
"Menjauhlah dariku." Arsenio menatap tajam Ghea yang berusaha untuk menggodanya, mengajak dia bersenang-senang. Seperti itulah Ghea. Dia memang kerap memancing Arsenio meskipun bukan pada tempat yang semestinya. Ghea seakan tahu kelemahan pria keturunan Belanda tersebut, karena Arsenio tak pernah bisa menolak ajakannya untuk bercinta. Mereka bahkan kerap melakukannya di ruang kantor si pria. Namun, kini Arsenio menolak dengan tegas, bahkan menyuruh dia untuk menjauh.
"Ya, Tuhan. Jadi benar apa yang Indah katakan tadi," ucap Ghea masih berada di hadapan Arsenio yang saat itu memasang raut dingin kepadanya. "Jadi, kamu memang kehilangan ingatan dan lupa siapa dirimu yang sebenarnya. Oh, sangat mengerikan. Apa itu artinya kamu juga lupa bagaimana panasnya hubungan kita berdua?" Ghea masih terus berusaha menggoda Arsenio.
"Jika memang pernah terjadi sesuatu di antara kita, maka itu merupakan sebuah kesalahan yang tak akan pernah termaafkan," ucap Arsenio dingin dan datar. "Apakah Chand tahu apa yang kamu lakukan di belakangnya?" tanya Arsenio.
"Chand? Dia selalu tahu segala hal. Aku tidak perlu mengatakan apapun, dan dia sudah bisa menebak bahwa aku memiliki teman kencan lain. Teman kencan yang sangat menawan dan juga panas sepertimu," jawab Ghea. Dia mengakhiri kata-katanya dengan sebuah desa•han berat dan napas yang menghangat di wajah Arsenio. Pria tampan itu masih menatapnya tajam.
Arsenio terdiam sejenak, sebelum kembali menanggapi jawaban Ghea. Raut wajahnya masih sangat datar, tanpa ekspresi sama sekali. "Jadi Chand juga tahu bahwa pria itu adalah aku?" tanya Arsenio lagi meyakinkan.
Ghea tertawa renyah. "Aku tidak peduli Chand mengetahuinya atau tidak, karena yang pasti kami akan segera bercerai," sahutnya. Perlahan dia menyentuh bagian depan atasan batik lengan panjang yang Arsenio kenakan. Jemarinya bergerak nakal pada deretan kancing yang tertutup rapi. Dia terus bergerak ke bawah, hingga berhenti pada ujung atasan batik tersebut. Ketika tangan Ghea hendak menyentuh sesuatu yang berada di dekat ujung bagian depan atasan batik tadi, dengan segera Arsenio mencekal pergelangan calon janda cantik itu.
Tatapan Arsenio semakin tajam dan penuh kebencian. Dia mencekal tangan Ghea dengan kencang. "Jangan pernah berani menyentuh sesuatu yang bukan hakmu. Statusmu masih sebagai istri Chand, sahabatku. Jika dulu aku tak peduli akan hal itu, maka lain dengan sekarang. Aku tidak sudi melayani kegilaanmu lagi!" Arsenio mengempaskan tangan Ghea dengan kasar.
"Astaga, Arsen. Apakah selain kehilangan ingatan, kamu juga kehilangan semua gairah panas terhadap para wanita? Aku tahu seperti apa karaktermu Arsenio. Kamu tidak akan bisa bertahan lama tanpa belaian tangan halus dan nakal seorang wanita. Terutama wanita sepertiku," cibir Ghea dengan senyum penuh percaya diri.
"Teruslah berpikir begitu. Satu yang pasti, aku bukan lagi Arsenio yang kamu kenal dulu!" Kasar dan sinis nada bicara pria bermata cokelat terang itu. Tanpa banyak basa-basi lagi, Arsenio berlalu dari hadapan Ghea dan meninggalkannya seorang diri di sana.
__ADS_1
Arsenio berjalan dengan wajah masam. Pikirannya semakin kacau setelah bertemu dan bicara singkat dengan Ghea. Ragu menggelayuti hatinya. Entah apa yang akan terjadi seandainya Chand mengetahui perselingkuhan yang dia dan Ghea lakukan. Beban berat itu semakin terasa menyiksa, ketika Arsenio tiba pada sebuah pemikiran. Apa yang membuat Chand dan Ghea hendak bercerai? Apakah itu karena dirinya?
Namun, jika Chand mengetahui pengkhianatan yang dilakukan oleh dirinya bersama Ghea, lalu mengapa pria keturunan India itu masih bersikap hangat dan seakan tak terjadi apapun? Apakah Chand pria yang sangat baik? Jika iya, maka betapa bejatnya karakter seorang Arsenio di masa lalu.
Pikiran kekasih dari Winona itu semakin kacau. Sepertinya dia tak ingin kembali lagi ke aula pesta. Arsenio merasakan sakit di kepalanya. Dia memutuskan untuk pulang saja. Pria itu hanya mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Anggraini, yang meminta agar menyampaikan alasannya kepada Chand dan keluarga.
