Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Keinginan Terpendam


__ADS_3

Binar sempat berdiri mematung di depan pintu lift. Wanita muda itu masih terpaku di tempatnya berada, ketika ayah dan ibu mertua beserta suaminya sudah berjalan lebih dulu meninggalkan dirinya. Mereka bertiga tak menyadari bahwa Binar masih tertinggal di belakang.


Arsenio yang pertama kali tersadar saat dia menoleh ke samping. Pria itu tak mendapati Binar di sisinya. Dia langsung berbalik dan meraih pergelangan tangan sang istri, kemudian merengkuh tubuh wanita yang tengah hamil muda tersebut. “Sedang apa di situ? Ayo,” ajaknya setengah memaksa.


Dengan agak ragu, Binar melangkah mendekat kepada Winona. Masih teringat jelas dalam ingatannya, sikap Winona yang ketus dan dingin saat mereka berdua terjebak di toilet klinik tempo hari. Namun, dia tak bisa menghindar lagi. Satu-satunya hal yang bisa Binar lakukan adalah tersenyum manis seraya mengulurkan tangan. Terlebih kedua mertuanya dan bahkan Arsenio telah selesai menyalami wanita cantik jelita mantan tunangan Arsenio tersebut.


“Selamat pagi, Kak,” sapa Binar kaku. Di luar dugaan, Winona balas menjabat tangan Binar dengan ramah, sama seperti ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya dulu.


“Selamat pagi. Bagaimana kandunganmu? Kamu barbar juga ya rupanya,” celetuk Winona yang membuat semua orang seketika bertanya-tanya.


“Maksudnya?” tanya Anggraini tak mengerti.


“Beberapa hari yang lalu kami terjebak di toilet klinik, Tante. Pintunya terkunci otomatis. Kami berusaha membukanya, tapi gagal. Lalu, Binar menendang pintu itu dengan keras,” terang Winona sambil mengulum senyum.


“Astaga.” Anggraini mengelus dada sembari menatap Binar dengan pandangan tak percaya. Wanita itu tak mampu berkata apa-apa.


Sedangkan Lievin hanya tergelak menanggapi apa yang Winona katakan.


“Tidak apa-apa. Cucuku kuat. Dia tahan akan goncangan,” kelakarnya seraya kembali terbahak.


Lain halnya dengan Arsenio yang langsung melotot. Tampak jelas raut keberatan dari wajah tampan suami Binar tersebut. “Bisa-bisanya,” ujar Arsenio sambil berdecak pelan.


“Maaf. Aku gugup waktu itu, jadi spontan saja melakukannya,” sahut Binar salah tingkah.


“Ah sudahlah. Selama istri dan bayimu tidak apa-apa. Ayo, masuk,” ajak Winona. Sikapnya begitu ramah, jauh berbeda dengan beberapa hari lalu ketika Arsenio bersimpuh di depan dia beserta kedua orang tuanya.


Winona membuka pintu ruang perawatan VVIP lebar-lebar. Tampak Biantara tengah duduk di samping ranjang sambil memegangi tangan sang istri. Dia tertegun sejenak saat melihat mantan calon besannya, datang sambil membawa keranjang penuh dengan buah-buahan.


“Apa kabar, Bian?” sapa Lievin sedikit kaku sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


“Seperti yang kau lihat. Yohana ….” Kalimat Biantara menggantung, sementara matanya sendu menatap sang istri yang tengah tertidur. Namun, tak lama kemudian dia membalas jabat tangan Lievin.


Hati Lievin sendiri menghangat, ketika ternyata Biantara bersedia menyambut baik kedatangannya dan keluarga. Tak ingin berhenti sampai di situ, ayah kandung dari Arsenio dan Fabien tersebut langsung memeluk erat sahabatnya. “Terima kasih, karena kau telah bersedia memaafkan putraku,” ujarnya penuh haru.


“Terus terang saja bahwa aku sudah lelah, Vin. Usiaku sudah semakin tua. Kondisi Yohana juga sangat menyita waktu dan pikiran,” balas Biantara lirih.


“Aku ingin kita kembali akrab seperti dulu lagi, walaupun anak-anak kita tak berjodoh.” Anggraini yang awalnya berdiri di samping Lievin, kini mendekat ke arah ranjang. Setelah mengangguk dan menepuk-nepuk punggung Biantara pelan, dia mengalihkan perhatian pada Yohana. Wajah wanita yang memiliki usia sama dengan dirinya tersebut tampak semakin tirus. Pipi Yohana terlihat cekung dengan kantung mata yang menghitam. “Apa kata dokter? Sakit apa yang dideritanya?” tanya Anggraini dengan raut sedih.


“Entahlah. Padahal dia sudah menjalani serangkaian tes darah. Akan tetapi, dokter masih belum dapat menemukan secara pasti apa penyebab kondisi kesehatan istriku yang semakin menurun,” keluh Biantara pelan.


