Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Cooking With Love


__ADS_3

Malam itu Binar membuktikan ancamannya. Dia tak menyiapkan apa-apa untuk makan malam bagi dirinya ataupun Arsenio. Setelah mandi, wanita muda itu memilih langsung naik ke tempat tidur. Sedangkan Arsenio yang baru selesai melakukan olahraga malam, hanya dapat mengempaskan napas pelan melihat tingkah kekanak-kanakan sang istri. Tanpa banyak bicara, Arsenio melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, pria tampan berambut cokelat itu ikut naik ke tempat tidur. Dia mencoba medekati Binar yang berbaring dengan posisi membelakangi. Sedangkan tubuhnya ditutupi oleh selimut hingga telinga. "Sayang," panggil Arsenio lembut. Dia ikut berbaring dengan posisi yang sama, sambil memeluk Binar dari belakang. "Aku sudah mandi, sudah segar," bisiknya nakal.


"Masa bodoh," sahut Binar ketus.


"Astaga, kenapa kamu kasar sekali? Jika kamu lolos dalam pelatihan dan magang kali ini, kamu akan bekerja di sebuah restoran kelas dunia," ujar Arsenio


"Aku tahu," balas Binar masih terdengar ketus.


"Bukan tidak mungkin kamu akan menemukan berbagai kendala. Entah dari pengunjung restoran atau mungkin dari rekan sesama karyawan. Kamu harus belajar untuk meminimalisir sikap manja seperti ini," tegur Arsenio mengingatkan.


"Mereka bukan suamiku. Terserah jika mereka bertemu atau bahkan bermesraan sekalipun dengan mantan pacarnya," sahut Binar lagi masih kesal.


"Astaga, Sayangku, Cintaku ...." Arsenio semakin merapatkan tubuhnya. Satu hal kelemahan pria itu. Dia tak dapat mengendalikan pikiran nakalnya tiap kali berdekatan dengan Binar. Arsenio hanya tersenyum kalem, ketika Binar menyibakkan sedikit selimut yang menutupi sebagian kepalanya. Wanita itu menoleh kemudian melotot. "Maaf, Sayang. Aku selalu tergoda tiap bersentuhan denganmu," kilahnya berlagak seperti remaja yang polos.


"Dasar mesum!" cibir Binar kembali memalingkan wajah dari sang suami. "Minggirlah, aku mau tidur!" Binar menolak sang suami yang tengah berusaha untuk membujuk serta merayunya agar berhenti merajuk.


"Aku tidak akan bisa tidur nyenyak jika kamu marah seperti ini. Kamu tahu kata pepatah? 'Jangan sekalipun membawa masalah ke atas tempat tidur, tapi justru jadikanlah tempat tidur sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah itu'. Aku suka pepatah lama tadi." Arsenio tertawa pelan.


"Karena itulah kamu .... ah menyebalkan!" gerutu Binar. Dia tak lagi memedulikan sang suami. Wanita muda itu masih tidur dalam posisi menyamping.

__ADS_1


Melihat sikap Binar yang demikian, Arsenio pun tak berniat untuk memaksa. Dia yakin jika besok pagi, sang istri tercinta pasti akan kembali 'normal'. Arsenio pun meraih ponsel dari atas meja di sebelah tempat tidur. Pria itu duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menatap lekat layar telepon genggamnya.


Arsenio tampak begitu serius. Dia bahkan sudah lupa dengan Binar yang sedang merajuk. Pria itu pikir bahwa istrinya telah tertidur pulas. Padahal perkiraannya salah.


Diam-diam, Binar menoleh padanya. Rasa cemburu dalam hati wanita muda tersebut kian menjadi, apalagi saat melihat Arsenio yang senyum-senyum sendiri, dengan tatapan yang terus tertuju pada layar ponsel. Rasa hati ingin marah dan melampiaskannya kepada sang suami, tapi Binar sudah terlanjur pura-pura tidur. Alhasil, dia pun hanya bisa menggerutu sendiri.


Binar tak tahu bahwa saat itu Arsenio tengah membuka website tentang perusahaan barunya. Bagaimanapun juga, sebagai seseorang yang sudah berpengalaman dan malang-melintang cukup lama dalam dunia bisnis, Arsenio harus mengenal baik seperti apa sejarah dari perusahaan tempat dia bekerja. Arsenio senyum-senyum sendiri, karena dia melihat foto-foto di mana terdapat beberapa rekan kerjanya.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa lapar pun mendera pria itu. Dia melirik Binar untuk sejenak. Tak ingin mengganggu sang istri yang sudah terlelap, pria itu pun memutuskan untuk keluar kamar.


Mendengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali, Binar bergegas menyibakkan selimut yang tadi menutupi seluruh tubuhnya. Rasa curiga yang telah menguasai pikiran wanita muda itu, telah membuatnya terlihat sangat konyol. Binar pun memutuskan untuk keluar kamar. Sambil mengendap-endap, dia berjalan mencari sosok sang suami. Akan tetapi, ternyata Arsenio tak ada di ruang tamu atau ruangan lainnya yang berada dekat kamar mereka.


Binar menjadi semakin merasa curiga. Dia memikirkan sesuatu yang teramat liar. Dalam bayangan wanita muda itu tergambar Arsenio tengah asyik bertemu secara diam-diam dengan sang mantan kekasih sambil bermesraan di dalam lift, di basement, atau mungkin bisa di mana saja. Binar tahu karakter sang suami, yang tak segan bermesraan di manapun ketika dia menginginkanya.


Namun, belum sempat dia menuju pintu, langkahnya sudah tertahan oleh suara aneh dari arah dapur. Binar mengendap-endap berjalan menuju ke sana. Dia melihat lampu di ruangan itu menyala, sehingga menampakkan sosok tegap bertelanjang dada yang tengah asyik melakukan sesuatu dengan wajan dan kompor.


Tadinya, Binar tak ingin mengganggu kesibukan sang suami. Dia bermaksud untuk kembali ke kamar. Wanita muda itu dapat bernapas lega, karena ternyata Arsenio tidak sedang bermesraan dengan siapa pun.


"Sayang? Apa kamu lapar juga?" Pertanyaan Arsenio telah membuat Binar harus menghentikan langkah, yang memang berniat untuk kabur sebelum keberadaannya diketahui.


Binar pun kemudian menoleh. "Tidak juga. Aku hanya ...." Belum sempat wanita muda tadi melanjutkan kata-katanya, Arsenio telah lebih dulu menghampiri. Dia lalu mengajak sang istri untuk menemaninya memasak.

__ADS_1


"Lihatlah, aku membuat fettucini carbonara," tunjuknya kepada Binar yang hanya berdiri terpaku memperhatikan sosok tampan dengan rambut yang sedikit acak-acakan itu. "Semenjak mengenal kamu, aku jadi selalu kelaparan. Biasanya, aku jarang sekali makan malam jika bukan untuk acara bisnis dan hal formal lainnya. Namun, sekarang aku tidak bisa tidur dengan perut kosong," tutur Arsenio tanpa menoleh kepada Binar yang masih mematung. Tangan pria itu cekatan memainkan spatula beserta gagang wajan anti lengket, hingga akhirnya dia mematikan kompor.


"Sejak kapan kamu mulai belajar memasak, Rain?" tanya Binar setelah Arsenio memindahkan hasil masakannya ke dalam piring porselen putih.


"Semenjak aku kuliah dan berada jauh dari rumah," sahut pria itu. Dia mengambil garpu, kemudian menggulungkan makanan tadi pada alat makan tersebut. Dia memberikan suapan pertamanya kepada Binar.


Awalnya, wanita itu hanya terdiam. Namun, Arsenio memaksa memasukkan makanan tadi sambil membuka mulut Binar dengan paksa. Dia tertawa geli saat melihat mulut sang istri yang dipenuhi makanan. Selain itu, bumbu dari masakan tadi pun mengotori sekitar bibir Binar.


"Kamu ini iseng sekali!" protes Binar. Dia bermaksud untuk mengelap bibirnya yang kotor. Namun, dengan segera Arsenio mencegahnya. Pria itu kemudian mendekat, lalu membersihkan permukaan bibir sang istri dengan menggunakan lidahnya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Binar hanya dapat terpaku. Itu bukan kemesraan pertama yang dia lakukan bersama Arsenio. Akan tetapi, jantungnya selalu berdetak dengan lebih kencang, setiap kali berhadapan langsung dengan pria tampan yang berpostur jauh lebih tinggi darinya tersebut.


"Aku mencintaimu. Kenapa selalu saja meragukanku?" tanya Arsenio dengan setengah berbisik. Namun, saat itu Binar masih tetap mematung. Tanpa menunggu jawaban dari wanita muda itu, Arsenio kembali membersihkan bibir istrinya bahkan dengan lebih dalam.


.


.


.


Abis itu ngapain, yaa.. Cek dulu yg ini, deh. Satu karya super keren dr temen otor yg cetar membahana 😍

__ADS_1



__ADS_2