Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Gadis Penyelamat


__ADS_3

Chand mendehem pelan saat mendengar Arsenio menyebut nama Nirmala. Dia sudah dapat menebak ke mana arah rencana dari sang cassanova. Namun, Chand tak langsung menanggapi. Duda tampan tersebut hanya menggaruk keningnya perlahan.


"Nirmala?" Anggraini yang sudah bersiap untuk pergi, menatap kepada putra sulungnya dengan wajah penasaran. Dia tampak berpikir untuk sejenak. "Baiklah. Jika menurutmu dia memang cocok, ajak saja kemari. Mama ingin berkenalan dengannya," ucap wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda tersebut. "Besok," tunjuknya pada Arsenio. Setelah itu, dia mencium pipi Lievin untuk berpamitan.


"Kamu yakin tidak ingin kuantar, Sayang?" tanya Lievin memastikan. Pria asal Belanda itu berdiri dengan maksud hendak mengantar sang istri ke dekat mobil.


"Tidak perlu, Sayang. Kamu harus istirahat. Aku tidak mau kalau sampai penyakitmu kambuh karena kelelahan," tolak Anggraini dengan senyuman lembut.


"Oh, bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi sendiri," ucap Lievin lagi seraya merengkuh pinggang istri tercintanya.


"Jaga saja putramu agar dia tidak bertindak yang aneh-aneh," pesan Anggraini seraya mencubit pipi sang suami. Setelah selesai berpamitan, dia pun menuruni undakan anak tangga menuju ke dekat mobil.


"Mama tenang saja, karena aku yang akan menjaga papa," seru Arsenio dengan tidak terlalu nyaring, meskipun saat itu Anggraini sudah masuk ke dalam kendaraan. Niat Arsenio hanya ingin menggoda sang ayah.


Apa yang dilakukan pria tampan itu pun berbalas. Lievin melangkah ke arahnya. "Jangan main-main atau Papa akan membawamu untuk tinggal di Belanda," ancamnya dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Astaga." Arsenio berdecak pelan. "Aku baru sadar jika usiaku ternyata baru sepuluh tahun," celotehnya lagi diiringi tawa renyah.


"Ah, sudahlah. Papa sedang tidak ingin bercanda denganmu. Pusing rasanya," keluh Lievin seraya berlalu dari teras, meninggalkan kedua sahabat yang kini saling melirik.


Chand tak segera menanggapi usulan yang diberikan oleh Arsenio kepada Anggraini. Duda tampan tersebut masih berusaha untuk mencerna sikap dari sahabatnya, yang dirasa telah kembali menjadi seperti Arsenio yang dulu sebelum mengalami amnesia. Namun, mantan suami Ghea tadi belum berani untuk menyimpulkan secara langsung.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Arsenio memecah kebisuan di antara mereka berdua. Dia menyandarkan lengan kanannya pada pilar tinggi yang menopang bangunan megah itu.


"Apanya? Nirmala?" tanya Chand. Dia berdiri di sebelah Arsenio. Kedua pria tampan tersebut sama-sama menatap halaman asri dari kediaman Rainier. "Aku setuju saja. Akan tetapi, dengan catatan jika Nirmala bersedia untuk melakukannya," ucap pria berusia tiga puluh tahun itu kemudian.

__ADS_1


"Aku rasa Binar pasti akan setuju. Delapan puluh lima persen. Sisanya bisa kuatasi hingga bisa menjadi seratus persen," balas Arsenio yakin.


"Dari mana kamu bisa mendapatkan keyakinan sebesar itu?" Chand melirik sahabat dekatnya, sebelum kembali mengarahkan pandangan pada halaman luas berumput hijau.


"Aku tahu seperti apa karakter Binar, meskipun belum terlalu lama mengenalnya. Gadis itu bukan tipe orang yang senang berpura-pura, apalagi sampai bermuka dua. Dia teramat tulus dalam menjalani kehidupan." Arsenio tersenyum simpul. Kembali hadir dalam ingatannya setiap perlakuan kasar Widya yang kerap Binar terima.


Sementara Chand pun hanya terdiam. Bayangan wajah cantik berhiaskan senyuman polos gadis yang dia panggil dengan nama Nirmala, hadir begitu saja di pelupuk mata. Satu hal yang tak pernah bisa dia lupakan, yaitu saat dirinya dapat mencium gadis cantik tersebut.


"Baiklah. Aku akan mencoba bicara dengan Nirmala," ujar Chand kemudian setelah mengakhiri lamunan indahnya. "Kebetulan sore ini kami ada rencana untuk bertemu," lanjut pria itu lagi.


