Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Si Duda Bening


__ADS_3

Binar menjalani shiftnya dengan tak bersemangat hari itu. Sepanjang pagi hingga menjelang sore, senyum ceria yang biasa menghiasi wajah cantiknya sama sekali tak terlihat. Angan gadis belia itu terus melayang pada perkataan Chand kemarin petang saat mereka berbincang melalui telepon. Dia sama sekali tak berminat lagi untuk pergi ke Jakarta. Terlebih bayangan Rain yang tengah tersenyum ceria sembari menggenggam dan mengecup tangan kekasihnya di layar televisi, telah menghancurkan hati gadis tersebut. Cinta pertama Binar yang terasa begitu menyesakkan, membuat dirinya menarik napas dalam-dalam.


“Nirmala, kamu tidak pulang? Sudah ditunggu tuh,” tanya Renata tiba-tiba.


Lamunan Binar seketika buyar saat wajah cantik Renata sudah berada di depannya. Wanita itu juga tersenyum lebar kepadanya.


“Siapa, Mbak?” tanya Binar hati-hati.


“Tuh.” Telunjuk lentik Renata terarah ke teras toko bunga miliknya. Di sana terparkir sebuah kendaraam SUV berwarna putih dengan pria tampan yang bersandar di kap mobil tersebut. Tampak pria itu tengah membetulkan letak kaca mata hitam yang dia kenakan.


“Kak Chand?” desis Binar pelan. Namun, Renata dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


“Cie, sekarang sudah memanggil ‘kak’, ya?" godanya. “Hebat kamu, Mal. Chand itu terkenal sulit jatuh cinta, lho. Apalagi dia baru saja gagal berumah tangga.” Renata bertepuk tangan penuh semangat untuk Binar.


“Ah, Mbak bisa saja. Kami hanya sekadar kenal,” bantah Binar tersipu. Dia juga tampak sedikit salah tingkah.


“Ya sudah. Temui dulu sana. Tidak baik membuat daben menunggu,” celoteh Renata.


“Apa itu daben, Mbak?” Binar mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti.


“Duda Bening!” sahut Renata tergelak. Tawanya terdengar amat nyaring sembari berlalu meninggalkan Binar ke bagian dalam toko. Gadis belia itu hanya menggelengkan kepala pelan menanggapi ucapan atasannya.


“Mbak, saya sekalian pamit pulang, ya,” seru Binar seraya meraih tas ransel yang sedari tadi tergeletak di samping kursi.


“Iya, hati-hati, Mal! Salamku untuk daben!” balas Renata dari dalam ruangannya.


Binar tersenyum simpul sambil berjalan keluar toko. Langkahnya semakin pelan saat mendekat ke arah Chand yang bersandar menghadap toko bunga. Mau tak mau dia harus memasang wajah ceria. “Kak,” sapanya.


“Hei. Aku menunggu jawabanmu dari semalam,” protes Chand. Dia lalu membuka pintu kemudi dan meraih sebuah tas kecil berbahan plastik dari dalam sana. Tas itu lalu dia sodorkan kepada Binar.


“Apa ini, Kak?” tanya Binar keheranan.


“Buka saja,” sahut Chand singkat dengan sorot mata dan senyuman penuh arti.


Karena merasa penasaran, Binar buru-buru membukanya. Mata indah gadis itu terbelalak ketika mengetahui isi dari tas tadi. “Ponsel siapa ini, Kak?” jemari Binar gemetar tatkala membolak-balikkan kotak ponsel seri terbaru itu.


“Punya kamu lah. Rasanya tidak enak kalau harus meneleponmu melalui Nastiti terus,” ujar Chand beralasan.


“Um ... ta-tapi ini terlalu mahal, Kak. Saya tidak bisa menerimanya,” Binar menyodorkan kotak yang masih tersegel itu kembali pada Chand.

__ADS_1


“Kalau kamu menolak, itu artinya kamu sudah melukai perasaanku, Mal. Aku tidak suka itu,” tegas Chand dengan raut wajah yang terlihat sangat serius.


