
Setelah sekian lama, akhirnya Arsenio dan Binar dapat kembali menginjakkan kaki di Indonesia. Negara itu memang bukanlah tanah kelahiran dari putra sulung pasangan Lievin dan Anggraini tersebut. Akan tetapi, rasa cintanya terhadap negara yang merupakan kampung halaman sang istri teramat besar.
“Apa kita akan mampir juga ke Bali?” tanya Binar saat mereka telah tiba di depan kediaman milik Dwiki. Beberapa hari yang lalu, Arsenio telah menghubungi mantan ajudan setianya tersebut. Dia meminta izin untuk menginap sementara di sana. Dengan senang hati, Dwiki memberikan izinnya. Dia justru membebaskan Arsenio beserta Binar untuk tinggal di sana selama yang dibutuhkan.
“Selamat datang kembali di Indonesia, Bos,” sambut Dwiki. Maaf saya tidak bisa menjemput anda berdua ke bandara, soalnya di penginapan sedang sibuk-sibuknya. Bos tahu sendiri sekarang sudah masuk musim liburan,” tutur lajang itu menjelaskan.
“Sudahlah, Ki. Dengan memberikan kami tumpangan di sini saja, aku dan Binar sudah benar-benar berterima kasih padamu,” sahut Arsenio seraya menepuk pelan lengan sang mantan ajudan.
“Jadi, apakah Bos akan tinggal lama di Indonesia?” tanya Dwiki lagi. Dia menyuguhkan tiga buah minuman kaleng kepada tamunya. “Maaf, Bu Bos. Di sini hanya ada yang instant-instant. Maklum, bujangan,” ujar pemuda itu lagi seraya meringis kecil. Sedangkan Binar pun hanya tersenyum saat menanggapinya.
“Kenapa kamu tidak cepat-cepat menikah, Ki. Punya istri itu enak lho,” ujar Arsenio seraya melirik ke arah Binar yang segera membalasnya dengan hal yang sama.
“Ya, itu sudah pasti. Akan tetapi, saya belum punya pekerjaan tetap. Mau dikasih makan apa anak orang?” Dwiki tergelak seraya membuka penutup minuman kalengnya. “Rumah ini sudah lama saya tinggal, Bos. Namun, saya sudah bersih-bersih kemarin. Jika memang masih kurang memuaskan, benahi saja lagi. Tidak apa-apa. Anggap saja rumah sendiri.”
“Tidak apa-apa, Ki. Lagi pula, aku di sini hanya untuk beberapa hari saja. Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan,” ujar Arsenio.
“Kalau boleh saya tahu, urusan sebesar apa sampai-sampai membuat Bos memutuskan untuk pulang?” tanya Dwiki. Dia sudah dapat menebak bahasa tubuh Arsenio yang tampak berbeda.
Arsenio tak segera menjawab. Dia lalu menoleh ke arah Binar. Wajah cantik sang istri tampak begitu lusuh, setelah menempuh perjalanan panjang dari Jerman menuju Indonesia. “Apa kamu ingin berbaring, Sayang?” tawarnya.
“Jika boleh,” sahut Binar seraya mengempaskan napas pelan.
“Tentu saja, Bu Bos. Mari saya tunjukkan kamarnya,” ajak Dwiki. Dia lalu berdiri, kemudian berjalan mendahului Binar.
“Aku tinggalkan kamu di sini tidak apa-apa, kan?” Binar mengerlingkan mata belonya kepada sang suami.
Arsenio menoleh, kemudian mengedipkan sebelah matanya. “Nanti aku akan menyusulmu?” bisik pria tampan itu, sebelum Binar berlalu dari dekatnya. Namun, sang istri tak ingin menanggapi lagi godaan nakal tadi. Dia segera menghampiri Dwiki yang sudah membukakan pintu kamar untuknya.
__ADS_1
“Silakan, Bu Bos. Maaf di sini fasilitasnya tidak memadai dan hanya seperti ini adanya,” ucap pria yang masih betah melajang tersebut.
