Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Selangkah Lebih Dekat


__ADS_3

Chand mengemudikan mobilnya dengan pikiran kosong. Entah kenapa, perasaan pria itu begitu was-was jika sudah menyangkut tentang Binar. Apalagi gadis polos tersebut harus diikutsertakan dalam rencana Arsenio. “Ah,” desah Chand pelan seraya meraup wajahnya kasar. Hatinya semakin gundah ketika mobil yang dia kendarai sudah tiba di depan gedung Expo, tempat Binar melakukan gladi bersih untuk pagelaran pameran pernikahan esok. Gadis itu akan melenggang di atas catwalk sambil mengenakan gaun pengantin.


Duda berparas menawan itu bergegas turun dari mobil. Dia segera memasuki gedung tersebut. Di sana, anak buahnya tampak sibuk menyiapkan segala macam dekorasi di gerai yang telah disediakan. “Pak Chand,” sapa salah satu asisten kepercayaannya seraya datang menghampiri. “Semua sudah seratus persen siap untuk besok. Para model sudah melaksanakan gladi bersih di panggung. Semuanya sempurna, terutama pacar Anda,” papar asisten itu dengan senyuman lebar. “Dia dapat memahami semuanya hanya dengan satu dua kali latihan, Pak,” lanjutnya memuji.


“Siapa dulu dong,” sahut Chand sambil terkekeh pelan. “Aku tidak pernah asal dalam memilih perempuan, Na. Ya, walaupun terkadang masih salah pilih juga,” kelakarnya seraya terbahak. “Di mana Nirmala?” tanya Chand kemudian.


“Ada di belakang, Pak. Sedang ganti baju sepertinya,” jawab sang asisten setia bernama Nana tadi.


“Oke. Terima kasih.” Chand menepuk pundak Nana pelan. Wanita berusia tiga puluhan dengan bentuk tubuh cukup berisi itu adalah salah satu orang yang paling dipercaya olehnya. Chand selalu puas dengan pekerjaan wanita tersebut. Termasuk saat ini, ketika dia melihat stand pameran miliknya yang sudah tertata dengan desain mewah dan elegan, meski dengan dekorasi yang simpel.


Chand sempat mengamati sekeliling. Tata letak panggung, dekorasi, dan berbagai macam pernak-pernik yang menghiasi hingga dia tiba di depan ruang ganti. Tak berapa lama, pintu ruang ganti itu terbuka. Dari sana, keluarlah beberapa gadis bertubuh semampai. Mereka melewatinya sambil tersenyum menggoda. Bagi Chand, hal tersebut sudah biasa. Kebanyakan wanita yang baru melihatnya pertama kali selalu bersikap sedikit di luar kendali. Hal itulah yang membedakan mereka dengan Binar, yang cenderung cuek dan pemalu.


“Kak? Sudah lama menunggu?” Sapaan Binar yang berada di belakang, cukup mengejutkan Chand. Pria rupawan itu membalikkan badan, lalu tersenyum hangat.


“Ayo. Kita ke suatu tempat,” ajak Chand sambil meraih tangan Binar dan menggandengnya tanpa permisi.


“Ke mana?” tanya Binar penasaran.


“Nanti kalau sudah sampai, baru kuberitahu,” jawabnya enteng. Dua anak manusia itu berjalan berdampingan sampai ke tempat parkir. Angin petang ibukota seakan menyambut Binar dengan berhembus sedikit kencang dan menerpa rambut panjangnya. Rambut indah itu pun menjadi sedikit berantakan karenanya.


Chand memperhatikan hal tersebut sedari tadi. Dia merapikan rambut Binar tanpa diminta sebelum membukakan pintu untuk gadis itu, kemudian berjalan memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. “Terima kasih, Kak.” Binar tersipu sekaligus tersanjung dengan perlakuan manis yang dia terima.


Chand menanggapi dengan senyuman lembut. Tak seperti biasanya, dia yang selalu memiliki banyak cerita untuk Binar, seakan tak berminat mengobrol saat itu. Binar sempat melirik dan memperhatikan wajah tampan di sebelahnya yang seperti mempunyai banyak beban pikiran. Akhirnya, Binar ikut terdiam hingga mobil Chand berhenti di sebuah gerbang berwarna hitam yang tampak mewah dan tinggi menjulang.

__ADS_1


“Rumah siapa ini, Kak?” tanya Binar sambil memperhatikan rumah mewak di balik gerbang itu melalui kaca depan mobil.


“Nanti kamu juga tahu sendiri.” Chand terkekeh pelan, lalu menekan klakson sekali. Seorang satpam keluar dari dalam pos yang terletak di samping pagar dan melambaikan tangan padanya. Satpam itu kemudian menekan tombol di dalam pos, hingga gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya. Chand membuka jendela mobil dan mengangguk pada satpam itu sebagai ucapan terima kasih.


Mobil mewah milik Chand itu akhirnya berhenti di sebuah halaman luas. Dia keluar terlebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Binar serta membantunya turun. Chand mengulurkan lengan, sedangkan Binar menyambutnya dengan melingkarkan tangannya di lengan kekar berotot tersebut.