Dengan menggunakan sebuah taksi, Arsenio meninggalkan lokasi pernikahan adik Chand yang masih berlangsung. Selama dalam perjalanan, dia hanya termenung memikirkan segala macam yang bercampur aduk dalam benaknya. Semua terasa ruwet dan begitu membingungkan untuk diurai, seperti sebuah benang yang sudah benar-benar kusut.
Dalam kegalauan itu, Arsenio mencoba untuk mengalihkan perhatian. Dia memandang ke luar jendela, pada jalanan yang dilaluinya. Saat itulah, sepasang matanya menangkap sesosok gadis cantik yang tengah berjalan di trotoar.
Dengan segera, Arsenio menoleh ke belakang. Sosok gadis dengan t-shirt lengan pendek serta celana jeans itu masih terlihat berjalan di kejauhan. Arsenio pun meminta sang sopir taksi untuk berhenti dan menepi sejenak. Dia menyuruh agar menunggu selagi dirinya turun untuk memastikan bahwa gadis yang dia lihat tadi memang benar-benar Binar atau bukan.
Tatap mata Arsenio terus tertuju lurus ke depan, mengarah pada dua orang gadis yang berada cukup jauh darinya. Arsenio mempercepat langkah, mencoba menyusul kedua gadis tadi di antara orang-orang yang juga tengah berjalan di trotoar yang sama.
Namun, meskipun Arsenio sudah semakin mempercepat langkahnya, dia tetap tak dapat menyusul kedua gadis yang kini menghilang entah ke mana. Arsenio tertegun sejenak sambil mengedarkan pandangan. Di sana terdapat beberapa gang masuk. Tak mungkin dirinya harus memeriksa gang itu satu per satu.
"Binar, apa itu kamu?" gumamnya lirih. Arsenio memejamkan mata sejenak. Tak lama kemudian, pria berambut cokelat itu memutuskan untuk kembali ke mobil taksi yang masih menunggunya. Di dalam perjalanan, Arsenio lagi-lagi mencoba untuk menghubungi kedua adik Binar. Tanpa Arsenio ketahui bahwa sebenarnya mereka telah berkemas dan pergi dari rumah yang telah sekian lama ditempati.
__ADS_1
Usut punya usut, ternyata Widya sudah sering sekali mencuri dari tempatnya bekerja. Jika diperhitungkan, nominal yang telah dia ambil memang sudah lumayan banyak, meskipun sebenarnya tak setara dengan harga rumah. Namun, ibunda Surya menjadikan rumah itu sebagai jaminan, hingga Widya bisa mengembalikan semua uang yang telah dicuri oleh ibu tiri Binar tersebut.
Sementara pesta pun hampir usai. Chand tampak mencari keberadaan Arsenio. "Arsen tadi mengeluh tidak enak badan. Karena itu dia memutuskan untuk pulang lebih cepat," ucap Anggraini saat Chand menghampiri mereka. Sedangkan Winona tampak memasang wajah masam. Jelas sudah bahwa dirinya tak menyukai apa yang Arsenio lakukan.
"Aku tadi bertemu mbak Ghea. Apa dia juga sudah pulang duluan, ya?" Indah yang baru datang ke sana, tiba-tiba menanyakan keberadaan Ghea.
Hal itu membuat perasaan Winona semakin tak karuan. "Aku ingin ke toilet dulu," pamitnya seraya berlalu. Dia melangkah cepat keluar dari aula pesta. Setelah berada di tempat yang jauh lebih sepi, Winona kemudian berhenti lalu merogoh ke dalam hand bagnya. Dia mengambil ponsel dari sana, kemudian menghubungi Arsenio. Dua kali panggilan darinya tak mendapat tanggapan dari Arsenio. Begitu juga dengan panggilan ke tiga. Pada panggilan ke empat barulah Arsenio bersedia untuk menjawabnya.
"Ada apa, Wini?" tanya Arsenio dengan suara beratnya yang terdengar lesu dan malas-malasan.
"Kamu di mana, Arsen? Jangan katakan jika saat ini kamu sedang bersama Ghea!" tuding Winona tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Jangan ganggu aku, Wini. Aku sedang tak ingin berdebat. Kepalaku sakit dan aku ingin tidur," tolak Arsenio dengan malas.
"Kamu keterlaluan, Arsen! Aku benar-benar tak habis pikir, bahkan dalam situasi seperti ini pun kalian masih menyempatkan diri untuk bertemu diam-diam! Sungguh memalukan!" Winona tak kuasa menahan segala amarah yang sudah ditahan sejak kemarin, dari semenjak dia mendengar percakapan antara Arsenio dengan Indah.
"Terserah kamu mau berpikir apa. Satu yang pasti saat ini aku sedang di rumah dan sendirian. Tanpa Ghea atau siapa pun!" tegas Arsenio yang mulai jengkel.
__ADS_1