“Tidak apa-apa, Ki. Aku pasti akan tidur nyenyak di sini,” sahut Binar seraya berlalu ke dalam kamar. Dia baru menutup pintu setelah Dwiki pamit untuk kembali ke ruang tamu dan menemui Arsenio yang sudah menunggu di sana.
“Jadi, bagaimana, Bos?” tanya Dwiki sambil memilih untuk duduk di salah satu kursi yang terletak di dekat Arsenio.
Arsenio terdengar mengempaskan napas panjang sebelum memberikan penjelasan kepada Dwiki. “Sebenarnya, aku butuh bantuanmu untuk kali ini. Namun, itu juga jika kamu ada waktu luang. Aku tidak ingin urusan ini mengganggu pekerjaan utamamu.” Arsenio kemudian meraih kotak rokok yang Dwiki suguhkan di atas meja. Dia mengambil satu batang, lalu menyulutnya. Setelah itu, asap tipis pun mengepul dari dalam mulut serta rokok yang sudah terbakar tadi.
“Tidak apa-apa, Bos. Akan selalu ada waktu untuk Anda,” balas Dwiki mengikuti apa yang Arsenio lakukan. Sesekali, dia kembali meneguk minuman kalengnya. “Jadi, ada apa? Coba ceritakan semuanya,” pinta pria dengan wajah khas asli Indonesia tersebut.
“Begini, Ki. Kupikir, urusanku dengan keluarga Biantara telah selesai begitu aku memutuskan untuk pergi dari Indonesia dan menjauh dari mereka. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian,” tutur Arsenio mengawali penjelasannya.
“Memangnya ada masalah apa lagi antara Anda dengan keluarga mantan Anda itu?” tanya Dwiki lagi semakin penasaran.
“Itulah yang tidak kuketahui dan lolos dari perkiraanku selama ini. Ternyata, Biantara dan Winona bergerak secara diam-diam. Entah rencana jahat apa yang sudah mereka susun untuk membalas dendam kepada keluargaku. Intinya, saat ini perusahaan milik ayahku sedang menghadapi masalah besar,” terang Arsenio. Pria tampan berdarah Belanda tersebut mengisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengepulkan asap yang cukup tebal.
“Inilah yang ingin kutugaskan padamu, Ki,” sahut Arsenio. “Aku tak ingin jika Biantara ataupun Winona mengetahui keberadaanku di Indonesia. Itulah mengapa aku harus membatasi pergerakan selama berada di sini.” Arsenio kembali mengisap rokoknya yang tinggal tersisa sedikit lagi.
“Oh itu bisa diatur, Bos. Pertama, rumah saya aman untuk Anda. Kedua, jika Anda ingin saya menyelediki permasalahan ini, maka pasti akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, pertanyaannya saya harus mengawali dari mana?”
“Itulah yang belum bisa kupikirkan. Aku sama sekali tidak punya gambaran tentang hal ini. Entah bagaimana caranya bisa mendekati Winona.” Arsenio mematikan sisa rokoknya di dalam asbak. Dia lalu meneguk minuman kaleng yang tadi diletakkan di atas meja.
“Jadi, itu artinya harus saya mulai dari Winona?” tanya Dwiki.
“Aku rasa itu merupakan cara satu-satunya. Winona akan menjadi jalan masuk untuk mengorek informasi tentang sabotase yang dilakukan dia dan ayahnya terhadap perusahaan milik ayahku,” pikir Arsenio.
Sementara Dwiki tak segera menanggapi. Pria berusia dua puluh sembilan tahun tersebut tampak sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, lajang itu pun menyunggingkan sebuah senyuman. “Kalau boleh tahu, seperti apa karakter mantan tunangan Anda itu?” tanyanya.
__ADS_1
Arsenio pada awalnya hanya memicingkan mata. Namun, setelah itu dia pun tersenyum simpul. “Winona?” Arsenio manggut-manggut. Dia tengah mengingat-ingat seperti apa sosok wanita yang dulu pernah menjadi partnernya dalam segala hal. “Winona adalah gadis yang kaku dan tidak suka bercanda. Hidupnya hanya untuk bekerja serta melakukan segala sesuatu yang serius. Bagiku itu merupakan sesuatu yang sangat membosankan, tapi bagi dia sebaliknya. Satu hal yang pasti, aku tak tahan berdekatan lama dengannya,” terang Arsenio saat mengingat hal-hal yang paling melekat dari karakter sang mantan kekasih.