“Bukan itu maksudku, ta-tapi ....” Binar terbata. Serba salah rasa hatinya saat itu.


“Terima atau aku akan marah,” ancam Chand seraya mendekatkan wajahnya pada Binar. Berdebar jantung Chand saat memperhatikan wajah cantik Binar yang hanya berpoleskan bedak tipis. Pipi gadis itu juga merona alami, apalagi ketika Chand menyentuhkan ujung jarinya pada pucuk hidung Binar.


“Ini terlalu mahal,” ucap Binar lagi sambil menunduk lesu.


“Itu cuma hadiah, kok. Ada teman yang memberikan ponsel itu untukku, tapi karena modelnya tidak cocok dan aku juga baru saja membeli ponsel baru ... maka aku berikan saja untuk kamu. Daripada tidak dipakai. Iya, kan?” kilah Chand.


“Masa sih, Kak?” tanya Binar. Intonasinya seakan tak percaya.


“Sudahlah, jangan cerewet. Cepat buka kotaknya!” titah Chand. “Oh ya, di dalam situ juga sudah tersedia nomor baru yang bisa lagsung kamu pakai,” imbuh pria itu lagi.


Ragu-ragu, Binar menyobek segel kotak tersebut dengan sangat hati-hati. Dia lalu membukanya. Binar kemudian mengeluarkan sebuah ponsel bercorak biru muda dari dalam sana dengan tatapan terpana.


“Kamu bisa memasukkan nomornya sendiri, ‘kan?” tanya Chand yang membuat Binar tergagap.


“Ti-tidak bisa, Kak. Aku tidak pernah punya ponsel sebagus ini,” jawabnya polos.


“Ya, sudah. Biar kubantu. Ayo,” ajak Chand menarik lengan Binar. Dia lalu membuka pintu untuk penumpang. Setengah memaksa, Chand menyuruh gadis cantik itu agar duduk di sana. Setelah memastikan Binar merasa nyaman, duda bening itu lalu berjalan memutari mobil dan duduk di balik kemudi.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Chand berhenti di tempat parkir sebuah bangunan bergaya antik. Di depan bangunan itu terdapat trotoar yang sangat lebar berisi meja kursi milik café yang tertata rapi. “Kamu mau di dalam atau di luar?” tawar Chand menoleh pada Binar dan menunggu jawabannya.


“Apanya, Kak?” Binar semakin bingung menanggapi pertanyaan duda baru itu.


“Duduknya. Pilih di dalam ruangan atau di trotoar?” Chand memperjelas maksud dari ucapannya tadi.


“Di trotoar saja, Kak,” pilih Binar. Dia tersenyum saat Chand turun dari kendaraan dan membukakan pintu untuknya.


“Ya, sudah. Ayo!” Tanpa sungkan, Chand meraih tangan Binar. Pria tampan itu kemudian menuntunnya menuju meja di dekat sebuah pohon rindang yang tumbuh di tepi jalan, sambil membawakan tas plastik berisi ponsel baru milik Binar. Chand tidak perlu menunggu izin dari gadis cantik itu, ketika dia membuka ponsel dan memasukkan nomor ke dalamnya. Chand bahkan sempat mengutak-atik layarnya sebelum menyerahkan kembali pada Binar. “Sudah kupasang dan kusimpan nomorku sekalian di hp-mu,” ujarnya.


“Aku tidak tahu harus menjawab apa, Kak. Menurutku, ini semua terlalu berlebihan,” sahut Binar merasa tak enak.


“Tidak ada yang berlebihan, Mal. Anggap saja itu uang muka komisi buat kamu,” celetuk Chand dengan entengnya


“Uang muka komisi? Komisi untuk apa, Kak?” Binar menggelengkan kepalanya dengan kencang.


“Untuk menjadi modelku,” jawab Chand seraya tersenyum lebar. Sementara Binar terbelalak, lalu merengut.

__ADS_1


“’Aku belum memberi jawaban,” protesnya.


