
Binar berkali-kali mengintip ke luar jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. Dari sana, gadis itu dapat melihat jalan setapak yang membelah taman depan menuju area bangunan berukuran sedang di samping rumah utama yang berfungsi sebagai garasi. Dari tempatnya berdiri, Binar tak dapat melihat apapun, selain lampu taman yang berpendar remang-remang.
Gadis itu mengembuskan napas perlahan. Rasa khawatir mulai hinggap di hatinya, menyadari bahwa dua pria yang dia tinggalkan tadi mungkin saja tengah berseteru. Akan tetapi, kegelisahan itu sirna seketika saat seseorang mengetuk pintu kamar yang dirinya tempati.
Dengan dada berdebar, Binar yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, setengah berlari dan membukanya. Seperti yang dia duga, Arsenio lah yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum menggoda. “Terima kasih sudah menunggu,” bisik pria rupawan itu dengan sikap nakal, kemudian masuk ke dalam kamar sebelum Binar sempat mencegahnya. Arsenio lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu dengan seenaknya.
“Eh, jangan! Kita bicara di luar saja. Nanti kalau tante Anggraini tahu bagaimana? Benar kata kak Chand, dia ….” Gadis cantik itu tak dapat melanjutkan kalimat, sebab Arsenio sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan segera.
“Tidak akan ada yang tahu. Mamaku juga tidak mungkin menggeledah kamarmu,” ucap Arsenio dengan santainya, sesaat setelah melepaskan tautan bibir mereka. Dia kemudian menggandeng gadis itu agar duduk di kursi rotan berlapis busa tebal yang terletak di ujung tempat tidur Binar. “Chand sudah menceritakan semua,” lanjutnya kemudian.
“Tentang apa?” tanya Binar penasaran.
Jantung gadis itu berdegup tak beraturan, saat Arsenio kembali mendekatkan wajahnya. Dia sengaja menempelkan bibir di telinga Binar dan berbisik lirih, “Kau menolak cintanya karena telah memilihku.”
Binar menggeser tubuhnya hingga sedikit menjauh dari Arsenio yang semakin berani, setelah pria itu mulai lepas kendali dengan menggigit pelan daun telinga Binar. “Hentikan, Rain,” pinta gadis itu tampak salah tingkah. Bayangan perlakuan tidak sopan dari Surya dulu kembali hadir dan sedikit mengusik hatinya. Namun, Binar mencoba untuk menepiskan semuanya.
__ADS_1
Arsenio terkekeh pelan. “Maafkan aku. Habisnya kamu menggemaskan sekali,” goda pria dua puluh tujuh tahun itu. Namun, kali ini pria itu tak ingin Binar lolos, sehingga dia merengkuh tengkuk dan menariknya maju. Satu tangan lainnya melingkar di pinggang ramping Binar. Arsenio kembali melu•mat bibir gadis itu tanpa ampun.
Setelah merasa puas, barulah dia melepaskan cengkeraman tangan kekarnya dari tengkuk Binar. “Terima kasih, ya,” ucap Arsenio setelah berhasil menetralkan debaran di dada.
“Untuk apa?” tanya Binar. Dia selalu saja tak kuasa menghindar dari pria tampan bermata indah itu.
“Karena telah memilihku. Aku tak akan membuatmu kecewa. Lihat saja, Sayang. Paling lama seminggu ke depan. Aku akan membuat kejutan,” jawab Arsenio penuh percaya diri.
“Kejutan apa? Kamu tidak akan berbuat yang aneh-aneh, ‘kan?” Binar mulai was-was.
Binar pun tampak kewalahan. Tanpa sadar dia merebahkan diri di atas kursi panjang itu. Sementara Arsenio seakan mendapat angin segar. Tangannya bergerak semakin nakal menyentuh paha dan terus ke atas hingga berhenti di dada gadis lugu tersebut. Helaan napas berat pria itu menghangat di wajah Binar, seakan menjadi sebuah obat bius yang membuat gadis dua puluh tahun tadi seperti akan mati karena lemas. Dia begitu menikmati setiap rabaan yang dirasakannya.