“Ya, tapi dia sangat cantik.” Dwiki tergelak setelah berkata demikian.
“Kau tahu seperti apa seleraku,” timpal Arsenio ikut tertawa. Namun, dengan segera dia melihat ke arah kamar, hanya sekadar memastikan bahwa Binar tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia tak kuat dengan rasa cemburu sang istri yang tak jarang begitu berlebihan.
“Sepertinya saya ada sedikit ide. Mungkin Anda bisa memberikan beberapa arahan kepada saya dalam melakukan pendekatan ini,” ujar Dwiki.
“Pendekatan?” Arsenio menaikkan sebelah alisnya.
“Ya. Pendekatan,” sahut Dwiki menegaskan. “Bukankah tadi Anda yang mengatakan bahwa Winona adalah pintu masuk untuk bisa menyelidiki masalah ini? Itu artinya, saya harus mendekati pintu tersebut kemudian mengetuknya dengan sopan. Barulah saya bisa masuk dan berbagi cerita dengan si tuan rumah.” Dwiki menyeringai kecil. Dia lalu meneguk minumannya hingga habis.
“Ini akan menjadi satu tantangan tersendiri bagimu, Ki. Kujamin kamu akan menyukainya.” Arsenio kembali tergelak.
“Dwiki memang senang dengan segala sesuatu yang menantang adrenalin,” sahutnya ikut tertawa. “Anda tidak perlu khawatir. Dalam waktu singkat, Anda akan segera mendapatkan informasi yang dibutuhkan.”
Setelah hari itu, Dwiki mulai mencari informasi tentang Winona. Dia mulai mengikuti wanita muda tersebut di akun media sosialnya. Dwiki menganalisa setiap bahasa tubuh serta segala hal yang berkaitan dengan mantan dari tunangan Arsenio tersebut.
Pemantauan yang dilakukannya lewat sosial media, akhirnya mengantar dia pada satu keyakinan. Dwiki harus mencari cara lebih. Melalui bantuan Arsenio yang berada di balik layar, pria itu dapat melakukannya dengan tanpa ada hambatan yang terlalu berarti.
Contohnya adalah pada sore itu, ketika si cantik yang menjadi target buruan tengah duduk sendiri di sebuah meja, yang berada di sudut cafe pada salah salah satu mall ternama ibukota. Dwiki melintas di dekat meja di mana Winona berada. Pria itu kemudian menjatuhkan kunci mobilnya tepat di dekat kaki jenjang berbalut stiletto hitam yang Winona kenakan.
Dwiki kemudian menurunkan tubuh. Dia menoleh ketika Winona refleks memandang ke arahnya. Dwiki lalu menyunggingkan sebuah senyuman kalem sambil berdiri. Pria itu melihat pada sebuah buku yang tengah Winona baca. “Wah, Sherlock Holmes,” ucapnya sok akrab, “aku memiliki banyak buku tentang serial detektif. Salah satunya adalah kisah tentang Sherlock Holmes,” ujar pria itu lagi.
Sementara Winona tak menanggapi. Dia sama sekali tak mengenal pria asing yang telah bersikap sok akrab tadi. Wanita muda itu pun memilih hanya tersenyum kecil, lalu kembali membaca. Sementara Dwiki pun berlalu begitu saja.
Beberapa saat kemudian, Winona beranjak dari duduknya. Dia tampak hendak pergi dari cafe tersebut sambil menjinjing tiga buah paper bag berbeda ukuran. Mantan tunangan Arsenio tersebut berjalan menyusuri deretan pertokoan di dalam mall tadi. Winona berjalan seorang diri dengan tatapan sendu. Namun, wanita muda itu masih tetap menunjukkan sisi kuat dalam dirinya.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa saat, dia pun tiba di area parkir basement. Winona segera menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir. Dia lalu membuka pintu bagasi. Saat itulah, dirinya mendapati ban mobil yang kempes.