“Aku tidak perlu menunggu jawabanmu, Mal. Karena aku betul-betul memaksa. Aku sungguh-sungguh meminta tolong padamu. Kru kami kekurangan tenaga. Tolonglah, bantu aku, Mal. Please,” pinta Chand mengiba.


“Kak, tapi ... aku tidak bisa berangkat ke Jakarta,” tolak Binar dengan suara lemah.


“Kenapa? Apa karena kekurangan baju? Kalau masalah itu, tenang saja. Aku sudah menyiapkan beberapa setel untuk kamu,” bujuk Chand.


“Bukan itu, Kak. Aku ….” Binar menggigit bibir bawahnya. Haruskah dia menceritakan pada Chand, bahwa dirinya ingin menghindari sosok Rain atau Arsenio yang sempat dia lihat di layar televisi waktu itu?


“Ada seseorang yang tidak ingin kamu temui di Jakarta?” tanya Chand. Kalimatnya membuat Binar terkesiap dan sedikit tertegun menatap duda tiga puluh tahun itu.


“Aku masih ingat ceritamu yang menjauh dari Bali karena ingin menghindari seseorang. Apa seseorang itu sekarang ada di Jakarta?” selidik Chand dengan nada bicara yang tenang. Namun, Binar tidak menjawab. Dia hanya memalingkan wajah ke arah jalan raya yang lumayan padat di depannya.


“Jakarta merupakan kota yang luas, Mal. Kemungkinan bertemu dengan orang yang kamu maksud itu kurang dari lima puluh persen. Tenang saja. Lagi pula … kamu tidak sendiri di sana. Ada aku yang bisa berpura-pura menjadi pacarmu seandainya sewaktu-waktu kamu bertemu dengan dia,” cetus Chand sembari menyunggingkan senyuman tipis. Dia dapat melihat dengan jelas pendirian Binar mulai goyah.


“Penghasilan menjadi model cukup lumayan. Kamu juga bisa menambah pendapatan dengan bekerja di salah satu gerai retail milikku,” tutur Chand. “Untuk tempat tinggal, sementara kamu bisa menginap di apartemen adikku, Prajna. Apartemen itu sudah tidak ditempati, sampai kamu bisa menabung dan menyewa tempat sendiri,” lanjut Chand lagi.


“Kenapa ....” Binar tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. “Kenapa Kakak begitu baik padaku? Bukankah kita baru saja kenal? Bagaimana jika ke depannya aku mengecewakan Kakak?” tanya Binar yang terdengat sangat ragu. Pada akhirnya gadis itu dapat mengutarakan isi hatinya.


“Aku juga tidak tahu kenapa bisa dengan mudahnya percaya padamu, Mal. Aku hanya merasa kita senasib,” jawab Chand.


“Senasib? Kakak bercanda, ya? Senasib dalam hal apa? Jelas-jelas kehidupan kita jauh berbeda,” sanggah Binar tak mengerti.


“Senasib dalam hal percintaan sepertinya,” sahut Chand terbahak seusai berkata demikian, sedangkan Binar hanya mendengus kesal. “Maaf,” ucap Chand kemudian sambil mengulum senyum.


“Seperti yang sudah ditegaskan tadi. Kamu tidak boleh menolak tawaran ini, karena aku sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kita berdua,” tegasnya.


Binar terperanjat kaget setelah mendengar keputusan dari Chand. “Yang benar saja, Kak!” protesnya tak terima.


“Kemarin aku sudah meminjam fotokopi KTPmu yang masih disimpan oleh Renata, untuk memesan tiket secara online. Besok pagi jam delapan kita berangkat. Jangan menolak atau lari, Nirmala. Sebab aku pasti akan mengejar dan menuntutmu kalau kamu sampai nekat!” tegas ultimatum dari Chand, membuat Binar diam tak berkutik.


.


.


.


Hai, bagi reader yang suka karya religi, karya yang satu ini cocok untuk kalian. Yuk, kepoin.

__ADS_1



__ADS_2