"Kalau boleh kutahu, kamu mengontrak Binar untuk berapa lama?" tanya Arsenio seraya melirik Chand.


"Berapa lama?" Chand tersenyum samar. "Belum ada kontrak kerja sama yang akan mengikat Binar denganku. Kemarin aku hanya meminta bantuannya karena kekurangan model. Kurasa dia memiliki potensi yang bisa digali lebih dalam," ujar Chand kalem.


"Itu artinya kamu tidak ada masalah jika harus melepaskan Binar, andai dia bersedia menerima tawaran pekerjaan ini?" Arsenio kembali melirik sahabat dekatnya yang saat itu hanya menggumam pelan.


"Baguslah. Aku se ...." Arsenio tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena suara dering ponsel lebih dulu berbunyi. Nama Winona tertera di layar. Meskipun malas, tapi Arsenio tetap menjawab panggilan tadi. Dia berbincang sebentar dengan wanita yang menjadi tunangannya tersebut.


"Aku tidak mengatakan apapun kepada papa dan mamaku," ucap Winona dari seberang sana.


"Aku berharap kamu memberitahu mereka," sahut Arsenio.


"Aku tidak akan bertindak bodoh," balas Winona yang tetap menolak keinginan Arsenio untuk membatalkan pertunangan mereka. "Dengarkan, Arsen. Aku bisa memaafkan saat mengetahui bahwa kamu berselingkuh dengan Indah dan juga Ghea. Namun, aku tidak akan tinggal diam untuk sikapmu yang satu ini. Aku bisa mengorbankan perasaan meski harus merasa kesakitan, tapi tidak untuk kedua orang tuaku."


Arsenio mengempaskan napas pelan. Inilah yang membuatnya merasa malas untuk bicara lebih lama dengan Winona. Tak ada hal yang menyenangkan sama sekali. Wanita cantik itu hanya memiliki kepintaran dalam berbisnis. Dia begitu luwes jika sudah berhadapan dengan klien dan kolega saat membicarakan masalah tender. Namun, Winona akan berubah menjadi sangat kaku ketika berbicara dengan Arsenio.

__ADS_1


"Ya sudah. Lain kali saja kita bahas lagi. Aku sedang bersama Chand. Ada hal penting yang sedang kami bahas," tutup Arsenio tanpa menunggu jawaban dari Winona. Dia tak peduli meskipun sang tunangan masih ingin berbicara dengannya.


Sementara Chand berkali-kali melihat arloji di pergelangan kiri. Dia seperti sudah tak nyaman berada di sana.


"Apa kamu masih ada acara?" tanya Arsenio yang dapat melihat bahasa tubuh sahabatnya.


"Aku selalu memiliki banyak acara setiap harinya," jawab Chand tanpa menoleh kepada Arsenio. "Hari ini aku sudah janji untuk menjemput Nirmala, apalagi karena tadi pagi tidak sempat mengantarnya ke tempat latihan," jelas pria tampan itu kemudian.


Arsenio tersenyum simpul. Chand tidak tahu jika dirinyalah yang telah mengantarkan Binar ke sana. Namun, pria bermata cokelat terang tersebut tak ingin mengatakan apapun kepada Chand. Arsenio hanya menggumam pelan, kemudian mengambil kaca mata hitam yang dia gantungkan pada leher t-shirt. "Jangan lupa untuk menyampaikan amanat mamaku kepada Binar. Jika dia bersedia, maka ajaklah besok siang kemari," pesannya mengingatkan.


"Ya tentu. Namun, boleh kusarankan satu hal?" Chand sudah bersiap untuk pergi. Saat itu, dia tengah merapikan jaket yang sejak tadi hanya ditentengnya.


"Saran tentang apa?" tanya Arsenio penasaran.


"Seandainya kamu ingin membawa Nirmala ke hadapan tante Anggraini, maka kusarankan agar kamu tetap menutupi siapa gadis itu yang sebenarnya," saran Chand dengan gaya bicara yang tenang dan terdengar meyakinkan.


"Kenapa harus begitu?" tanya Arsenio pura-pura tak mengerti.


Chand tersenyum kecil. "Kamu pikir saja sendiri, bagaimana tanggapan dari tante Anggraini seandainya dia tahu identitas asli dari seseorang yang kamu bawa ke hadapannya. Apa itu tak akan membuat mamamu menolak Nirmala mentah-mentah? Tante Anggraini pasti tahu seperti apa perasaanmu terhadap gadis penyelamat itu."


.


.


.

__ADS_1


Penasaran nggak, nih? Tunggu kelanjutannya besok sambil ngintip karya keren yang satu ini yaa❤️



__ADS_2