Tanpa ragu, Chand mengajak Binar menaiki tangga dan berjalan melintasi teras rumah yang luas dan mewah. Di teras tadi, terdapat meja besar berbentuk melingkar dan dikelilingi oleh beberapa kursi. Semua perabotan itu terbuat dari kayu. Perhatian Binar kemudian tertuju ke depan, sewaktu Chand menekan bel di sisi pintu masuk dengan dua daun pintu bercat putih gading itu.


Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapi, mengangguk sopan sambil sedikit membungkuk. “Silakan masuk, Pak Chand,” sambutnya.


“Terima kasih, Bu Ndari,” balasnya pada wanita pelayan senior di rumah itu. Chand kemudian mengajak Binar melangkah masuk ke bagian dalam rumah yang desain interiornya jauh lebih mewah dari yang pernah Binar lihat di televisi. Akan tetapi, langkahnya kemudian membeku. Seluruh tubuhnya menegang saat dirinya dan Chand memasuki ruang jamuan. Di depan Binar, duduklah beberapa orang yang mengitari meja makan besar berbentuk persegi. Mereka semua menatap Binar yang erat memegangi lengan Chand dengan pandangan ramah. Sementara, pandangan Binar sendiri terkunci pada sosok jangkung yang terlihat begitu memesona dengan blazer abu-abunya. Sosok itu langsung berdiri dari duduk ketika Binar dan Chand tiba.


“Selamat malam om dan tante Rainier. Terima kasih saya ucapkan atas undangan makan malamnya,” ujar Chand yang seketika membuat Binar kesulitan menelan ludah. “Kenalkan, ini Nirmala. Kekasih saya yang baru,” lanjutnya.


Binar begitu terkejut dan menoleh dengan pandangan bertanya-tanya pada Chand. Namun, pria keturunan India-Jawa itu seperti tak peduli. Wajahnya tampak begitu bahagia saat mengajak Binar menyalami satu per satu orang yang berada di sana. Mulai dari Lievin, Anggraini, seorang wanita yang sangat cantik berwajah ramah, lalu Rain alias Arsenio.


“Nah, begitu dong, Chand. Move on dari Ghea,” sahut wanita cantik yang pernah Binar lihat di televisi, dan dia ketahui sebagai tunangan Arsenio.


“Harus.” Chand terbahak, kemudian mengarahkan tangan Binar untuk menyalami Arsenio yang nyalang menatapnya. Akan tetapi, pria rupawan itu tak juga menyambut tangan Binar yang sudah terulur.


“Ehm.” Winona berdehem untuk menyadarkan Arsenio yang seolah terpaku memperhatikan gadis yang diakui oleh Chand sebagai kekasihnya tersebut.


Arsenio segera tersadar dan menjabat tangan Binar sambil tersenyum kaku. “Silakan duduk,” ucapnya seraya memalingkan muka.

__ADS_1


Binar menjadi semakin tak nyaman, ketika dia duduk berdampingan dengan Chand, tetapi berhadapan dengan Arsenio. Berkali-kali dia menundukkan wajah yang memerah untuk menghindari tatapan tajam cinta pertamanya itu.


“Oh, jadi ini yang dipromosikan oleh Arsen untuk jadi asisten istriku?” celoteh Lievin dengan wajah ramah.


Binar segera mendongak mendengar perkataan pria paruh baya yang duduk di ujung meja itu. Dia memandang ke arah Lievin, lalu berpindah pada Chand yang terlihat begitu tenang dan santai. “M-maaf, saya kurang mengerti,” ujar Binar ragu.


“Saya memang belum menyampaikan rencana Arsen pada kekasih saya, Om, Tante. Sebab beberapa hari ini dia sibuk mempersiapkan diri untuk peragaan busana pengantin besok,” tutur Chand kalem.


“Oh, kamu seorang model?” sahut Winona antusias.


“Iya,” sahut Chand. “Nirmala baru saja menekuni dunia model. Masih banyak yang harus dipelajari,” imbuhnya.


“Oh, begitu.” Anggraini terus menerus memandang dengan sorot yang begitu lembut, hingga membuat Binar salah tingkah. “Menurut kamu apa Nirmala setuju untuk merangkap bekerja sebagai asistenku, Chand?” tanyanya.


Lagi-lagi, Binar tampak terkejut dan kebingungan. “A-asisten?” gumamnya.


“Iya, Sayang,” jawab Chand dengan intonasi yang dibuat-buat. “Sahabatku ini sedang membutuhkan seorang asisten untuk tante Anggraini, mamanya.” Chand menerangkan sambil menggerakkan tangan pada Arsenio, lalu berpindah pada Anggraini. “Menurutnya, kamu adalah sosok yang paling tepat untuk pekerjaan itu. Bagaimana?” tawar Chand, meskipun dalam hati dia sungguh berharap agar Binar tak menerima.


.


.


.

__ADS_1


Fiuuh, tegaang, tegaang. Kendorin dulu sama karya keren yang satu ini ❤️



__ADS_2