Namun, Binar mendadak tersadar ketika Arsenio berusaha menyingkap baju tidur yang dia kenakan. “Astaga, hentikan!” Secara refleks, kaki Binar menendang dan mendorong Arsenio hingga terjatuh ke lantai.
“Aduh.” Arsenio meringis sambil memegangi perutnya. Dia juga meringkuk di lantai untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Ya, ampun. Ma-maafkan aku, Rain. Aku tidak bermaksud ….” Binar begitu panik sampai tergagap. Dengan segera, dia menyentuh lengan Arsenio dan membantunya berdiri. Akan tetapi, saat itu Arsenio menampakkan wajahnya yang konyol karena tak sanggup menahan tawa. Dia tergelak sambil bangkit dan duduk kembali di kursi tadi.
“Kamu benar-benar nakal, Rain!” Binar merasa sebal karena pria itu berhasil mengerjainya. Dipukulinya lengan Arsenio berkali-kali. “Sudah keluar saja! Jangan ganggu aku! Aku harus beristirahat karena besok akan berangkat keluar kota,” usirnya sembari menarik tangan Arsenio dan berusaha menyeret pria itu keluar kamar.
“Oke, oke. Aku akan keluar.” Arsenio mengangkat kedua tangannya di depan dada, “tapi kamu harus ingat kata-kataku, Binar. Seminggu lagi, bersiaplah.” Pria tampan itu mengangkat satu alisnya dan menatap Binar dengan pandangan menggoda.
Binar menggeleng kuat-kuat. Sekarang dia tidak akan terkecoh. Segera saja gadis cantik tersebut memutar kunci kamar, lalu membukanya lebar-lebar. Binar kemudian mendorong tubuh tegap dan jangkung milik Arsenio keluar dari kamar. Dia segera menutup pintu ruangan itu cepat-cepat dan kembali menguncinya.
“Aduh, jantungku,” keluh Binar seraya mere•mas dada. Disandarkan punggungnya pada pintu yang telah tertutup rapat. Angannya kembali memutar adegan nakal yang terjadi beberapa saat yang lalu. “Ah,” desah Binar sambil mengacak-acak rambut. Aroma tubuh, desah napas, setiap detail wajah dan peluh Arsenio yang sempat menetes dari dahi, kini melekat erat dalam ingatannya.
“Kamu benar-benar nakal, Rain,” keluh Binar sembari mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Gadis itu pun tertidur dengan membawa mimpi indah tentang Arsenio. Hingga alarm digital berbunyi nyaring, membangunkan Binar dan memaksanya kembali ke dunia nyata.
Gadis itu segera bangkit dan mematikan alarm di atas nakas. Dia lalu kembali merebahkan dirinya. Binar hendak menutup mata lagi ketika giliran ponselnya yang berbunyi. Dia terbelalak saat melihat bahwa Anggraini lah yang ternyata menghubungi dirinya saat itu. Dengan segera, Binar menegakkan tubuh dan menjawab panggilan telepon tadi. “I-iya, tante? Saya sudah bangun ... um ... maksudnya ... baru bangun ....” Binar menjadi gugup.
“Mal, tante tunggu setengah jam lagi, ya. Hari ini tante harus memajukan jadwal kita, karena nanti sore tante harus terbang ke Belanda. Jadi kita harus meninjau lokasi pembangunan gedung lebih awal,” pesan ibunda Arsenio tersebut yang membuat Binar seketika melompat dari tempat tidur.
__ADS_1
Binar terlihat panik dan menutup telepon begitu saja. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi. Dia hanya mencuci muka serta menggosok giginya. Seusai dengan aktivitas di dalam kamar mandi, Binar pun segera berganti pakaian. Namun, gadis itu lagi-lagi tertegun. Wangi aroma tubuh Arsenio ternyata masih menempel di pakaian yang dia kenakan semalam. "Astaga," gumamnya teramat lirih.