Sementara Arsenio yang berada paling belakang sambil terus menggenggam tangan Binar, memilih untuk tidak banyak bicara. Dia malah memperhatikan Winona yang berdiri tak jauh darinya. Diam-diam pria tampan itu menghirup aroma shampo yang familiar di hidungnya, menguar dari rambut mantan tunangannya tersebut. “Kamu berangkat dari mana? Dari rumah?” tanya Arsenio tiba-tiba dengan setengah berbisik.


Winona yang tak mengira bahwa Arsenio melayangkan pertanyaan padanya, segera menoleh dan mengernyitkan kening. “Kenapa memangnya?” tanya wanita yang kini tengah menjalin kedekatan bersama Dwiki tersebut.


“Tidak apa-apa." Arsenio tersenyum penuh arti. Kembali diliriknya rambut Winona yang terlihat sedikit basah. “Dwiki pria yang baik, jauh lebih baik dariku. Aku yakin kamu tak akan menyesal menerimanya,” ujar Arsenio lagi, membuat Winona tertegun dan membisu untuk sesaat.


“Ka-kamu … bagaimana bisa?” tanya Winona tak percaya.


“Sudah seperti ini, masih saja cemburu,” bisik Arsenio teramat pelan, tepat di telinga sang istri kemudian menggigitnya. Binar sendiri tak berani menanggapi. Dia hanya melotot sebagai tanda protes.


Beruntung karena suasana yang membuat Binar canggung itu berakhir ketika Lievin dan Anggraini berpamitan pada Biantara.


“Sampai jumpa lagi lusa, Om. Biar papa dan mama yang melakukan serah terima berkas-berkas perusahaan itu nanti,” ucap Arsenio sambil bersalaman dengan ayahanda Winona tersebut.


“Ya. Itu juga ide yang bagus,” balas Biantara sebelum sorot matanya berpindah pada Binar. “Berapa usia kandunganmu?” tanyanya tiba-tiba.


“Sebelas minggu, Om,” jawab Binar pelan.


“Hm.” Biantara mengangguk. Sebuah senyuman samar tersungging di bibirnya. “Kuharap Arsen bisa menjadi ayah dan suami yang baik,” ujar pria paruh baya itu terlihat tulus.

__ADS_1


“Selama ini dia sudah menjadi seorang suami yang luar biasa,” sahut Binar tersipu sambil melirik ke arah sang suami.


“Baguslah kalau begitu.” Biantara tersenyum getir. Pandangan matanya yang sendu, mengiringi keluarnya Keluarga Rainier dari ruang perawatan Yohana.


Sesampainya di ambang pintu, Binar sempat menoleh pada Winona yang saat itu terlihat begitu berbeda, baik dari sikap maupun pembawaannya. Namun, dia bersyukur karena Winona berubah menjadi jauh lebih baik dan ramah padanya.


“Sepertinya Wini sedang jatuh cinta. Itulah kenapa dia tak lagi terganggu dengan kedatanganmu,” ucap Arsenio yang seakan mengetahui isi hati sang istri. Saat itu mereka berjalan dengan jarak yang sedikit jauh di belakang Anggraini dan Lievin.


“Oh ya? Jatuh cinta dengan siapa?” tanya Binar penasaran.


“Nanti juga kamu akan tahu sendiri,” Arsenio tersenyum lebar sambil mengacak-acak rambut istrinya.


“Rain! Jangan nakal!” protes Binar bersungut-sungut. Akan tetapi, pria rupawan itu tak peduli. Dia terlalu bahagia, karena satu per satu masalah yang mereka hadapi sudah bisa terselesaikan.


“Aku jadi ingin mengajak kalian semua berjalan-jalan,” celetuk Arsenio sesaat setelah dirinya duduk dengan nyaman di balik kemudi.


“Jalan-jalan ke mana?” Lievin terdengar begitu bersemangat menanggapi ajakan sang anak.


“Apakah Papa ada ide?” Arsenio balik bertanya.


“Sebenarnya aku hanya ingin menenangkan diri di Bali. Selain karena letaknya tak terlalu jauh dari Jakarta, pemandangan dan keindahannya juga tak kalah dengan tujuan wisata di luar negeri,” ujar Lievin.


“Aku juga menyukai Bali. Ada banyak kenangan indah yang kulalui di sana. Salah satunya adalah bisa bertemu dan dirawat oleh Binar. Seandainya tak ada dia, mungkin saat ini aku sudah mati,” sahut Arsenio dengan nada bicara santai, tetapi telah membuat Anggraini tersenyum kelu.


“Di sana pula kalian melepas masa lajang dan menikah dengan sangat sederhana,” imbuh Anggraini. “Aku selalu didera penyesalan yang teramat besar setiap kali mengingat hal tersebut,” lanjutnya.


“Sudahlah, Ma. Jangan diungkit-ungkit lagi. Semua sudah berlalu dan kita baik-baik saja sekarang. Hanya saja, ada satu keinginan yang ingin segera kuwujudkan,” ungkap Lievin.


“Apakah itu?” tanya Anggraini dan Arsenio secara bersamaan.

__ADS_1


“Aku ingin Arsen dan Binar, mengesahkan pernikahan mereka secara sipil, sekaligus mengadakan resepsi yang pantas untuk putra sulungku,” jawab Lievin dengan mata menerawang jauh.


__ADS_2