat, Rain!” Binar memukul-mukul dada suaminya sambil menangis.


Arsenio tak menjawab. Dia memilih untuk membiarkan Binar meluapkan kesedihannya hingga puas. Pria tampan bermata coklat terang itu kemudian mende•sah pelan. Tak ada gunanya dia menyembunyikan semua dari Binar.


“Itulah kenapa aku melarangmu keluar kamar, Sayang. Sebenarnya, kamulah target utama pembunuh bayaran tersebut. Akan tetapi, dia salah orang dan malah menembak mama,” terang Arsenio Setetes air mata terjatuh di pipinya.


“Ya, Tuhan,” desis Binar pelan. Dia yang awalnya berbaring, segera bangkit dan buru-buru memeluk Arsenio yang menangis semakin kencang. “Aku tidak percaya ini, Rain. Mama menasihatiku tentang segala hal, beberapa malam yang lalu."


Sepasang suami istri itu saling berpelukan sambil berurai air mata. Sungguh tak dapat diduga jalan hidup yang harus mereka lalui. Kehilangan teramat besar, yang harus ditanggung oleh seorang anak.


“Setelah ini, perias jenazah akan datang. Jika sudah selesai, papa, aku, dan Fabien telah memutuskan untuk langsung memakamkannya, hari ini juga. Kami tidak sanggup berlama-lama melihat jasad mama . Aku tidak kuat, Binar. Aku tidak bisa.” Tangisan Arsenio semakin nyaring, sampai-sampai punggungnya gemetar.

__ADS_1


Arsenio dan Binar semakin larut dalam kesedihan. Arsenio segera menyeka air mata, setelah terdengar suara ketukan pelan di pintu. Pria itu segera beranjak dari tempat tidur, lalu membuka pintu lebar-lebar. Tak dipedulikannya kemeja putih yang dipenuhi noda dan kusut. Beberapa kancingnya juga terbuka begitu saja.


Fabien sudah berdiri di hadapan sang kakak dengan penampilan tak kalah kacau. “Periasnya sudah datang. Mama akan siap dalam satu jam ke depan. Rapikan dirimu untuk bersama-sama berangkat ke pemakaman,” ucap putra bungsu Keluarga Rainier tersebut tanpa senyum.


“Aku juga akan bersiap-siap!” seru Binar sembari turun dari pembaringan. Dia hendak masuk ke kamar mandi.


“Kamu tetap di sini!” Arsenio segera berbalik dan menatap tajam kepada Binar.


“Aku tidak mau! Aku harus menghadiri prosesi pemakaman mama. Kumohon, Rain,” pinta Binar memelas.


“Pembunuh itu masih berkeliaran di luar sana, Binar! Sedangkan kamulah sasaran utamanya. Aku sudah kehilangan mama dan aku tak akan sanggup jika harus kehilanganmu juga. Tolong mengertilah!” Arsenio berkata dengan suara meninggi. "Aku ingin fokus ke prosesi pemakaman."


Fabien yang sempat tertegun, segera maju dan menenangkan sang kakak. “Ingatlah, Broer. Binar sedang hamil. Kau jangan membuatnya takut,” tegurnya pelan.


“Astaga.” Arsenio langsung tersadar. Dia lalu mendekati Binar. Namun, wanita muda itu mundur dan bergerak menjauh sambil menggelengkan kepala.


“Mungkin aku baru saja bertemu dan mengenal mama. Namun, pertemuan singkat itu begitu membekas di hatiku. Kelembutan dan kasih sayang mama padaku terasa begitu tulus. Sesuatu yang tak pernah kudapatkan sejak ibu kandungku meninggal," ucap Binar pilu.


“Aku sangat menyayangi mama. Aku bisa mendapatkan sekaligus merasakan sosok ibu kandung dari beliau. Akan tetapi, sekarang kamu malah melarangku untuk mengantarkan dia ke tempat peristirahatan terakhirnya." Lagi-lagi, Binar menggeleng. Dia sama sekali tak dapat membunyikan kekecewaan atas sikap Arsenio.


“Ini semua demi keselamatanmu, Binar. Tolong mengertilah.” Nada bicara Arsenio melemah.


Namun, Binar tak menanggapi. Dia hanya memandang sendu ke arah Arsenio dan Fabien secara bergantian. Wanita itu lalu berbalik. Binar kembali membaringkan tubuh di atas ranjang dalam posisi membelakangi kakak beradik itu.


“Sudahlah. Kalian berdua masih sama-sama kalut. Biarkan saja dulu,” bujuk Fabien sambil mengajak Arsenio untuk keluar kamar.


Binar sendiri pura-pura memejamkan mata sampai beberapa saat. Ingatannya melayang pada saat jam antik yang loncengnya berdentang tiga kali di tengah malam. “Itukah pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami, Ma?” bisiknya pilu.


Beberapa jam kemudian, Binar masih berada di dalam kamar. Kedua matanya terasa sakit akibat terlalu banyak menangis. Tubuh Binar juga begitu lemas. Namun, sayup-sayup dia mendengar suara yang begitu ramai di luar kediaman Keluarga Rainier.

__ADS_1


Binar tergesa-gesa turun dari ranjang. Dia berjalan cepat menuju balkon. Dari sana, dia dapat melihat dengan jelas peti mati yang digotong oleh enam orang pria. Dua di antaranya adalah Arsenio dan Fabien. Mereka berjalan pelan keluar gerbang, lalu memasukkan peti itu ke dalam mobil jenazah yang sudah siap mengantar ke tempat pemakaman.


Tak banyak yang dilakukan oleh Binar saat itu, selain menangis. “Selamat jalan, Ma. Aku memang baru sedikit mencicipi perhatian dan kasih sayangmu. Namun, aku tak akan pernah melupakannya sampai kapanpun, bahkan hingga aku mati dan kita dapat bertemu kembali di surga,” ucapnya pelan, seolah-olah Anggraini ada di dekatnya, menatap Binar dengan sorot penuh kasih sayang.


__ADS_2